REYHAN, dia adalah anak angkat yang dituduh telah menghabisi orang tua yang mengadopsinya hingga pada usia 12 tahun memaksanya harus merasakan dinginnya tembok penjara.
tidak ada yang mengetahui jika anak kecil itu hanya difitnah karena pada hari kejadian orang-orang melihatnya memegang pistol yang diduga dipakai menghabisi nyawa orang tuanya. bahkan adik angkatnya pun sangat membencinya karena tragedi itu.
pembelaan yang dilakukan hanya sia-sia, saat diadili tanpa sengaja dia melihat pembunuh orang tua angkatnya ada di sana dia tersenyum pada Reyhan dengan menyeringai kemudian pergi begitu saja.melihat itu api dendam dalam dirinya menyala dan bersumpah akan menghabisi orang yang telah membunuh orang tua angkatnya kelak saat dia dibebaskan dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 Detektif Rico
"Bi, sedang apa!!" Seketika Laila terkejut ketika Adinda menepuk pundaknya dalam posisi dia masih menguping ke dalam kamar Andika. Saking terkejutnya, Laila hampir saja menjatuhkan pajangan di atas meja yang ada di sampingnya. Melihat reaksi sang asisten membuat Adinda sedikit curiga padanya.
"Non... heheh." Laila hanya cengengesan menatap sang majikan yang saat itu berdiri sejajar dengannya. "Kenapa, Bi, kenapa Bibi selalu saja diam-diam memperhatikan Kak Andika seperti ini?" tanya Adinda dengan tatapan sinis seolah tak suka.
"T-tidak, Non, tadi aku tidak sengaja lewat dan melihat tuan sedang sibuk, jadi aku berinisiatif ingin menawarkan apakah dia ingin kopi atau sesuatu," jawab Laila buru-buru menjelaskan. Jelas dia sangat gugup dan takut jangan sampai Adinda mendengar ucapannya tadi.
Adinda sama sekali tidak mempercayainya, karena dia tahu jika Laila naksir dengan kakak sepupunya itu. Dengan ekspresi dingin, Adinda meminta Laila untuk pergi dari sana sebab dia tidak suka dengan tingkah Laila yang suka menguntit.
"Baiklah kalau begitu, sekarang Bibi boleh pergi biar aku yang akan bertanya pada Kak Andika." Laila segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan malu dan tersinggung, dia kesal membayangkan tatapan Adinda tadi. "Dasar wanita aneh!" umpat Laila setelah jauh dari Adinda.
Setelah Laila pergi, barulah Adinda masuk ke dalam kamar itu namun tak lupa ia mengetuk pintu karena bagaimana pun dia tetap harus punya tata krama walaupun Andika adalah kakaknya. Mendengar ketukan pintu, Andika segera berbalik dan terkejut saat melihat adiknya berdiri di ambang pintu kamar.
Andika menelan ludahnya dengan susah payah merasa sangat tegang. Beberapa saat dia menatap Adinda, sebelum ia kembali sadar dan langsung menutup laptopnya. "Apakah aku boleh masuk?" tanya Adinda memecah keheningan.
"Ya, tentu saja, kenapa harus meminta izin masuk saja, Dek," jawab Andika. Adinda masuk ke dalam lalu duduk di tempat tidur, gadis itu terlihat sedih dan termenung. Melihat sang adik, Andika yang duduk di sofa lantas menghampirinya untuk mencari apa yang terjadi.
"Ada apa, Din, kenapa kau murung seperti ini?" tanya Andika menyentuh bahu sang adik. Adinda kemudian menatapnya dengan mata berkaca-kaca, setelahnya ia langsung jatuh ke dalam pelukan Andika dan menangis sejadi-jadinya.
Andika pun merasa panik kenapa adiknya tiba-tiba seperti ini. "Dek, ada apa?" tanya Andika mengusap kepala Adinda dengan lembut. "Hiks, kenapa hidupku seperti ini, Kak? Aku lelah dan aku muak," jawab Adinda di sela-sela tangisnya.
"Apa yang kau katakan, jangan seperti ini. Jika kau ada masalah, ceritakan saja," ucap Andika berusaha menenangkannya. "Kakak, kenapa aku harus ditinggalkan ayah dan ibu? Kenapa saat mereka pergi, mereka tidak membawa aku juga? Aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Selama ini aku sudah berusaha untuk bertahan, tapi aku selalu saja runtuh kala merindukan mereka," Adinda menuangkan segala isi hatinya.
Mendengar curhatan hati adiknya, Andika bungkam karena tidak tahu harus mengatakan apa-apa. Dia merasa sangat kasihan kepada Adinda yang hidup menderita seperti ini. "Andai waktu itu manusia biadab itu tidak masuk dalam kehidupan kami, aku tidak akan menderita seperti ini, hiks," Adinda melanjutkan kalimatnya, tapi kali ini sedikit berbeda karena lebih kepada marah saat membahas tentang orang yang telah menghabisi orang tuanya tentunya itu tertuju pada Reyhan.
"Dek, aku paham penderitaanmu selama ini, tapi kau jangan berlarut-larut dalam kesedihan karena di sana Paman dan Bibi pasti bersedih melihatmu yang masih belum mengikhlaskan kepergian mereka," Andika mencoba menasehati adik sepupunya itu.
Adinda tidak berkomentar lagi, dia terus terisak dalam pelukan Andika. Sedangkan sang kakak sepupu setia mengusap pundak Adinda agar lebih tenang hingga beberapa saat kemudian Adinda tertidur masih dalam pelukan Andika. Segera pemuda itu membaringkan tubuh sang adik di tempat tidurnya sebelum dia pergi meninggalkan kamar.
......................
Di kediaman Tiger, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang untuk bertemu dengannya. Pria dengan pakaian kasual khas seorang detektif itu disambut baik oleh Tiger. "Selamat datang di tempatku, ayo silakan duduk," ucap Tiger mempersilakan pria itu duduk.
"Terima kasih, tuan. Aku Rico, seorang detektif yang diminta oleh Tuan Ferma untuk menemui Anda," pria itu memperkenalkan diri. Tubuhnya yang tinggi besar dan wajahnya yang terlihat garang membuat Tiger merasa puas melihatnya.
"Kau benar sekali, aku membutuhkan bantuan untuk mencari orang yang telah menghancurkan salah satu bisnisku," Tiger langsung ke pokok permasalahan. "Hummm... itu pekerjaan yang sangat aku sukai. Memecahkan misteri adalah keahlianku, dan tak satu pun pekerjaan ku gagal," ucap Rico dengan penuh kesombongan.
"Bagus, itu yang saya inginkan. Soal bayaran, kau tidak perlu cemas karena berapa pun biayanya aku pasti menyanggupi asalkan pelakunya tertangkap," ucap Tiger. Setelah percakapan itu, Rico meminta dirinya diantar ke tempat di mana kebakaran itu terjadi. Sebab dia memutuskan hari itu juga dia akan memulai penyelidikannya.
Bersama Tiger, mereka mendatangi gudang minyak yang telah hancur itu. Rico berjalan-jalan di tempat itu sambil mencari sebuah petunjuk, sedangkan Tiger hanya menunggu di dekat mobil. Selang beberapa menit menelusuri tempat itu, Rico melihat ada sesuatu di dekat rumput kering yang setengah gosong. Dia lalu tersenyum dan kembali kepada Tiger, dan mereka pun meninggalkan tempat itu.
Rico memutuskan untuk pulang dan meyakinkan Tiger untuk mempercayainya. Dia sama sekali tidak memberitahu tentang apa yang ia temukan.
Baru saja Rico meninggalkan kediaman Tiger, ada telepon dari Tuan Ferma kepada Tiger. "Bagaimana, apakah kalian sudah bicara?" tanya Tuan Ferma dari seberang telepon. "Ya, dan aku merasa yakin dengan penampilan dan cara bicaranya. Sekali lagi, terima kasih, kawan," jawab Tiger merasa sangat senang.
......................
Sudah dua hari Amelia mengurung diri di apartemen karena merasa trauma untuk pergi keluar untuk saat ini. Kebetulan hari ini orang tuanya akan kembali dari acara keluarga. Setelah Kyesor dan Luna tiba, mereka bingung dengan putri mereka yang terlihat murung, tidak seperti biasanya saat mereka pulang setelah beberapa hari. Dan saat itu juga Reyhan tidak ada di apartemen, jadi Amelia hanya seorang diri.
"Mel, ada apa? Kenapa Bunda merasa ada yang berbeda denganmu?" tanya Luna. "Iya, nak, apakah kamu marah pada kami karena sebelumnya kami tidak memberitahumu kalau kami akan pergi?" Kyesor menimpali dengan pertanyaan juga.
"Ayah, Bunda, kalian ini kenapa? Aku baik-baik saja, kenapa Ayah berpikir begitu? Mana mungkin aku marah kepada kalian," jawab Amelia tersenyum, namun terlihat palsu. Sebagai orang tua, Kyesor dan Luna tidak langsung percaya dengan ucapan putri mereka. Mereka tahu jika Amelia sedang tidak baik-baik saja dan dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari mereka berdua.
Akan tetapi, Kyesor dan Luna tidak akan memaksa anaknya untuk jujur dan memutuskan mencari tahu pada Reyhan nantinya. "Baiklah kalau begitu, ini ada oleh-oleh yang Bunda beli untukmu, semoga kau suka, sayang," Luna kemudian memberikan paper bag kepada Amelia. Gadis itupun menerimanya dengan satu senyum saja, tak ada sedikit antusias dari raut wajahnya.
Kyesor dan Luna semakin yakin jika ada sesuatu dengan putri mereka. Pasangan suami istri itu saling memandang seolah sedang bertukar pikiran dalam diam. Kemudian Amelia pamit masuk ke kamar dengan alasan ingin tidur siang.
"Ayah, apakah Ayah merasa ada yang berbeda dengannya?" tanya Luna setelah anaknya sudah pergi. "Ya, Ayah merasa jika anak itu sedang ada masalah dan dia tidak mau memberitahu kepada kita," jawab Kyesor.
"Hmm... Bunda merasa cemas melihatnya seperti itu," ucap Luna dengan khawatir. "Tenanglah, nanti kita tanyakan saja pada Reyhan, mana tahu dia mengetahui sesuatu," ucap Kyesor.