Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESTA TOPENG YANG MENYINGKAP RAHASIA
Malam itu, kediaman utama keluarga besar Mahardika berubah menjadi lautan cahaya yang berkilauan. Sebagai salah satu keluarga dengan darah biru seni dan bisnis properti tertua di Indonesia, perayaan ulang tahun Rafael Mahardika yang kedelapan belas digelar dengan skala yang luar biasa megah. Tema yang diusung malam itu adalah The Venetian Masquerade—sebuah pesta topeng klasik Eropa abad pertengahan yang penuh dengan misteri, kemewahan, dan tirai-tirai beludru merah darah.
Ratusan mobil sport dan sedan ultra-mewah mengular di sepanjang jalan masuk menuju ballroom terbuka di tepi kolam renang raksasa. Para tamu undangan, yang terdiri dari anak-anak konglomerat, selebritas papan atas, hingga jajaran pejabat tinggi, turun dengan pakaian terbaik mereka. Para pemuda mengenakan setelan tuksedo rancangan desainer Paris, sementara para gadis tampil memukau dengan gaun malam yang bertahtakan payet kristal, wajah mereka sebagian tertutup oleh topeng-topeng indah berhiaskan bulu angsa dan ukiran emas.
Di sudut area VIP yang terletak agak tinggi dari lantai dansa utama, tiga dari anggota The Elite Four sudah berkumpul. Rafael Mahardika, sang tuan rumah malam itu, tampil sangat karismatik dengan tuksedo hitam beraksen merah marun dan topeng perak yang menutupi area matanya. Di sebelahnya, Galang Saputra bersandar santai di meja bar sambil memutar-mutar gelas berisi minuman soda, mengenakan topeng kulit hitam yang memberikan kesan tangguh khas anak pemilik korporasi keamanan.
Namun, perhatian semua orang di area VIP malam itu justru tertuju pada Alvaro Pramudya.
Sang pangeran utama sekolah duduk tegak di sofa beludru hitam dengan aura yang sangat mengintimidasi. Alvaro mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan kemeja putih sutra di dalamnya, dilengkapi dengan topeng emas murni berukir geometris tajam yang hanya memperlihatkan sepasang manik mata hitamnya yang dingin dan tajam. Sejak tiba di pesta, Alvaro tidak mengucapkan satu kata pun. Tatapan matanya terus-menerus terpaku pada pintu masuk utama ballroom, seolah sedang menunggu mangsa yang sangat penting.
"Bro, santai sedikit kenapa?" Galang menyenggol bahu Alvaro sambil terkekeh pelan. "Ini pesta ulang tahun Rafael, tapi wajahmu terlipat seperti orang yang siap melakukan operasi penggerebekan militer. Kamu masih memikirkan kejadian di kamarmu kemarin?"
Alvaro tidak menjawab. Ia hanya mengencangkan rahangnya hingga urat di pipinya menonjol di balik topeng emasnya. Ingatannya kembali berputar pada adegan di mana Devan menyeka keringat Kayla, dan bagaimana gadis itu melarikan diri sambil menangis. Rasa cemburu dan ego yang terluka masih membakar dadanya dengan sangat hebat.
"Alvaro tidak sedang marah, Galang. Dia sedang cemburu, tapi terlalu angkuh untuk mengakuinya," timpal Rafael dengan senyuman tipis yang penuh teka-teki, sambil menyesap minumannya. "Tapi tenang saja, Alvaro. Aku sudah mengirimkan 'undangan khusus' yang kamu minta ke ruko laundry itu. Dan sebagai penyelenggara pesta, aku pastikan dia tidak akan bisa menolak untuk datang malam ini."
Tepat saat Rafael menyelesaikan kalimatnya, suasana di pintu masuk utama ballroom mendadak mengalami riak kegaduhan kecil. Bisikan-bisikan aneh mulai berdengung di antara para tamu undangan yang berada di dekat tangga marmer utama.
Alvaro refleks menegakkan tubuhnya, sepasang matanya menyipit tajam menembus kerumunan manusia di bawah sana.
Sesosok gadis perlahan melangkah turun melewati anak tangga marmer. Dia adalah Kayla Shaqueena. Namun malam ini, penampilannya benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya akan menahan napas sejenak.
Kayla tidak mengenakan gaun mewah seharga ratusan juta rupiah seperti siswi-siswi Nusantara Jaya lainnya. Atas paksaan dari kontrak kerja sama gila buatan Alvaro, ia terpaksa mengenakan sebuah gaun malam sederhana berwarna biru tua—warna yang persis sama dengan warna cat motor bebek tuanya yang baru diperbaiki. Gaun itu tidak memiliki payet kristal, namun potongan kain satinnya yang jatuh dengan pas membingkai lekuk tubuhnya yang ramping dengan sangat anggun. Rambut hitam panjangnya yang biasa diikat asal-asalan kini ditata sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai anak rambut yang menjuntai lembut di sisi lehernya yang putih bersih.
Di wajahnya, menempel sebuah topeng kertas sederhana berwarna putih polos tanpa hiasan bulu atau emas murni. Namun, kesederhanaan itulah yang justru membuatnya terlihat sangat kontras dan mencolok di tengah-tengah lautan kemewahan yang palsu. Sepasang mata bulat milik Kayla memancarkan rasa tidak nyaman yang amat sangat saat menyadari ratusan pasang mata sedang menatapnya dengan pandangan menilai dan merendahkan.
"Lihat itu... bukankah dia anak beasiswa yang viral karena menendang Alvaro?"
"Kenapa makhluk kelas bawah seperti dia bisa mendapat undangan ke pesta eksklusif keluarga Mahardika?"
"Gaunnya murah sekali, pasti beli di pasar grosir pinggiran kota. Benar-benar merusak pemandangan."
Bisikan-bisikan beracun itu masuk ke dalam telinga Kayla, membuat tangannya yang memegang tas genggam kecil berbahan kain mulai bergetar karena rasa malu yang mendalam. Dadanya sesak. Ia merasa seperti seekor domba yang sengaja dilemparkan ke dalam kandang serigala berbulu domba. Ia tahu betul ini adalah bagian dari rencana Alvaro untuk mempermalukannya lagi di depan umum.
Kayla menghentikan langkah kakinya di ujung tangga, berniat untuk berbalik dan melarikan diri dari tempat terkutuk itu. Namun, tepat sebelum ia memutar tubuhnya, sebuah tepukan lembut mendarat di bahu kanannya.
"Jika kamu berbalik sekarang, mereka akan mengira kamu mengakui kekalahanmu sebelum perang dimulai, Kayla."
Suara itu begitu jernih, tenang, dan sangat familiar. Kayla menoleh dengan cepat.
Devan Narendra berdiri di sampingnya. Pemuda itu tampil luar biasa tampan dengan setelan tuksedo putih bersih yang sangat kontras dengan pakaian hitam milik anggota E4 lainnya. Wajahnya ditutupi oleh topeng beludru biru muda yang senada dengan sapu tangan yang ia berikan kepada Kayla di koridor sekolah tempo hari. Sepasang mata teduh milik Devan menatap Kayla dengan kehangatan yang seketika meruntuhkan seluruh rasa dingin di dada gadis itu.
Devan perlahan menekuk lengan kanannya, menawarkannya kepada Kayla dengan gerakan yang sangat sopan khas seorang pangeran sejati. "Mau berdansa denganku malam ini, Rumput Liar?"
Bersambung