NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004: Rumah yang Bukan Rumah

Pagi berikutnya, dokter hanya mengizinkan Sari keluar setelah Nadia menandatangani pernyataan bahwa ibunya akan kembali untuk kontrol sore.

"Saya tidak menyarankan Ibu banyak bergerak," kata dokter.

"Saya juga tidak menyarankan suami saya menikah saat saya dikafani," jawab Sari.

Dokter itu terdiam lagi.

Nadia menutup wajah dengan telapak tangan. "Bu..."

Sari tidak merasa perlu meminta maaf. Ia hanya meminta obat, surat koreksi medis sementara, dan salinan ringkas pemeriksaan. Semua dimasukkan Nadia ke dalam map plastik.

Mereka tidak pulang naik mobil kecil Nadia. Nadia memesan mobil sewa yang lebih besar, cukup untuk koper, kardus, dan apa pun yang harus diselamatkan dari rumah Prasetyo.

Sepanjang perjalanan, Sari menggenggam tas kain di pangkuan. Di dalamnya ada ponsel baru, dompet, map medis, dan botol air mineral. Napasnya sesekali pendek, membuat Nadia beberapa kali melirik dari kursi depan.

"Kalau Ibu pusing, kita berhenti."

"Tidak usah."

"Aku serius."

"Ibu juga."

Nadia menghela napas. "Keras kepala."

"Dulu Ibu terlalu lunak. Sekarang biar ganti rasa."

Mobil memasuki cluster lama tempat Sari tinggal hampir dua puluh tahun. Pagar otomatis yang dulu terasa seperti lambang keberhasilan keluarga kini tampak asing. Satpam di depan gerbang mengenali mobil Nadia dan langsung membukakan jalan, tetapi matanya membesar saat melihat Sari duduk di belakang.

Kabar sudah sampai ke sini.

Bagus.

Semakin banyak yang tahu ia hidup, semakin sulit Hendra memutar cerita.

Rumah Prasetyo berdiri di ujung jalan. Cat kremnya mulai kusam, taman kecil di depan tidak terurus, dan dua koper merah muda berdiri di teras.

Sari menatap koper itu beberapa detik. Di salah satunya tertempel gantungan nama berbentuk hati.

Ratna.

Nadia membuka pintu mobil. "Aku duluan, Bu."

"Tidak. Bareng."

Sari turun pelan. Lututnya masih lemas, tapi amarah membuat punggungnya tegak. Ia baru sampai depan pintu ketika pintu terbuka dari dalam.

Ratna muncul dengan daster satin berwarna peach. Rambutnya digulung asal, wajah tanpa riasan membuat usianya lebih terlihat. Di belakangnya terdengar suara kartun dari televisi.

Sari menatapnya.

Ratna menegang.

"Kamu ngapain ke sini?"

Sari tersenyum tipis. "Lucu. Aku yang tinggal di rumah ini puluhan tahun, kamu yang bertanya aku ngapain."

"Hendra tidak ada."

"Aku tidak mencari dia."

Ratna melipat tangan di dada, mencoba terlihat berani. "Ini sekarang rumahku juga."

"Sertifikatnya atas namamu?"

Ratna terdiam.

Sari melangkah masuk tanpa menunggu izin. Ratna spontan menahan pintu, tapi Nadia maju.

"Mbak Ratna, jangan sentuh Ibu saya."

Nada Nadia tidak keras. Justru karena itu terdengar lebih berbahaya.

Ratna menarik tangan.

Sari masuk ke ruang tamu.

Kotak paket menumpuk di dekat sofa, gelas bekas kopi tertinggal di meja, mainan anak berserakan sampai ke bawah kursi. Aroma parfum murah bercampur makanan basi membuat Sari mual.

Seorang anak perempuan kecil duduk di depan televisi. Usianya sekitar lima tahun. Rambutnya dikuncir dua, matanya besar, wajahnya mirip Hendra di bagian alis.

Anak itu menoleh.

"Mama, siapa?"

Ratna cepat mendekat. "Masuk kamar, Tania."

Tania memandang Sari dengan bingung. "Itu tante yang di video?"

Ruangan hening.

Ratna menarik napas tajam. "Tania!"

Sari menatap anak itu sebentar. Tidak ada kemarahan untuk Tania. Anak kecil tidak memilih lahir dari hubungan apa. Tapi luka di dada Sari tetap terbuka ketika mendengar suara polos itu di rumah yang dulu ia bersihkan untuk anak-anaknya.

"Nadia," kata Sari. "Mulai dari kamar Ibu."

Mereka naik ke lantai dua.

Ratna mengikuti dari belakang. "Kalian tidak bisa seenaknya ambil barang. Ini rumah Hendra."

Sari berhenti di anak tangga. "Barang yang aku ambil adalah milikku. Kalau kamu merasa ada yang milikmu, tunjukkan invoice."

Ratna tidak menjawab.

Di depan kamar utama, Sari berhenti lagi.

Pintu itu setengah terbuka.

Di dalam kamar, sprei yang kemarin lusa masih ia ganti sendiri sudah diganti warna merah tua. Di meja rias, botol skincare Ratna berjejer. Parfum, lipstik, sisir, penjepit rambut, semua memenuhi ruang yang dulu dipakai Sari menyimpan minyak urut dan obat darah tinggi.

Nadia mengumpat pelan.

"Dia tidur di sini?"

Ratna menjawab dari belakang, sengaja terdengar manis. "Istri tidur di kamar suami, salah?"

Sari tidak menoleh.

Ia masuk, membuka lemari paling bawah, dan mengeluarkan tas kain tua. Di dalamnya ada dokumen yang selama ini ia simpan: sertifikat kios, fotokopi kontrak kebun, buku rekening lama, buku catatan pembayaran pemasok, beberapa kwitansi besar.

Nadia langsung memasukkannya ke map.

Sari membuka laci kedua.

Kosong.

Keningnya mengeras.

"Ponsel lama Ibu tidak ada."

Nadia ikut mencari. "Yang hitam? Yang layarnya retak?"

"Ya."

Ratna bersandar di pintu. "Mungkin dibuang. Barang rongsokan begitu masih dicari?"

Sari menoleh pelan. "Kamu buang?"

Ratna mengangkat bahu. "Aku tidak tahu."

Sari berjalan mendekatinya. Ratna refleks mundur setengah langkah.

"Dengar baik-baik. Di ponsel itu ada bukti transfer, chat, dan urusan usaha bertahun-tahun. Kalau hilang karena kamu atau Hendra, itu bukan lagi soal barang rongsokan."

Wajah Ratna berubah.

Nadia langsung mengeluarkan ponsel dan merekam. "Ulangi, Bu. Biar jelas."

Ratna menunjuk Nadia. "Kamu anak kecil jangan kurang ajar."

"Saya dokter, Mbak. Sudah cukup umur untuk tahu pencurian barang bukti itu masalah."

Ratna menggertakkan gigi.

Sari tidak mau membuang tenaga. Ia membuka lemari pakaian. Sebagian bajunya masih ada, digeser ke sudut paling bawah. Gamis lama, kebaya lusuh, kardigan yang warnanya pudar. Baju-baju Ratna menggantung di bagian tengah, berwarna cerah, berbau parfum.

Sari mengambil beberapa pakaian seperlunya. Yang lain ia tinggalkan.

"Bu, ini juga?" Nadia menunjukkan kotak perhiasan kecil.

Sari membukanya. Isinya bukan emas besar. Hanya cincin nikah lama, gelang tipis hadiah almarhum ibunya, dan kalung kecil yang dibeli dari hasil jualan nasi uduk pertama kali.

Ia mengambil gelang dan kalung.

Cincin nikah ia biarkan.

Nadia menatapnya.

"Tidak dibawa?"

"Tidak. Biar Hendra lihat. Benda itu sudah tidak ada nilainya."

Mereka pindah ke kamar kerja kecil di samping. Dulu ruangan itu dipenuhi dokumen pabrik karena Hendra malas menyimpan rapi. Sari membuka lemari arsip bawah, menemukan beberapa laporan keuangan lama. Ia mengambil foto halaman-halaman penting.

Ada angka utang bahan baku.

Ada pinjaman bank.

Ada keterlambatan gaji.

Ada catatan pesanan besar dari perusahaan yang dulu ia bantu dapatkan.

"Bu," Nadia berbisik, "ini buruk sekali."

"Makanya Ibu tidak mau pabrik."

Ratna yang mengintip langsung pucat. Mungkin ia baru sadar Hendra tidak sekaya yang ia bayangkan.

Pintu bawah terbuka keras.

"Sari!"

Suara Hendra menggema dari lantai satu.

Nadia menegang. "Ayah pulang."

"Bagus," kata Sari. "Lebih cepat selesai."

Hendra muncul di puncak tangga dengan wajah kusut. Sepertinya ia belum tidur semalaman. Pipi bekas tamparan masih sedikit merah.

Begitu melihat kardus dan map di tangan Nadia, matanya menyipit.

"Kamu ambil apa saja?"

"Barangku."

"Ini rumah saya."

Sari menatapnya tanpa takut. "Rumah ini atas nama ibumu. Bukan namamu. Bukan namaku. Jadi jangan sok jadi raja."

Hendra terkejut karena Sari menjawab secepat itu.

"Kamu tidak punya hak bongkar-bongkar dokumen pabrik."

"Dokumen itu menyebut namaku dan usaha yang dulu dibangun orang tuaku. Aku punya hak tahu sejauh mana kamu merusaknya."

Wajah Hendra memerah. "Saya yang menjalankan pabrik itu puluhan tahun."

"Menjalankan ke jurang."

Ratna terisak kecil dari belakang. "Mas, dia dari tadi menghina aku."

Hendra melirik Ratna, lalu kembali pada Sari. "Kamu puas? Kamu sudah bikin acara saya kacau, sekarang mau bikin rumah saya kacau?"

Sari tertawa pelan. "Hendra, rumah ini kacau sebelum aku datang. Lihat ruang tamu."

Hendra kehilangan kata.

Nadia menutup map. "Bu, semua yang penting sudah?"

Sari mengangguk. "Kita pergi."

Hendra menghalangi tangga. "Kamu tidak keluar sebelum kita bicara."

Sari berhenti dua anak tangga di atasnya.

"Minggir."

"Kita suami istri."

"Kita pihak perkara."

"Sari!"

Nadia mengangkat ponsel. "Ayah, aku rekam. Kalau Ayah menahan Ibu, aku panggil satpam dan polisi."

Hendra menatap putrinya seolah tidak mengenalinya.

"Kamu bela ibumu sampai segitunya?"

Nadia menahan air mata. "Aku terlambat membela Ibu. Jangan buat aku terlambat lagi."

Hendra tersentak.

Sari menuruni tangga pelan. Hendra akhirnya minggir, bukan karena rela, tapi karena kamera Nadia dan sorot mata Sari membuatnya kehilangan keberanian.

Di ruang tamu, Tania masih memegang boneka. Ia melihat Sari lewat dengan mata bingung.

Sari berhenti sebentar, lalu berkata pelan pada Ratna tanpa menoleh.

"Urus anakmu baik-baik. Jangan terlalu sibuk merebut kamar orang sampai lupa memberi dia rumah yang benar."

Ratna tidak menjawab.

Di teras, sopir membantu memasukkan kardus dan koper. Sari duduk di kursi belakang, tubuhnya terasa hampir habis.

Nadia masuk di sebelahnya.

"Ibu kuat?"

"Tidak."

Nadia panik.

Sari menyandarkan kepala, memejamkan mata. "Tapi cukup."

Mobil bergerak. Dari kaca jendela, Sari melihat Hendra berdiri di teras bersama Ratna dan Tania. Pemandangan itu seharusnya membuatnya hancur, tetapi yang ia rasakan hanya asing, seolah rumah yang dulu ia bersihkan puluhan tahun memang tidak pernah menjadi miliknya.

"Kita ke mana, Bu?" tanya Nadia.

Sari membuka mata.

"Ke kios dulu. Setelah itu ke kontrakan."

"Ibu mau tinggal sendiri?"

"Iya."

Nadia ragu. "Aku bisa temani beberapa hari."

"Kamu punya hidupmu sendiri."

"Ibu juga punya aku."

Kalimat itu membuat Sari menoleh.

Nadia tersenyum lelah. "Jangan tolak semua orang, Bu. Tolak Ayah saja."

Sari tertawa kecil.

"Baik. Ayahmu saja."

Mobil keluar.

Di pangkuannya, map dokumen tidak lagi terasa seperti beban.

Itu senjata.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!