Kisah perjuangan seorang atlet lelaki yang harus mengubur impiannya demi keluarga sepeninggalan Sang Ayah. Menjadi tulang punggung diusia muda menjadikannya harus mengubur impian untuk berkomitmen dengan pujaan hatinya.
Dilain sisi ada wanita manja dari keluarga kaya raya, karena kehilangan sosok Ibu dalam hidupnya membuat dia tumbuh tanpa ada kelembutan seorang ibu. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Secara frontal menolak kehadiran sang Ibu tiri.
Apakah kedua insan ini bisa bersatu diatas perbedaan yang ada? bisakah saling menurunkan ego?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Senja 33, Surprised
Bu Ning merestui kepergian Candra buat mengadu nasib di perusahaan milik Pak Nasihin. Candra pun sudah menghubungi Pak Nasihin untuk memberitahu kalo dia akan bergabung dengan perusahaan tersebut.
Terbayang dibenak Candra kalo dia sudah kerja tetap, ga akan lagi dapat uang secara musiman yang belum jelas jumlahnya berbeda dengan penghasilan bulanan, akan tetap nominalnya. Gajinya pun sudah disepakati dengan jumlah yang lumayan buat lulusan SMA baru sepertinya.
Pagi ini Candra sudah siap berangkat menuju salah satu tempat di daerah Cibeureum, sesuai dengan perjanjian, bahwa dia akan dijemput di Stasiun Bogor oleh karyawan Pak Nasihin karena ada lima orang yang akan kerja seperti dirinya.
Semua pendapatan Candra selama di Resort milik Pak Sanjaya udah diserahkan ke Ibu Ning, dia hanya ambil seratus ribu rupiah buat pegangan dan ongkos ke Bogor.
Di Stasiun Bogor mereka dikumpulkan dan saling kenalan, hampir semua sebaya Candra, baru lulus SMA. Dari Stasiun Bogor mereka naik mobil menuju Cibeureum. Bagi Candra yang emang ga pernah bepergian jauh (selain ke Resort) menjadi sebuah pengalaman yang menarik.
Hampir tiga jam perjalanan kesana pakai mobil. Setelah sampai mereka masuk kedalam sebuah rumah yang tampak seperti villa. Mereka dipersilahkan istirahat dulu, besok baru akan diantar ke lokasi kerja.
🍒
Lexa pagi ini diantar pulang sama Mas Akmal. Naik kapal fery pagi bareng-bareng sama tamu yang akan pulang menuju Marina Ancol.
Dalam perjalanan pulang, Lexa yang duduk bersebelahan sama Mas Akmal mengajak berbincang.
"Pak Akmal ... pernah ga merasa kecewa sama nasib?" tanya Lexa.
"Pernah" jawab Mas Akmal singkat.
"Saat kecewa kaya gitu, pernah ada pikiran buat pergi jauh bahkan bunuh diri?" kata Lexa lagi.
"Pernah" jawab Mas Akmal lagi.
"Kenapa ga melakukannya?" ujar Lexa.
"Karena nasib membawa Mas ke Pak Sanjaya. Orang yang sangat baik, mungkin beliau diutus oleh Allah buat menolong Mas. Kalo ga kenal beliau, mungkin Mas ga seperti ini dan mungkin aja udah ga ada di dunia ini" jelas Mas Akmal.
"Hanya karena itu Pak Akmal sangat hormat sama Ayah dan mengabdikan hidup Pak Akmal seluruhnya buat Ayah?" tanya Lexa kepo.
"Itu salah satunya. Sosok Pak Sanjaya memang misterius dan banyak diam. Tapi dalam diamnya, beliau selalu berpikir jauh kedepan. Kadang beliau bercerita tentang Bunda dan anak-anaknya. Hanya hal itu yang membuat matanya berkaca-kaca. Xa ... Pak Sanjaya tuh sedih karena anak-anak sekarang menjauh dari beliau. Kan Bu Dinda juga keliatannya baik, beliau bukan orang baru dalam kehidupan kalian kan? Belajar terimalah Xa" bujuk Mas Akmal.
Lexa terdiam menikmati deburan air yang terkena motor kapal. Hati kecilnya sulit menerima semua ini.
Banyak pemikiran bergelayut di otaknya Lexa. Biar bagaimanapun Ayah jadi cinta pertama baginya. Sosok yang selalu dia kagumi, sekarang berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
"Yah ... demi nafsu dan ego, Ayah tega menggantikan posisi Bunda dengan wanita lain. Melukai hati anak-anak semua. Mungkin sangat lancang dimata Ayah untuk bilang ga suka sama Tante Dinda, tapi Yah ... sakit hati yang Xa rasakan seolah gak bisa terbendung lagi. Ayah, kemana pelukan hangat yang dulu Xa dapatkan sewaktu kecil? Xa ga akan merasakan kekecewaan yang mendalam jika gak ada cinta yang mendalam buat Ayah. Ayah, banyak cerita yang Xa lihat di banyak film, kalo anak perempuan akan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar milik Ayahnya, membiarkan air mata membasahi bahu milik ayahnya. Tapi Ayah, kenapa bahu Ayah terlalu jauh untuk Xa bersandar?" ungkap Lexa dalam hatinya.
"Xa... udah sampe, ayo kita turun" ajak Mas Akmal memecah lamunannya Lexa.
"Kita naik taksi atau dijemput?" tanya Lexa.
"Dijemput, Pak Sanjaya tadi kasih kabar ke Mas kalo udah kirim supir kesini" jawab Mas Akmal.
"Oh Ayah masih ingat punya anak yang mau pulang toh" kata Lexa.
"Xa ... jangan mulai deh" jawab Mas Akmal ogah-ogahan.
💠
Jam dua dini hari, seperti biasanya, Candra terbangun, terbiasa mencuci beras buat bikin bubur dan meletakkan di panci yang sudah diisi air, jadi tubuhnya seperti sudah ada alarm secara otomatis.
Perasaannya memang kurang enak sejak pertemuan dengan karyawannya Pak Nasihin di Bogor kemarin pagi. Berkali-kali ditepisnya perasaan itu, kemudian dia sholat tahajud. Belum selesai sholat, terdengar bunyi keramaian diluar villa. Setelah salam, tanpa berdo'a, Candra bangkit dari sajadahnya kemudian menuju sumber suara.
Wajahnya menunjukkan semburat kekagetan luar biasa saat polisi memintanya buat keluar dan berjongkok bersama orang yang mengaku karyawannya Pak Nasihin.
"Kalian ikut semua ke kantor polisi, bawa semua tas-tas kalian buat diperiksa juga" ucap Pak Polisi dengan tegas sambil mengikuti semua masuk kedalam kamar buat mengambil tas masing-masing. Setelah mengambil barang bawaan, semua ikut naik ke mobil polisi. Beberapa warga ada yang berkerumun. Disana memang banyak villa-villa, lumayan jauh jaraknya dengan perkampungan warga.
Rupanya kedatangan polisi kali ini untuk menindaklanjuti kejadian setelah adanya laporan masyarakat terkait tercurigai ada aktivitas perdagangan orang dengan modus pemberangkatan TKI secara ilegal. Ini sudah kali ketiga ada yang menginap dengan cara menyewa villa. Karena biasanya kalo memang niat liburan, maka akan ada aktivitas ke Curug atau sekedar jalan-jalan disekitar villa. Tapi orang-orang ini hanya masuk dan ga boleh keluar secara bebas karena semua makanan akan disediakan. Suasananya juga sepi, seperti ga ada aktivitas berarti, makanya ada warga curiga. Awalnya dikhawatirkan sebagai sindikat pengedaran narkoba, tapi setelah diteliti warga rupanya untuk dijual sebagai pekerja ilegal. Dari Cibeureum biasanya nanti dibawa ke Surabaya lanjut ke Kalimantan. Dibatas Indonesia dan Malaysia inilah mereka akan masuk secara ilegal.
Merasa ada dugaan kearah human trafficking, Polisi melakukan penggerebekan kesalah satu villa dan berhasil mengamankan dua tersangka pria serta sepuluh calon korbannya. Jadi villa tersebut dijadikan penampungan sementara bagi para calon TKI sebelum diberangkatkan.
Ketika sampai di kantor Polisi, hanya ditemukan kartu identitas dari para korbannya, yang informasinya akan digunakan untuk pengurusan dokumen buat bekerja dan ga tau kalo akan jadi TKI ilegal. Namun, diduga sejumlah dokumen keberangkatan itu semua palsu. Bahkan kedua pelaku yang merupakan kaki tangan sindikat ini ga bisa menunjukan dokumen yang berkenaan dengan job desk para calon TKI tersebut. Atas tindakan tersebut, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 4 dan 10 Undang-undang, nomor 21/2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama lima belas tahun dan pidana denda paling sedikit seratus dua puluh juta rupiah dan paling banyak enam ratus juta rupiah.
Dari sepuluh calon korban yang ga tau sama sekali bahwa mereka akan dijual, hanya Candra yang detail menjelaskan secara runut bagaimana dia berkenalan sama oknum yang bernama Nasihin hingga sampai ke Villa di Cibeureum.
realita nya banyak orang tersesat dan mencari jalan lurus
eh.. ntar Lexa tantrum 🤭