Bijak-bijak memilih bacaan! Karena ini banyak cerita panas serta adegan yang tak terduga.
Nama aku Marsya Aulia, aku hanya anak dari keluarga yang kurang mampu. Ibu aku sedang sakit kanker paru-paru stadium akhir.
Suatu hari ibuku jatuh sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengatakan jika sebaiknya ibuku harus melakukan operasi pengangkatan kanker.
Aku tidak punya biaya sama sekali, hingga aku berjumpa dengan seorang wanita yang amat sangat cantik. Ia memberi sebuah bon pembayaran rumah sakit beserta uang.
Aku yang lagi bingung dengan senang hati menerima pemberian wanita tersebut.
Namun aku pikir dia ikhlas membantu, ternyata semua ada timbal baliknya.
Inilah kisah ku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada bidadari di Vila
Part 33
________
“Selamat pagi.” Sambut Marsya sambil membuatkan sarapan dan menyajikannya di atas meja makan.
Tuan muda Alexdian mengucek kedua matanya. “Apa saya tidak salah lihat. Kenapa bisa ada bidadari di Vila saya.”
“Ternyata kamu pelupa. Dia itu Marsya, istri saya. Istri dari tuan Agung Laksmana.” Tandas tuan Agung sambil melangkah menuju ruang makan.
Tuan muda Alexdian melangkahkan kakinya dan menyeimbangkan jalannya dengan tuan Agung. “Aku tidak lupa. Tapi dia memang begitu cantik, sudahlah pertimbangkan permintaanku. Saya akan memberikan Investasi besar supaya bisnis Anda tidak bangkrut dan saya akan memperbaiki naman Anda yang sudah tercoreng di seluruh Dunia. Asal Tuan Agung mencerai 'kan Marsya.” Tuan muda Alexdian menarik bangku dan duduk.
“Kalian membicarakan siapa? Dan siapa yang ingin bercerai?” Tanya Marsya menatap wajah tuan Agung dan tuan muda Alexdian.
Tuan Agung bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Marsya dan membawanya duduk di atas pangkuannya. “Tidak ada yang mau bercerai, itu hanya omong kosong belakang.” Tuan Agung menyuapi Marsya. “Kenapa kamu harus repot begini untuk menyiapkan sarapan buat kami.”
Deg!
Deg!
Marsya menatap wajah tuan Agung dengan pipi yang memerah. Marsya tersipu melihat ketampanan tuan Agung yang begitu berkarisma.
'Kenapa jantungku berdebar kencang. Apa aku mulai jatuh cinta dengan tuan Agung.' Batin Marsya menggelengkan kepalanya.
Tuan Agung memegang dagu Marsya. “Kenapa wajah kamu memerah. Apa kamu sedang terpanah menatap ketampanan Suami kamu ini.” Tuan Agung mendekatkan wajahnya di wajah Marsya yang tertunduk malu.
Tuan muda Alexdian yang sedang duduk bersama di ruang makan, mengepal tangannya dengan bibir atas yang menaik.
'Waktu pertama bertemu dengan kamu, Aku sudah jatuh cinta. Tawa dan canda kamu selalu terukir di bayanganku. Tapi waktu itu aku belum tahu jika kamu adalah istri ke 2 dari tuan Agung. Karena tuan Agung menyembunyikan status kalian.
Kini semua sudah terungkap, tapi semua itu sudah terlambat karena benih cinta sudah menancap di dasar hatiku yang paling dalam. Rasa cinta ini tidak bisa aku hindari, meski kamu sudah menjadi miliknya.' Gerutu di dalam hati tuan muda Alexdian.
Tuan muda Alexdian berdiri melangkahkan kakinya mendekati meja tuan Agung.
“Marsya.” Tuan muda Alexdian memegang tangan Marsya yang sedang duduk di atas pangkuan tuan Agung.
“Hem.” Marsya menolehkan wajah melihat tuan muda Alexdian. “Ada apa tuan muda.”
Tuan muda Alexdian tertegun dengan kedua mata yang membesar menatap kepolosan wajah Marsya yang menatap wajahnya.
'Wajahnya begitu sangat indah di pandang.
Tatapannya begitu sangat polos.
Dia..dia harus menjadi milikku.' Batin tuan muda Alexdian yang sedari tadi memegang tangan Marsya.
Dengan wajah yang kesal tuan Agung menepis tangan tuan muda Alexdian. “Jangan pernah sentuh istriku.” Sentak tuan Agung bernada tinggi.
Tuan muda Alexdian tersenyum manis, kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. “Haahahaha.” Tuan muda Alexdian menatap wajah Marsya dan bertanya. “Apakah kamu memang beneran ingin menjadi istrinya?”
Dengan wajah polosnya Marsya menatap wajah tuan Agung yang sedang memangku dirinya. “Untuk saat ini tuan Agung memang suami saya dan saya memang istrinya. Kenapa tuan bertanya seperti itu.”
Tuan Agung melemparkan senyum kemenangan kepada tuan muda Alexdian.
Marsya menatap wajah tuan muda Alexdian. “Tapi setelah kedua orang tua saya meninggal, saya berniat ingin mengakhiri hubungan kami. Hubungan yang tidak di dasari rasa cinta. Dan saya berjanji akan melunasi hutang uang yang pernah saya pinjam ke tuan Agung demi membiayai pengobatan mendiang Ibu saya.”
Mendengar ucapan Marsya, wajah tuan Agung berubah menjadi suram. Tuan Agung menatap ke wajah Marsya yang berada di atas pangkuannya.
“Jika saya mampu melunasi hutang-hutang kamu, apakah kamu beneran ingin berpisah dengan tuan Agung.” Sambung Tuan muda Alexdian bertanya kembali dengan wajah yang serius.
Mendengar pertanyaan dari tuan muda Alexdian, tuan Agung bangkit sambil menggendong tubuh Marsya. “Tidak perlu bertanya terlalu intim dengan istri saya. Karena sampai kapan pun saya tidak akan melepaskannya.” Tuan Agung melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.
Tuan muda Alexdian mengepal tangannya. “Kalian ingin kemana?” Tanya tuan muda Alexdian meninggikan suaranya.
Tanpa menoleh sama sekali, tuan Agung menjawab pertanyaan dari tuan muda Alexdian. “Terimakasih atas tumpangan Anda. Kami akan kembali ke Hotel dan kemungkinan kami akan kembali ke tanah air.” Tuan Agung melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan tuan muda Alexdian yang masih berdiri di ruang makan.
Marsya mengintip tuan muda Alexdian dari balik gendongan tuan Agung.
'Kenapa cepat sekali baliknya. Aku ‘kan betah di sini, melihat tuan muda yang sangat tampan.' Batin Marsya yang terpukau melihat ketampanan tuan muda Alexdian.
Marsya melirik sedikit menatap wajah tuan Agung yang terlihat kesal. “Tuan. Apakah kamu bisa menurunkan saya, saya ingin berjalan sendiri.”
Dengan wajah yang cukup serius tuan Agung tetap berjalan keluar dari lingkungan Vila tuan muda Alexdian.
“Tidak. Jika saya menurunkan kamu, maka kamu akan berlari meninggalkan saya dan saya akan sangat sulit untuk menggendong kamu lagi. Sudah kamu diam dan jangan terlalu banyak bergerak, karena kamu masih belum pulih seutuhnya.”
Kaki tuan Agung terhenti di luar Vila milik tuan muda Alexdian. Dengan kedua mata yang melihat ke kanan dan ke kiri ke jalan raya yang terlihat sepi.
Dengan wajah yang polos Marsya bertanya dengan jari telunjuk yang bergerak mengukir di kemeja bagian dada tuan Agung. “Apakah tuan tidak letih menggendong saya seperti ini. Taksinya belum datang, apa tuan tidak ingin membiarkan saya..”
Dengan wajah yang kesal tuan Agung menatap wajah Marsya, dan memotong ucapan Marsya. “Saya bilang tidak. Ya tidak.” Tuan Agung membentak Marsya.
Marsya menundukkan pandangannya di balik gendongan tuan Agung.
'Kenapa tuan Agung merasa sangat kesal.
Apa dia marah jika tuan muda Alexdian mengejarku. Bukankah dia bilang dia tidak mencintaiku. Tapi kenapa sikapnya berbeda.' Batin Marsya.
Setelah berdiri selama 10 menit untuk menunggu, akhirnya taksi lewat juga.
Tuan Agung menyetop taksi yang sedang melaju ke arah mereka. Dengan wajah yang cukup serius tuan Agung masuk ke dalam taksi dan memberitahu alamat Hotel tuan Agung kepada Pak supir taksi.
Di dalam taksi, suasana sangat hening. Tuan Agung hanya diam tidak berkata apa pun, dengan kedua tangan yang masih menggendong tubuh Marsya dan meletakkan tubuh Marsya di atas pangkuannya.
Sesekali Marsya melirik tuan Agung secara diam-diam.
'Di dalam taksi pun dia tetap tidak melepaskan tangannya. Padahal aku tahu tangannya sudah tidak kuat untuk menggendong dan memeluk aku dengan kuat.' Batin Marsya.
...2 jam kemudian....
...💃...
Marsya dan tuan Agung akhirnya sampai di halaman Hotel yang begitu mewah.
Tuan Agung keluar dari taksi dengan kedua tangan yang tetap menggendong tubuh Marsya. Sepanjang perjalanan menuju kamar hotel, Marsya dan tuan Agung hanya diam membisu.
Tuan Agung terus melangkahkan kakinya dengan sangat cepat menuju kamarnya.
'Tanganku sepertinya kesemutan dan aku sudah tidak kuat untuk menggendong Marsya.
Aku tidak boleh menjatuhkan wanita ini di sini. Sebentar lagi sampai.' Batin tuan Agung.
Tangan yang sudah merasa kesemutan mengeluarkan kartu pintu masuk kamar hotel dari saku celananya. Setelah mendapatkan kartu pintu masuk, tuan Agung mendekatkan kartu ke pintu kamar hotel.
Klik!
Pintu kamar terbuka.
Tuan Agung melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mendekati ranjang.
Brukk!
Tuan Agung menjatuhkan Marsya di atas ranjang.
“Ah. Kenapa tuan menjatuhkan saya.” Teriak Marsya sambil melihat tangan tuan Agung yang gemetar.
Tuan Agung berbalik badan.Tuan Agung berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas Sofa. “Saya tidak ingin kehilangan kamu.”
Dengan wajah yang gugup Marsya turun dari ranjang melangkahkan kakinya mendekati tuan Agung yang berbaring di sofa. “Saya bukan seekor kelinci yang begitu di lepaskan bisa kabur dengan sangat liar.” Marsya berhenti dan jongkok sambil mengambil tangan kanan tuan Agung.
“Apa yang kamu lakukan.” Tuan Agung menatap wajah Marsya yang sedang memegang tangan kanannya.
Marsya kembali berdiri, ia duduk di samping tuan Agung dengan tangan yang memijat lembut tangan tuan Agung yang saat itu sedang merasa gemetar dan mati rasa akibat menggendong Marsya terlalu lama.
“Jika saya boleh bertanya, kenapa tuan melakukan ini. Kenapa tuan terus menggendong saya? Apakah tuan sedang cemburu, atau tuan sedang merasa jatuh cinta dengan saya.” Tanya Marsya tanpa berhenti.
Tuan Agung terdiam, ia duduk mendekati Marsya sambil menarik dagu Marsya dan mencium bibir Marsya.
Kedua mata Marsya membesar, menikmati lembutnya ciuman manis tuan Agung. “Hem.” Kedua pipinya memerah, Marsya mendorong tubuh tuan Agung saat merasakan ciuman itu semakin liar. “Apa yang tuan lakukan.”
Tuan Agung memegang dagu Marsya. Menatap kedua pipi Marsya yang memerah. “Jika saya beneran jatuh cinta kepada kamu. Apakah kamu tetap menjadi istri saya. Apakah kamu tidak merasa jatuh cinta kepada saya.”
Dengan pipi yang memerah Marsya menundukkan pandangannya. “Sa-Saya..”
Tuan Agung mendekatkan wajahnya kembali dan mendaratkan ciuman kepada Marsya.
Cup!
Cup!
Marsya pun terhanyut dalam hangat dan lembutnya ciuman tuan Agung.
Deg!
Deg!
'Kenapa aku diam saja. Apa sekarang aku beneran mencintai tuan Agung.' Batin Marsya dengan tubuh yang bereaksi saat di sentuh tuan Agung.
...Bersambung.....
...~Kritik dan saran yang sopan di persilahkan 🤗~...
...~Maaf 😚 jika menurut pembaca alurnya ribet....
...~ Kalau lurus dan gak berkelok namanya Batang bambu dong. ☺...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu