Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kabar dari Negeri Sebrang
Beberapa bulan berlalu sejak peristiwa di Bukit Keramat. Kehidupan di desa dan sekitarnya semakin makmur. Tanaman tumbuh subur, air sungai mengalir jernih, dan warga hidup dengan tenang tanpa rasa takut lagi. Cepot dan Dawala pun dikenal sebagai dua orang yang bisa diandalkan, namun mereka tetap hidup sederhana seperti biasanya—tidak sombong, dan masih sering bercanda satu sama lain.
Suatu hari, saat kedua bersaudara itu sedang beristirahat di bawah pohon besar di tepi desa, tampak seorang musafir berpakaian perjalanan yang cukup lusuh berjalan tergopoh-gopoh mendekat. Wajahnya pucat, kakinya berlumuran debu, dan napasnya terengah-engah seolah baru saja menempuh perjalanan yang sangat jauh.
“Maafkan saya… apakah ini desa di kaki Gunung Karang?” tanya musafir itu dengan suara parau.
“Benar, ini tempatnya,” jawab Cepot sambil segera menyodorkan air minum. “Silakan diminum dulu, tenangkan napas. Dari mana Tuan datang dan ada keperluan apa ke sini?”
Musafir itu menerima air itu dengan terima kasih, lalu meminumnya dengan lahap. Setelah merasa lebih segar, ia mulai bercerita.
“Saya datang dari Negeri Sebrang, di seberang hutan lebat dan sungai besar yang berjarak berhari-hari perjalanan. Nama saya Arjaya, dan saya datang membawa kabar yang tidak menyenangkan.”
Dawala yang mendengar itu langsung duduk lebih tegak. “Ada apa di sana? Apakah terjadi bencana atau gangguan makhluk gaib lagi?”
Arjaya mengangguk pelan, wajahnya tampak sedih dan cemas. “Sudah beberapa minggu ini, daerah kami dilanda kekeringan yang aneh. Langit terlihat bersih, namun tidak turun hujan sedikit pun. Sungai-sungai mulai menyusut, sumur-sumur mengering, dan tanaman layu satu per satu. Yang lebih mengherankan, setiap malam terdengar suara gemuruh dari dalam tanah, dan kabut kuning yang berbau asam menyebar, membuat siapa pun yang menghirupnya menjadi lemas dan tidak bersemangat.”
Ia melanjutkan, “Kami sudah meminta bantuan ke mana-mana, namun tidak ada yang bisa menemukan penyebabnya. Hingga akhirnya ada seorang tetua yang menyarankan agar saya datang ke sini. Beliau berkata bahwa di tempat ini ada dua orang yang memiliki kebijaksanaan dan kekuatan untuk mengatasi hal-hal yang tidak biasa. Maka saya pun berjalan berhari-hari tanpa berhenti, hanya untuk memohon bantuan kalian.”
Cepot dan Dawala saling berpandangan. Mereka tahu bahwa perjalanan itu tidak akan mudah, dan tantangannya mungkin berbeda dari yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Namun, melihat kesusahan orang lain, hati mereka tergerak untuk membantu.
“Jangan khawatir, Tuan Arjaya,” kata Cepot dengan nada menenangkan. “Kami tidak berjanji bisa menyelesaikannya dengan cepat, tapi kami bersedia pergi melihat keadaan di sana. Kita tidak bisa membiarkan orang lain menderita jika kami mampu membantu.”
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk berangkat. Ibu mereka hanya berpesan agar selalu berhati-hati dan menjaga keselamatan satu sama lain. Seperti biasa, Cepot membawa Golek Pancasona terselip di pinggang, sedangkan Dawala menggenggam erat galah bambu andalannya. Mereka juga membawa bekal secukupnya dan sebotol air dari sumur biasa, sebagai persediaan di jalan.
Perjalanan menuju Negeri Sebrang memakan waktu empat hari. Jalan yang mereka lalui semakin sulit: melewati hutan yang sangat lebat, menyeberangi sungai yang arusnya deras, dan mendaki perbukitan yang terjal. Namun, berkat pengalaman yang sudah mereka miliki, mereka bisa melaluinya dengan tenang dan saling membantu.
Saat memasuki wilayah Negeri Sebrang, suasana yang terasa sangat berbeda langsung menyambut mereka. Udara terasa panas dan kering, pepohonan tampak layu dan berwarna kecokelatan, serta tanah retak-retak karena kekurangan air. Kabut kuning yang disebutkan Arjaya masih terlihat melayang rendah di atas permukaan tanah, membuat pemandangan terlihat suram dan tidak menyenangkan.
“Benar juga apa yang dikatakan Tuan Arjaya,” gumam Dawala sambil menutup hidungnya sedikit. “Udara ini terasa berat dan membuat kepala pusing hanya dengan menghirupnya sebentar.”
“Tenang saja, kita lihat dulu sumber masalahnya,” jawab Cepot sambil mengamati sekeliling dengan cermat. “Ini bukan kekeringan biasa. Ada sesuatu yang menghalangi aliran energi alam di tempat ini.”
Mereka langsung menuju ke pusat desa, di mana warga sudah menunggu dengan harapan. Wajah-wajah mereka tampak lemas dan sedih, namun masih menyambut kedatangan tamu itu dengan sopan. Setelah beristirahat sejenak dan mendengarkan keterangan lebih lanjut dari kepala desa, Cepot memutuskan untuk menyelidiki sumber suara gemuruh yang sering terdengar itu.
Berdasarkan petunjuk warga, suara itu paling sering terdengar di dekat bukit kapur yang terletak di ujung desa. Malam itu juga, saat matahari terbenam, mereka berjalan menuju tempat itu. Semakin dekat ke bukit, kabut kuning semakin tebal dan baunya semakin menyengat. Tanah di bawah kaki mereka terasa bergetar perlahan, seolah ada sesuatu yang bergerak jauh di dalam perut bumi.
“Dengarkan, Kang! Suara gemuruhnya semakin jelas,” bisik Dawala sambil memegang erat galah bambunya.
Cepot mengangguk, lalu mengeluarkan Golek Pancasona sedikit dari ikatannya. Seketika itu juga, pusaka itu bergetar lembut dan memancarkan cahaya putih samar yang langsung mendorong kabut kuning di sekitar mereka menjauh. Udara yang tadinya terasa sesak perlahan menjadi lebih lega.
“Lihat, cahayanya bekerja dengan sendirinya,” kata Cepot. “Artinya, ada kekuatan yang tidak wajar di tempat ini. Kita harus hati-hati.”
Begitu mereka sampai di kaki bukit kapur, tiba-tiba tanah di depan mereka terbelah perlahan, membentuk celah yang cukup lebar. Dari dalam celah itu keluar kabut kuning yang lebih pekat, disertai suara mendengus yang berat. Tidak lama kemudian, muncul sesosok makhluk besar berwujud buaya tanah, bersisik keras berwarna abu-abu pucat, dan matanya menyala dengan cahaya oranye redup.
“Siapa yang berani mengganggu tempat istirahatku?” suara makhluk itu bergema, membuat batu-batu kecil di sekitarnya bergetar. “Selama ini aku tidur dengan tenang, tapi kehadiran kalian mengganggu ketenanganku!”
Dawala langsung melangkah mundur sedikit, namun tetap siap siaga. “Kami tidak mengganggu, Tuan! Tapi keberadaan Tuan di sini justru membuat tanah kering, air hilang, dan warga menderita. Mengapa Tuan tinggal di tempat ini dan mengganggu keseimbangan alam?”
Makhluk itu mendengus lagi, mengeluarkan napas yang berbau tanah basi. “Aku bernama Kala Buaya Tanah. Dulu, tempat ini adalah sarangku yang tenang. Namun, saat Ki Burak masih berkuasa, ia merusak aliran air di dalam bumi dan memaksaku tinggal di sini. Sejak itu, aliran air tidak bisa mengalir ke permukaan, dan udara menjadi panas. Aku pun terjebak di sini, tidak bisa pergi ke tempat lain, dan menjadi marah karena tidak bisa beristirahat dengan baik.”
Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala saling berpandangan. Sekali lagi, mereka menyadari bahwa tidak semua makhluk yang terlihat mengganggu itu jahat, melainkan juga menjadi korban dari perbuatan makhluk yang tidak bertanggung jawab.
“Jadi, Tuan juga terjebak dan menderita karena perbuatan Ki Burak?” tanya Cepot dengan nada lembut dan tidak mengancam.
“Benar,” jawab Kala Buaya Tanah dengan suara yang melunak sedikit. “Setelah kekuatan Ki Burak lenyap, ikatanku sedikit longgar, tapi jalur air yang rusak tidak bisa pulih dengan sendirinya. Aku tidak tahu cara memperbaikinya, dan hanya bisa menunggu tanpa tujuan.”
Cepot tersenyum tenang. “Kalau begitu, kami bisa membantu. Kami tahu cara mengembalikan keseimbangan alam yang rusak. Asalkan Tuan mau bekerja sama dan tidak lagi membuat warga di sekitar sini menderita.”
Ia lalu mengangkat Golek Pancasona setinggi dada, membiarkan cahayanya menyebar lebih luas. Cahaya putih keemasan itu menembus celah tanah dan masuk ke dalam perut bukit. Terdengar suara gemericik air yang perlahan terdengar, semakin lama semakin jelas dan deras. Kabut kuning pun mulai menghilang, digantikan oleh hawa sejuk yang mengalir keluar dari dalam tanah.
Kala Buaya Tanah merasakan perubahan itu, matanya yang tadinya menyala redup kini terlihat lebih tenang. Ia merasakan aliran energi yang segar kembali mengalir ke seluruh tubuhnya.
“Terima kasih… rasanya beban di tubuh ini hilang seketika,” katanya dengan nada yang penuh rasa syukur. “Sekarang jalur air sudah terbuka kembali, dan aku bisa kembali ke tempat asalku di dalam sungai bawah tanah.”
“Baiklah,” kata Cepot. “Sekarang kita semua bisa hidup damai. Tuan bisa beristirahat di tempat yang layak, dan warga desa akan mendapatkan kembali air dan tanahnya yang subur.”
Malam itu juga, tanda-tanda perubahan mulai terasa. Udara menjadi lebih sejuk, kabut kuning lenyap sama sekali, dan di kejauhan terdengar suara gemericik air yang kembali mengalir ke sungai-sungai kering. Saat fajar menyingsing, langit terlihat cerah dan mulai menurunkan hujan rintik-rintik yang sangat dinanti-nantikan.
Warga Negeri Sebrang bersorak gembira melihat hujan turun kembali. Mereka mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Cepot dan Dawala, serta memberikan berbagai bekal dan hadiah sebagai tanda balas budi. Namun, kedua bersaudara itu hanya menerima doa dan rasa syukur saja, menolak hadiah yang berlebihan.
“Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” kata Cepot sambil berpamitan. “Semoga kedamaian dan kemakmuran selalu menyertai negeri ini.”
Dalam perjalanan pulang, Dawala melangkah dengan hati yang gembira. “Kang, sungguh menyenangkan rasanya bisa membantu orang lain, bukan? Dan lagi-lagi kita belajar bahwa yang terlihat jahat belum tentu benar-benar jahat.”
“Benar sekali, Da,” jawab Cepot sambil tersenyum. “Dunia ini penuh dengan rahasia dan kejutan. Selama kita datang dengan hati terbuka dan niat yang baik, jalan keluarnya akan selalu terbuka. Rasanya, perjalanan ini baru saja mengajari kita pelajaran yang lebih berharga dari emas sekalipun.”
Mereka melanjutkan langkah pulang dengan semangat baru, menyadari bahwa tugas menjaga kedamaian dan kebaikan adalah perjalanan yang tidak akan pernah berakhir, namun selalu menyenangkan untuk dijalani bersama.