NovelToon NovelToon
Tuan Galak & Nona Kecil

Tuan Galak & Nona Kecil

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Casilla Bella

Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.

🌺🌺🌺

Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.

Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.

Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.

Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter-32

"Suamiku!"

Tasya berdiri dengan gugup, jari-jemarinya tidak bisa diam, mereka saling menyauti. Sesekali Tasya menggigiti ujung jarinya.

Ia mulai mengerutkan dahinya, "Ada apa? Kenapa terlihat gugup seperti itu?"

"A-aku..."

"Aduh... berani nggak ya..." gumam Tasya, sambil menggigit bibir bawahnya.

"Hei!" panggilnya agak keras.

"Eh?!" Tasya tersentak.

"A-anu... bolehkah aku---" Tasya berjalan mendekati Angga.

"Hei! Kamu mau apa?!" tanya Angga heran, saat Tasya menyentuh kepalanya.

"Hei! Kamu ini sedang apa sih?" tanya Angga lagi.

Tasya mengacak-acak rambut Angga. Entah apa yang sedang ia cari. Membuat Angga semakin kebingungan.

"Jawab aku! Kamu sedang apa?!"

"Ish!! Aku sedang mencari kutu!" ujar Tasya sambil mendengus kesal.

"Apa? Aku anti kutu! Singkirkan tanganmu!" Angga menjauhkan kepalanya dari Tasya.

"Tunggu! Sepertinya tadi, aku melihat sesuatu!" kata Tasya penasaran.

"Hei... hei! Sudah kubilang, kalau aku ini anti kutu!"

"Diamlah!" Tasya terus mengacak-acak rambut Angga.

"Nah! Ini dia!" seru Tasya, saat menemukan apa yang tadi dilihatnya.

"Argh!!" pekik Angga kesakitan.

Tasya tersenyum senang, "Lihat ini, suamiku!" Tasya menunjukkan sehelai rambut putih milik Angga.

"Tidak ada kutu, bukan berarti tidak ada uban!" ujarnya senang.

Angga menatap tajam padanya, "Kamu ke sini hanya untuk mencabut ubanku, hah!" bentaknya.

"Hehehe, kamu kalau marah itu makin ganteng ya!" ucapnya tanpa beban.

Angga mengusap wajahnya gusar, "TASYA!!" bentaknya lagi.

"Hehe, kamu galak lagi seperti pertama kali kita bertemu!" seru Tasya, sambil tertawa kecil.

Angga menghela nafasnya gusar, "Kenapa dia ini?" Angga menatap sebal pada Tasya.

"Tunggu! Galak? Sepertinya... dulu pernah ada yang bilang begitu padaku!" gumam Angga.

"Argh!" Angga mulai merasakan sakit di kepalanya.

"Kamu kenapa? Aku kan tidak mencabut ubanmu lagi!" ucap Tasya, sambil menahan tawa.

"Angga! Sayang!" seru Mona, sambil berlari kecil ke arah Angga.

Tasya memiringkan kepalanya, "Lhoo... kok Mona bisa masuk?" matanya beralih ke arah pintu.

Tasya menepuk jidatnya, "Kenapa aku lupa menutup pintu tadi!"

"Sayang? Are you okay?"

Tasya melihat Mona yang terlalu dekat dengan Angga, menjadi emosi. Apalagi, saat Mona memanggilnya dengan panggilan sayang.

"Menjauhlah dari suamiku!" Tasya langsung memeluk Angga dengan posesif.

"Kau yang harusnya menjauh!" Mona menyingkirkan tangan Tasya yang melingkar di tubuh Angga.

"Dia itu suamiku! Aku lebih berhak atasnya!"

"Heh! Dia juga kekasihku! Jadi, aku juga berhak atasnya!"

Mona dan Tasya saling adu mulut. Tidak ada yang mau diam apalagi mengalah. Perbuatan mereka berdua, semakin membuat Angga sakit kepala.

"Sudah! Jangan ribut!" Angga membentak, sambil memegangi kepalanya.

Namun, kedua wanita itu tidak mendengarkan. Mereka sibuk beradu mulut untuk mendapatkan Angga.

BRUK!

Perhatian kedua wanita itu teralihkan dengan tubuh Angga yang terjatuh pingsan.

"Angga!" teriak mereka berdua bersamaan.

***

"Dok, gimana keadaan suami saya?" tanya Tasya khawatir.

"Iya Dok, gimana keadaan calon suami saya? Kenapa dia?" tanya Mona, ikut-ikutan.

Dokter Derrick memijat dahinya pusing. Bukan pusing karena penyakit. Tapi pusing karena sikap kedua wanita yang ada di hadapannya ini.

Ia menarik nafas, "Sepertinya Pak Angga, mulai mendapatkan sekilas bayangan masa lalunya. Dan dia berusaha untuk mengingatnya. Mungkin, itulah yang sering membuat kepalanya sakit." Tutur dokter itu.

"Apa? Ini tidak boleh terjadi! Angga tidak boleh mengingat masa lalunya! Bisa hancur impianku untuk menikah dengannya!" gumam Mona bersungut-sungut.

"Jadi, suami saya mulai bisa mengingat masa lalunya?" tanya Tasya sambil tersenyum senang.

"Ya... kemungkinan besar seperti itu. Tapi... seperti yang sudah saya bilang sebelumnya. Pak Angga tidak boleh terlalu memaksakan dirinya untuk mengingat masa lalunya." Tuturnya.

"Baik, Dok." Seru Tasya.

"Sebaiknya kau pulang saja! Biar aku yang menjaganya di sini!"

Tasya memasang wajah masam sekaligus marah. "Aku istrinya! Seharusnya kamu yang pulang. Kamu bukan siapa-siapa bagi suamiku!" ucapnya, dengan menekankan suaranya.

Mona tersenyum kecut. "Aku ini wanita yang dicintainya. Angga pasti lebih memilih dijaga olehku!"

Angga mulai sadarkan diri, kepalanya masih terasa sedikit sakit. Ia menatap kedua wanita yang ada di sisinya.

"Kalian..." lirihnya.

"Angga, syukurlah kamu sudah sadar sayang!" lirih Mona, sambil memasang wajah sedih.

"Aku di mana?" tanya Angga, terlihat kebingungan.

"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya? Kata Dokter, kamu gak boleh memaksakan diri untuk mengingat masa lalu!" tutur Mona.

"Apa benar, kamu berusaha mengingat masa lalumu?" tanya Mona, penasaran.

Angga terdiam, lalu mengangguk. Mona pun terkejut, namun ia berusaha tenang. Ia yakin Angga belum mengingat masa lalunya.

"Apa kamu sudah bisa mengingat masa lalu itu?" tanyanya lagi.

Angga menatap wajah Tasya yang terlihat sedih, lalu beralih menatap Mona. "Tidak!" jawab Angga sambil menggeleng.

Mona bernafas lega, sedangkan Tasya tidak. Harapannya sirna sudah. Ia kira, Angga sudah bisa mengingatnya. Meskipun sedikit saja, tapi kenyataannya Angga tidak mengingat apapun.

***

"Tas, bagaimana? Misi berhasil?" tanya Nuri sambil menatap ponselnya.

Tasya menggeleng sedih, "Aku tidak melakukan itu..." lirihnya.

"Apa? Jadi misi itu gak kamu lakuin?" tanya Nuri, dengan nada kesal.

Tasya cengar-cengir, "M-maaf! Aku gak tega kalau harus memukul kepala Angga!" ia mulai memanyunkan bibirnya.

"Kalau gak dicoba, kan gak akan tahu hasilnya!" gerutunya.

"Hehehe, tapi aku berhasil mencabut ubannya!" seru Tasya, sambil cengengesan.

Nuri menatap Tasya malas, lalu mengusap wajahnya frustrasi. "Ya Tuhan!! Apa hubungannya dengan uban?!" ucap Nuri gemas.

"Sepertinya, kepala Tasya lah yang harus digetok! Kenapa Tasya jadi aneh seperti ini!!" lirihnya frustrasi.

"Oh iya, tadi kepala Angga sakit!"

"Lalu, bagaimana?" tanya Nuri, kembali fokus pada pembahasan.

"Lalu..." gumamnya sambil mengingat-ingat.

"Lalu apa ya?" tanya Tasya bingung.

Lagi-lagi Nuri dibuat kesal oleh sikap Tasya. Ia mulai geram, "Kan aku yang lagi nanya. Kok kamu malah balik nanya?!" protes Nuri.

"Hehehe... iya maaf!" kata Tasya, sambil terkekeh.

"Tadi Angga pingsan. Kata Dokter, kemungkinan sakit kepalanya itu karena terlalu berusaha mengingat sesuatu." Sambungnya.

"Apa Tuan Angga sudah ingat masa lalunya?"

Tasya menggeleng sedih, "Aku kira juga seperti itu!" ia menundukkan kepalanya sedih.

"Ternyata Angga gak ingat aku sama sekali! Bagaimana ini? Aku gak mau terus berjauhan dengannya!" rengek Tasya sedih.

Tasya mulai menangis, entah mengapa emosinya sering cepat sekali berubah-ubah. Tadi dia tertawa, sekarang sedih.

"Duh... cup-cup-cup! Jangan nangis gitu. Aku akan pikirkan cara lain, oke?"

"Jangan memikirkan hal yang bisa membuat Angga sakit. Aku gak mau dia kenapa-kenapa..." ujar Tasya, masih merengek.

"Ya sudah, kita akan jalankan rencana B!"

"Memang rencana B itu apa? Aku lupa..." lirih Tasya sambil mengusap air matanya.

"Rencana B itu..." Nuri menjelaskan semuanya secara detail. Tasya hanya mengangguk-ngangguk saja, meskipun sebenarnya ia tidak terlalu mengerti dengan apa yang Nuri katakan.

***

Happy reading 🥰

1
Qaisaa Nazarudin
Wahh licik,itu mah tanda gak laku..kalo yg laku itu harus ada peguamnya keluarga tasya sekalian..
Qaisaa Nazarudin
Dasar ngenyel,udah gak punya urat malu.ilfil langsung aku dgn cewek kayak gini,paling gak demen dgn cewek yg ngejar2 cowok..
Qaisaa Nazarudin
Ngebet banget pengen cucu...
Qaisaa Nazarudin
wkwkwk udah ku duga..
Qaisaa Nazarudin
Ciih udah kebaca modusnya papa kamu..
Supriatun Khoirunnisa
Luar biasa
gemini 210
😂😂😂. masa bos galak takut sama ibu kost wkwkwk
Yeni Sri
ceritanya lumayan menarik
Devi Handayani
yaahh yahhh yaahhhhh
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤
Devi Handayani
yg sabar ya tasya😢😢😢
Devi Handayani
wkwkwkwkwkwkwkwkk... mules perut gw.... waddoiiwwww😂😂😂😂😅😅🤣🤣😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣😅🤣🤣🤣
Devi Handayani
dubraakkkk😅😅😅😂😂😂😂😂😅😅
Devi Handayani
iya tasya mainkan magic muuu... buat dia terbucin bucin padamu tasya🤪😚😋
Devi Handayani
waahhh wahhhh niat nyaa dah ngga bener ini....nanti kena kutuksn mm reader baru tau kamu angga🤨🤨🤨
Devi Handayani
mama memang the best deh😍😍😍😍
Devi Handayani
hayooo loohhh😏😏😏😏
Devi Handayani
wahhh ibu nya si galak ini.... jodohin Buu si tasya ama si galak biar tau rasa dia hahhaahhaahh🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Devi Handayani
sungguh sadis caramu tuan angga.... awas aja jatuh cinta ama tasyaaa😏😏😏😏😏😏😏😏😏😏
Devi Handayani
gpp jadi OG..... tapi OG nya CEO hihihihi😁😄😄😄😁😄😄😄😁😁😁😁
Devi Handayani
untung ada bibi peri sang penolong.... klo ga tinggal dimana tasya?? 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!