Stevani Safira adalah putri seorang mandor bangunan. Ia harus rela meninggalkan kekasihya yang seorang dosen karena harus membayar kerugian perusahaan yang diakibatkan oleh oknum yg tidak bertanggung jawab.
Para oknum itu menjebak Ayahnya seolah olah ayah gadis itu terlibat.
Bukti bukti yang didapat perusahan mengarah bahwa Ayahnya benar benar terlibat.
Kerugian senilai miliyaran harus dia bayar dengan pernikahan.
Big bos perusahan itu mengingikan Stevani menjadi budaknya seumur hidup berkedok pernikahan.Agar ayahnya tak dijebloskan ke penjara.
Stevani terpaksa berhenti dari kuliahnya, karena dia benar benar dipenjara oleh suaminya, mahasiswi tataboga ini terpaksa menghabiskan hari harinya di rumah big bos tersebut.
Willam Wijaya adalah nama big bos ayah Stevani.William pernah pengalami kegagalan dalam hubungan percintaanya,yang mengakibatkan perubahan sikap yg amat drastis.
Dia menjadi pribadi yang kasar arogan dan dingin.
Akankah Stevani mampu menjalani hari harinya ditengah tekanan.
Hinanan dan perlakuan kasar suaminya.
Simak kisahnya selanjutnya ga gaes.
Dalam Kasabaran Cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan William
Siang itu tuan besar datang ke kantor, Willi sudah tau maksud kedatangan papanya, William meminta Eric agar tetap disampingnya.
"Gimana kamu sudah bisa membuat perusahaan stabil.? tanya papa Danil.
"Seperti yang papa lihat semua tenang dan baik baik saja." jawab Willam sedikit malas meladeni papa gilanya.
"Baik baik saja katamu, omset bulan ini hanya naik sekitar 5%, kamu bilang stabil heh jangan mengajaku bercanda." tambah papa Danil.
"Setidaknya sudah naik dari bulan kemarin pah." jawab Willi lagi.
"Kita butuh suntikan dana lebih Willi, persiapkan dirimu malam ini pulang aku akan memperkenalkanmu pada calon istrimu." perintah papa Danil sambil melirikke arah Eric, papa Danil tau Eric tak terima dengan keputusanya papa Danil menangkap tangan Eric mengepal pertanda dimarah, papa Danil tersenyum sinis pada Eric, Eric membalasnya dengan tatapan tajam.
"Tapi pah." Willam masih mencoba menawar keputusan papanya.
"Ini sudah sesuai perjanjian kita Willi jangan menghindar lagi ini konsekuensi yang harus kamu terima." Willi hanya diam mukanya memerah menahan marah.
"Jam 7, jangan telat." papa Danil melangkah keluar diikuti asisten pribadinya.
"Sial." umpat Willi sambil menggebrak meja, Eric mencoba menenangkan Bosnya.
"Gimana ini bos." Eric sangat khawatir terhadap William bos besarnya sungguh egois dan keterlaluan.
"Taulah Ric pusing aku ngademin ora egois macam papa lo lihat sendiri kan tadi." ucap William sambil kembali duduk dikursi kebesaranya.
"Sabar bos."
"Gue kurang sabar apa coba." William menundukan kepalanya dimeja kerjanya, Eric kembali duduk didepan bosnya menunggu agar Willi sedikit tenang.
***
Perasaan Vani tak nyaman entah mengapa hari ini dia selalu teringat senyuman daddy Devan, senyum itu sungguh manis.
Vani mengingat ketika Willi meminta dipeluk, Willi seperti anak kecil dan menganggap Vani adalah ibunya dia sangat manis waktu itu.
"Aku tak akan membunuh rasaku padamu Wil, biarlah aku mencintaimu dengan caraku, biarkan orang yang membaca ceritaku ini mengganggap aku gila dan mereka benar, aku sudah gila, aku gila karenamu Willi." guman Vani bicara pada dirinya sendiri.
Devan sudah mulai bisa berjalan cepat sesekali dia mulai bicara minta ini itu sesui maunya.
Sudah mulai merajuk mulai manja dan kadang kadang merengek jika Vani tak menurutinya.
"Kamu menggemaskan sayang." ucap Vani sambil menciumi pipi gembil putranya.
"Kamu mirip banget sih dek sama daddy." Vani senyum senyum sendiri jika mengingat senyuman Devan yang mirip sekali dengan senyum kekasih hatinya.
*****
Dikediaman Wijaya.
Makan malam sudah siap, tamu mereka pun sudah hadir, tinggal menunggu kedatangan William, papa Willian terlihat tenang walau sebenernya dia khawatir jika Willi tak datang, mau ditaroh dimana mukaku batin papa Danil, lihat saja kalo dia ga dateng, ancam nya lagi.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti didepan mension Wijaya.
"Itu pasti dia sebentar ya pak Bram."
"Baik pak Daniel."
William masuk ke rumah papa nya, semua mata tertuju padanya, calon istri William sangat senang mengetahui calon suaminya sangat tampan.
"Hay sayang, ahirnya putra papa datang juga." ucap Papa Danil basa basi.
"Cih..". batin Willi.
Mereka pun berpelukan seolah Danil sangat menyanyangi putranya.
"Kenalkan nak ini pak Bram itu ibu Santika dan ini putri mereka Anita."
William memainkan perannya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan calon mertuanya serta calon istrinya.
Diam diam William memotret Anita dan meminta Eric untuk mencari tau info tentang calon istrinya tersebut.
Willi benar benar mengikuti alur bahkan ketika orang tuanya meminta Willi untuk menganjak Anita ngobrol dan masuk ke kamarnya.
"Silahkan masuk nona." Willi membawa Anita masuk ka kamarnya.
"Terimakasih tuan Willi." jawab Anita.
"Heemmm." dikamar Willi hanya diam dan memainkan ponselnya membalas chat dengan Eric.
Menyebalkan sekali batin Anita ganteng sih tapi huffff sepertinya tak kuat jika diranjang batin Anita.
"Apa kamu suka sex?" jujur Willi kaget dengan pertanyaan Anita.
Willi hanya tersenyum.
"Why?" tanya Anita lagi.
Willi tak menanggapi, Willi masih diam.
"Aku tidak suka player, kamu paham." Anita menyampaikan lagi apa yang ada dihatinya.
"Heemmm."jawab William.
Ih menjengkelkan sekali batin Anita, pelit banget jawabnya.
Ahirnya Anita jenuh dan mengajak William turun.
"Bagaimana Wil oke kamu siap?" tanya papa Willi.
"Oke ga masalah." jawab Willi.
"Anita, apa kamu siap?".tanya papa Danil.
"Tidak masalah juga om, Anita ikut aja." jawab Anita.
"Oke sepertinya anak anak kita sudah siap, oke pernikahan kalian seminggu lagi." papa Danil memberi intruksi pada Anita dan Willi, Mata Willi terbelalak kaget, tapi dia berusaha tenang.
"Hah, seminggu lagi om, pah, aku mau konsep eropa, apa bisa dalam seminggu, ini pernikahan pertamaku om, aku mau seluruh indonesia tau, aku ingin meriah pah." rengek Anita.
Jujur Willi ingin ketawa cewek gini mau jadi bini gue astaga pa merem mata lo pah pah, anak lo mana bisa makan enak batin Willi.
"Sayang bukan kita ga mau ngabulin permintaan mu perusahaan sedang ada masalah, kita akan menggelar acara resepsi kalo masalah ini selesai, gimana?" pak Bram memberi penggertian pada putrrinya.
"Lalu pernikahan macam apa yg akan kita laksankan seminggu lagi ini?" tanya Anita.
"Yang penting sah dimata agama dan hukum dulu sayang." jawab Mama Anita.
"Heemm, menyebalkan." rajuk Anita.
"Ayolah sayang mengertilah." bujuk Mama Anita lagi.
"Oke bulan madunya ke Inggris deal." tawar Anita.
"Setelah resepsi oke." jawab pak Bram.
"Astaga, Anita bisa gila papa".
"Sabarlah sayang, sebentar lagi juga kelar, oke." bujuk pak Bram.
Willi hanya diam sebenernya dia ga kuat, ingin rasanya memaki papanya, huff..pah pah..model begini calon istri, bisa beneran ga makan anakmu.
"Ckckck sial." umpat Willi.
"Kamu mengatakan sesuatu Wil?" tanya papa Danil.
"Oh, no pa, Willi ikut aja". Jawab William.
"Oke baiklah semua sudah sepakat kami permisi dulu pak Daniel semoga tidak ada halangan sampai hati H, akad nikahnya kita laksankan dirumah saya bagaimana." tawar Pak Bram.
"Oke ga masalah." jawab papa Danil.
"Baiklah kami permisi dulu terimakasih atas jamuan makan malamnya"
"Baiklah sama sama pak Bram".
Mereka pun mengahiri pertemuan malam ini dengan berjabat tangan.
Anita memeluk mesra lengan Willi, jujur Willi merasa risih, ah..dasar batin Willi, Willi berusaha tetap tenang, dia hanya tersenyum.
"Willi apa kamu tidak keberatan jika mengantar Anita pulang."
"Tentu saja pah mari Anita aku antar kamu pulang."
Tadi nya Anita kurang puas dengan hasil kesepalatan mereka, tapi ketika Willi bersedia mengantarkannya pulang dia sangat senang.
Diperjalanan Anita terus menanyakan ini dan itu Willi hanya tersenyum dan kadang kadang menjawab seperlunya.
Sesampainya didepan rumah Anita, Anita menawarinya untuk masuk.
"Wil,mau masuk dulu." tawar Anita.
"Thanks ya udah malem kapan kapan aja oke." tolak Willi.
"Wil apa aku boleh menciumu," pinta Anita.
"Tentu."
Apa apa yang kamu mau ajalah.
batin Willi.
Willi mendekatkan wajahnya ke Anita, Anita mengalungkan tanganya ke leher Willi, mereka berciuman sangat panas, bahkan anita berani memegang milik Willi, sebenernya dia agak terkejut, tapi Willi membiarkanya, kalau bukan karena aku ada tujuan udah aku lempar kamu wanita ******, batin Willi.
Ciumanya oke, miliknya juga gede batin Anita. ah..persetan dengan yang lain, yang penting aku tau miliknya oke.
Willi tersenyum, Anita merasa puas.
"Kapan kita bisa ML honey?" tanya Anita sambil tersenyum nakal.
"Heemmm."
"Aku ingin merasakan milikmu."
"Sabar ya." jawab Willi, hatinya sangat menahan amarah.
Astaga papah, batin Willi.
"Ya udah aku turun dulu ya beb..good night"
"Heemm..good night"
Qnita pun turun dr mobil Willi, cepat cepat Willi mengusap mulutnya.".sial". umpat Willi.
"Aku berasa ****** pah kau menjualku, brengsek." umpat Willi, sambil memukul stir mobilnya dan melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi.
***bersambung***