NovelToon NovelToon
Mr. Governor

Mr. Governor

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: SheisUgly

Rengganis Jeyang (28 Tahun) yang akrab disapa Ganis ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Pertama swasta favorit di Provinsi Jawa Tengah. Siapa sangka Ganis yang menjadi Guru BP di sekolah swasta tersebut membawanya kepada Ndaru Ayodia. Pria matang berusia 40 tahun, duda 3 anak yang salah satu anaknya adalah murid bandel di Sekolah tempat Ganis mengajar.
Ganis ingin bertemu dengan Ndaru untuk membicarakan masalah kenakalan Abimanyu di Sekolah. Namun kesibukan Ndaru sebagai Kandidat Gubernur Jawa Tengah membuatnya selalu menolak panggilan Ganis.
Hingga akhirnya Ndaru bersedia bertemu di sela-sela safari kampanye nya dan menimbulkan gosip jika Ganis adalah kekasih Ndaru. Elektabilitas Ndaru Dipertanyakan seiring memanasnya situasi menjelang pemilihan Gubernur.

Novel ini adalah hasil imajinasi saya sendiri. Jika ada kesamaan nama tempat itu hanya fiksi. Di novel ini tidak melulu membahas politik karena Ndaru seorang Gubernur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAIN ON PAINT

...NoPainNoGain !...

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

"Tante, aku mau di empok-empok" Sadewa mengerang manja dengan mata hampir terpejam. Kucing imut itu terbiasa di empok-empok sebelum tidur. Ganis mengira anak itu sudah tertidur, tapi anak itu kembali bangun ketika Ganis berhenti. Dia meraih tubuh mungil itu dalam dekapannya dan menepuk bokong anaknya dengan ritme teratur.

Definisi empok-empok menurut Sadewa adalah menepuk bokong dengan ritme teratur sampai tertidur. Semenjak Ganis menjadi ibu tiri bagi Sadewa, hampir setiap malam anak kucing itu meminta ibu tirinya untuk menepuk bokong sampai Sadewa terlelap. Ada lagi istilah lain untuk mendeskripsikan kesukaan Sadewa sebelum tidur yakni kusuk-kusuk.

Kusuk-kusuk adalah kegiatan menggaruk punggung dengan pelan dengan ritme yang pas. Tidak kasar juga tidak halus. Anak itu akan mulai memberi aba-aba jika ibunya menggaruk terlalu kasar atau halus. Ganis akan menemukan kusuk-kusuk yang pas dan nyaman di tubuh anaknya ketika Sadewa sudah berhenti memberi aba-aba.

Suara dengkuran halus terdengar menandakan anak itu sudah terlelap sempurna. Ganis mengelus rambut Sadewa yang mulai memanjang saat liburan semester tiba. Sebelum kembali ke sekolah, Ganis akan membawa Sadewa ke barber shop untuk memangkas rambutnya.

Ganis tidak perlu mengecup kening anaknya saat tidur atau merentangkan tangan untuk menyatakan jika dia mencintai Anak-anak Ndaru. Ganis hanya berdoa dalam hati agar anak-anaknya senantiasa bahagia dan menjadi anak membanggakan. Itu adalah bukti jika Ganis mencintai anak-anak Ndaru.

Ganis menggeret selimut sampai leher agar Sadewa tetap hangat. Ibu tirinya juga menata beberapa bantal di dekat tubuh anaknya yang tertidur agar lebih nyaman.

Jam masih menunjukkan pukul 20.30. Ganis juga yakin suaminya itu belum pulang. Sesuai jadwal, hari ini dia menyidak Dispenduk yang sedang bermasalah di salah satu Kabupaten di sekitar Pantura.

Ada salah seorang warganet yang mengirim DM ke instagram pribadinya disertai dengan bukti foto terlampir jika Dispenduk menolak untuk membuat KTP dengan dalih materialnya habis. Ndaru yang tidak percaya akan laporan dari staff atau kepala instansi langsung mendatangi kantor pelayanan publik Dispenduk. Ndaru sangat yakin sudah menandatangani APBD untuk pengadaan material pembuatan KTP, KK dan Akta lahir. Mana mungkin materialnya habis?

Ganis tidak pernah peduli Ndaru pulang ke Rumah Dinas jam berapa. Wanita itu menyadari, jabatan sebagai Gubernur adalah pekerjaan penuh waktu. Bukan seperti karyawan dengan jam kerja yang sudah di tentukan. Bahkan Ganis dan Ndaru pernah terbangun di jam 01.00 dini hari karena ada salah satu warga yang tinggal di belakang Rumah Dinas, meminta bantuan untuk pergi ke klinik. Istrinya kesakitan dan akan melahirkan. Ndaru yang tak mau mengganggu Pak Mul yang beristirahat, berinisiatif mengantar ibu itu ke Rumah Sakit di temani Rengganis.

Setelah bayi itu benar-benar lahir baru Rengganis dan Ndaru pamit untuk pulang. Ayah dari bayi yang bernama Purnomo itu tak berhenti menangis dan mengucapkan banyak terima kasih tak menyangka Pak Gubernur bersedia untuk membantunya.

"Mas Pur jangan sungkan. Saya selalu membuka lebar Rumah Dinas untuk warga yang butuh pertolongan. Selamat ya Mas atas kelahiran bayinya" Ndaru menepuk bahu Mas Pur yang masih terisak.

Sebelum pulang, Mas Pur meminta sebuah nama untuk bayi perempuannya. Ndaru Dan Ganis akhirnya sepakat memberi nama bayi perempuan cantik dengan nama Lintang. Saat Ndaru melihat bayi gembul itu, Ndaru teringat akan Nawang yang masih bayi begitu mirip dengan Lintang.

Ganis tahu, Ndaru memang tidak pencitraan. Suaminya sangat tulus membantu warganya yang membutuhkan tanpa pandang bulu. Ganis tidak yakin rasa simpatik yang di simpan untuk suaminya mampu ditahan dan tidak berubah menjadi rasa yang lebih dari ini.

Ganis beringsut turun dari ranjang anaknya lalu memutar kenop pintu dan menutup pintunya perlahan dan kembali ke kamarnya. Saat melewati kamar Abimanyu yang sedikit terbuka, Ganis melihat anaknya itu sedang serius menatap layar laptop dengan perangkat jemala wireless terpasang di telinganya. Ganis ingin masuk dan memantau Abimanyu. Beberapa hari ini, Abimanyu tampak tak bersemangat setelah Ayahnya melarangnya menjadi seniman. Ganis mengetuk pintu dan anaknya menyunggingkan senyum tipis sebagai respons jika Ganis di ijinkan untuk masuk. Setelah cukup lama tinggal dengan keluarga barunya, Ganis semakin dekat dan tahu tingkah satu persatu anak-anaknya.

"Tante boleh duduk disini?" Kembali Ganis meminta izin. Abimanyu tersenyum tipis mengangguk mempersilahkan ibu tirinya.

Ganis duduk di tepi ranjang seraya mengelus permukaan kasur pegas yang tertutup sprei motif monochrome berwarna hitam putih. Layar di laptop menunjukkan sebuah lukisan. Ganis yang tidak begitu paham tentang seni hanya mengamati dari tempat duduknya.

Ada beberapa aliran dalam melukis. Dan yang sedang dilihat anaknya ini adalah lukisan beraliran abstrak. Dimana warna-warna cerah di goreskan di atas kanvas. Cenderung tak beraturan namun menimbulkan degradasi dan membentuk objek yang indah. Ganis tak menyangka, lukisan yang dibuat seperti asal-asalan mempunyai nilai seni yang tinggi dan berharga fantastis.

"Sudah berapa aliran melukis yang Mas Abim bisa?" Ganis memberanikan diri bertanya meskipun tak yakin anaknya itu mendengar dengan telinga tertutup perangkat jemala. Abimanyu melepas eaerphone dan mengalungkannya di leher.

"Kira-kira tiga aliran Tante. Aku pernah melukis abstrak, surealis dan natural." Anak itu kembali menatap layar laptop setelah menjawab pertanyaan ibunya dengan cukup detail.

"Mas Abim belajar dimana?"

"Otodidak Tante." Jawabnya singkat. Telunjuknya mengklik gambar lukisan untuk di perbesar.

Ganis mengangguk paham. Meskipun hanya belajar otodidak, tapi yang namanya bakat terpendam pasti akan muncul secara alamiah. Hanya tinggal mengasah bakat itu agar tidak terbuang sia-sia. Jika Abimanyu tekun belajar dan menemukan guru yang tepat, maka bakatnya akan menjadi luar biasa.

"Biasanya Mas Abim ngelukis dimana?" Ganis memang tidak pernah melihat secara langsung anaknya itu melukis atau hanya sekedar melihat karyanya. Dia hanya pernah melihat beberapa alat melukis dan cat acrylic yang tersimpan rapi di meja nakas saat Ganis membersihkan kamar anaknya.

Ganis juga tahu bakat anaknya dari penuturan wali kelasnya.

"Di sekolah ada ekstrakurikuler kesenian dan kebetulan sekolah juga punya Galery seni, jadi aku ngelukis di Galery seni milik sekolah." Ganis tersenyum mendengar jawaban anaknya.

"Mas Abim bisa ngelukis umur berapa?"

Anak itu memutar kursi ergonomis untuk menghadap ibunya. Pandangannya menerawang mengingat-ingat.

"Aku mulai ngelukis waktu aku SD Tante. Tapi cuma gambar pemandangan aja sih yang aku lukis. Tapi Ayah marah dan matahin kuas lukisku karena nilaiku turun. Padahal aku cuma turun peringkat, dari dua ke tiga"

Ganis melihat sorot tegar dari mata anak tirinya. Hati Ganis merasa sesak mendengar cerita Anaknya. Hal yang paling dia sukai dilarang oleh Ayahnya. Abimanyu yang waktu itu mungkin baru saja mengalami rasa sakit perceraian orang tuanya harus kembali merasakan rasa sakit karena sang Ayah melarangnya melukis. Bisa jadi, melukis adalah sarana Abimanyu untuk mengalihkan rasa sedih dan kecewa. Melupakan kenangan pahit.Orang tuanya bercerai, ibu yang pergi entah kemana, dan Ayah yang terlalu sibuk dengan dunia politik. Ganis bersyukur Abimanyu mengalihkan dunianya ke hal-hal yang positif bukan mengarah ke pergaulan bebas dan minum-minuman keras.

Ganis tahu, Abimanyu hanya anak yang memiliki perasaan halus dan sensitif. Tapi dia tidak punya hak penuh untuk membantu menentukan masa depan yang bagus untuk anak-anaknya karena Ganis menyadari bahwa dia hanya ibu tiri. Mereka masih punya ibu kandung walaupun tidak tahu dimana keberadaannya.

"Apa Tante boleh ngliat lukisan Mas Abim?" Pinta Ganis hati-hati. Anak itu kembali tersenyum dan beringsut dari kursinya. Berjalan menuju rak tempat buku-buku tertata rapi. Kebanyakan adalah buku Materi pelajaran berbahasa Inggris. Ganis jadi gemas mengingat suaminya yang terobsesi anaknya bisa berbahasa Inggris dan kuliah di MIT.

Abimanyu berjongkok membuka laci lebar di rak paling bawah. Dengan hati-hati anak itu mengambil beberapa lembar kertas A3 yang sudah berwarna warni dan di serahkan pada ibu tirinya.

Ganis menyambut lukisan itu dengan wajah yang sangat excited. Matanya takjub melihat goresan kuas dengan cat acrylic membentuk suatu objek. Sekaligus tidak menyangka jika Abimanyu membuat lukisan sebagus ini.

Lukisan pertama bergambar koala lucu berwana abu-abu sedang memeluk pohon eucalyptus. Suasananya bukan terlihat seperti di habitat asli hewan endemik Australia ini. Lukisan ini berlatar di sebuah kebun binatang. Hamparan langit luas seolah tampak nyata dan di bawah pohon tempat koala bersarang ada hamparan rumput hijau.

Ganis menyentuh dengan halus permukaan lukisan dengan media kertas A3. Meskipun tidak di torehkan dalam kanvas, lukisan ini masih sama bagusnya dengan lukisan bermedia kanvas. Ganis yakin jika ini bukan imajinasi khayalan anaknya. Melihat begitu detail objek yang di gambar, anaknya pasti pernah mengunjungi tempat ini.

"Ini di kebun binatang ya?" Tanya Ganis lirih dengan mata mengamati lukisan.

"Iya Tante, aku melihat koala ini waktu di ajak jalan-jalan Ayah sama Bunda di Kebun Binatang Jardin de Plentes. Waktu itu aku merengek pengen megang koalanya tapi sama Bunda enggak boleh takut tanganku kena kuman" Anak itu tersenyum datar menceritakan makna dari lukisan buatannya ini. Pandangannya kosong, otaknya tidak berjalan sinkron dengan tempat dimana dia ada saat ini. Pikirannya melayang ke Paris beberapa tahun yang lalu.

Ganis meletakkan lukisan koala lucu di atas ranjang dan mengambil lembar kedua kertas A3 itu. Mata Ganis kembali takjub untuk sebentar kemudian membayangkan jika di balik lukisan ini ada cerita tersembunyi.

Di sudut lukisan bertulis Lolipop. Ini adalah judul lukisan berikutnya. Sesosok anak kecil berjongkok di sudut ruang sebuah rumah, matanya bulat dengan bibir tertutup lolipop. Pada umumnya anak-anak akan senang jika memakan makanan manis seperti lolipop. Tapi tidak dengan anak di dalam lukisan Ini. Mata Bulatnya yang hitam menyiratkan ketakutan dengan lolipop di tangan. Melihat dari posisinya anak ini sedang bersembunyi saat menjilat lolipop. Tampak dari gradasi warna yang gelap mengitari tubuh si anak, dan pada sisi sebelahnya warna tampak terang. Jika Ganis mengamati lebih detail hanya dari sorot matanya, anak kecil ini adalah Abimanyu. Ganis pernah melihat sorot mata ini sebelumnya saat Abimanyu mendatanginya di ruang BP saat Ganis masih menjadi Guru pembimbing.

"Kenapa Mas Abim makan lolipop kalau enggak suka?" Asumsi sementara, Abimanyu tidak suka makanan manis ini tapi memaksa untuk terus memakannya. Ganis ingat jika Abimanyu pernah menolak makan es krim saat mereka jalan-jalan ke Mall kemarin.

"Aku suka lolipop" Jawabnya tenang, kakinya di selonjorkan dengan siku lurus.

"Tapi Bunda ngalarang aku makan permen karena makanan manis bisa membuat gigiku rusak. Jadi aku sembunyi" Suaranya terdengar polos di sertai kekehan kecil. Abimanyu bersembunyi untuk menikmati permen agar Bundanya tidak marah. Anak kecil seusia Abimanyu dan Sadewa adalah anak dengan keingintahuan yang besar dan cenderung ingin mencoba hal Baru. Semakin dilarang, maka akan semakin besar juga niat untuk membangkang agar rasa penasarannya terjawab.

Amara begitu menyayangi anaknya. Mendengar cerita Abimanyu bahwa bundanya melarangnya memegang koala lucu itu dan tidak memperbolehkannya memakan permen sudah membuktikan jika dia ingin Abimanyu tidak sakit. Tapi jika anak seusianya tidak di beri akses untuk mencari pengalaman baru, jiwa emosional sang anak bisa saja menjadi tidak stabil. Namun Abimanyu mampu mengalihkannya dalam bentuk karya agar emosi yang ada dalam hatinya tersalurkan.

"Abimanyu sekarang bebas kok kalau mau makan manis" Ganis terkekeh berusaha menetralisir suasana agar tidak menjadi canggung.

Beralih ke lukisan terakhir yang ditunjukkan Abimanyu kepadanya. Melihat dari bentuk dan bau cat yang masih menyengat menandakan jika lukisan ini adalah lukisan yang masih baru-baru ini di buat. Lukisan dengan objek seorang wanita mengenakan dress motif bunga-bunga, berambut lurus hitam kecoklatan dengan panjang hampir sepinggang. Lekuk tubuhnya proporsional. Tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. Berkulit kuning langsat dengan sepatu boots ber hak warna hitam. Bibirnya ranum berwarna merah cherry, hidungnya mancung bermata sayu. Topi baret yang dikenakan menambah elegan tampilan wanita ini.

Latar belakang yang diambil Abimanyu dalam melukis seperti di sebuah keramaian, objek di sekitar gambar utama di buat blur dengan kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Sedang gambar wanita ini tampak jelas seperti autofokus pada kamera ponsel. Ganis kembali melihat lebih detail sosok cantik di dalam lukisan. Dan Ganis melihat sorot mata milik Amara di sana. Ini Amara kan?

Ganis ingin bertanya, memastikan jika ini benar ibu kandung Abimanyu. Namun lidah Ganis terasa kelu. Bibirnya terkatup rapat. Abimanyu sudah cukup terluka dengan masa lalunya. Masa lalu yang di tanggung oleh anak sekecil dirinya. disaat semua anak bermain, Abimanyu menahan luka ini sendiri.

"Itu Bunda" Senyum kecutnya terbit. Pasti sakit sekali melihat Ibu yang melahirkannya dari gambar yang dibuatnya sendiri. Melihat tentu saja tidak sama dengan membuat. Ganis tahu, banyak air mata yang berjatuhan di dalam kamar ini saat Abimanyu menorehkan kuas diatas media lukis. Berusaha mengingat wajah Ibunya yang lama tak dijumpai. Kepala anak itu menunduk, ada guncangan kecil di bahunya.

Abimanyu menangis.

Ganis ingin merengkuh bahu anaknya ke dalam pelukan. Tapi Abimanyu tak sama dengan Sadewa . Kucing imut itu lebih terbuka atas perasaannya. Tapi Ganis yakin jika Abimanyu butuh pelukan.

"Mas Abim kangen sama Bunda?" Ganis menatap lekat anaknya yang tertunduk. Anak itu mengangguk pelan sebagai jawaban atas rasa rindunya. Ganis merengkuh bahu yang sangat kuat dalam menanggung beban pahit sendiri kedalam pelukannya.

Kini Ganis paham, lukisan-lukisan yang di buat anaknya adalah manifestasi dari memori yang di tersimpan dalam otaknya. Setiap lukisan di buat detail agar anak itu tidak mudah melupakannya. Kenangan bersama ibunya nyaris tidak ada. Mereka tentunya tidak pernah menyimpan foto atau kenangan bersama Amara.

Abimanyu tentu saja berbeda dengan Sadewa. Meskipun hanya sebentar mereka bersama, tapi Abimanyu masih mengingat wajah dan kebersamaan mereka dulu. Ganis agak kesulitan mengenal anak sulungnya ini. Berbeda dengan Sadewa, Sadewa tidak mempunyai kenangan apapun dengan ibunya karena setelah Sadewa lahir kedua orang tuanya berpisah. Sadewa akan mudah berbaur dengan orang lain yang dirasa membuat dirinya nyaman. Ganis dengan ayahnya tidak mempunyai kedekatan sama sekali. Ditambah dengan rumor yang dia dengar bahwa ayahnya adalah sosok yang kejam dan temperamental. Akan sangat mudah melupakan Ayahnya tanpa rasa sakit.

Kenapa Amara meninggalkan anaknya begitu saja. Apa dia tidak menuntut hak asuh atas anak kandungnya sendiri??

🌿🌿🌿🌿🌿

Mata Ganis masih sembab seolah merasakan rasa sakit seperti yang Abimanyu rasakan. Setelah menutup pintu kamar anak sulungnya, Rengganis segera masuk kedalam kamarnya sendiri. Semoga saja suaminya belum pulang agar dia punya sedikit waktu untuk membuat wajahnya tampak normal dan tak terlihat memerah karena tangisan.

Seharusnya Ganis tegar. Menenangkan anaknya dan bukan malah ikut larut dalam rasa sedih. Akhir-akhir ini Ganis sangat cengeng dan mudah tersentuh. Ganis akan berusaha melindungi perasaan anaknya dari rasa sakit dalam bentuk apapun.

Dugaan Ganis salah, begitu masuk ke dalam kamar, suaminya sudah duduk bersandar di atas ranjang seraya membaca file yang ada di tangannya.

Ganis bahkan tidak mendengar suara mobil LCGC yang biasa di kendarai suaminya masuk ke halaman Rumah. Mungkin karena dirinya terhanyut di kamar Abimanyu.

Ganis menunduk dengan menguraikan rambutnya kedepan wajah, menutupi raut sedihnya agar terlihat. Dengan cepat Ganis naik ke ranjang, merebahkan badan dengan memunggungi suaminya. Selimut tebal ditarik hingga sebatas leher kemudian memjamkan mata. Pura-pura untuk tertidur.

Ndaru merasakan hal aneh terjadi, tidak biasanya istrinya itu hanya Diam. Jika dirinya pulang maka Ganis akan memaksanya untuk bercerita apa yang dia lakukan hari ini dan pada akhirnya akan melayangkan ktitikan pedas. Ndaru merosot mendekat ke tubuh sang istri, menepuk punggungnya perlahan.

"Hei, kamu kenapa?" Ndaru tampak panik apalagi setelah tak direspons oleh sang istri. Ndaru ingin sekali memeluk istrinya dari belakang, namun pria itu takut jika istrinya malah justru mengamuk.

"Kamu kenapa Nis?" Suasana masih sama, hening. Tak terdengar jawaban. " Kamu udah tidur sayang? Ada apa cerita sama aku"

Ndaru khawatir, apa Ganis mendapatkan pelecehan verbal dari Harit sepupunya? Tapi Harit sedang ke Jakarta mengurus surat-surat di kedutaan Perancis. Lalu apa?

Ganis membuka mata, bukan karena di panggil sayang. Ganis harus bicara agar suaminya berhenti menduga-duga hal yang tidak-tidak. Ganis membalikkan badan mengahadap suaminya yang selalu mengeluarkan aroma wangi musk. Aroma tajam parfum pria yang mulai disukainya.

"Aku enggak apa-apa" Ndaru lega sedikit, istrinya akhirnya buka suara. Ndaru justru takut kalau Ganis mulai diam.

"Tapi ada apa sama kamu? Mata kamu merah, wajah kamu sembab? Kamu nangis?" Ndaru tentu saja melihat unsur kesedihan tergambar jelas. Ibu jari pria itu menyeka air mata yang masih tersisa di sudut mata.

"Aku, cuma kangen sama Mamak" Jawabnya berbohong. Ganis hampir setiap hari melakukan panggilan video call dengan ibunya yang sekarang ikut Paramitha tinggal di Sangatta.

"Beneran? Syukur deh kalau gitu aku kira Harit kurang ajar lagi sama kamu" Senyum suaminya mengembang.

"Jangan bahas Harit lagi" Ganis cemberut, mengingat pria itu membuat hatinya bergejolak kesal.

"Maafin aku ya, karena kamu sibuk kamu enggak ada waktu untuk pulang kampung. Kamu bisa pulang kampung untuk sementara Waktu. Aku ngijinin kok" Ndaru mengelus rambut Ganis yang terurai. Istrinya menggeleng

"Mamak sekarang tinggal di Sangatta. Lagipula aku masih ada proyek baksos di Rumah Singgah khusus penderita kanker kok" Ganis kembali menatap wajah suaminya dalam jarak dekat.

Kedua tangan Ndaru menangkup wajahnya " Kalau kamu capek jangan sungkan untuk cerita ya?"

Ganis mengangguk, rasanya menyenangkan saat istrinya bersedia mendengar keluh kesahnya. Menjadi istri gubernur dengan kegiatan padat memang melelahkan, tapi merawat anak dengan segudang rasa sakit yang disembunyikan dengan rapi adalah hal yang menyedot seluruh emosi dan perasaanya.

Apa Ndaru dulu pernah mendengar keluhan Amara dengan baik? Seperti yang dilakukannya ini sekarang? Ganis ingin Ndaru tahu jika Abimanyu rindu ibunya, tapi mungkin ini waktu yang tidak pas. Ganis egois, dia tidak ingin merusak momen dengan suaminya.

"Terima kasih ya Mas." Hembusan nafas keduanya terasa hangat menyatu. Dengan dorongan naluri sebagai suami istri sesungguhnya ,bibir mereka bertemu lewat kecupan kecil.

"Aku boleh nyium kamu?" Ndaru masih sadar jika istrinya mungkin akan mengamuk jika tak minta izin lebih dulu. Ganis mengangguk. Ndaru menggeret lengan istrinya untuk dilingkarkan di pinggangnya. Agar bibir mereka lebih dalam menyusuri lekuk-lekuk di dalam mulut. Ini adalah pengalaman pertama istrinya.

Ganis merasakan ciuman ini lebih lembut, hangat di banding ciuman yang pernah mereka lakukan saat berkunjung di acara reuni di rumah milik keluarga Atmojo. Ciuman waktu itu cenderung kasar dan dipaksakan hingga bekasnya terlihat dengan jelas. Ndaru menyusuri tulang selangka milik istrinya, meninggalkan jejak basah di balik kaos lengan panjang dengan kerah terbuka. Menonjolkan tali bra yang ingin dia renggut pengaitnya yang ada di punggung sang istri.

"Mas Ndaru" Ganis melepas pagutan yang masih tertaut antar keduanya. Mengumpulkan kesadaran atas akal sehatnya kali ini.

"Kenapa?"Ndaru terlihat gusar istrinya melepas bibirnya begitu saja.

"Aku sesak nafas" Ganis tersenyum. Nafasnya terengah.

Sebenarnya bukan itu alasannya. Ganis berani sumpah jika dia memang sangat menikmati ciuman malam ini. Namun dia merasa batas-batas yang dibuatnya sia-sia. Bahkan mereka bisa bertindak lebih jauh sebagai suami istri.

Rasa takut dalam diri Rengganis masih bersemayam. Takut jika pernikahan ini hanya mimpi yang suatu saat akan berakhir dan rasa simpatik yang berubah menjadi rasa cinta suatu saat akan menimbulkan rasa sakit.

"Ayo Mas kita tidur, besok pagi aku ada pertemuan di kantor PKK" Ganis membenamkan wajah di ceruk leher Ndaru yang wangi. Badan suaminya terasa hangat seperti mesin penghangat ruangan. Kakinya tak lagi merasakan dingin dan menggigil.

Semuanya hangat.

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

...Panjang bgt kek kereta. Bosenin lagi....

...selamat siang semuanya.......

...thanks n like vote n komen....

...Komen dongg biar aku semangattt.whehheheh....

1
Bunny³²
astagaa mamaknyaa nih kok lngsung begini.
ga ingat apa pwngalaman suami dia dan mantan mantunyaa duluuu, dan skrng mamak pengen ganis punya lakian model Yudha jugaa
ckckckxck
Bunny³²
wahh ga bener
baru kenal udh main tangan ajaa...
Bunny³²
parahhh
masa 3 tahun pacaran bs ga terdeteksi sihh
Bunny³²
kasihan sekali, ibunyaa kmnaa
Agna
Pumpkin emang bikin gemeeezzzzzz
Agna
mewakili aku ni, aku punya anak tiri 3, cowok semua
Agna
/Drool//Drool//Drool/
Agna
mmmhhh... kayakx Gamis jd penggemar pak Gubernur sejak awal lihat ya ..
knp jg sy baru koment ya, padahal baca kisah ini bertahun² lalu🤭
Agna
sy selalu kangen mba Author, makax sy sering baca ulang
Agna
sy baca berulang2, random🤭
kisah seperti ini sy sukaaaaa banget. ttg keluarga, karir, tp konflikx ga berat
Nara
keren
Agna
kangen baca kisah romansa yg elegan kayak gini, ada rekomendasi novel lain? Ndaru Ganis berulang² sy baca
Sari Alyaa
T.O.P B.G.T👍👍🤩
Ratna Mareliana
baca ke 3 x nya.. kangen ganis sm mas ndaru
May Keisya
ibu ko gitu...ga dapet pelajarankah dr pernikahannya yg dl ancur
May Keisya
kebykn laki2 ky gini klo hbs nikah knp pd berubah jadi siluman... kelakuan asli terlihat ketika sdh menikah
May Keisya
mematikan😭🤣🤣
Renesme
Baguss 👍👍
Sandisalbiah
hah... jauh² pindah ke Amrik gak taunya masih ada satpol pp yg ngerajia kamar.. 🤭🤭🤭🤭🤭
Sandisalbiah
gak ada visual pumkin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!