Hidup Luna sudah sempurna. Memiliki kekayaan dan popularitas di usia muda. Punya Casey, Kekasih baik hati yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Dia berpikir akan terus bahagia seperti itu.
But everything’s gonna change along the time. Pekerjaan mulai membebaninya, membatasi ruang gerak Luna. popularitasnya berusaha menghancurkan segala batas privasinya. Dan Casey ternyata terlalu menginginkan yang terbaik hingga tidak sanggup mentolerir perubahan Luna yang baru beranjak dewasa.
Luna merasa dirinya sedang berada di titik bawah hidupnya. Hingga Bagian terburuk dari semua itu mulai tampak, Luna harus bertemu Drey Charleville. Cassanova dengan segala catatan buruknya. Menggunakan pesonanya, Drey berusaha keras menjerat Luna dan menambahkan namanya dalam catatan wanita yang pernah ditaklukannya. Betapapun kerasnya Luna mencoba untuk tidak goyah, Drey selalu punya cara manis untuk menggodanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarashina18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Night at The Hotel
Kepalaku pusing sekali, rasanya bau alkohol sudah menempel di sekujur tubuhku. Dan begitu masih harus membersihkan bekas muntahan Drey. Rasanya perutku mual sekali. Aku jadi ingin mengeluarkan makan malamku tadi.
Usai membersihkan kekacauan yang dibuat oleh Drey, aku keluar untuk melihat keadaan si tersangka utama.
"Aku ini manajer, bukan asisten pribadi. Kenapa kalian berdua selalu saja menyusahkanku?"
Semprot Daniel begitu aku keluar dari kamar Mandi.
Tadi Drey begitu teler Dan aku juga emosi dengan kelakuan teman wanitanya. Tidak mungkin aku menggendongnya pulang. Sehingga aku menelfon Daniel untuk membantu membawa Drey ke kamar hotelku. Tempat Paling dekat dari sini.
Aku tidak menjawab Dan hanya menatap Daniel. Bukan hanya dia yang emosi. Aku juga. Makan malamku kacau, dan aku bau alkohol dari atas sampai bawah.
"Kalau Ada apa-apa jangan sungkan untuk menelfonku"
Daniel langsung merubah sikapnya. Mungkin menyadari bahwa aku sedang tidak bersahabat atau bisa diajak bercanda. Setelah itu Tanpa mengatakan apapun, dia langsung cabut. Meninggalkan aku berdua dengan Drey.
Aku sudah tidak tahu seperti apa perasaanku. Antara marah, kesal, atau sedih. Melihat Drey seperti ada banyak hal berkelebat dalam pikiranku. Sama sepertiku yang kabur dengan tinggal di hotel ini, Drey juga kabur dari masalah kami menggunakan alkohol. Jadi aku tidak punya Hak untuk marah padanya.
Aku segera membersihkan Drey. Mengganti pakaiannya dengan bathrobe karena itu satu-satunya yang bisa digunakannya. Aku tidak Akan tahan dengan aroma alkohol padanya. Bahkan saking lelahnya, aku tidak peduli jika harus melihatnya bertelanjang dada atau melepas celananya. Padahal biasanya aku Akan histeris. Aku sudah tidak peduli dengan itu.
Sudah lewat tengah malam saat aku selesai mengganti pakaiannya Drey. Untungnya besok aku Syuting sore, jadi tidak takut bangun kesiangan. Aku juga sudah terlalu letih memikirkan kami Akan tidur seranjang atau semacamnya. Kurebahkan saja tubuhku di sampingnya.
Bahkan meski tubuhku sudah tidak memiliki tenaga, aku tidak bisa memejamkan Mata. Karena terlalu terpaku pada wajah Drey yang tertidur pulas, seolah Tanpa dosa. Padahal sudah membuatku kerepotan.
Aku menyentuh wajah Drey. Lalu pelan-pelan mengitari setiap incinya. Mengikuti garis wajahnya. Dan bisa kurasakan debaran jantungku di setiap garisnya. Mengagumi setiap lekuknya. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, Dan rahangnya yang tegas. Sebenarnya bukan seperti itu aku mengukur ketampanan seorang pria. Tetapi tidak bisa kupungkiri jika dia telah dipahat dengan begitu sempurna. Aku bahkan tidak pernah Mengagumi Casey seperti ini.
Pelan-pelan aku mengecup bibir Drey. Bau alkohol masih terasa, tetapi aku tidak membencinya. Bagiku hanya Rasa hangat yang kudapatkan dari dia.
Aku menjadi iri pada cinta pertama Drey. Yang bisa memiliki hatinya. Entah untuk sesaat atau hingga sekarang. Karena semua wanita juga berfantasi untuk memilikinya. Setiap kali aku mengingat tentang cinta pertama Drey, akan muncul sebuah jarak antara aku Dan dia. Yang kelihatannya Ada di depan Mata, Akan terasa seperti satu bentangan samudera. Dan hatiku Akan merasa pedih.
Tidak bisakah Drey hanya untukku saja?
Rasa egoisku Akan muncul. Aku tidak ingin membagi hati Drey dengan wanita lainnya. Meski itu cinta pertama di Masa lalunya.
***********************************
Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela tirai terasa silau. Memaksaku untuk membuka Mata. Aku masih mengantuk karena tidak bisa tidur semalam. Memanjakan diri dengan memandangi Drey.
Pagi ini juga Drey masih terlelap di sampingku. Kantukku otomatis hilang. Aku seperti mendapat kesempatan untuk kembali melihatnya. Setidaknya suasana hatiku sudah lebih baik dari kemarin.
Drey yang sepertinya masih tidur dengan pulas, memberiku ide lain. Hal yang tidak Akan bisa kulakukan di saat dia sadar. Aku mendekatkan wajahku kepadanya. Mendengar dengkuran halusnya, dan bau alkohol tentunya. Namun dengan sangat pelan, aku mencium bibir Drey.
Ada Rasa bahagia menguar di hatiku. Rasanya seperti mendapat asupan vitamin Setelah lama tidak mendapatkannya. Cukup lama aku menciumnya, Dan melepasnya Setelah aku puas. Tetapi sepertinya aku terlalu menikmati. Saat aku hendak mundur, aku baru menyadari jika Drey sudah bangun, matanya menatapku heran.
Aku kaget bercampur malu. Bahkan saking histerisnya langsung turun dari ranjang Dan berdiri tegak. Kenapa dia harus bangun?
Aku hendak pergi Dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun Drey tidak melepaskanku begitu saja.
"Apa yang barusan kau lakukan?"
Tanya Drey. Antara pura-pura bodoh atau memang bodoh betulan. Tidak mungkin juga aku menjelaskan kalau aku menciumnya.
Menyadari aku terlalu gugup dan tidak bisa menjawab, Drey sepertinya sengaja Makin menggodaku.
"Apa yang sudah kau lakukan semalam? Kemana pakaianku?"
Tanya Drey dengan memasang tampang sok terkejut. Bahkan meletakkan kedua tangannya di dadanya. Seakan aku adalah orang mesum yang telah melakukan Hal tidak senonoh padanya.
"Sudah kubuang. Kau tidak membutuhkan pakaian yang berbau alkohol seperti itu. Untung saja bukan kau yang kubuang di jalan karena mabuk berat"
Jawabku Tak mau kalah. Ekspresi Drey langsung berubah. Aku tahu dia hanya berniat bercanda, tapi bagiku apa yang dia lakukan semalam adalah Hal serius.
"Aku minum karena pacarku makan malam dengan mantan pacarnya Tanpa memberitahuku"
Ujar Drey ikut serius. Aku terkesiap, jadi Drey tahu jika semalam aku pergi dengan Casey. Mungkin dia datang ke hotel ini lalu Tak sengaja melihat kami. Klub yang didatanginya ada di sekitar sini.
"Aku keluar dengan mantan pacarku karena pacarku dengan kejam sudah menurunkanku di hotel ini Dan meninggalkanku"
Aku Tak mau kalah. Jika dia memiliki komplain, Akupun juga.
"Itu karena kau ingin diantar kemari Setelah marah Tanpa alasan"
Pagi ini sepertinya kami memulai perdebatan kami lagi. Tidak pernah Ada waktu tenang kalau kami sudah bicara.
"Aku tidak marah Tanpa alasan. Siapa yang tidak marah jika pacarnya terus berhubungan dengan Masa lalunya. Kau marah aku pergi dengan Casey, tapi kau pergi dengan wanita bernama Gracey itu. Kau pasti senang sekali dia menyentuhmu di Sana sini"
Protesku. Aku masih kesal sekali dengan wanita-wanita yang menempeli Drey semalam.
"Jadi kau cemburu?"
Tanya Drey.
"Tentu saja, kau pacarku! Berani sekali mereka menyentuhmu"
Jawabku tegas. Kami seperti mengalami deja Vu. Dulu aku dalam situasi sebagai orang yang bertanya, dan Drey yang menjawab. Dengan topik yang sama persis.
Kami berdua lalu diam. Aku sibuk mengatur nafasku yang Tak beraturan Setelah berteriak. Sedangkan Drey sepertinya dia sedang menikmati Rasa puasnya Setelah mendengar kejujuranku. Kami hanya saling berpandangan. Mudah sekali bagi kami berdebat, namun lebih mudah lagi untuk berbaikan.
**********************************
Salah satu Hal Paling menyenangkan saat menginap di hotel adalah menikmati sarapannya. Setiap hotel selalu memiliki menu spesial untuk membangkitkan selera di pagi Hari. Seperti pagi ini, ada berbagai macam roti manis Dan Asin dengan ditemani susu hangat, karena aku tidak bisa minum kopi. Rasanya aku bisa betah tinggal di hotel untuk berapa lamapun.
"Mereka bilang kalau kau ternyata galak sekali"
Ujar Drey sambil terkikik geli, merusak pagiku yang indah.
Drey bergabung untuk sarapan denganku, masih mengenakan bathrobe. Menolak untuk mencari pakaian yang lebih layak. Lalu sedari tadi asyik menghubungi teman-temannya yang semalam. Hanya untuk membicarakanku. Tentu saja aku kelihatan galak, itu pertemuan pertama Dan aku langsung berteriak di depan mereka.
Tetapi Sepertinya Drey bahagia sekali membicarakan itu.
"Dan kau terus memanggilku. Sugar...sugar..."
Ledekku Tak mau kalah. Dari kejadian semalam aku akhirnya tahu jika kontakku di ponselnya diberi nama "Sugar". Entah kenapa dia bisa memberiku julukan seperti itu.
"Tentu saja. Siapa lagi yang bisa mengurusku kalau bukan kau"
Balas Drey. Ugh! Dia selalu punya cara untuk menjawabku.
"Lihat saja kalau kau berani mabuk lagi seperti semalam, aku pasti Akan membiarkanmu tidur di jalanan"
"Tenang saja, pasti akan Ada wanita seksi yang berniat menampungku"
Lihat Kan, pintar sekali Drey menjawabku. Karena ini kami jadi selalu berdebat setiap waktu.
"Akan kupatahkan leher wanita itu"
Gumamku geram. Drey hanya tertawa mendengarnya. Padahal aku serius sekali. Sepertinya aku baru sadar, bisa menjadi begitu posesif seperti ini.
"Tenang saja. Bagiku kau masih yang terbaik. Bahkan tanpa kuminta, kau sudah menyentuhku di Sana Dan di sini. Suka mencari kesempatan"
Ledek Drey. Dia masih membicarakan kekhilafanku menciumnya tadi pagi. Dan semalam, harusnya, yang untung saja Drey tidak tahu. Sepertinya tindakanku itu sudah membuat arogansinya membumbung sampai ke langit ketujuh.
"Aku juga bisa menyentuhmu sekarang"
Ujarku yang terpancing olehnya. Aku sudah menyentuh dadanya. Awalnya dengan maksud untuk balik menggoda Drey, namun ketika tanganku merasakan tubuh kokohnya, malah jantungku yang berdebar tidak karuan. Berapa kali aku sudah dipeluknya, dan masih bisa dikejutkan oleh hal itu.
Otomatis aku langsung ngacir setelah itu. Takut mukaku keburu merah di depan Drey.
"Woah...pacarku sudah berubah mesum sekarang"
Pria itu masih sempat menggodaku juga.
**********************************
Aku merapikan penampilanku sambil bernyanyi kecil. Hari ini suasana hatiku sedang baik. Dan Syuting juga berjalan lancar. Hanya perlu pengambilan gambar untuk beberapa adegan lagi.
"Sepertinya kau sedang bahagia"
Segelas minuman hangat sudah disodorkan kepadaku. Ketika aku menoleh, ternyata Casey yang datang menyapaku.
Aku langsung membeku. Bagaimana bisa Aku melupakan Casey? Tidak menelfonnya atau sekedar mengirim pesan permintaan maaf sudah pergi di tengah makan malam kemarin. Dan sekarang dia malah menemuiku saat aku sedang terlihat bahagia.
Tapi akan lebih canggung jika aku pura-pura tidak tahu.
"Maaf, kemarin Ada urusan mendadak. Apa kau menikmati makan malammu?"
Tanyaku cemas.
"Ya, aku bisa sedikit menikmatinya. Tidak perlu khawatir"
Jawab Casey. Entah tulus atau tidak.
Aku memandangi gelas berisi coklat hangat di tanganku. Seharusnya aku mengatakan sesuatu pada Casey, tetapi tidak ada topik yang terpikirkan olehku. Tidak mungkin juga aku membicarakan Drey dengannya. Karena hanya pria itu yang akhir-akhir ini Ada dalam hidupku.
"Apa kau punya cinta pertama?"
Hanya itu pertanyaan yang terlintas di otakku. Dari ekspresi Casey, aku bisa menebak jika dia punya. Casey kelihatan terkejut.
Kalau aku juga punya, tapi bukan Casey, dia hanya pacar pertamaku.
"Tentu saja Ada"
Jawab Casey sesuai dengan dugaanku.
"Apa cinta pertama begitu penting bagi seorang pria?"
"Aku tidak tahu seperti apa artinya untuk orang lain. Tapi untukku, ya. Dia punya tempat istimewa, Dan sampai kapanpun tidak Ada yang bisa menggantikannya. Aku tidak Akan bisa mencintai orang lain sebesar aku padanya"
Jarang sekali aku mendengar jawaban begitu serius dari Casey. Sebagai seorang mantan pacar, itu hanya membuatku Makin penasaran.
"Beruntung sekali dia. Memangnya siapa wanita itu?"
Tanyaku. Selama ini sejujurnya aku tidak pernah tahu mantan kekasih lain dari Casey. Dia tidak pernah terbuka mengenai Hal itu.
Dan mungkin seharusnya sejak awal aku tidak terlalu penasaran. Karena jawaban Casey sedikit membuatku goyah.
"Kau"
**********************************
Masih teringat jelas di otakku, bagaimana ekspresi Casey saat memutuskanku. Lalu Rasa sakitnya yang tidak hilang meski telah berminggu-minggu lewat. Begitupun segala kenangan indah yang kami miliki. Juga masih bisa kubayangkan seperti apa rasanya.
Sepertinya itu belum cukup. Mengetahui bahwa diriku adalah cinta pertama dari pria itu ternyata mampu membuat hatiku merasakan sesuatu. Terutama dengan kata-kata Casey tadi. Aku yang sudah merelakan perpisahan kami jadi mempertanyakan kembali alasan dia memutuskanku. Jika sudah begini, Ada sedikit Rasa dalam diriku ingin memulai kembali dengan Casey.
"Hai, kau sudah pulang"
Hampir saja aku menutup pintu kembali saat Drey tiba-tiba menyapaku. Aku terkejut sekali, tidak menyangka jika pria itu ternyata sudah Ada di dalam kamar hotelku.
"Kenapa kau tidak pulang?"
Tanyaku sambil mengelus dada. Drey itu sepertinya tidak bisa muncul dengan Cara normal di depanku. Dan lagi, aku tidak tahu Cara apa yang dia lakukan agar bisa masuk ke dalam ruang hotelku begini.
"Bagaimana bisa aku pulang jika pacarku masih menginap di sini"
Jawab Drey seperti biasa. Jika aku sedang Ada tenaga, aku mungkin Akan menanggapinya. Namun aku sedang lelah. Dan ini sudah lewat tengah malam. Jadi Tanpa banyak bicara, aku segera merebahkan tubuhku di ranjang.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tanyaku saat Drey juga ikut Naik ke ranjangku.
"Haruskah aku menjelaskannya?"
Tanya Drey dengan senyumnya yang menggoda.
Aku segera menendangnya mencoba mengusirnya. Kemarin aku memang khilaf tidur seranjang dengannya. Tetapi malam ini aku tidak Akan membiarkannya terjadi Dua kali.
Tetapi akibat badan Drey yang berotot, bukannya dia yang jatuh, malah aku yang terlempar. Untungnya Drey dengan sigap menangkap kakiku.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Gadis apa yang bertingkah seperti ini"
Kepalaku hampir terjungkir ke bawah Dan tidak memiliki pegangan. Hanya kakiku yang tertahan oleh Drey. Kurang sedikit kepalaku sudah membentur lantai.
"Tolong tarik aku"
Pintaku panik. Drey langsung menurutiku. Dengan sekali tarikan, aku bisa kembali ke kasur. Namun dia menarikku hingga aku menindihnya. Lalu dalam sekejap dia membalikkan badanku sehingga dia yang menindihku. Dengan tubuhnya yang besar, rasanya sesak sekali. Aku tidak kuat menahan beratnya.
"Lepaskan!"
Cup. Bukannya melepaskan dia malah menciumku. Hingga otomatis aku diam.
"Apa yang kau lakukan?"
Protesku. Drey itu pintar sekali mencuri kesempatan. Karena Hal seperti ini, Casey langsung musnah dari pikiranku. Drey membuatku hanya bisa memikirkannya saja.
"Besok Kau libur Kan? Bisa keluar denganku?"
Rasanya detak jantungku menjadi semakin kencang mendengar ajakannya. Aku tahu kalau besok adalah Hari valentine. Di Mana biasanya para pasangan menjadikannya Hari istimewa. Aku tidak pernah merayakannya sih, tapi dengan ajakan Drey, aku jadi banyak berharap.
"Kemana?"
Tanyaku pura-pura tidak tertarik.
"Bertemu dengan orang yang sangat istimewa bagiku"
"Jangan bilang itu cinta pertamamu"
Tebakku tidak suka. Padahal aku sudah berharap dia Akan mengajakku kencan kemana, malah bertemu dengan orang lain.
Drey hanya tertawa. Membuatku sebal saja. Awas kalau dia ternyata mengajakku bertemu Lara.
"Kalau begitu.. apa kau sudah siap memulainya?"
Bisik Drey kemudian.
"Memulai apa?"
Tanyaku bingung.
"Kita sedang berdua saja di dalam kamar hotel. Masa' kau tidak paham dengan apa yang Akan Kita lakukan?"
Saat itu aku langsung tahu apa yang Ada dalam pikiran Drey.
"Ini namanya pelecehan. Aku tidak pernah setuju untuk melakukannya, aku pasti..."
Cup. Sekali lagi Drey membungkamku.
"Selamat malam"
Ujarnya sebelum melepaskanku dan pindah ke sofa untuk tidur di Sana. Mungkin dia hanya menggodaku lagi. Padahal aku sudah panik, Dan wajahku sudah panas membayangkan apa yang hampir terjadi.
Ugh! Drey memang nakal.
sayang sekali dri awal sdh sangat bagus tpi eksekusi di akhir nya malah ga nyambung klo bagi saya😁😁
di tunggu ya thor right chapter nya🥰🥰