Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.
Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.
Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.
Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.
Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.
Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH DUA - INGKAR
Dipan di dapur sudah rapi, kini Marini dan Hanum sedang menikmati istirahat siang mereka di depan televisi yang menyuguhkan acara talkshow. Mereka cekikikan karena pembawa acaranya yang lucu dan menyenangkan.
“Seru banget sih bu.” Pak Mahmud datang dengan Bima.
“Iya nih pak lucu banget acaranya.” Sahut Marini yang masih fokus pada tontonannya.
Pak Mahmud dan Bima bergabung dengan Hanum dan Marini untuk bersantai menikmati acara di TV. Kini keempatnya fokus pada acara TV hingga tak disadari Pak Mahmud dan Marini memjamkan matanya dan tidur siang.
Hanum dan Bima yang sudah mulai bosan juga saling melirik dan memutuskan untuk pergi keluar. Setelah sepakat dengan bisikan-bisikan agar tak didengar orang tuan Bima, mereka bangkit dan pergi setelah mematikan TV dengan remot yang masih digenggam Marini.
Bima mengajak Hanum ke belakang rumah, ia hendak mengambil sepeda kumbang milik ayahnya. Bima berencana untuk bersepeda ke kebun dan sawah untuk menghabiskan hari, karena waktu mereka untuk bisa berjalan-jalan dengan bebas seperti saat ini sudah hampir habis.
Bima sudah memprediksi bahwa dunia kuliah akan menyita waktunya, namun begitu ada hal yang disyukurinya. Ia satu kampus dengan Hanum hingga tak harus berlama-lama untuk berpisah. Mereka masih bisa menyempatkan waktu untuk melihat satu sama lain di kampus.
Derit suara sepeda tua Pak Mahmud mulai terdengar saat Bima mendorongnya yang disambut oleh senyuman hangat Hanum. Gadis itu tersenyum lebar, tak bisa menyembunyikan kebahagiannya bertemu denga sepeda favoritnya. Dan… lelaki favoritnya. Sungguh paket lengkap.
Bima berhenti tepat di hadapan Hanum dan senyum di wajahnya sudah dengan jelas meminta Hanum untuk duduk di boncengan sepeda. Tanpa berlama-lama lagi Hanum naik di jok belakang dan hanya memegang baju Bima sebagai pegangan.
“Kayaknya terakhir pegangannya ngga gitu.” Bima menggoda Hanum.
“Genit ya.” Hanum mencubit pelan pinggang Bima yang keras. Lelaki itu terlalu banyak berolah raga.
Pertama-tama mereka mendatangi kebun, sekedar untuk mengobrol dan menikmati hembusan angin yang terasa menyegarkan karena posisi kebunnya ada diatas bukit. Suasananya akan sangat menenangkan.
Perjalan dimulai, Bima dan Hanum menuju selatan desa untuk bisa sampai ke kebun ayahnya yang berjarak 15 menit itu.
"Kamu nggak capek Bim?" Kata Hanum yang duduk di saung kebun Pak Mahmud "padahal kan tadi udah ke sini." lanjut Hanum.
"Enggaklah, aku nggak capek kok. Apalagi perginya sama kamu, aku seneng seneng aja." jawab Bima.
"Hm. aku juga sama kok, seneng kalau bareng kamu terus." kata Hanum lagi "menurut kamu nanti ospek kita bakalan susah nggak ya?" tanya Hanum.
"Nggak apa-apa lah susah yang penting ada kamu." kata Bima.
Hanum dan Bima mulai membicarakan kehidupan perkuliahan mereka. Mulai dari ospek, mata kuliah, jurusan, bahkan sampai sidang dan skripsi yang baru akan mereka kerjakan pada tahun keempat di perkuliahan mereka.
Keduanya tenggelam dalam obrolan tentang kampus, tentang sekolah mereka yang akan mereka tinggalkan, juga masa depan yang ingin mereka rangkai setelah lulus kuliah. Obrolan keduanya diiringi oleh suara serangga di kebun juga angin lembut yang bertiup menerpa wajah mereka dan menerbangkan rambut Hanum yang lebat.
Hanum dan Bima merasa terpesona dan terkagum-kagum satu sama lain, mata mereka bertemu sesekali setelah satu sama lain memandangi wajah masing-masing. Sesekali mereka juga memalingkan wajah karena tersipu malu.
Jam-jam untuk saling mengagumi satu sama lain tak terasa, Bima melirik jam di tangannya dan ini sudah hampir memasuki waktu ashar. Mereka harus kembali ke desa untuk salat dan meneruskan perjalanan ke sawah.
Saat menuruni kebun Hanum memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya di pinggang Bima karena ia merasa tak akan ada orang yang mengawasi mereka di sini, dan itu membuat Bima senyum-senyum sepanjang perjalanannya. Namun tanpa mereka sadari sepasang mata yang terus memperhatikan mereka sejak turun dari kebun.
Sekembalinya dari kebun dan mulai memasuki jalan desa, Hanum mulai melonggarkan pelukannya dan ia kembali meremas baju Bima sebagai pegangan.
Bima dan Hanum sudah kembali ke rumah. Bima harus mengganti celananya yang pendek dengan sarung untuk bisa solat di mushola. Dan saat mereka tiba di dalam rumah Pak Pak Mahmud dan Marini sudah tidak ada di ruang tengah.
“Bu… pak….” Panggil Bima berharap ada yang menyahut karena salamnya tak digubris saat memasuki rumah.
“Kenapa Bim?” Tanya Pak Mahmud yang datang dari dapur.
“Ibu kemana pak?” Bima balik bertanya.
“Ke rumah Mbah Uti” jawab Pak Mahmud membenarkan sarungnya “ayok ke musholla, udah mau ashar.” Ajaknya.
“Iya bentar. Bima siap-siap dulu.” Bima melenggang menuju dapur.
“Darimana Num?” Kini Hanum yang diajak bicara Pak Mahmud.
“Habis jalan-jalan keliling desa sama ke kebun sebentar.”
“Nggak aneh-aneh kan?” Goda Pak Mahmud.
“Bima mana berani aneh-aneh pakde.” Jawab Hanum mengerti arah obrolan orang tua itu.
“Siapa bilang?” Sambar Bima yang datang dari dapur.
“Udah ah, Hanum juga mau siap-siap solat.” Sabut Hanum.
Hanum menutup obrolan mereka dan pergi menuju ke kamar mandi setelah melewati dapur untuk mengambil air wudhu. Sekembalinya dari kamar mandi, Hanum mendapati rumah sudah kosong. Anak dan ayah itu sudah pergi, pikirnya.
Kini giliran Hanum yang bersiap untuk solat di kamar karena kumandang adzan sudah terdengar dari toa musholla. Ia menggelar sajadahnya menghadap ke barat dan memiringkannya sedikit, seperti yang selalu ia lakukan.
Usai solat dan merapikan perangkat solatnya, Hanum segera keluar dan mendatangi pintu karena ada seseorang yang bertamu. Ia buru-buru membuka tirai kamarnya dan menjawab salam sang tamu seraya membuka pintu rumahnya.
Hanum mematung, wajahnya pucat. Sepertinya seluruh darah di tubuhnya menghilang, ia benar-benar tak menduga bahwa tamu yang sedang berhadapan dengannya akan kembali lagi ke rumah ini. Karena dia adalah tamu yang tidak diinginkan di rumah ini.
“A-ayu.” Ucap Hanum terbata-bata.
“Boleh aku masuk?” Tanyanya dengan suara yang lembut.
Hanum segera menyadarkan dirinya. Ia berusaha menarik seluruh kesadarannya dan bergeser agar Ayu bisa masuk. Meski sebenarnya ia juga masih bingung, haruskah ia membiarkan gadis ini masuk ke dalam rumah atau menolak kedatangannya.
“Bima ada?” Tanyanya lagi dengan nada yang sama lembutnya seperti tadi.
“Lagi solat” jawab Hanum singkat “aku buat minum dulu.”
Ayu hanya tersenyum dan mengangguk mempersilakan Hanum untuk ke dapur dan membawakannya untuk setidaknya menyuguhkan segelas air bagi si tamu. Hanum berlalu dengan pikiran yang penuh dan hati yang keruh.
Setiap langkahnya terasa perih bagai menginjak duri. Padahal ini hanya kehadiran seorang gadis yang sudah ditolak kekasihnya. Ia tak harus cemas karena Bima tetap setia dan memilihnya. Harusnya ia tak ragu dan goyah.
Hanum kembali dengan segelas air bening dan pisang kukus yang masih tersisa dari sarapannya pagi ini. Ia meletakkan suguhan itu di atas meja dan ikut duduk di sofa untuk menemani sang tamu.