NovelToon NovelToon
Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib

Status: tamat
Genre:Contest / Nikahkontrak / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:131k
Nilai: 4.4
Nama Author: Kayuni"

Apa yang kau lakukan saat ada pria memaksa mu menikah dan memperlakukan mu sesuka hatinya. Hingga kebebasan mu terenggut oleh ya?

Ya itu lah yang di rasakan Somsi saat ia menikah dengan seorang pria yang tidak dicintainya.


Somsi Celin Putri adalah wanita sederhana, baik dan penuh kasih. Dia rela menghabiskan masa mudanya pergi merantau jauh dari tanah kelahirannya.

Semenjak bekerja ia menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

Manis pahitnya kehidupan tetap ia jalani. Di tengah ia sibuk menjalani kehidupannya di masa sulit, seorang pria kaya raya yang bernama Sean Al Denian masuk dalam kehidupannya. Memberikan belenggu cinta dan kehidupan yang berbeda untuknya.

Bagaimana ia dapat bertahan sampai sejauh itu dan bagaimana ia menanggapi cinta dari pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayuni", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Perasaan

Aww......

Suara nenek tua itu meringis kesakitan.

"Siapa yang uda berani melemparku dengan memakai batu ini....... akan ku hukum dia," ucap nenek tua itu keras.

Waduh gimana ini?

Bram ingin memutar pergi tapi takut dengan perasaan bersalah. Kalau ia meladeni nenek tua itu, bisa-bisa ia tidak bisa mengejar Somsi lagi. Sesuatu yang sangat sulit untuk bisa ia pilih.

Apa aku lari ya?

"Siapa! siapa yang berani melempar ku dengan batu ini.......," teriaknya lebih keras dari sebelumnya.

Nenek tua itu melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang yang melemparnya. Ia kemudian melihat ke depan tetap saja tidak ada. Lalu ia berbalik ke belakang untuk melihat pasti apa iya ada orang yang sengaja melemparnya.

"Berhenti," ucap nenek tua itu saat melihat Bram ingin lari.

Aduhh, kedapetan lagi. Gimana ini?

Bram menghentikan langkahnya. Ia tidak berani untuk memutar badannya menghadap nenek tua itu.

"Menghadap ke saya," perintah nenek tua itu cepat.

Bram masih saja tidak mendengar. Bukan karena ia tidak mau berbalik, namun rasa takut yang ada pada dirinya lah membuatnya untuk tidak berbalik.

Nenek tua itu menunjuk Bram yang belum berbalik dari belakang tubuh Bram. "Apa kau tidak dengar saya!" Bram ingin berbalik tapi badannya seperti rasanya kaku tak bisa bergerak. "Apa kau masih saja seperti itu?"

Nenek tua itu mulai habis kesabaran. Dari tadi Bram tidak mau berbalik.

Bram menutup matanya sambil memutar badannya menghadap nenek tua itu. "I-iya nek."

Nenek tua itu berdecih. "Cih... kenapa masih menutup mata! kau kira aku ini hantu."

Dengan perasaan takut Bram mulai membuka matanya pelan. "Ma-maaf nek."

"Owh jadi kau?" ucap nenek tua itu setelah Bram membuka dua matanya. Seperti rasa kenal tapi dimana.

"Ne-ne-nenek kenal saya," ucap Bram terbata-bata.

"Iya ingat lah. Kamu kan dan juga teman-teman mu yang ganggu nenek saat mandi di sungai?" tegasnya.

Aduh, ini si nenek lancar juga jaringannya. Eh bukan ingatannya.

Dengan berkata bohong Bram menjawab. "Bu-bukan nek."

"Kau kira aku bodoh dan aku mudah lupa? aku belum lupa ya cu. Harusnya kalian sebagai cucu nenek, harus hormat pada nenek bukan malah jahilin nenek!" hardik nenek tua itu.

"Bukan eh iya eh bukan nek," ucap Bram linglung.

Ntah apa yang ada dipikirannya sekarang. Sulit sekali ia memberi alasan yang tepat pada si nenek ini. Kebohongannya malah tidak berfungsi.

"Apanya bukan! jangan berusaha menutupi kesalahan! kalau memang salah ya salah. Mengakulah! apa susahnya sih cu," tuturnya.

Nenek tua itu sudah tidak ingin berdebat lagi dengan Bram. Ia ingin Bram jujur sekali aja. Mungkin hukumannya pada Bram tidak akan menakutkan.

"Ma-ma-maaf nek. Iya saya salah," ucap Bram terbata tapi berusaha jujur.

"Nah gitu, jujur kan bagus," ucap nenek tua.

Paman Bram lewat. Ia melihat keponakannya sedang bersama si nenek. Ia heran, ada apa dengan ponakannya itu, hingga ia bisa bersama dengan si nenek tua.

Paman Bram datang mendekat. Ia bertanya apa yang sedang terjadi. "Bram kenapa kau di sini? dan siapa nenek tua ini?" tanya paman Bram.

Bram menggaruk kepalanya.

Kalau si nenek tua ini sampai buka mulut mati lah aku.

Bram sebenarnya takut pada pamannya itu. Apa lagi ia sedang berurusan dengan si nenek tua yang sering ia jahilin. Kalau sampai si nenek buka mulut, rahasia terbesarnya akan terbongkar dan orang tuanya akan habis-habisan mengomeli dirinya.

Apa yang harus aku jawabnya...

"Gak papa kok paman," ucap Bram kepada pamannya seolah tidak terjadi sesuatu. Namun sang nenek tidak menerima jawaban Bram kalau tidak terjadi sesuatu padanya.

"Dia bohong. Dia telah melempar aku dengan batu ini. Bukan cuma itu, saya juga sering di ganggu oleh ponakan mu ini saat saya mandi di sungai. Dia dan teman-temannya sering mengganggu saya," jelas nenek tua.

Jantung Bram berdegup kencang saat nenek itu mengatakan yang sebenarnya.

"Bram! apa betul yang di katakan oleh ibu ini?" tanya paman Bram memastikan.

Bram menganguk. "Iya paman."

"Kenapa kau masih bertingkah seperti anak kecil Bram? kau bukan anak kecil lagi," tegasnya.

"I-iya paman," ucap Bram terbata.

"Kalau kau tidak mau meminta maaf pada nenek ini, aku akan memberitahu papa kamu," ancam pamannya.

"Ja-jangan paman. Iya iya aku akan meminta maaf kepada nenek ini. Tapi tolong jangan adukan saya kepada papa," ucap Bram dengan nada tinggi.

"Bicara santai!" seru pamannya.

"Iya paman. Maaf," lirih Bram.

Bram menghadapkan tubuhnya kepada nenek tua lalu mengucapkan kata maaf kepada si nenek. "Nek... maafkan aku."

Tidak ada sahutan dari si nenek. Kembali Bram mengulangi perkataannya. " Nek... saya minta maaf atas sikap saya yang membuat nenek merasa tidak nyaman," ungkap Bram.

"Saya tidak perlu kata maaf mu!" umpat nenek tua. "saya hanya perlu ganti rugi dengan kepalaku yang sudah kamu lempar tadi. Ini masih terasa sakit," jelas nenek tua.

Hanya ganti rugi? kalau itu sih gampang. Dari tadi kek bilang.

"Uang ya nek? Berapa uang yan nenek butuhkan?" tanya Bram intens.

Bram menatap mata si nenek. Terlihat jelas kalau si nenek kurang tidur.

"Murah, cukup 5 juta saja," ucap nenek itu.

Lah aku kira uang yang nenek butuh sedikit. Eh ternyata... bisa-bisa habis tabungan aku.

"5 juta nek? itu gampang. Saya akan tf kepada nenek nanti. Sebelumnya nenek punya rekening?" tanya Bram.

Tidak mungkin begitu saja ia mengirim uang. Kalau saja uang yang ia kirim belum kesampaian. Jadi, ia harus hati-hati agar tidak salah kirim.

"Ayo ke rumahku."

Bram dan pamannya mengikuti si nenek. Ntah kapan mereka akan sampai. Perjalanannya cukup jauh. Karena urusan bersama nenek tua, perlu banyak proses dan kesabaran yang lebih.

Sesampainya di rumah si nenek yang terbuat dari rotan, Bram sedikit ragu. Apa iya rumah si nenek sekecil itu. Apa si nenek tidak punya anak? Pertanyaan itu selalu muncul di benak orang Bram yang melihat kondisi rumah si nenek.

"Nek... mana no. rekening nenek," ucap Bram.

Dengan senang hati nenek tua memberikan nomor rekeningnya kepada Bram.

"Oke, saya akan melunasinya. Tapi saya mohon bersabar," ucap Bram lemah. Perutnya kembung akibat kebanyakan minum air putih.

"Baik. Silahkan pergi."

Bram dan pamannya berlalu pergi. Dari tadi ia harus berurusan dengan si nenek tua. Dengan cepat Bram berlari. Ingin segera sampai ke tempat tujuannya.

Bram bingung harus pergi kemana. Apa ia harus mampir ke rumah Somsi atau pergi ke taman yang harus saja di renovasi. Tidak berpikir panjang, akhirnya Bram memilih pergi ke tempat Somsi jualan. Yaitu taman. Sedangkan pamannya pulang ke rumahnya.

Hanya menunggu beberapa menit, Bram sudah sampai. Ia melihat Somsi sedang duduk menangis.

Bram mendekat. "Som ... aku minta maaf."

Somsi tidak menjawab. Baginya ini rasanya sangat sulit untuk ia jawab. "Kalau kau ingin minta maaf, ya aku akan maafkan."

"Iya Som... aku minta maaf. Namun aku ingin kau tersenyum lagi," ucap Bram.

Tersenyum? Ini anak sudah gila ya...

"Untuk apa?"

Bram menjawab cepat. "Gak, aku hanya suka aja lihat kamu tersenyum Som."

"Apa peduli mu!" ketus Somsi cepat.

"Hmmm, a-aku-"

Bram tidak melanjutkan ucapannya. Ia merasa canggung untuk mengatakannya langsung pada Somsi.

"Aku apa Bram? bilang aja jujur. Ada apa?" tanya Somsi dengan mata melotot.

"Gak ada Som," ucap Bram.

Somsi berdehem. "Hem, baguslah kalau begitu."

Apa yang harus di lakukan Bram. Hanya mengatakan itu saja sangat sulit baginya.

Katakan Bram, katakan.... katakan kalau kau suka dengannya. Katakan kalau kau punya perasaan lebih padanya selain status teman.

"Kenapa diam?" tanya Somsi heran saat melihat Bram mematung.

"Ti-tidak Som, tidak ada," ucap Bram lagi terbata.

"Serius?"

"Iya Som."

"Kok aku merasa seperti ada yang kamu sembunyikan," ucap Somsi bertingkah seperti detektif saja.

"Iya Som, aku sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi aku takut kamu marah kalau sudah mendengarnya."

"Tidak... katakan saja," lirih Somsi.

Dengan mengumpulkan semua keberanian yang ada pada dirinya. Ia mulai berbicara.

"Som... aku suka padamu. Bukan sebagai teman, tapi aku ingin lebih dari itu," jelas Bram dengan kepala menunduk. Hari ini urat malunya hilang begitu saja. Julukan yang pernah ia katakan pada dirinya telah memudar. Julukan sebagai pria yang gentleman. Pria yang tidak akan pernah mengatakan perasaanya pada wanita mana pun.

Somsi tersontak kaget mendengar apa yang di katakan oleh Bram barusan. Ia seperti mengira kalau ia sedang bermimpi. Somsi mencubit tangan kanannya.

Aww ....

Somsi meringis kesakitan saat ia mencubit tanganya sendiri.

Ternyata bukan mimpi, itu memang kenyataan.

Apa yang terjadi dengan Bram hari ini?

Bersambung............

Tbc

Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏

1
Nurmina Sitorus
amin 🙏
Nurmina Sitorus
sukses🏆💪
Nurmina Sitorus
semangat ya ikka
Nurmina Sitorus
gila knp kk somsi🤣
Nurmina Sitorus
wah cepat bngt sih kk som interview
Nurmina Sitorus
sampai ke tujuan yh
Nurmina Sitorus
hati yg kk som diperjalanan yg kk som🤣
Nurmina Sitorus
astagafirullah 😃
Nurmina Sitorus
emosi bngt yg dia
Nurmina Sitorus
tega bngt si somsi itu lah sampai tega dia gk mengasih minum pak nius itu 😇
Nurmina Sitorus
kenapa sih klin 😙
Nurmina Sitorus
kasihan nya dino 😆
Nurmina Sitorus
knp nya kalian kalian buang nenek itu kasih melihat nenek itu😇
Nurmina Sitorus
mash sih ke gitu bngt kak somsi 🥰
Nurmina Sitorus
makasih yh nakku😀😀
Nurmina Sitorus
sampai ke tujuan yh kk somsi🤣
Nurmina Sitorus
iy
Nurmina Sitorus
naik sama kk somsi 🥰
Nurmina Sitorus
iy
Nurmina Sitorus
hmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!