Demi pergi bersama selingkuhannya seorang wanita bernama Camila tega menempatkan saudari kembarnya bernama Camelia disisi suaminya bernama Dion. Camila lebih memilih pria selingkuhannya lantaran Dion selalu saja bersikap kasar dan menyiksanya saat sedang kesal kepadanya.
Malam pertama ketika Camelia berada di kediaman Dion, semua pelayan merasakan sesuatu yang janggal pada sikap Camelia yang mereka anggap adalah Camila. Tentu saja karena Camelia dan Camila memiliki sikap yang sangat bertolak belakang, lagipula tidak ada yang mengetahui bahwa Camelia dan Camila adalah saudari kembar termasuk Dion.
Bagaimana hari-hari yang akan dijalani Camelia sebagai wanita samaran untuk Dion?
Apakah Camelia bisa menempatkan dirinya sebagai Camila tanpa sepengetahuan Dion?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkataan ketika mabuk
Setibanya dirumah, Camelia langsung masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah yang tampak sedih lantaran sudah berhari-hari tidak bisa bertemu dengan ibunya dirumah sakit setelah operasi. Dion sempat melihat raut kesedihan yang ada di wajah Camelia. Ia mengerti apa yang tengah dirasakan Camelia saat itu, namun Dion tetap saja tak mengizinkan Camelia keluar rumah lantaran kesal karena Camelia tetap saja bungkam walau dirinya sudah berkali-kali memancingnya untuk mengatakan segala kebenarannya.
Dion memilih untuk berdiam diri di dalam kamar utama dengan meminum minuman alkohol dengan maksud untuk menghangatkan tubuhnya karena cuaca saat itu sudah memasuki musim dingin. Tegukan demi tegukan minuman beralkohol itu mulai menghangatkan tubuhnya, namun Dion masih ingin meminumnya sambil merenungi nasibnya yang selalu saja gagal dalam menjalin cinta dengan wanita. Walaupun sosok Lili tak lagi terlihat di mata nya, namun rasa cinta yang kini menjadi amarah masih terus terasa di dalam hatinya.
"Apa yang salah kalau aku tidak mampu memberikan waktu luang untuknya? Haruskah dia berselingkuh dengan pria lain untuk menyakitiku? Aku menghabiskan waktu untuk bekerja keras karena aku ingin membahagiakannya dan tidak membiarkannya kekurangan apapun, tapi ... tapi dia mengkhianatiku!" ucap Dion mengingat istri pertamanya yang juga menjadi cinta pertamanya.
Dion menenggak minuman itu lagi hingga minuman itu habis. Terlalu banyak minum membuat Dion mabuk. Dion bangkit dari tempat duduknya dan melangkah sedikit sempoyongan walaupun dirinya masih memiliki kesadaran atas apa yang sedang ia lakukan.
Dion keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke kamar Camelia. Tanpa mengetuk pintu Dion membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam. Disisi lain, Camelia baru saja selesai berendam air panas di dalam kamar mandi untuk menenangkan pikirannya. Camelia mengenakan bathrobe dan melangkah keluar dari kamar mandi, lalu betapa kagetnya dia saat merasakan dua lengan kekar melilit tubuhnya dari belakang secara tiba-tiba.
"Aaahhh!!!" pekik Camelia kaget.
Kepala Dion jatuh di pundak Camelia membuat Camelia sontak menoleh kebelakang.
"Dion, kau ...."
"Diamlah! Aku hanya ingin seperti ini!" ucap Dion membuat Camelia tak saat menghentikan semua gerakannya.
Hembusan nafas Dion dengan bau alkohol yang begitu menyengat tercium di hidung Camelia ketika Dion masih merebahkan sisi wajahnya di pundak Camelia.
"Kau mabuk, Dion!" ucap Camelia.
Dion mulai mengendus wangi sabun yang Camelia gunakan saat dirinya berendam air hangat di dalam kamar mandi tadi. Wangi sabun itu seketika membuat Dion merasakan hasrat yang luar biasa dan ingin segera melepaskannya. Tanpa aba-aba sama sekali, Dion lantas membalikkan tubuh Camelia dan langsung menciumi bibir Camelia. Tentu saja apa yang dilakukan Dion itu memancing perlawanan dari Camelia yang berusaha mendorong tubuh Dion untuk segera menjauh darinya.
"Eerrmm ...." pekik Camelia tertahan sembari berusaha mendorong tubuh Dion, namun pekikan tersebut malah membuat hasrat yang Dion rasakan semakin menjadi-jadi. Dengan rakusnya Dion terus menciumi bibir Camelia bahkan tangannya pun mulai meraih ikatan bathrobe yang Camelia kenakan untuk segera melepaskannya.
Ciuman itu pun turun ke batang leher serta pundak Camelia sembari tangan Dion sudah menyelinap masuk dengan liar di setiap lekukan tubuh Camelia.
"Dion ... jangan." ucap Camelia dengan nada lirih lantaran tak kuasa menahan segala serangan yang dilakukan Dion pada tubuhnya. Tak dapat dipungkiri sebagai wanita yang juga memiliki hasrat tentu saja yang dilakukan Dion pasti akan membuat Camelia tak dapat menahannya walaupun ia sudah berusaha untuk menolak.
"Aku menginginkannya!" bisik Dion disela-sela perlakuannya pada Camelia.
Dion segera membawa Camelia keatas ranjang dan pergulatan mereka pun kembali terjadi begitu panas, namun ketika Camelia merasakan semua sentuhan Dion yang begitu nikmat, ia tersadar bahwa apa yang tengah ia lakukan itu adalah salah.
"Tidak! Tidak seharusnya aku memberikan tubuhku pada suami adikku!" batin Camelia.
Camelia kembali berontak dan mendorong tubuh Dion sekuat mungkin. Dion bahkan tidak langsung melepaskan diri Camelia begitu saja, tapi dia hanya menghentikan apa yang tengah dilakukan.
"Kenapa?" tanya Dion dengan nafasnya keduanya terengah-engah.
"Ini salah, Dion! Kita tidak bisa melakukannya!" sahut Camelia.
"Kenapa? Kau merasa bersalah pada adikmu bila kau melakukannya denganku!" ucap Dion membuat jantung Camelia berdetak kencang.
"Apa?" ucap Camelia terkejut dan melebarkan kedua matanya saat menatap Dion.
"Aku tau, kau ... Camelia!" bisik Dion yang membuat Camelia semakin terkejut lantaran Dion sudah mengetahui siapa jati dirinya.
Camelia dan Dion pun terus saling menatap satu sama lain dalam posisi dimana tubuh Camelia tengah diapit tubuh Dion diatas ranjang itu.
"Aku bukan pria bodoh yang bisa kalian tipu dengan mudah! Tunggu saja, kalian akan mendapatkan balasan dariku!" ucap Dion lagi.
Camelia kembali mendorong Dion dengan kedua tangannya, namun dengan sigap Dion menangkan kedua pergelangan tangannya dan mencengkeramnya dengan kuat membuat Camelia tidak mampu bergerak sedikitpun.
"Dia dalam pengaruh alkohol sehingga tenaganya sangat kuat, aku tidak bisa melawannya sedikitpun!" ucap Camelia dalam hatinya.
"Aku akan segera menghancurkan kalian semua yang berani menipuku!" ucap Dion lagi semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Camelia.
"Itu bukan salahku! Mereka yang memaksaku untuk menempati posisi Camila dirumah ini!" sahut Camelia.
"Jadi maksudmu kau ingin lepas tangan, begitu?" ucap Dion sembari mengelus pipi Camelia dengan jari telunjuknya.
"Tapi aku juga korban dalam masalah ini! Kalau kau ingin membalasnya lakukan pada Camila dan juga Baren! Mereka yang menipumu bahkan mereka juga menipuku!" sahut Camelia lagi tetap saja tidak ingin disalahkan.
"Heh, tidak ingin disalahkan ya ...."
Dion menyeringai sembari mencengkram wajah Camelia dengan tangan kirinya.
"Kalau kau ingin tetap menyalahkanmu, kau mau bisa apa, hah?" ucap Dion lagi kemudian kembali menciumi bibir serta tubuh Camelia dengan paksa. Camelia terus berontak walau dirinya tidak memiliki kesempatan untuk lolos dari apa yang Dion lakukan terhadapnya.
Keesokan paginya, Camelia terbangun dan merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit lantaran semalam dirinya berusaha keras untuk berontak dari apa yang dilakukan Dion terhadapnya, walau tetap saja akhirnya Dion lah yang memenangkan pergulatan tersebut.
"Iiisss..., pinggang juga lengan ku terasa pegal-pegal." ucap Camelia bergerak di dalam balutan selimut tebal.
Lalu Camelia membuka kedua matanya dan melihat Dion masih tertidur pulas dengan posisi tertelungkup dan dengan tubuh yang masih telanjang bulat.
"Uugghhh...., dasar pria gila ini! Bisa-bisanya dia tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun! Membuat mataku ternodai saja!" gerutu Camelia sembari menutupi tubuh Dion dengan selimut lainnya yang ia ambil dari dalam lemari.
"Haaaahhh ...." Camelia duduk di tepi ranjang sembari menghela nafas panjang.
"Bukan hanya mataku saja yang dinodainya tapi tubuhku juga! Bahkan semalam dia memaksaku hingga berkali-kali! Apa dia memang pria yang sangat messum sampai-sampai dia tidak puas hanya melakukannya sekali!" gerutu Camelia dengan wajah sewot sambil melirik Dion yang masih tertidur pulas.
Camelia mengingat segala perkataan Dion semalam mengenai dirinya.
"Cih, dia sudah tau siapa aku sebenarnya! Sekarang apa yang akan aku lakukan? Aku juga korban disini tapi dia tetap saja akan menyalahkan aku dan membalasnya! Kalau aku kabur begitu saja, memangnya aku bisa? Semua pelayan dirumah ini tentu saja akan berpihak pada majikan mereka bukan padaku!" gumam Camelia dalam hatinya.