Eliana Nur Syabilah seorang gadis yatim piatu yang tangguh dengan segala kerumitan jalan hidupnya.
Hingga suatu hari keadaan mendesak Eliana untuk mengambil keputusan yang akan merubah takdirnya.
Menjadi penghangat ranjang seorang bos tampan nan kaya raya, sampai suatu ketika ia jatuh cinta pada pria yang jauh lebih tinggi derajatnya dalam kehidupan itu, membawa Eliana pada dilema besar ketika seseorang dari masa lalu pria ini muncul kembali di tengah berbunganya cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wheena the pooh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
El menatap sekeliling, ia lega ketika melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 16.32 Wib. Itu artinya semua karyawan sudah pulang bagi yang tidak lembur.
"Setidaknya untuk dilantai ini sudah tidak ada orang" El mengelus dadanya lega.
Bagaimana tidak, mereka bercinta tak ingat waktu sampai El baru menyadari kalau ia sudah sangat lama berada didalam ruangan bosnya itu.
Setidaknya ia lega disaat semua orang sudah pulang, ia malu ketika keluar ruangan Kemal dengan rambut yang masih basah dan leher yang memerah.
Memikirkan saja membuat El merinding. Kemudian pikirannya ditepis ketika bunyi lift terbuka menampakkan sosok yang ia kenal.
El panik dan gugup seketika tatapan mereka bertemu.
"Cih....aku kira kau memang gadis polos!"
Desis Mira sang OB baru yang menjadi rekan kerja El dan Fatimah.
El hanya diam membisu "Apa ini....?" tangan Mira lancang menyibakkan rambut El sehingga tampak banyak bekas merah di leher jenjang El.
"Aku sudah menduga kau adalah gadis munafik, aku membencimu El..." kembali Mira memperlihatkan wajah tak sukanya pada El.
"Aku tak menyangka, kau menggunakan kecantikanmu demi menggaet pria kaya seperti bos kita" Mira tertawa seram membuat El menciut, ia benar salah perhitungan.
"Maaf....jika kau sudah selesai bicara, aku akan pergi" El mencoba mengelak dan tidak ingin membalas perkataan Mira.
Namun lengannya di cekal oleh Mira "Kau akan hancur Eliana.....aku memegang kartu as mu" kemudian ia pergi meninggalkan El yang masih mematung, airmatanya mengalir begitu saja.
"Ya Allah....apa lagi yang harus ku hadapi, aku tau seberapapun aku menjelaskan akan tetap terasa salah" El mulai bingung, ia takut jika Mira mengatakan tentang ini pada semua orang dikantor.
El tak tau apa yang akan ia lakukan jika itu terjadi apalagi Fatimah tidak akan mempercayainya lagi jika mengetahui bahwa ia berbohong tentang hubungannya dan Kemal.
******
El yang telah sampai di panti segera mengistirahatkan tubuhnya di dalam kamar. Pikirannya menerawang akan nasibnya kedepan.
Kemudian El teringat akan kotak kecil yang diberikan Kemal padanya, El membuka nya dan ia sangat terkejut melihat ponsel baru itu yang ia yakini itu keluaran terbaru dari merk tersebut.
"Astaga......kenapa dia memberikan ponsel semahal ini" El melongo ketika menyentuhnya.
"Ini bisa membeli sawah beberapa bidang jika dikampung...." El masih tak menyangka benda pipih itu berada dalam tangannya.
"Bagaimana cara menghidupkannya, ya Tuhan....semua petunjuknya berbahasa inggris, aku sama sekali tidak mengerti" El menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian ia kembali meletakkan ponsel tersebut ke dalam kotak tersebut, namun tiba-tiba ponsel itu berdering sontak membuat El kaget.
"Apa ini, kenapa bisa hidup? Apa ponsel mahal memang hidup otomatis..." ucapan El menggantung ketika melihat layar ponsel itu tertulis "Suamiku" memanggil.
El terkejut ternyata itu bunyi untuk paggilan masuk. Segera El menggeser tombol hijau sama seperti ponselnya yang lama.
"Hallo...assalamualikum tuan Kemal"
El gugup mendengar suara diseberang.
'Apa kau belum tidur'
"Belum tuan....ada apa?" El berbicara sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.
'Kirim alamatmu, aku akan menjemputmu sekarang'
"Apa...?" El kaget.
'Apa kau tuli?'
"Tidak....maksud saya tuan akan menjemput saya kesini?" El kembali memastikan.
'Iya, apa kau bodoh cepat kirim lokasimu'
"Maaf tuan, saya....saya belum bisa memakai ponsel ini, saya belum belajar tuan, maaf...." El jujur ia belum bisa mengoperasikan ponsel itu.
'Astaga.......huh, baiklah sebutkan saja dimana alamatnya sekarang' Kemal mulai kesal.
"Di jalan mawar no. 31 masih satu daerah dengan kantor tuan, panti asuhan 'Kasih Ibu'....."
'Baiklah tunggu aku'
"Baik tuan, tapi saya mohon tunggu saya di depan gang saja tuan, saya takut pemilik panti akan curiga jika saya keluar bersama lelaki"
'Terserah kau saja' kemudian Kemal mematikan ponselnya.
"Bagaimana ini, apa yang akan aku katakan pada bu Yuni" El cemas ia berjalan mondar mandir, memikirkan apa yang harus ia katakan.
******
Dengan perasaan gugup El menemui bu Yuni yang masih terjaga di depan televisi bersama beberapa anak panti.
"El....kau mau kemana rapi begitu?"
"Ini....bu saya mau minta izin keluar malam ini tadi Fatimah menelpon dia lagi sakit, aku kasian padanya bu" El menggigit bibir bawahnya ketika berbohong.
"O...kasian sekali....tidak apa sayang dia kan temanmu, kau harus membantunya...tapiiii ini sudah jam 9 El?"
"Aku sudah pesan taksi online bu dia nunggu depan gang"
"Baiklah...hati-hati ya nak sebenarnya tidak baik anak gadis keluar malam-malam"
"Tapi..sudahlah temanmu kan membutuhkan bantuan, pergilah ingat hati-hati ya sayang"
El lega akhirnya bu Yuni mengizinkan, ia juga telah menyiapkan seragam kerja di dalam tas ransel kecilnya.