Kehidupan punya kenyataan, karena hidup terus mengikuti takdir. Seperti kehidupan yang dijalani oleh gadis bernama Jingga. Di saat usianya masih remaja, dia harus kehilangan ibunya.
Namun Jingga tak pernah menyerah untuk menjalani kehidupannya. Walaupun dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Beruntung saat dia berusia dewasa, dia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Hingga tak butuh waktu lama untuk Jingga menyandang status sebagai istri dari seorang manager restoran bernama Ken. Namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, saat suaminya harus menikahi seorang gadis yang sedang mengandung anak dari suaminya.
Jingga berusaha mempertahankan rumah tangga yang baru dibangun, dia juga rela harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, kehidupan Jingga yang sebenarnya baru dimulai saat itu, saat dia harus rela melihat rumah tangganya yang hancur. Sampai dia berada dititik keputusasaan, hadirlah seorang laki-laki tampan bernama Ray Alfendra. Seorang pengusaha muda yang tampan, dengan ketulusannya dia bisa membawa Jingga pada kebahagiaan yang diimpikan Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
"Hallo Kak," ucap Resti yang baru saja mengangkat teleponnya.
"Gimana? Apakah Ken dan istrinya sekarang sedang berperang ke delapan?" tanya wanita diseberang dengan terkekeh.
"Ha! Maksud Kakak apa? Aku gak ngerti loh, tiba-tiba Kakak nelpon aku dan langsung nanya Ken dan Jingga berperang, apasih maksudnya Kak?" tanya Resti penasaran. Bahkan dia langsung dibuat bingung dengan ucapan kakak sepupunya itu.
"Ckck! Baiklah, sekarang Kakak akan menjelaskan semuanya. Jadi kemarin saat kamu bilang rencana kamu gagal, Kakak gak sengaja lihat Jingga dan Dafa, untunglah momen itu sangat pas untuk dijadikan bahan pertengkaran suami kamu dengannya, jadi Kakak ngambil foto mereka dan langsung kirim ke ponsel suami kamu," jelas wanita itu.
Untunglah saat itu dia datang diwaktu yang tepat, jadi momen kebersamaan Dafa dan Jingga, bisa langsung dijadikan bom untuk menghancurkan kepercayaan Ken pada Jingga.
"Ha! Beneran Kakak yang lakuin itu? Pantes saja setelah melihat ponselnya, Ken langsung berwajah ketat, bahkan dia tak menyambut kepulangan istri tercintanya itu. Tapi kenapa Kakak gak ngasih tahu aku sebelumnya?" tanya Resti sedikit heran, namun dia bangga pada kakak sepupunya itu, yang selangkah lebih maju darinya.
"Kakak gak bisa ngasih tahu kamu dulu, karena semuanya itu spontan. Kakak juga gak ngerencanain ini sebelumnya, tiba-tiba aja ada momen yang pas buat hancurin kepercayaan suami kamu sama istrinya itu. Sudahlah jangan dibahas lagi, yang penting sekarang semuanya berjalan dengan lancar, kamu lihat sendiri kan perubahan sikap Ken pada istrinya itu," ucap wanita itu lagi.
"Iya sih. Tapi makasih loh Kak, udah mau bantuin aku," ucap Resti senang.
Bahkan saat itu juga dia sudah tak sabar ingin melihat kehancuran Jingga, dia begitu ingin melihat Ken yang membenci Jingga, hingga akhirnya dia bisa menceraikan Jingga. Jadi dia yang akan menjadi satu-satunya istri Ken.
"Santai aja, semua yang Kakak lakuin ini buat kebahagiaan kamu. Udah ya, Kakak tutup dulu karena Kakak harus pergi," ucap kakak sepupu Resti diseberang.
"Oke Kak, bye!" ucap Resti langsung menutup teleponnya.
Ah! Sekarang dia benar-benar bisa bernafas lega. Setidaknya, rencana kemarin yang gagal, sekarang sudah berhasil walaupun itu semua karena bantuan kakak sepupunya.
...----------------...
Ken terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Memecah keheningan kota ditengah malam. Pikirannya benar-benar kalut, tidak bisa berpikir jernih, pikirannya hanya tertuju pada foto dimana Dafa memeluk istri tercintanya.
Saat dia mengingat foto itu, emosinya kembali memuncak, namun dia tidak bisa melampiaskannya, dia hanya bisa mencengkram erat stir mobilnya.
"Akhhh!" teriak Ken frustrasi.
Mungkin Ken harus mencari tempat yang pas, untuk menjernihkan kembali pikirannya itu. Akhirnya Ken memutuskan untuk pergi ke kafe yang tak jauh dari rumahnya.
Biasanya jika pikiran dia sedang kacau, dia akan ke tempat itu, tempat yang menjadi favoritnya saat dia masih muda.
Dengan langkah lebar dia segera masuk ke dalam, namun amarah dia semakin memuncak kala dia masuk ke dalam dan menemukan sosok lelaki yang membuat dia membentak habis-habisan Jingga.
Ken segera melangkah ke arah meja, dimana Dafa dan kakaknya sedang duduk santai sambil mengobrol. Dia langsung mencengkram kerah baju yang dipakai Dafa, dan sontak langsung membuat para pengunjung kaget dengan perlakuan Ken yang tiba-tiba itu.
"Kau benar-benar lelaki brengsek!" teriak Ken marah. Bahkan matanya menajam kala menatap Dafa, Ken mengeraskan rahangnya sampai urat-uratnya terlihat jelas.
"Apa maksud mu huh? Datang-datang langsung membuat keributan?" tanya Dafa yang emosinya juga sudah terpancing. Dafa sedikit heran, kenapa orang didepannya itu selalu membuat masalah dan selalu memancing emosinya.
"Jangan pura-pura bodoh!" ucap Ken dengan suara meninggi.
"hei! Hentikan, kenapa membuat keributan disini?" tanya Ray yang juga sedikit heran dengan suaminya Jingga itu. Datang-datang langsung membuat keributan tanpa memberitahu dulu sebab masalahnya apa.
"Saya tidak akan berbuat seperti ini jika adikmu tak pernah membuat masalah dengan saya. Berani-beraninya dia selingkuh dengan istri saya!" ucap Ken marah sambil menatap tajam ke arah Ray.
"Apa!" ucap Ray yang begitu kaget.
"Kenapa kau selalu memfitnahku huh!" teriak Dafa yang kesabarannya sudah habis. Bahkan dia juga membalas cengkraman pada kerah baju Ken.
"Ini bukan sekedar fitnah. Karena kau memang melakukan perselingkuhan dengan istri saya. Kau memeluk istri saya dengan tak tahu malunya," ucap Ken lagi. Dia terus mempertahankan tatapan tajamnya pada Dafa.
"Hentikan semua ini! Bisakah kalian tak membuat keributan di tempat umum seperti ini? Coba bicara ini dengan kepala dingin, bukan dengan emosi. Dan saya minta bukti dari ucapanmu, yang bilang bahwa adik saya selingkuh dengan istrimu itu!" ucap Ray sambil berusaha melerai perkelahian yang akan terjadi.
Perlahan dia menyuruh keduanya duduk, agar bisa membicarakan masalah ini dengan tenang.
"Saya tidak akan pernah mengatakan itu jika saya tidak punya buktinya. Saya bukanlah lelaki brengsek seperti dia!" ucap Ken sambil menunjuk hidung batang Dafa. Sontak saja Dafa langsung naik darah, namun Ray menahannya.
"Tenanglah, kita lihat dulu bukti yang dia punya," ucap Ray menenangkan Dafa yang sudah tersulut emosinya. Bahkan tadi dia harus menahan Dafa yang ingin memberi pukulan pada Ken.
"Ini! Kalian bisa lihat sendiri," ucap Ken sambil menyodorkan foto Dafa yang tengah memeluk hingga.
Ray membulatkan matanya, bagaimana Dafa bisa memeluk Jingga seperti itu, jangan-jangan yang dikatakannya benar, pikir Ray yang sedikit bingung.
"Apakah kamu sudah mencari tahu kebenaran yang kamu lihat dalam foto itu. Saya kira, kamu bukankah orang yang mudah mengambil kesimpulan bukan?" tanya Ray lagi.
Bagaimanapun juga dia tak mau percaya begitu saja, lagi pula itu hanyalah sebuah foto, banyak orang yang mudah memanipulasi sebuah foto agar orang lain percaya.
"Apakah dengan bukti itu masih kurang jelas, atau kau hanya membelanya karena dia adalah adikmu, bukan begitu tuan Ray yang terhormat?" tanya Ken dengan sinis. Sekarang Ken tidak menyukai keduanya, baik Ray maupun Dafa.
"Ck! Berarti kau bodoh. Sudah menjadi lelaki brengsek yang menyakiti Jingga, dan sekarang kau lebih percaya pada sebuah foto dari pada penjelasan dari istrimu huh!" ucap Dafa yang sudah tak tahan.
Ken yang mendengar itu hanya bisa menggerakkan giginya, dia berusaha menahan emosinya.
"Kau tahu, kau lebih bodoh dari pada yang aku kira. Kau lebih percaya pada foto yang sudah dimanipulasi itu, bahkan dengan kau seperti ini, orang yang sengaja ingin menghancurkan rumah tanggamu itu semakin senang. Asal kau tahu saja, kemarin saat di Malang aku hanya menolong Jingga. Kau tahu yang aku lakukan itu hanya memakaikan jaket pada tubuh Jingga yang setengah telanjang, karena pakaiannya sudah tersobek oleh orang yang ingin memperkosanya. Kau dengar itu bajingan!" teriak Dafa langsung menumpahkan segala emosinya. Biarlah Ken mendengar jelas ucapannya, agar dia sadar dengan kebodohannya.
"Ayo Kak, kita pulang! Aku sudah tak tahan jika harus melihat lelaki ini," ucap Dafa pada Ray.
Ray mengangguk, dan mereka langsung pergi meninggalkan Ken dengan pikiran yang masih berkecamuk itu.
Benarkah semua yang diucapkannya? Kalu memang benar, berarti dia memang bodoh, bisa-bisanya percaya pada orang yang bahkan tidak dia ketahui orangnya, pikir Ken yang benar-benar frustrasi.
mampir ya
lanjutan ceritanya harus dobel lho tho, kalian lama nggak up nya
semoga urusan real nya cpt kelar
dan bisa update lagi 💞