Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
CAPTER 32
GARA GARA SEBUAH LAGU
Tengah malam Naura terbangun, suara rintihan Hasan lah yan membuatnya membuka mata. Mendongakkan kepalanya, memastikan ada apa dengan suaminya. Terlihat wajah Hasan dibasahi oleh keringat, alisnya berkerut dan bibirnya juga terus merintih seolah menahan rasa sakit.
Segera Naura bangkit dan mengambilposisi duduk disamping suaminya, disentuhnya dahi Hasan.
"Panas banget!." Gumannya.
Dengan cekatan Naura membuka jaket yang dipakai oleh suaminya, tangan Hasan menyentuhnya.
"Aku cuma mau buka jaketnya." Ucap Naura sambil melepaskan tangan Hasan dengan pelan.
Bingung apa yang harus diperbuat selanjutnya, Naura langsung menyambar ponsel yang ada dimeja didekatnya. Menanyakan ke mbah google cara merawat seseorang yang terkana deman. Tidak hanya satu artikel yang dibaca, Naura membaca beberapa artikel untuk memastikan seperti apa umumnya yang harus dilakukan. Sesuai dengan yang didapat dari mbah google. Naura turun kebawah, mengisi air ke ketel lalu memanaskannya dikompor, setelah dirasa cukup panas Naura segera mematikan kompor. Lalu menuangkannya ke baskom yang sudah dia siapkan.
Untuk memastikan air itu apa cukup panas, Naura memeriksanya dengan memasukkan jari telunjuknya.
"Awww...panas!." Ucapnya spontan.
Segera dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari kran. Menuangkan semuanya ke baskom lalu mengeceknya lagi.
"Kayaknya yang ini sudah pas." Gumannya.
Lalu naik lagi keatas dengan hati-hati agar air yang dibawanya tidak tumpah. Meletakkan baskom itu dimeja dan berlari keruang pakaian untuk mencari sesuatu yang bisa dibuat mengopres.
"Kain yang lembut...yang menyerap air." Gumannya sambil mencari sesuatu yang dirasa tepat.
Otaknya teringat pada handuk kecil yang biasa digunakan olehnya setelah menerapkan masker. Segera dia kembali kekamar mandi, membuka rak yang berisi handuk serta perlengkapan mandi lainnya. Begitu
mendapati apa yang dicari, Naura langsung kembali ketempat tidur. Merendamnya sebentar, lalu memerasnya sebelum menempelkannya didahi sang suami.
"Hmmm...." Rintih Hasan lemah.
"Kamu kena demam." Ucap Naura.
Membiarkan handuk kecil itu menempel beberapa menit lamanya, setelah dirasa tidak panas lagi. Naura menggantinya dengan sisi yang lainnya yang masih hangat. Begitu seterusnya sampai panasnya berkurang dan tubuh Hasan berkeringat.
Naura meninggalkan Hasan sendirian dikamar, dia kembali ke dapur untuk membuat obat seperti yang
dianjurkan mbah google padanya. Tangannya dengan cekatan mencari jahe, sebelumnya Naura tidak tahu seperti apa rupanya tanaman herbal itu. Tapi dia sudah melihatnya di mbah google. Membuka satu persatu rak dapur untuk
mendapatkannya, namun sayang yang dicari tidak ada.
"Aduhhh terus pakai apa ini." Gumannya yang bingung.
Otaknya kembali mengingat isi artikel yang dia baca sebelumnya, ingatannya jatuh pada bawang merah. Cukup ragu dalam beberapa menit lamanya, namun akhirnya dia melakukan sesuai instruksi. Tangan Naura langsung mengambil beberapa siung bawang merah, mengupasnya dan menggepreknya dengan pisau. Memasukkan bawang merah yang sudah digeprek didalam mangkok kecil, lalu kembali keatas dengan berlari. Meletakkannya disamping baskom yang berisi air hangat dan mengmbil kotak obat untuk mencari minyak telon atau
minyak kayu putih. Sayangnya kedua benda itu tidak ada didalamnya. Bingung harus menggunakan apa, Naura memutar otak. Matanya tak sengaja melihat minyak zaitun dimeja rias. Tak perlu berpikir kembali, dia langsung menyambarnya dan menuangkan minyak zaitu itu kedalam mangkok yang berisi bawang merah.
Jari-jari tangnnya mengaduk racikan obat yang dia buat, setelah dirasa tercampur dengan baik. Dia segera membalurkannya kebadan Hasan. Mulai dari perut lalu nik ke dada, juga ke dahi dan ketiak.
"Emmm...kok baunya kayak gini!." Guman Naura sambil mengernyitkan hidungnya.
Namun tangannya terus membalurkan racikan itu dengan pelan. Sementara tangn satunya menutupi dihidungnya supaya tidak bisa mencium bau nano-nano yang dia buat.
Hidung Hasan menghirup bau nano-nano itu juga, spontan dia juga mengernyitkan hidung dan juga mengerutkan alis.
"Emmm...." Suara gumannya yang lemah.
Naura tertawa kecil mendapati suamianya yang juga bereaksi sama. Geli dibuatnya, tanpa sadar Naura memberikan ciuman manis dipipi Hasan.
"Cepat sembuh." Ucapnya.
Setelah mencuci tangan, Naura mengambil handuk kecil didahi Hasan. Mencelupkan kembali kedalam baskom, memerasnya lalu menempelkan kembali ke dahi. Rasa kantuk menghampirinya, dan dia pun tertidur
disamping Hasan.
----
Sinar matahari menembus dari balik gorden, membuat Naura terbangun dari tidurnya. Tangannya mengucek matanya supaya terjaga. Sebelum turun dari kasur, dia mengecek suhu tubuh Hasan, dengan menempelkan telapak tangan didahinya.
"Huhh syukurlah uda nggak panas." Gumannya lalu turun dari kasur.
Setelah mencuci muka dan sikat gigi, Naura segera turun kebawah untuk menemui bik Siti. Terlihat bik Siti tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk keduanya.
"Bik papa udah balik?!." tanya Naura.
"Katanya pak Said nanti sore Non... emangnya kenapa?." jawab bik Siti dan balik bertanya.
"Ohhh...kalo gitu tolong tinggalin dapur ini dulu sebentar bik!." Kata Naura.
"Loh emang ada apa Non?."
"Nggak ada apa-apa...aku cuma minta tolong belikan buah sebentar."
"Ohhh kirain...buah apa Non?."
"Belikan jeruk, kiwi, pepaya, pisang sama jahe Bik!."
"Kok banyak Non...emang buat apa?."
"Udah jangan banyak nanya...cepetan." ucap Naura sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
"Iya Non ini langsung berangkat."
"Jangan lama-lama lho Bik!"
"Iya Non!."
Naura kembali keatas untuk melihat suaminya masih tidur atau sudah terbangun, dia membuka pintu kamar dengan pelan. Melihat suaminya masih tertidur pulas, Naura memutuskan untuk mandi. Dan selesai mandi, Naura membawa baskom dan mangkok ke bawah. Berharap bik Siti belum balik.
"Syukurlah belum balik." Guman Naura.
Dengan segera dia membuang air dibaskom dan juga membuang bawang merah yang dia geprek ke tempat sampah. Lalu memasukkan baskom dan mangkok kotor itu ketempat cucian. Sementara handuk kecil dia taruh ditempat baju kotor.
"Non ini buahnya." Teriak bik Siti.
Naura langsung berlari dari belakang, memeriksa takut ada yang tidak kebeli oleh bik Siti.
"Bik tolong kupaskan ya...aku mau buat minuman jahe soalnya." Pinta Naura.
Melihat tingkah Naura yang tidak seperti biasanya, bik Siti mulai curiga. Kecurigaannya bertambh ketika Naura menanyakan madu kepadanya.
"Bik ada madu nggak?." tanya Naura.
"Ada Non...emang mau buat apa?." tanya bik Siti penasaran.
"Mau dicampur sama ini."
"Emang siapa yang sakit Non?."
"Bibik banyak nanya deh!." Protes Naura.
Tidak ingin kena semprot lagi, bik Siti mengunci mulutnya rapat-rapat. Dan memberikan madu yang diminta oleh Naura, dia menebak Hasan lah yang sakit. Dengan semangat bik Siti mengupas buah, menaruhnya dipiring dan mengambil nampan.
"Non ini buahnya." Ucap bik Siti sambil memberikan nampan pada Naura.
Naura yang juga sudah selesai meracik minuman jahe, langsung menaruhnya dinampan juga lalu kembali
keatas.
Hasan masih tertidur ketika Naura kembali dengan membawa buah dan segelas minuman jahe hasil racikannya sendiri. Dia meletakkan nampan itu dimeja dekat tempat tidur. Lalu membangunkan Hasan dengan pelan.
"Emmm...." Guman Hasan sambil mencoba membuka mata.
"Bangun dulu bentar!." Ucap Naura datar.
Kepala Hasan terasa sedikit pusing ketika dia mencoba untuk duduk. Naura membantunya dengan mengganti posisi bantal supaya Hasan bisa bersandar.
"Makasih Mba." Ucap Hasan dengan suara yang masih lemah.
Naura tidak menjawab, dia mengambil segelas minuman jahe yang dia buat dan memberikannya pada Hasan.
"Minum dulu ini biar lekas sembuh." Kata Naura dengan nada datar.
Hasan tidak mengira kalau minuman itu masih panas, dia berpikir minumanya sudah hangat. Begitu menempel bibirnya langsung kepanasan.
"Awww...panas!." Rintihnya.
"Gimana sih..kok langasung diminum nggak ditiup dulu." Omel Naura pada Hasan yang sedang sakit.
"Katanya tadi suruh diminum." Protes Hasan tidak terima.
"Sudahlah sini aku bantuin." Ucap Naura mulai ketus.
Lalu mengambil gelas minuman jahe dari tangan Hasan, setelah meniupnya beberapa menit lamanya Naura membantu menegukkan minuman itu. Berikutnya Naura mengambil buah dipiring dan memberikannya pada Hasan.
"Habisin ini biar cepat sembuh." Ucapnya dan bangkit dari tempat tidur.
"Mau kemana Mba?." tanya Hasan.
"Mau turun dulu...awas dihabisin buahnya!." Ucap Naura sebelum kelur dari kamar.
Hasan menghentikan kunyahannya ketika menyadari mencium bau yang aneh pada dirinya.
"Ini bau apa sih...kok campuran gitu!." Guman Hasan sambil mengendus bau tubuhnya.
Naura yang sudah kembali, melihat Hasan sedang bingung dan mengendus-endus tempat tidur.
"Ngapain ngendus-ngendus gitu!." Goda Naura.
"Ni bau apa sih Mba?." tanya Hasan yang kebingungan.
"Ya bau badanmu lah...kan belum mandi." Jawab Naura sambil senyum jahil.
"Kayaknya meski nggak mandi...baunya nggak kayak gini...emang badanku dikasih apa Mba?." tanya Hasan yang mulai curiga.
"Udah nggak usah bawel yang penting sembuh." Seru Naura.
"Itu buahnya cepet habisin...terus sarapan biar perutnya nggak kosong!." Perintah Naura.
"Dirawat sama disiksa kok beda tipis ya." Guman Hasan pelan.
Naura terus mengawasi Hasan yang tengah mencoba menghabiskan buah dipiring, dia juga tidak berhenti mengomeli Hasan ketika dia berhenti memakannya. Kesal dengan sikap Naura yang terlampau bawel, Hasan pun memanggil Naura dan memintanya mendekat.
"Mba tolong sini dulu bentar." Ujar Hasan.
Dengan malas Naura berjalan mendekatinya, dan duduk disisi kasur.
"Ada aa...," Ucapannya terpotong.
Hasan yang kesal, langsung menyuapi buah pepaya kemulut Naura yang terbuka. Mata Naura melotot, tidak percaya Hasan akan berani melakukan itu padanya.
Emosi Naura langsung memuncak, dia mengambil piring berisi buah yang dipegang Hasan. Dan membalas Hasan dengan lebih kejam. Naura terus menyuapi Hasan padahal buah dimulutnya belum tertelan.
"Ayo cepat kunyahnya!." Ucap Naura sambil menyodorkan lagi sepotong kiwi dimulut
Hasan.
Hasan berusaha menepis tangan Naura dan memberi isyarat padanya kalau mulutnya masih penuh. Namun Naura tidak mengindahkanya, dia tetap berusaha menyuapi potongan buah kiwi itu kemulut. Hasan yang berusaha menelan, malah tersendat dan terbatuk-batuk.
Segera Naura menaruh piring dikasur dan menepuk pungung Hasan. Tidak ingin mengotori tempat tidur, Hasan segera bangkit dan berlari kekamar mandi dan memuntahkan semuanya disana. Naura panik, dia juga berlari kekamar mandi. Menyentuh punggung Hasan dan mengusapnya.
"Maaf." Ucap Naura.
Hasan tidak menjawab, dia menoleh ke Naura dan mendaratkan tangannya dikepala Naura tepatnya diubun-ubun, lalu mengelusnya lembut. Masih dengan menutup mulutnya, Hasan keluar dari kamar mandi. Dia hendak duduk di sofa tapi keburu dilarang oleh istrinya yang kejam.
"Ihhh...jangan duduk disana... entar ikutan bau!."
Tidak menjawab, Hasan hanya menghela nafas dan kembali ketempat tidur. Tapi hanya
beberapa detik merebahkan tubuh, Hasan kembali bangun dan berjalan ke kamar mandi.
"Mau kemana?."
"Mandi biar nggak bau." Jawab Hasan yang sedari tadi menutup mulut.
"Jangan mandi dulu... entar panas lagi badannya!." Perintah Naura
Hasan yang masih sedikit pusing, mengikuti perintah istrinya dengan patuh. Dia kembali ke kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Mencoba memejamkan matanya meski sama sekali tidak mengantuk.
Ternyata siksaan ibu tiri belum berakhir disitu saja, Naura kembali mendekati Hasan dan membangunkannya.
"Hmmm..." Guman Hasan malas.
"Sarapannya belum dimakan...ayo bangun dulu." ujar Naura memberi perintah.
"Ya Allah ini kok lebih kejam dari ibu tiri." Jerit Hasan dalam hati.
Meski malas dan kesal dengan sikap otoriter Naura, dia tetap bangun dan mengambil posisi duduk. Dan meminta Naura untuk memberikan sarapannya. Hasan dengan penuh perjuangan menghabiskan semua sarapannya tanpa sisa. Setelah itu dia meneguk gelas air putih sampai habis, dan kembali beringsut diatas kasur, tak lupa membungkus tubuhnya dengan selimut.
Awalnya dia susah untuk memejamkan mata, tapi akhirnya tertidur juga. Baru disore hari menjelang malam dia terbangun, melihat Naura tertidur si sofa. Hasan segera ke kamar mandi dan membersihkan badannya yang
bau nano-nano.
"Syukurlah dia masih tidur." Guman Hasan sambil menggosok punggungnya.
Naura tiba-tiba terbangun, matanya melebar ketika mendapati tempat tidur yang kosong. Terdengar suara percikan air dari kamar mandi, entah dari mana datangnya keinginan untuk melihat Hasan tengah mandi berlenggak dikepalanya. Namun dia menendang jauh-jauh keingin mesum itu. Untuk mengalihkannya, Naura membersihkan kasur dengan mengganti sprei dan selimut yang terkontaminasi dengan bau bawang.
Hasan kelur dari kamar mandi, dia hendak keruang pakaian tapi Naura sudah menghentikannya dengan Omelan.
"Kok mandi sih...kan udah dibilangin mandinya itu kalau udah beneran sembuh."
Hasan sama sekali tidak berkomentar, dia juga mengurungkan niatnya untuk memakai baju. Dia berjalan ke meja kerja, dan menyalakan laptop. Tidak tahu dari mana , dia teringat dengan sebuah lagu. Setelahmengetik kata kunci pencarian dilaman YouTube, munculah lagu yang dia ingin putar. Hanya untuk menghilangkan kekesalannya dan menyindir istrinya yang hari ini super bawel. Lagu dangdut yang sempat viral, sambil senyum-senyum Hasan memutar lagu itu, dia juga ikut menyanyikannya.
------------
Wis nasibe kudu koyok ngene
Nduwe bojo kok rathu ngapenake
Seneng muring, omongane sengak
Kudu tak trimo, bojoku pancen galak
Saben dino rasane ora karuan
Ngerasake bojoku seng ora perhatian
Nanging piye maneh, atiku wes kadung trisno
Senajen atiku ngumpet ning jero dodo
Yo wes ben duwe bojo seng galak
------------
Hasan menikmati lantunan lagu dangdut yang dinyanyikan via Vallen dilaptopnya, dan tidak mengabaikan Naura yang memelototinya.
Nuara tidak tahu arti lagu itu, tapi hatinya merasa ada maksud lain dari lagu itu yang sengaja diputar oleh Hasan.
Penasaran, Naura segera turun kebawah untuk bertanya pada bik Siti arti dari kata bojoku pancen galak yang membuat suaminya tersenyum lebar.
Dibawah bik Siti tengah duduk bersama dengan pak Malik yang baru saja tiba dirumah. Beliau menanyakan kabar kedua anaknya yang beberapa hari dia tinggalkan. Dengan penuh semangat bik Siti menceritakannya, tapi yang dia ceritakan bukanlah keburukan. Termasuk tingkah Naura hari ini, yamg meminta membelikannya buah, membuat minuman jahe.
"Papa...kapan datangnya?!." Suara Naura dari tangga.
Bik Siti menoleh dan langsung menutup rapat mulutnya. Pak Malik tersenyum pada
putrinya.
"Baru aja...mana suamimu?!." tanya pak Malik.
"Baru nyampek langsung yang ditanyain mantukesayangannya." Ucap Naura.
"Jangan gitu Non!." Bik Siti menasehati.
"Ohh Bik aku mau nanyain sesuatu." Ucap Naura.
"Apa itu Non?!." tanya bik Siti penasaran.
Setelah melirik ke papanya sebentar, Naura berbisik ketelinga bik Siti. Pak Malik memicingkan mata penasaran apa yang ditanyakan putrinya itu pada bik Siti.
"Emang harus bisik-bisik ya?!." Seru pak Malik tapi tidak ditanggapi oleh Naura.
Bik Siti melotot tak percaya dengan pertanyaan yang dibisikkan Naura ditelinganya.
"Siapa yang ngomong kayak gitu Non?!." tanya bik Siti dengan nada sedikit tinggi.
"Orang yang dikamar itu!." Jawab Naura dingin.
"Masak den Hasan ngomong kayak gitu?!." tanya bik Siti yang tidak percaya.
"Bukan ngomong tapi muterin lagu itu...sambil ikutan nyanyi juga." Tutur Naura tetap dengan nada dingin.
Bik Siti tertawa mendengar penjelasan yang diberikan Naura padanya, bahkan dia juga lupa kalau pak Malik tengah berada didepannya. Dan Naura semakin dibuat penasaran gara-gara reaksi bik Siti.
"Bibik!." Sentak Naura yang kesal.
"Iya Non maaf...anggap saja itu rayuannya den Hasan Non!." Ujar bik Siti yang membuat pak Malik semakin penasaran.
Naura yang sudah kepalang tanggung menahan rasa malunya, tidak terima dengan jawaban bik Siti yang dirasa sama sekali tidak memuaskan.
"Bibik apa artinya?." Sentak Naura yang sudah cukup kesal karena ditertawakan olenya.
"Itu artinya istriku emang galak Non." Jawab bik Siti singkat dan padat.
"Ohhh jadi dia nyindir aku...awas kamu wadimor!" Ucap Naura dengan wajah penuh ancang-ancang.
"Nana!." Seru pak Malik mencoba menghentikan langkah putrinya.
"Papa dilarang ikut campur!." Ucap Naura memperingati.
Lalu detik berikutnya Naura berlari menaiki tangga untuk kembali kekamarnya. Pak Malik hendak menyusul, tapi bik Siti segera menahannya.
"Biarkan saja Tuan...anggap itu pertengkaran kucing sama tikus, lagian den Hasan bisa ngadepin Non dengan baik." tutur bik Siti mencoba memberi masukan.
Pak Malik tidak berkomentar, dia menghela nafas dan berjalan menuju kamarnya sendiri.
Naura yang kesal, begitu masuk kamar langsung menyemprot Hasan dengan omelan.
"Matikan laptopnya!." Perintah Naura.
"Kenapa Mba?!." tanya Hasan.
"Dilarang muter lagu disini...apalagi lagu dangdut!."
"Emang kenapa?." tanya Hasan yang kepancing.
"Jangan berlagak polos...aku tahu kamu sengaja kan muterin lagu itu?!." Naura berkata dengan nada ketus.
"Maksudnya?!." masih berkilah.
"Ihh...matikan!." Teriak Naura sambil melempar bantal kearah Hasan.
Hasan yang tidak siap menerima lemparan bantal itu tidak bisa mengelak. Dia bangkit dari duduknya, mengambil langkah besar kearah Naura.
"Ayo coba lempar lagi!." Tantang Hasan.
Naura yang merasa tertantang, langsung menarik bantal satunya dan melemparkannya ke Hasan. Hasan yang sudah siap, langsung menangkis bantal itu dengan lengannya.
Dia mematung sesaat, menatap Naura tajam. Dan detik berikutnya dia menyambar tubuh Naura, mengangkatnya dan menjatuhkannya diatas kasur. Naura terkaget dengan tindakan Hasan yang tiba-tiba. Dia bahkan tidak mampu bersuara, matanya hanya melotot seolah tak percaya dengan apa yang diterimanya. Belum juga tersadar, Hasan sudah menyambar bibirnya dengan ganas.
"Emmm...." Erang Naura sambil mencoba melepaskan diri.
Sayang, Hasan semakin memperkuat cengkramannya. Naura terus berusaha dengan memukul Hasan, namun tangannya langsung disergap. Dikunci diatas kepalanya, Naura menggeleng-gelengkan kepala. Berusaha melepas pagutan bibir Hasan yang kuat dibibirnya. Tidak ingin mendapat perlawanan, Hasan mengunci tangan Naura dengan tangan kiri dan tangan yang satunya menangkap dagu Naura.
Kali ini Naura tidak bisa melawan lagi, Hasan semakin leluasa menggasak bibir Naura dengan rakus. Memilin, ******* dan bahkan menggigitnya juga.
"Emmm...." Erangan Naura.
Hasan melepaskan sejenak, memberi ruang bagi Naura untuk bernafas. Naura hendak mengumpat tapi segera ditutup kembali oleh Hasan. Jika sebelumnya bermain dengan kasar, kali ini sebaliknya. Hasan memberikan kecupan lembut dibibir Naura. Lalu melepaskannya lagi, dia menatap mata Naura inten. Menghancurkan
pertahanan Naura dan membuatnya
menyerah. Begitu mendapati istrinya mulai menjinak, Hasan kembali ******* bibir Naura, mengawalinya dengan manis sebelum menghadiahkan bibir Naura dengan lumatan yang penuh gairah.
Pertahanan Naura sudah longgar, sebaliknya dia menerima hadiah itu dengan suka cita. Menyambutnya dan juga membalasnya dengan ciuman yang tidak kalah bergairahnya.
"Emmm...." Kali ini suara erangan Hasan yang terdengar.
Naura benar-benar menikmati perkelahian lidah mereka, dia bahkan menutup matanya untuk merasakan kenikmatan itu mengalir disekujur tubuh. Hasan yang merasakan aliran panas dari tubuhnya dan juga tubuh Naura, melepaskan kuncian tangannya. Sebaliknya dia mendekap kepala Naura dengan lengannya dan berusaha mendominasi.
Tangan Naura yang sebelumnya terkunci, kini menangkup kepala Hasan dari belakang. Tangan yang satunya melingkar ketat dipinggul Hasan.
Sentuhan itu membuat Hasan tidak berpuas diri hanya dengan bibir saja, dia kebawah dan membenamkan kepalanya dilehar Naura. Mengecup semua bagian leher itu dengan rakusdan meninggalkan banya tanda merah alias ******. Lidah Hasan juga menggigit telingan Naura.
"Hmmm...." Naura menggeliat.
Respon tubuh Naura membuat nafas Hasan semakin cepat, aliran panas yang berpusat diubun-ubunnya semakin menggila. Tidak hanya membuat tubuhnya bergetar tapi juga rasa ngilu dibangian bawah pusar mulai terasa. Menuntutnya sesuatu yang lebih lagi, tanganya yang tadi masih pasif, sekarang mulai bergerak menyelinap dibalik kain penutup, dan mendarat di paha mulus Naura. Mengelusnya dan merangkak naik keatas, mengusap bagian perut bawah dan bermain dengan pusar didalam sana. Sesekali turun lagi kebawah kepangkal perut, mengendap-ngendap antara turun lagi atau naik. Sementara mulutnya kembali naik keatas, ******* bibir bawah Naura dan juga menjulurkan lidahnya kedalam. Memancing lidah Naura untuk bermain-main dengan lidahnya, dan begitu lidah Naura terpancing dia lansung mengulumnya.
Dan tanganya kini merangkak keatas, meraba-raba terus sampai menemukan gundukan kenyal disana. Berhenti
sesaat untuk memastikan seberapa besar gundukan itu. Lalu bermain kembali dengan gundukan yang kenyal itu, membuat siksaan penuh gairah bagi Naura.
"Uhhhh...." Rintih Naura yang seketika merasakan aliran listrik disekujur tubuhnya.
Tangan Naura yang sedari tadi melingkar dipinggul Hasan, sekarang bergerak kedepan dan menyelinap masuk dibalik handuk yang menutupi bagian bawah tubuh suaminya. Merasa terhalangi, tangannya dengan kasar mencoba membuka lilitan handuk itu dan melemparkannya entah kemana.
Tanganya sempat tertegun sejenak ketika menyentuh kulit Hasan. seolah penasaran tangan itu kembali menyusuri setiap lekuk bagian bawah tubuh Hasan, bergerak kedalam dan menemukan sesuatu yang mengeras disana. Tanpa panduan, tangannya menyentuh benda itu. dan mengajaknya bermain. Hasan menggeliat dan mengerang penuh gairah.
“Emmm....” Dengan suara yang parau.
Dia bahkan membalas permainan Naura dengan melepas baju istrinya itu dan juga melepas pengait bra yan menghalangi pandnagannya. Mata Hasan berbinar ketika gundukan kenyal itu terpampang jelas. Segera dia bermain disana dengan tangannya dan juga dengan bibirnya.
“Emmm....” Tubuh Naura dibuat bergetar.
Mereka saling menikmati permainan yang mereka buat. Erangan dan rintihan juga keluar dari mulut keduanya.
"Dek boleh ya...." Suara parau Hasan yang meminta persetujuan Naura.
Naura tidak bersuara, dia memilih memejamkan matanya. Mendapati isyarat tubuh Naura yang bersedia dan menerimanya. Hasan mengambil ancang-ancang untuk menyatukan diri sepenuhnya.
"Tok tok tok"
Bik Siti datang dan mengetok pintu kamar dari luar. Karena tidak ada jawaban, bik Siti kembali mengetok pintu lebih keras dari sebelumnya. Dia juga memanggil Naura dari balik pintu.
Suara panggilan itu langsung membunuh gairah Hasan dan Naura, keduanya langsung memisahkan diri dan menutupi tubuh mereka dengan selimut. Tanganya mencari-cari keberadaan baju dan handuk yang sebelumnya melekat ditubuh mereka.
"Non Naura!." Panggil bik Siti sekali lagi.
Suara itu semakin menambah kebingungan mereka. Sementara Hasan sedang mencari keberadaan handuknya, Naura menjawab panggilan bik Siti.
"Iya bik...ada apa?."
"Non nggak mau sholat magrib berjamaah dibawah...soalnya Tuan nungguin!." Jawab bik Siti dengan suara keras.
"Duluan sudah sholatnya." Ujar Naura dari dalam kamar.
Begitu suara bik Siti tidak terdengar lagi, baik Hasan maupun Naura keduanya sama-sama membisu. Juga sama-sama terdiam dibawah selimut yang sama. Tidak ada yang berani bergerak, apalagi turun untuk mengambil pakaian atau handuk mereka. Yang menjadi alasan adalah tidak mungkin mereka bangkit dengan bertelanjang dan
mengambil milik mereka yang tergeletak di lantai. Atau membungkus tubuhnya dengan selimut sementara yang satunya bertelanjang diatas kasur. Merasa bodoh dengan dirinya sendiri, keduanya saling tersenyum. Sebelum akhirnya tatapan mereka saling bertemu lagi. Entah kapan bergeser, keduanya sudah saling dekat bahkan tidak berjarak meski hanya sesenti jauhnya.
Hasrat keduanya kembali menyala, perlahan tangan Hasan mulai nyentuh dagu Naura, memandangi wajahnya sebelum memberikannya ciuman. Ciuman yang lembut namun cepat berkembang dan melanjutkan kembali permainan yang belum tuntas. Keduanya mulai bercumbu kembali dibawah selimut, erangan dan rintihan terdengar bagaikan irama cinta yang semakin membara. Tak kuat menahan ngilu yang semakin memuncak, Hasan pun membenamkan diri, menghujam kuat selaput dara Naura setelah berusaha beberapa kali. Naura menjerit kesakitan, tangannya mencengkram kuat pungung Hasan.
“Sakit....” Rintihnya.
Hasan mencium kening Naura dan berusaha menenangkan istrinya sebelum kembali menyatukan dirinya. Naura masih merintih kesakitan namun Hasan tak berniat untuk menghentikannya.
”Tahan bentar yan Dek....” Bisiknya ditelinga Naura.
Meski menahan rasa sakit Naura menerima penyatuan diri itu sepenuhnya. Dan perlahan dia mulai bisa beradaptasi dengan permainan cinta suaminya. Permainan tanpa akhir yang menguras tenaga dan membuat lupa segalanya.
Bahkan ketika bik Siti datang kembali mengetuk pintu kamar, memberitahu Naura makan malam suda siap. Tidak ada respon dari dalam. Keduanya lupa diri dan bahkan kecanduan dengan permainan yang mereka buat.
Baru ditengah malam ketika keduanya rehat sejenak, karena sudah kehilangan tenaga dan keringat bercucuran dari tubuhnya, rasa lapar datang menghampiri. Naura mengambil inisiatif untuk turun kebawah, mengambil makanan untuk dimakan berdua dikamar.
Dengan susah dan menahan rasa sakit, Naura turun dari kasur.Lututnya terasa lemas dan otot-otot ditubuhnya terasa kendor semua.
"Jangan lihat!." Pinta Naura pada Hasan.
Hasan tersenyum dan menutup matanya. Segera Naura memungut handuk yang dipakai Hasan. Setelah melilitkan ditubuhnya, dia berjalan dengan pelan karena rasa sakit dan perih.
”Aduhhh....” Rintih Naura
“Adek nggak apa-apa?.” tanya Hasan cemas.
“Hmmm....” Guman Naura menjawab pertanyaan Hasan.
Naura terus berusaha berjalan ke kamar mandi, mengambil jubah mandi dan mengganti handuk yang dia lilitkan. Juga membawakan Hasan jubah mandi untuk dia kenakan.
Tidak lama Naura kembali keatas dengan sepiring penuh nasi dan lauk. Meletakkannya dimeja, lalu keduanya duduk di sofa dan menghabiskan sepiring nasi itu berdua.