"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Gerbang Emas yang Mengurung
Perjalanan menuju Ibu Kota dilewati dalam keheningan yang mencekam. Amora duduk di kursi belakang mobil mewah itu, membuang muka ke arah jendela, menolak menatap Hamdan yang duduk di sampingnya sambil sibuk dengan tablet di tangannya.
"Kau bisa berhenti meremas ujung bajumu, Amora. Aku tidak akan memakanmu," suara Hamdan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Amora tersentak, lalu melepaskan genggamannya pada kain kemeja lusuhnya. "Aku tidak takut padamu. Aku hanya merasa mual mencium aroma mobil ini. Terlalu wangi, palsu."
Hamdan akhirnya menoleh. Ia menutup tabletnya, lalu sedikit memutar tubuhnya menghadap Amora. "Kau akan terbiasa dengan kepalsuan ini. Karena di dunia tempatmu akan tinggal nanti, kejujuran adalah barang mewah."
Mobil itu berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa dengan ukiran huruf 'T' yang megah. Begitu gerbang terbuka, Amora ternganga melihat halaman luas dengan air mancur kristal dan bangunan bergaya klasik modern yang tampak seperti istana.
"Turun," perintah Hamdan singkat.
Begitu Amora menginjakkan kaki di pelataran mansion, seorang gadis muda dengan rambut dikuncir kuda berlari keluar dari pintu besar. Wajahnya ceria, sangat kontras dengan aura gelap Hamdan.
"Abang! Kau membawanya!" seru gadis itu. Ia langsung menghampiri Amora dan memegang kedua tangan Amora dengan antusias. "Halo! Aku Zahra, adik si kaku ini. Kau pasti Amora, kan? Ya ampun, Abang tidak bohong, kau sangat cantik bahkan dengan noda tanah di pipimu!"
Amora kebingungan. "Eh, halo... Zahra?"
"Zahra, bawa dia masuk. Berikan dia kamar di sayap kanan. Dan tolong, bersihkan dia sebelum makan malam," potong Hamdan dingin. Ia melewati mereka begitu saja, namun sempat membisikkan sesuatu di telinga Amora saat berpapasan, "Selamat datang di rumah barumu, Mawar Kecil."
Zahra menyeret Amora ke sebuah kamar yang luasnya mungkin tiga kali lipat dari rumah Amora di desa. Di sana, sudah tersedia tumpukan kotak bermerek ternama dan sebuah bak mandi yang penuh dengan busa aromaterapi.
"Abang Hamdan itu memang aneh," ujar Zahra sambil memilah-milah gaun. "Dia sudah menyiapkan semua ini sejak seminggu lalu. Dia tahu ukuran bajumu tanpa bertanya. Sedikit menyeramkan, bukan?"
Amora terdiam di tepi tempat tidur yang sangat empuk. Menyiapkan sejak seminggu lalu? Jadi dia sudah mengintainya sejak lama?
"Zahra, kenapa kakakmu melakukan ini? Aku hanya pedagang sayur," tanya Amora pelan.
Zahra berhenti bergerak, ia menatap Amora dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena bagi Abang Hamdan, kau bukan sekadar pedagang sayur. Kau adalah satu-satunya janji yang belum sempat ia tepati."
Sore itu, Amora "dipaksa" bertransformasi. Zahra dan beberapa pelayan membersihkan rambut Amora yang kusam hingga berkilau, memoles wajahnya dengan riasan tipis yang elegan, dan memakaikan gaun sutra berwarna emerald yang membuat warna matanya semakin menyala.
Saat cermin memperlihatkan sosok barunya, Amora hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Ia terlihat seperti seorang putri bangsawan, bukan lagi gadis lusuh dari Sukawangi.
Malam Hari: Meja Makan Keluarga Tarkan
Amora menuruni tangga dengan ragu. Di ujung tangga, Hamdan sudah menunggu. Pria itu kini mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, terlihat sangat dewasa dan berwibawa.
Saat melihat Amora, Hamdan terpaku. Langkah kakinya yang hendak menuju ruang makan terhenti. Matanya menelusuri Amora dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada kilatan gairah dan kebanggaan di matanya yang biasanya sedingin es.
"Sempurna," gumam Hamdan.
Namun, momen itu dirusak oleh suara dehaman dari arah ruang makan. "Hamdan, jangan biarkan tamu kita menunggu di depan tangga seperti itu. Bawa dia kemari."
Itu adalah suara Layla Tarkan, ibu Hamdan. Seorang wanita yang tampak anggun namun memiliki tatapan sekeras baja. Amora merasakan firasat buruk. Di meja makan itu, ia tidak hanya akan berhadapan dengan Hamdan, tapi dengan sejarah keluarga yang belum ia pahami.
"Jangan lepaskan lenganku," bisik Hamdan sambil menyodorkan sikunya untuk digandeng Amora. "Tetaplah di sampingku jika kau tidak ingin 'ditelan' oleh ibuku."
Amora terpaksa menyambut lengan kekar itu. Ia bisa merasakan otot lengan Hamdan yang mengeras di balik jasnya. Di bawah lampu kristal yang berkilauan, Amora menyadari satu hal: Mansion ini memang penjara emas, dan Hamdan adalah sipir yang paling berbahaya.
Meja makan panjang itu terasa sangat dingin meskipun hidangan mewah mengepul di atasnya. Amora duduk di hadapan Layla Tarkan, sementara Hamdan duduk di kepala meja, memimpin suasana dengan keheningan yang mengintimidasi.
"Jadi, ini gadis yang membuatmu mengosongkan jadwal pertemuan dengan dewan direksi hanya untuk pergi ke pasar kumuh itu, Hamdan?" Layla membuka suara, nadanya setajam silet. Ia memandang Amora seolah Amora adalah debu yang tidak sengaja terbawa masuk ke karpet mahalnya.
Amora mengepalkan tangan di bawah meja. "Saya punya nama, Nyonya. Dan pasar itu bukan tempat kumuh, itu tempat saya mencari nafkah dengan halal."
Layla mengangkat alis, sedikit terkejut dengan keberanian Amora. "Berani juga dia, Hamdan. Tapi keberanian saja tidak cukup untuk menutupi bau lumpur yang masih melekat padanya."
"Cukup, Ibu," potong Hamdan. Suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia meletakkan garpunya dengan denting yang membuat suasana seketika sunyi. "Amora adalah tamuku. Perlakukan dia dengan rasa hormat yang sama seperti Ibu memperlakukanku."
Layla mendengus sinis, namun ia tidak melanjutkan hinaannya. Makan malam berlanjut dengan kecanggungan yang luar biasa. Amora merasa seolah setiap gerakannya saat memegang pisau dan garpu dinilai oleh sepasang mata tajam Layla.
Setelah makan malam yang melelahkan, Amora mencoba melarikan diri ke balkon besar di sayap kanan mansion. Ia butuh udara segar. Namun, di sana ia justru bertemu dengan Rion, salah satu pengawal pribadi kepercayaan keluarga Tarkan yang sedang berjaga.
Rion (25 tahun) adalah pria yang ramah. Saat melihat Amora yang tampak tertekan, ia tersenyum tipis. "Mansion ini memang sedikit menyesakkan bagi orang baru, Nona Amora."
Amora menoleh, merasa sedikit lega melihat wajah yang tidak terlihat mengancam. "Panggil saja Amora. Dan ya, tempat ini lebih mirip museum daripada rumah."
Rion terkekeh pelan. "Tuan Hamdan memang perfeksionis. Tapi percayalah, dia melakukan semua ini karena—"
"Rion!" sebuah bentakan keras memotong pembicaraan mereka.
Hamdan berdiri di pintu balkon dengan wajah yang gelap. Matanya menatap tajam ke arah tangan Rion yang tadi hampir menyentuh bahu Amora untuk menenangkan. Aura cemburu terpancar jelas dari tubuhnya.
"Kembali ke posmu sekarang. Jangan biarkan aku melihatmu berbicara secara pribadi dengan tamu VIP-ku lagi," perintah Hamdan dengan nada yang sangat dingin.
Rion membungkuk hormat dengan gugup dan segera pergi. Amora menatap Hamdan dengan marah. "Dia hanya bicara denganku! Kenapa kau harus sekasar itu?"
Hamdan tidak menjawab. Ia melangkah maju hingga Amora terdesak ke pagar balkon. Ia meletakkan kedua tangannya di pagar, mengurung tubuh Amora di tengahnya.
"Aku tidak suka barang milikku disentuh oleh orang lain, Amora," bisik Hamdan tepat di depan wajah Amora.
"Aku bukan barang milikmu!" balas Amora sengit.
Hamdan tersenyum miring—senyum yang terlihat berbahaya. "Kita lihat saja nanti. Sekarang, masuklah ke kamarmu. Dan jangan pernah berpikir untuk mendekati pengawal mana pun di sini."
Malam itu, dari jendela kamarnya, Amora melihat Hamdan di halaman belakang yang gelap. Pria itu tidak tidur. Ia berdiri di sana, memegang busur panah, melepaskan anak panah satu demi satu ke sasaran di kegelapan dengan tenaga yang luar biasa—seolah-olah setiap anak panah itu adalah pelampiasan dari rasa cemburu dan posesif yang membakar dadanya.
To be continued...