Hanya membangunkan sang kaisar yang tertidur akibat sihir, hidupmu akan berubah drastis dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loserpryyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duke and Duchess
Jonathan berhenti melangkah dengan kedua tangan ditumpukan pada lutut, walaupun badannya membunkuk, kepalanya tetap lurus memandangi Alice yang masih berjalan. Mau tak mau dirinya kembali bangkit menyusul gadis itu seraya mengeluh, "Tidak mau istirahat dulu? Ini sudah sangat jauh, kita berjalan empat jam tanpa berhenti. Iya, aku paham kalau tenagamu berbeda dari perempuan pada umumnya, tapi tolonglah mengerti kondisi. Sebenarnya aku tidak lelah, tapi hanya butuh istirahat sebentar saja. Aku juga khawatir padamu, akui saja kalau ingin istirahat."
Alice yang sejak tadi hanya diam, akhirnya mau bicara lagi, walaupun sedikit, "Aku hanya takut kalau buku itu masih mengikuti kita."
"Sudahlah, biarkan saja. Kalau ada lagi, kita tinggal lari."
Pupil gadis itu tampak bergetar, pandangannya juga tidak mengarah pada sang lawan bicara, melainkan ke arah lain dibelakang Jonathan, "Masalahnya ancaman itu datang tiba-tiba. Iya kalau aku yang kena tidak masalah, tapi kalau kau... merepotkan. Bagaimana aku akan membawamu nanti? Apa harus ditinggalkan saja?"
"Sst, pikiranmu buruk sekali. Coba bilang yang baik-baik, nanti kejadian buruk juga enggan mendekat," sahut Jonathan berusaha memberi penyembangat untuk kekhawatiran berlebih yang dialami Alice, padahal sebelumnya dia tampak ceria dan masih banyak bicara, "Sebenarnya aku juga khawatir, tapi kalau kita begini terus di perjalanan yang ada malah stres karena terlalu memikirkan."
Alice terlihat ketakutan seraya menggigit bibirnya. Dia juga terus memundurkan langkah walau hanya se-inci. Membuat Jonathan semakin diliputi perasaan cemas, ia mencoba mendekatkan diri untuk memeluk gadis itu dan menenangkannya. Tapi tangannya sontak ditepis kasar.
Jonathan menghela napas pasrah, Alice tampak seperti bukan dirinya yang keras kepala saat ini, "Jangan takut, anggap saja kita sedang bermain. Seseorang mengejar dan kita harus lari, menghindari, atau bersembunyi."
Gadis itu tiba-tiba menatapnya tajam, dia juga tidak lagi beringsut mundur, tapi masih terlihat ketakutan, "Apa alasanmu mau menyelamatkan Kaisar Enrique?"
"Apa yang kau tanyakan? Walaupun aku sempat kesal padanya, Enrique tetaplah temanku, dia sahabatku sejak kecil. Apalagi aku sudah menduga tuduhan akan datang padaku, cepat atau lambat. Maka sebelum itu terjadi, sebaiknya ku selesaikan semua dan membuat Enrique hidup kembali. Kenapa kau menanyakan hal itu tiba-tiba?" Tanyanya sedikut menyentak. Khawatir jika kali ini Alice yang dirasuki, atau kejadian lama kembali terulang, ketika mereka tidak saling memercayai satu sama lain, "Ingat, kita harus saling memberi kepercayaan."
Bola matanya terbuka lebar, bibirnya juga, namun sreolah kelu untuk bicara, Alice tiba-tiba terjatuh dengan menutup matanya. Sekuat tenaga ia berteriak, "Dibelakang--akh!"
Mendapati serangan dadakan, membuat tubuh Alice tiba-tiba limbung. Sebuah senjata tak kasat mata melukai leher gadis itu hingga bercucuran darah merah yang pekat.
"Alice!" Jonathan spontan berteriak seraya berbalik. Baru ia sadar dengan apa yang Alice lihat, sosok perempuan berpedang dengan mata mengeluarkan darah, menatap mereka nyalang. Dilihat dari bekas percikan cairan merah, pedang itu sepertinya senjata tak kasat mata yang sempat melukai leher Alice tadi, "Kau..."
Perempuan berlinang darah itu menyeringai, "Iya, ini aku, Miranda. Korban pertama yang kau perbuat. Perjalananmu kali ini tidak akan berbeda dari sebelum-sebelumnya, gadis itu juga akan mati, jadi kau tak berlu menyia-nyiakan waktu."
Jonathan mendesis kesal, kenapa harus kejadian mistis lagi yang menghampiri. Kalau seperti ini, ia dan Alice tidak akan selamat karena mereka tak dapat melihat ancamannya, "Pergilah ke alammu dan jangan mengganggu kami. Sudah cukup aku merasa sangat bersalah karena kematianmu."
"Kau mau semuanya segera berakhir kan? Kamatianmulah akhir dari kejadian ini. Jika nyawamu ikut bersamaku dan gadis yang audah mati lainnya, jiwa kaisar yang terlepas bisa kembali. Tidak perlu susah-susah menuju bukit tua."
"Pergilah, jangan mengganggu siapapun lagi!" Bentak Jonathan, membuat perempuan bernama Miranda tersebut menggertakkan gigi.
"Aku mengingatkan sebelum membawa nyawa Alice pergi. Kau tidak ingin dia mati kan? Turuti saja ucapanku," giliran Miranda yang menggertak.
Sementara itu, Jonathan lebih memilih mendekati Alice untuk memeriksa kondisinya. Ia mendesah lega saat gadis itu masih tampaj bernapas walaupun pelan dan tidak teratur. Sesekali matanya melirik Miranda yang masih berdiri di tempat, 'Aku tak bisa memercayainya juga, dia arwah yang tidak jelas. Belum tentu benar-benar Miranda.'
"Jonathan, kau hanya perlu membunuh dirimu sendiri. Untuk itu, Alice akan tetap hidup seperti biasanya tanpa teror, dan kaisar juga akan terbangun dari tidur panjangnya. Kau jangan egois, dirimulah penyebab semua ini, jadi kau juga yang harus menanggungnya melalui kematian," dia menjelaskan meski Jonathan masih terlihat menutup telinga untuk kesekian kalinya. Tak mau percaya, sekalipun hanya berniat mendegarkan. Membuat Miranda lagi-lagi harus menghela napas kesal.
Beberapa saat kemudian Jonathan mengumpat, sebelum setelahnya mengangkat tubuh Alice dan membawa gadis itu meninggalkan Miranda, "Bodoh, kau arwah tidak jelas dan aku tak akan memercayaimu begitu saja. Pergilah, lakukan apapun sesukamu. Aku sendiri yang akan melindungi Alice dan menghidupkan Enrique lagi."
Arwah perempuan pemanah itu hanya bisa terdiam kaku menatap kepergian lelaki yang sidah membuatnya meregang nyawa. Jonathan harus mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan sebelumnya, "Kau yang gila, membuat semua orang dalam bahaya karena keegoisanmu."
...---...
Lydia berlari terburu menemui sang suami yang tengah membereskan ruang kerja, "Aku mendapati kabar, selama ini Nathan selalu ingin ditempatkan bekerja untuk mengurus wilayah pelosok. Dari beberapa desa yang dia kunjungi, ada kejadian janggal. Beberapa gadis muda meninggal karena melakukan perburuan bersamanya dan beberapa orang lagi."
Pria itu terliahat acuh, "Dengar dari mana?"
"Aku mencari tahu semuanya, perlahan terbuka sedikit demi sedikit. Dan sekarang yang paling mengkhawatirkan, Nathan sedang bersama seorang gadis bernama Alice dari desa dekat perbatasan hutan. Jika terjadi sesuatu pada Alice, Nathan akan menjalani pemeriksaan. Berita ini sudah menyebar cukup luas."
Mendengar jika berita ini menyebar sudah cukup luas, Duke Roberto baru panik. Iantak ingin imejnya semakin pudar gara-gara kelakuan anak lelaki semata wayangnya itu. Sang Duke membentak, membuat Lydia berjengit kecil karena terkejut, "Lalu kenapa kau membiarkannya?!"
"Aku juga baru tahu hari ini, orang-orang di luaran sana sudah lebih dulu mengetahuinya," Lydia mengelak di salahkan dengan mengaku baru mendengar, padahal sebelumnya ia sudah tahu mengenai hal ini. Dan dialah penyebar gosip itu sendiri, namun berpura-pura sebagai penolong, "Kita harus mendatangi rumah keluarga para gadis yang menjadi korban dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya mereka juga akan menuntut Nathan."
Duke Roberto mengusap wajah dengan geram, "Sial! Semuanya jadi kacau karena kelakuan anak itu."
...Tale of The Sleeping Emperor...
nagis aja gak akan ada hasil
ada lanjutnya ga thor