Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"Tiga juta rupiah," jawab Ibu Sahida ketus, menaikkan dagunya. "Itu belum termasuk bunga yang seharusnya berjalan selama dua tahun, ya!"
"Kak, jangan... Itu bukan utang kita. Kenapa Kakak yang harus bayar uang judi Papa?" bisik Riani lirih sambil menarik ujung baju Alneo.
Alneo menoleh pelan, memberikan senyuman menenangkan kepada adiknya.
"Tidak apa-apa, Riani. Biar Kakak yang urus. Anggap saja ini cara kita memutuskan satu lagi ikatan sialan dengan masa lalu," kata, Alneo pelan.
Alneo kembali menatap Ibu Sahida. Ia mengeluarkan ponselnya.
"Tiga juta rupiah. Saya akan bayar tunai sekarang juga, tapi dengan satu syarat," kata Alneo tegas.
"Syarat apa lagi? Tinggal bayar saja kok pakai syarat segala!" omel Ibu Sahida tidak sabaran.
"Ibu harus membuat surat pernyataan tertulis di atas meterai bahwa utang bapak saya sebesar tiga juta rupiah sudah lunas dibayar oleh saya, Alneo. Dan di dalam surat itu, Ibu wajib menyatakan bahwa setelah hari ini, Ibu tidak akan pernah lagi menagih atau mengganggu saya maupun Riani terkait urusan bapak saya. Dan Anda berjanji tidak akan meminjamkan lagi uang pada bapak saya. Bagaimana? Di kasir butik ini pasti ada kertas dan pena," tuntut Alneo tidak ingin masa depannya di ganggu hal yang tidak penting.
Ibu Sahida sempat ragu, tapi ia akhirnya mengangguk cepat. "Ya sudah, ya sudah! Repot amat jadi orang. Ayo kita ke kasir!"
Alneo menuntun Riani berjalan menuju meja kasir. Selama proses penulisan surat pernyataan dan penghitungan uang, Riani hanya diam seribu bahasa.
Riani sangat-sangat kecewa pada sosok ayah yang tega menjual dirinya, dan menjual namanya demi judi, namun di sisi lain, ia merasa sangat bersyukur dan kagum memiliki kakak sehebat Alneo.
Setelah urusan dengan Ibu Sahida selesai dan wanita itu pergi dengan wajah puas, Alneo segera menyelesaikan pembayaran baju-baju pilihan Riani.
Ting!
[Saldo Anda di kurang 6.000.000]
[Sisa saldo Anda 100.800.000]
"Ayo kita pergi," ajak Alneo.
"Iya kak." angguk Riani sambil menenteng paperbag yang berisi baju-bajunya.
Mereka berdua berjalan keluar menuju parkiran mobil.
Suasana sore itu terasa jauh lebih hening dibanding saat mereka berangkat tadi.
Begitu masuk ke dalam mobil, sebelum Alneo sempat menyalakan mesin, Riani tiba-magnetic memeluk lengan kakaknya erat-erat.
"Maafkan aku, Kak... Gara-gara aku, uang Kakak habis tiga juta untuk membayar utang Papa. Padahal uang itu harusnya bisa Kakak pakai untuk keperluan lain..." kata Riani dengan mata berkaca-kaca.
Alneo menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya agar bisa menghadap Riani sepenuhnya.
"Riani, dengarkan Kakak. Uang tiga juta itu tidak ada artinya dibanding ketenangan hidup kita. Kakak membayar wanita itu bukan karena Kakak takut, tapi karena Kakak tidak ingin nama kamu dibawa-bawa lagi dalam kubangan lumpur Papa," ucap Alneo lembut penuh perhatian.
Riani mendongak dengan mata yang sembap. "Tapi itu tidak adil untuk Kakak..."
"Hidup ini memang jarang adil, Dek. Tapi selama Kakak masih punya kekuatan dan rezeki, Kakak akan pastikan tidak ada satu orang pun yang bisa menghina atau merendahkan kamu lagi," Alneo tersenyum hangat, menepuk pucuk kepala Riani.
"Sudah, jangan menangis lagi. Katanya tadi mau makan banyak di restoran? Kalau kamu menangis terus, nanti makanannya jadi hambar, lho," bujuk Alneo.
Mendengar gurauan kakaknya, Riani akhirnya menyunggingkan senyum kecil di.
Ia mengangguk pelan sambil menghapus sisa air matanya. "Iya, Kak. Aku mau makan yang banyak. Biar uang Kakak makin habis!"
Alneo tertawa lepas. "Nah, begitu baru adik Kakak. Ayo, kita berangkat. Restoran terbaik sudah menunggu kita."
Mesin mobil pun dinyalakan, dan kendaraan itu kembali meluncur untuk segera mencari restoran tempat mereka makan.