Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
Pagi ini lagi - lagi gue liat keanehan pada Richard. Biasanya dia bangun pagi nunggu gue bangunin tapi ini, Richard bangun sendiri. Gak nyapa gue sama sekali, tapi langsung sibuk dengan ponselnnya.
"Appa apa sedang ada masalah di kantor?" gue tanya setelah kembali dari balkon.
"Tidak" jawabnya singkat
Oke. Karena tidak ada yang mau gue omongin lagi gue mandi walaupun di hati gue kerasa ada yang ngeganjel.
Gak enak banget dicuekin sama Richard. Baru sehari gak di gangguin aja gue udah kangen.
Gue menyiapkan pakaian Richard dalam diam, sedang Richard masih sibuk dengan ponselnya sambil senyum - senyum sendiri.
Gue jadi penasaran Richard lagi chat sama siapa.
Sampai Richard berangkat kerja tidak ada percakapan apapun antara kami. Richard hanya menjawab pertanyaan gue dengan iya, tidak, mengangguk dan menggeleng.
*****
Ini hari ketiga Richard nyuekin gue. Bener - bener serasa orang asing yang tidur sekamar. Gak ada lagi panggilan mesra atau manja - manja. Gue kangen sentuhan Richard yang memabukkan. Kangen ciuman selamat lagi.
Ya ampun kayaknya gue beneran udah tergantung sama Richard.
Gue dan Richard sedang berbaring di ranjang sambil menunggu kantuk datang. Richard asik dengan ponselnya. Sesekali gue mencuri pandang ke arah Richard.
Lagi - lagi Richard senyum - senyum. Entah apa yang sedang ia kerjakan dengan ponselnya.
"Appa, kamu sedang chat dengan siapa?" Richard menghentikan jarinya yang sedang tadinya bermain di layar ponsel. Menyembunyikan di bawah bantak.
Makin penasaran dan curiga dong gue. Bayang - bayang Richard sedang pergi berkencan dan bermesraan dengan wanita lain muncul di kepala gue.
Karena kesal dengan imajinasi gue sendiri, gak sadar gue menghentakkan kaki gue di kasur. Untung Richard tidak bertanya apa - apa.
Gue kenapa sih? Gue kok ga suka ngebayangin Richard sama wanita lain.
Iya lah mana ada istri yang suka liat suaminya deket sama cewek lain.
Gue bermonolog.
Trus nanti kalau Richard tanya kan gue gak cinta sama, ngapain juga gue cemburu? Terus gue harus jawab apa?
Cinta gak cinta tapi ini soal kesetiaan dalam rumah tangga. Komitmen.
Di kelapa gue kayak ada malaikat dan setan yang lain berargumen.
*Justru itukan, harusnya gue gak curiga sama dia. Kan gue udah kelakuin semua kewajiban gue sebagai istri. Richard gak ada alasan buat selingkuh.
Tapi gue gak suka! Ngebayangin Richard deket sama cewek lain aja gue gak suka, apa lagi beneran kejadian*!
Gue menggaruk kepala gue karena frustasi. Binggung sama perasaan gue sendiri.
*****
Gue meninggalkan Angel di rumah uwak karena Angel ada latihan bela diri. Sedangkan gue meluncur ke kantor Richard.
Gue tadi beli makanan kesukaan dia, berharap Richard belum makan walaupun sebenarnya ini sudah lewat makan siang.
Di lantai bawah gue diarahkan ke lantai sepuluh tempat ruangan Richard. Walaupun gue baru pertama kali kesini, tapi ternyata pegawai disini sudah kenal gue. Mungkin karena beberapa dari mereka datang ke pernikahan gue.
"Maaf." Lirih gue sambil mematung melihat pemandangan di ruangan Richard.
Seorang wanita duduk dipangkuan Richard sambil melingkarkan lengannya ke leher Richard dengan manja.
Be*o! kenapa gue gak ketuk pintu dulu sih?! Gue merutuki kebodohan gue
"Aku pergi saja. Maaf menganggu kalian." gue berusaha sebisa mungkin menahan air mata gue biar gak tumpah.
Gue bukan cewek cenggeng tapi yang gue liat ini nyakitin banget.
"Sayang... " gue denger Richard panggil gue, tapi gue gak perduli. Lama menunggu lift naik, gue memutuskan untuk turun lewat tangga.
Sekarang gue ngerti sama perubahan sikap Richard. Mungkin cewek tadi yang tiga hari ini bikin Richard senyum - senyum sendiri.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" gue memukul - mukul setir mobil.
Mungkin Richard bosen nunggu perasaan gue seperti yang Marlin bilang. Bodoh nya gue, kenapa gak dari kemarin - kemarin gue sadar kalau perasaan gue ke Richard sudah begitu dalam.
Sayangnya Richard sudah berpaling.
Gue ke rumah Uwak dulu untuk jemput Angel. Sesekali gue intip ponsel gue, Richard bahkan tidak mengirimkan pesan ke gue. Sepertinya Richard sudah tidak perduli lagi.
Huuaaa!!! gue pengen nangis.
"Eomma kenapa?" tanya Angel ketika kami dalam perjalanan.
"Gak papa, sayang."
"Eomma nangis?" tanya nya lagi.
"Enggak sayang. Mata eomma kemasukan debu." gue mengusap sisa - sisa air mata gue.
...🌼🌼🌼 Jangan lupa masukin list favorit ya, Like dan komen. Ngasih gift seiklasnya ajah 🌼🌼🌼...
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..