Dia ada karena sebuah kesalahan, tapi kehadirannya tidak lantas untuk dipersalahkan.
Vallery Hamil di luar nikah saat umurnya masih 19 tahun dengan pria bule keturuanan Jawa-Rusia, yang umurnya terpaut cukup jauh dengannya. Hidupnya berubah setelah ia menikah dengan pria bule itu. Perubahan apa saja yang terjadi pada Vallery setelah menikah?
Yuk, baca selengkapnya hanya di aplikasi sini🤗🥰😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Ada Yang Jadian
•••••
Setelah mengalami perdebatan antara Lingga dan keluarganya, yang pada akhirnya resepsi tetap dibatalkan. Hari ini keduanya akan melangsungkan acara ijab qobul dengan sederhana, dan hanya mengundang kerabat terdekat saja. Semua undangan sepakat dibatalkan. Meski mubazir, Vallery tidak menyesal.
"Cantiknya pengantin kita, jadi pengen nyusul."
Vallery segera menoleh dan menemukan Patricia dan juga Nick tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Kedua sahabatnya itu tampak serasi menggunakan outfit dengan warna senada. Secara spontan kedua mata Vallery menyipit, otaknya bertanya-tanya, apakah ia salah melihat? Tapi sepertinya tidak, bahkan kalau diamati ekspresi keduanya pun, mereka sudah tidak terlihat canggung satu sama lain.
Vallery langsung berdiri. "Kalian? Udah baikan?"
Dengan wajah sombongnya Nick tertawa, lalu menyelipkan jari jemarinya di sela jari jemari Patricia lalu menggenggam dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Emang siapa yang berantem sih? Ya, nggak, babe." Nick pura-pura memasang wajah tak paham lalu menggandeng Patricia masuk ke dalam kamar Vallery. Patricia tertawa ringan sambil mengangguk.
Vallery jelas saja langsung mendengus melihat kelakuan mereka. "Babe?" beonya meledek, "jadi kalian pacaran?"
"Iya lah. Kita sih pasangan santai, ya, jadi milih pacaran dulu."
"Serius? Tapi gue seneng dengernya," aku Vallery jujur, ia kemudian memeluk Patricia dan Nick. Ia senang karena hari bahagianya, kedua sahabatnya sudah akur dan bahkan memilih untuk berpacaran. Ia turut berbahagia.
"Jadi, bisa cerita sedikit kenapa kalian bisa pacaran? Gue kepo nih, mumpung acara belum juga mulai."
Nick tertawa tidak percaya. "Belum mulai gimana? Di bawah udah rame tamu undangan bokap lo kali, Valle."
"Yang penting gue belum disuruh turun kan?"
"Lo nggak tegang, Valle?" tanya Patricia tiba-tiba.
"Nah, itu dia, gue tuh sebenernya tegang banget. Makanya gue butuh cerita kalian buat ngalihin deg-degan gue."
Nick tiba-tiba mengangkat kedua tangannya. "Gue ogah kalau disuruh cerita."
Vallery mengangguk tidak masalah. "Nggak papa, kalau gitu lo aja, Pat."
"Gue cabut deh, mau nyari makan. Gue soalnya tadi belum sarapan. Kamu mau aku ambilin sekalian nggak, babe?"
"Anjir, aku-kamu? Gue merinding, Nick dengernya. Plis, kalau lagi sama gue pake lo-gue kayak biasa aja, nggak usah pake aku-kamu.
Vallery langsung berseru heboh saat Nick tiba-tiba mengubah panggilan aku-kamu ke Patricia. Pria itu bahkan membuat nada suaranya terdengar sangat lembut.
"Enggak usah, gue udah sarapan tadi sebelum lo jemput." Patricia menggeleng lalu menyuruh Nick segera keluar.
"Sirik aja lo!" balas Nick cuek. Ia kemudian langsung keluar dari kamar Vallery begitu saja.
"Kalian beneran pacaran?" tanya Vallery kepo, setelah Nick benar-benar meninggalkan kamarnya.
Bukannya langsung menjawab Patricia malah tersenyum sambil memasang wajah misteriusnya. Hal ini membuat Vallery mendengus sambil memalingkan wajahnya.
"Rasanya masih aneh, Valle, ngakuin kalau kami pacaran. Gue belum terbiasa."
"Emang kapan kalian jadiannya?"
"Semalem."
Vallery tertawa. "Masih anget-anget tai kucing, dong?"
Patricia melotot tidak suka. "Vallery, iih, perumpamaan lo, nggak ada yang bagusan dikit apa?"
Dengan wajah santainya, Vallery menggeleng. Ia kemudian menyuruh Patricia segera memulia ceritanya, karena ia khawatir acara ijab qobulnya mungkin akan segera dimulai.
Flashback
Patricia berdiri dengan gelisah di depan apartemen Nick. Berjalan mondar-mandir sambil mengigit ujung kukunya. Sesekali kedua netranya melirik arloji yang melingkar pada lengan kirinya, ******* frustasi terdengar sesekali. Ia menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba, tubuhnya mendadak berdiri tegak, sebelah tangannya terangkat hendak menekan bell, namun perasaan ragu tiba-tiba muncul. Gadis itu berdecak sambil mendesah frustasi sekali lagi. Ia bahkan tidak menyadari jika seorang pria menyadari gerak-geriknya sedari tadi.
"Pulang aja deh gu--"
Patricia menghentikan gumanannya, saat ada seseorang yang berdiri di belakangnya tiba-tiba menekan bell. Ia berbalik dan membekap mulutnya dengan ekspresi terkejut, bahkan saking terkejutnya ia nyaris jatuh kalau saja pria itu tidak menahan tubuhnya. Jantung Patricia rasanya seperti ingin loncat dari tempatnya.
"Kayaknya yang punya rumah nggak ada ya," ucap pria itu berasumsi.
Patricia mendengus sambil menjauhkan tubuhnya dari pria itu. "Gila lo?"
Dengan wajah sok dramatisnya, pria itu mengangguk. "Iya, gue gila gara-gara lo. Minggir! Gue gerah, pengen mandi!" Nada suaranya mendadak sedikit ketus dan tatapan sinis.
"Ya udah, gue balik dulu, ya. Sorry--"
"Patricia! Lo udah nggak punya kesempatan buat menghindar," ucap pria itu, yang tak lain tak bukan adalah si penghuni unit alias Nick.
Dengan wajah datarnya, ia mempersilahkan Patricia masuk. Gadis itu tampak ragu-ragu, hal ini tentu saja membuat kesabaran Nick mulai menipis, dengan tidak sabar, ia mendorongnya masuk.
"Gue bilang lo udah nggak punya kesempatan untuk menghindar, Patricia! Jangan kabur terus, nggak capek emang lo?"
"Nick, gue--"
"Gue mau mandi dulu, lo bisa masakin gue mi rebus? Gue laper?"
"Lo belum makan?"
Nick mengangguk. "Tapi kayaknya lo belum."
"Enggak usah, gue--"
"Gue juga mau, Pat, bukan buat lo doang," sahut Nick cepat, memotong ucapan Patricia. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung bergegas menuju kamarnya.
Patricia mematung di tempatnya. Pandangannya lurus menatap pintu kamar Nick yang kini sudah tertutup rapat, perasaan bersalah kian menjalarinya. Perasaannya bimbang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia pergi dari apartemen Nick begitu saja selagi pria itu masih di kamar mandi?
"Jangan coba-coba kabur selagi gue mandi!"
Pintu kamar Nick tiba-tiba terbuka dan pria itu menyempulkan kepalanya sambil memperingati. Patricia menghela napas sambil mengangguk sedikit terpaksa, setelahnya ia pasrah dan segera memasak mie rebus sesuai pesanan Nick.
"Udah mateng?"
Nick keluar kamar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Berjalan mendekat ke meja konter lalu duduk si kursi yang ada di sebelah Patricia.
"Semangkuk berdua nih konsepnya?" tanya Nick saat hanya menemukan semangkuk mi di atas meja.
"Lo aja yang makan, gue lagi diet," jawab Patricia asal.
"Biar disangka busung lapar lo pake diet segala?" cibir Nick.
Patricia diam saja.
Nick ikut diam, pria itu pura-pura fokus dengan mi rebus yang ada di hadapannya. Seolah tidak merasa canggung atau yang lainnya, meski pada kenyataannya pria itu sama gelisahnya dengan Patricia. Bahkan ia sendiri yakin kalau dirinya tidak mengunyah makanannya dengan benar.
Keduanya tetap diam bahkan saat mangkuk Nick sudah bersih. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, yang terdengar hanya suara televisi yang sengaja Nick nyalakan demi membunuh kesunyian, ia bahkan tidak tahu acara apa yang ditayangkan televisi itu.
"Boleh gue mulai tanya, Nick?" Kali ini akhirnya Patricia membuka suara.
Nick bernapas lega setelah Patricia membuka suara, ia kemudian mengangguk. "Silahkan! Apapun yang mengganggu pikiran lo, bisa lo keluarin. Gue siap dengerin."
"Lo yakin sama perasaan lo?"
Tanpa keraguan, Nick kembali mengangguk.
"Tapi kita temenan?"
"Yang awalnya musuhan bisa jadian dan ada yang sampai nikah? Kenapa yang temenan enggak bisa?" Nick balik bertanya dengan nada datar.
Patricia menghela napas. "Tapi gue nggak mau hubungan kita jadi canggung kalau sem--"
"Jangan mendahului takdir, tugas manusia tinggal menjalani, berusaha, dan melakukan yang terbaik. Kita mungkin bisa merencanakan tapi tetap saja Tuhan yang menentukan." Nick menoleh ke arah Patricia, "jadi kamu berencana untuk begitu?"
Patricia diam.
Nic menghela napas. "Gue ubah pertanyaan gue, Pat. Selama kita kenal dan temenan, lo pernah nggak melihat gue sebagai pria yang bisa bikin hati lo berdebar, bukan sebagai temen lo doang?"
"Nick," panggil Patricia frustasi.
"Jawab aja, gue cuma butuh jawaban itu. Gue tanya perasaan lo, bukan dampak apa yang akan terjadi pada hubungan kita nantinya."
"Gue nggak tahu." Patricia menggeleng sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, "gue bingung, Nick. Bagi gue ini semua terasa tiba-tiba, gue nggak tahu harus gimana."
Nick mendesah kala melihatnya. "Lihat gue, Pat," ucapnya sambil menyingkirkan telapak tangan yang menutupi wajah Patricia.
Keduanya saling menatap intens, Patricia mendadak gugup. Selama mengenal Nick, pria itu belum pernah bersikap demikian terhadapnya. Jantungnya terasa berdebar tidak normal, menimbulkan sensasi aneh yang tidak bisa ia utarakan. Ada apa dengannya? Batinnya bertanya-tanya.
Saat sedang larut dalam pikirannya, tanpa ia duga, Nick tiba-tiba memajukan wajahnya. Patricia semakin gugup dan lemas, ia bingung bagaimana ia harus bereaksi terhadap Nick.
"Gimana? Lo masih bingung sama perasaan lo sendiri?" bisik Nick dengan suara tertahan.
Patricia berkedip, mencoba menetralkan debaran aneh itu dan sedang menyusun kalimat untuk membalas pertanyaan Nick. Tapi sepertinya ia kalah cepat, karena sebelum bibir itu membuka suara, Nick tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir Patricia. Pria itu tidak mengecap atau **********, itu bukan ciuman, hanya kedua bibir yang saling menempel. Hal itu berlangsung beberapa detik, lalu Nick menjauhkan diri setelahnya. Ia sengaja tidak benar-benar mencium Patricia karena ia masih menghargainya sebagai sahabat.
"Gimana? Udah nemu timing yang pas buat nampar gue belum? Gue rasa gue perlu nyiapin diri," canda Nick mencoba mencairkan suasana, ia bahkan terkekeh tak lama setelahnya.
"Lo nggak seharusnya dapatin sebuah tamparan, Nick."
Nick menatap Patricia intens. "Kenapa? Gue hampir nyium lo tanpa izin, Patricia."
Patricia memainkan ujung kukunya dengan kepala tertunduk. "Tapi lo nggak ngelakuin itu kan?" ia sedang menghindari tatapan mata dari Nick.
Nick mengangguk setuju. "Gue juga nggak bermaksud ngelakuin itu, gue cuma mau bantu lo mastiin perasaan lo aja."
Patricia ikut mengangguk. "Iya, gue tahu." Ia menghela napas sambil mengangkat wajahnya.
"Jadi, apa jawabannya?" tanya Nick kepo, nada suaranya terdengar tidak sabaran.
"Gue rasa, tanpa gue kasih tahu lo udah tahu kan?"
Patricia menoleh sambil menautkan jarinya. Nick menaikkan alis tak terlalu yakin.
"Maksudnya?"
"Kalau gue memilih untuk nggak mengakuinya lewat ucapan, apa boleh?" tanya Patricia meminta izin.
Tanpa ragu, Nick mengangguk. "Lakukan apapun yang membuat lo nyaman, Patricia. Asal lo tahu batasan aja," kekehnya kemudian.
Patricia mengangguk paham, lalu tanpa perasaan ragu, ia langsung memajukan wajahnya, dan mencium Nick. Dengan senang hati, Nick langsung membalasnya tentu saja. Kali ini mereka benar-benar berciuman dan saling memungut, tidak sekedar bibir menempel seperti tadi.
Napas mereka terdengar ngos-ngosan setelah pungutan itu terlepas. Nick tertawa sambil mengelap ujung bibirnya.
"Gue baru tahu kalau lo punya sisi yang begini," goda Nick lalu mencium bibir Patricia sekali lagi.
"Sama. Gue juga," jawab Patricia malu-malu. *Bahkan saking malunya, ia sampai menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Hal ini membuat Nick langsung menertawakannya.
"Kalau bukan karena trauma sama pengalaman Vallery, udah gue ajak ngamar lo."
Patricia mendengus. "Gue ogah lah*."
Flashback off
Vallery tersenyum senang setelah mendengar cerita Patricia. Ia turut berbahagia dengan kabar bahagia ini.
"Selamat ya buat kalian, gue beneran ikut seneng," ucap Vallery tulus.
Patricia mengangguk lalu balik mengucapkan selamat untuk Vallery.
"Gue nggak tahu harus ngucapin selamat atau enggak, tapi yang jelas gue mau doain yang terbaik buat lo. Semoga ini tetap menjadi pernikahan pertama dan terakhir lo, bahagia sama suami lo kelak ya, Valle. Kalau lo ada kesulitan, jangan ragu nyari kita. Sebisa mungkin kita bakal bantuin lo."
Vallery mengangguk lalu memeluk Patricia sekali lagi. "Doain gue ya, moga gue bisa ngelewati semua ini."
"Pasti."
Tbc,