Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34 Batas yang Mulai Kabur
Kamis pagi.
Setelah insiden.
“Nunggu kamu.”
Rania Azarina…
tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Karena—
kenapa semalam mulutnya harus sejujur itu?
Natural lagi.
Tanpa filter.
Tanpa mikir.
Tanpa kontrak.
Dan yang lebih memalukan—
Gavin jelas-jelas dengar.
Jelas-jelas notice.
Dan—
yang paling menyebalkan—
tidak kelihatan keberatan.
…
Mati saja.
Rania keluar kamar sedikit terlalu cepat.
Sedikit terlalu siap.
Sedikit terlalu berniat kabur.
Sayangnya—
lagi-lagi—
takdir jelas membencinya.
Karena Gavin sudah di dapur.
Sudah rapi.
Sudah pakai kemeja.
Sudah bikin kopi.
Dan—
entah kenapa—
kelihatannya…
sedikit terlalu santai.
Tatapan pria itu terangkat.
Berhenti tepat di wajahnya.
Diam dua detik.
Lalu—
“…Pagi.”
Pendek.
Normal.
Terlalu normal.
Seolah semalam tidak ada emotional damage nasional.
“…Pagi,” jawab Rania cepat.
Terlalu cepat.
Tatapan langsung ke kulkas.
Ke meja.
Ke mana saja asal bukan Gavin.
Karena—
eye contact sekarang terasa ilegal.
Rania langsung ambil tas.
Strategi.
Kabur.
Lalu—
“Kopi?”
Boom.
…
Apa?
“Aku udah—”
“Saya tetap bikin.”
Pendek.
Natural.
Seolah sudah otomatis.
Seolah memang tugas pagi.
Dan—
beberapa detik kemudian—
gelas less ice sudah bergeser ke depannya.
Favoritnya.
Persis.
Tanpa tanya.
Tanpa salah.
Rania membeku kecil.
“…Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar pelan.
Refleks.
Tatapan Gavin turun sebentar ke laptop.
Lalu—
“…Karena biasanya kamu minum.”
Deg.
…
Oh.
Bagus.
Jam tujuh pagi dan jantungnya sudah mulai tidak kooperatif.
Dan yang paling menyebalkan—
cara Gavin ngomong sekarang terasa…
terlalu biasa.
Seolah memang sudah hafal hidupnya.
Seolah—
mereka memang pasangan.
Beneran.
Bukan kontrak.
—
Di kantor.
Jam sembilan lewat dua belas menit.
Dan—
Kevin sudah siap merusak hidup orang.
Lagi.
Meeting pagi baru mau mulai.
Laptop terbuka.
Orang-orang setengah hidup.
Yang tidak normal?
Gavin.
Karena—
baru lima menit meeting—
Pria itu refleks bertanya.
“…Rania sudah makan?”
Boom.
Tidak ada yang bersuara.
Kevin perlahan mengangkat kepala.
Tatapan penuh dosa.
“…Pak.”
“Hm?”
Nada Gavin datar.
“Ini masih kontrak…”
Jeda dramatis.
“…atau udah cicilan cinta?”
Nisa langsung menahan batuk.
Theo menutup laptop.
Pelan.
“Saya tidak ikut campur.”
Jeda.
“Tapi chemistry kalian mengganggu fokus kerja.”
Rania langsung menatap layar.
Pura-pura hidup.
Pura-pura profesional.
Padahal—
pipinya mulai panas.
Gavin tetap santai.
“…Kerja, Kevin.”
Pendek.
Dingin.
Namun—
masalahnya—
Kembali tidak menyangkal.
Kevin langsung menoleh ke Nisa.
Mulut membentuk huruf O besar.
“Oh.”
Pelan.
“Pak Gavin udah masuk fase denial romantis.”
“Kevin,” desis Rania.
“Saya cuma observasi budaya perusahaan.”
Kurang ajar.
Sangat kurang ajar.
—
Menjelang siang.
Presentasi besar.
Meeting direksi dan tim investor.
Ruangan penuh.
Tegang.
Semua orang stres.
Normal.
Dan—
anehnya—
Rania dan Gavin terlalu sinkron.
Tidak ngomong banyak.
Tidak diskusi panjang.
Tidak perlu.
Karena—
slide berganti.
Gavin bicara angka.
Rania langsung lanjut poin legal.
Tanpa kode.
Tanpa briefing.
Tanpa lihat.
Seolah sudah tahu.
Lalu—
ketika investor tanya revisi data—
Gavin bahkan belum selesai bicara—
Rania sudah buka file.
Mendorong laptop sedikit ke arahnya.
Natural.
Refleks.
Timing terlalu pas.
Sunyi kecil.
Investor berkedip.
Theo perlahan menyandarkan badan.
Tatapan pindah.
Ke Gavin.
Ke Rania.
Lalu—
pelan.
“…Ini chemistry kerja…”
Jeda.
“…atau chemistry rumah?”
Boom.
Kevin langsung megang dada.
“Pak Theo jangan bikin saya emosional.”
Nisa menunduk.
Menahan ketawa.
Karena—
jujur—
mereka memang kelihatan seperti pasangan yang sudah lama kerja bareng.
Terlalu lama.
Terlalu nyaman.
Dan—
itu masalah.
Karena—
mereka sendiri mulai lupa batasnya.
—
Koridor kantor.
Setelah meeting.
Rania lagi bawa setumpuk file.
Lumayan berat.
Lalu—
Andrian muncul.
“Oh, Bu. Saya bantu.”
Normal.
Profesional.
Tangannya baru mau ambil file—
saat suara lain muncul.
Pendek.
Terlalu cepat.
“…Saya aja.”
Tatapan Gavin sempat berhenti sebentar. Ke tangan Andrian. Yang tadi nyaris menyentuh file di tangan Rania.
Diam. Sedetik terlalu lama.
Rania menoleh.
Oh.
Gavin.
Entah sejak kapan sudah berdiri di sana.
Tatapan tetap datar.
Tetap tenang.
Tapi—
anehnya—
terlalu cepat mengambil alih.
File sudah pindah ke tangannya.
Natural.
Seolah memang biasa.
Andrian berkedip.
“Oh— Pak Gavin.”
Lalu—
Gavin menatap Rania.
“Meeting HR lima belas menit lagi.”
“…Masih lama.”
“Saya tahu.”
Cepat.
Lalu—
lebih pelan.
“Biar nggak capek.”
Boom.
…
Apa?
Kevin muncul.
Tentu saja.
Karena pria itu memang tidak punya kehidupan pribadi.
Tatapan langsung ke Gavin.
Lalu pelan.
“…Pak.”
“Hm?”
“Saya baru sadar.”
“Apa?”
Kevin menunjuk file di tangan Gavin.
“…Bapak tuh nggak pernah bantuin saya.”
“Kevin.”
“Saya serius.”
Menunjuk Gavin.
“Pak Gavin tadi vibes-nya kayak—”
Jeda dramatis.
“—suami yang nggak suka istrinya dibantu cowok lain.”
Rania langsung jalan.
Cepat.
Terlalu cepat.
Karena—
entah kenapa—
komentar itu terasa terlalu tepat.
Dan itu mengganggu.
Sangat mengganggu.
—
Jam tujuh malam.
Kantor mulai sepi.
Langit sudah gelap.
Lampu sebagian mati.
Dan—
untuk alasan yang sangat tidak profesional—
Rania melihat jam.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
…
Belum keluar?
Biasanya—
jam segini Gavin sudah ngajak pulang.
Sudah nyuruh makan.
Sudah—
Sebentar.
Rania membeku.
Oh tidak.
Kenapa dia jadi nunggu?
Bahaya.
Sangat bahaya.
Harusnya—
dia pulang aja.
Normal.
Profesional.
Namun—
tanpa sadar—
jarinya sudah buka chat.
Dan mengetik.
Rania
Masih kerja?
Boom.
…
Membeku.
Karena—
apa ini?
Sejak kapan dia mulai otomatis mikirin Gavin belum makan?
Sejak kapan pulang sendiri terasa aneh?
Dan— kenapa sekarang… apartemen terasa terlalu sepi kalau Gavin belum pulang?
Apa dia baru saja…
Kayak istri?
Oh tidak.
OH TIDAK.
Terlambat.
Karena—
typing…
Muncul.
Gavin
5 menit.
Pendek.
Lalu—
chat kedua masuk.
Gavin
Jangan pulang dulu.
Deg.
…
Apa?
Kenapa jantungnya mulai aneh lagi?
—
Apartemen.
Malam.
Sepi.
Lelah.
Dan—
karena entah kenapa—
Rania malah nunggu di sofa.
Laptop terbuka.
Katanya kerja.
Nyatanya—
setengah ngantuk.
TV menyala kecil.
Rambut masih agak basah.
Dan—
tanpa sadar—
ketiduran.
Lagi.
—
Hampir empat puluh menit kemudian—
pintu apartemen terbuka.
Langkah pelan masuk.
Gavin berhenti.
Karena—
lagi-lagi—
Rania tertidur di sofa.
Meringkuk kecil.
Laptop masih nyala.
TV belum mati.
Diam.
Beberapa detik.
Lalu—
entah refleks atau apa—
sudut bibirnya naik sedikit.
Kecil.
Hampir tidak kelihatan.
“…Kebiasaan buruk.”
Pelan.
Nyaris gumam.
Ia mengambil selimut.
Mendekat.
Pelan.
Hati-hati.
Takut bangun.
Baru mau berdiri—
saat—
sesuatu menarik ujung kemejanya kecil.
Gavin berhenti.
Membeku.
Tatapan turun.
Rania.
Masih setengah tidur.
Mata tertutup.
Namun—
jarinya menggenggam sedikit ujung bajunya.
Kecil sekali.
Lalu—
Mengigau pelan.
Nyaris tidak terdengar.
“…jangan lama.”
Deg.
Hening.
Benar-benar hening.
Karena—
itu terlalu natural.
Terlalu biasa.
Rania bergerak kecil di sofa.
Masih setengah tidur.
Tidak sadar apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Namun— entah kenapa— genggaman kecil di ujung kemeja itu tidak lepas.
Seolah memang… menunggu.
Tatapan Gavin berhenti terlalu lama.
Ke tangan kecil itu.
Lalu—
ke wajah Rania.
Yang—
tanpa sadar—
sudah terasa terlalu familiar.
Terlalu dicari.
Terlalu nyaman.
Dan—
untuk pertama kalinya—
sesuatu terasa sedikit berbahaya.
Karena—
dia mulai sulit membedakan:
mana perhatian.
Mana kebiasaan.
Mana kontrak.
Mana nyata.
Pelan.
Nyaris seperti bicara ke dirinya sendiri—
“…Saya bisa kebiasaan.”
Dan—
anehnya—
untuk pertama kalinya—
itu tidak terdengar menakutkan.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.