NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lukisan Ekpresi

Tap.. Tap.. Tap..

Suara derap langkah Pak guru terdengar samar semakin mendekat ke arah kelas X-1..

Jam pelajaran kedua siang itu diisi oleh pelajaran Seni Budaya oleh Bu Ratih Kinasih S.S..

Setelah suasana riuh istirahat mereda, Bu Ratih berdiri di depan kelas dengan gaya santainya yang khas. Usai memberikan materi singkat mengenai ekspresi dan emosi dalam seni rupa, beliau menepuk tangannya dua kali, menarik perhatian seluruh siswa siswi X-1.

"Anak-anak, untuk tugas praktik hari ini, Ibu tidak minta kalian menggambar pemandangan gunung atau rumah panggung yang biasa," ujar Bu Ratih seraya menguraikan senyum tipis. "Ibu ingin kalian melukis atau menggambar apa pun di kertas A4 ini... tuangkan apa yang sedang kalian rasakan saat ini. Entah itu bahagia, marah, bingung, atau sedih. Gambar bebas, tidak ada yang salah dalam seni ekspresi."

Seketika riuh bisik-bisik terdengar di penjuru kelas. Beberapa murid tampak antusias, sementara yang lain mulai mengeluh bingung.

Namun bagi Diantha, instruksi itu seperti sebuah pintu pelarian yang amat ia butuhkan. Untuk pertama kalinya sepanjang hari yang melelahkan ini, Diantha bisa benar-benar fokus. Seni melukis adalah dunianya. Tempat di mana ia bisa meruntuhkan seluruh topeng dan berpura-pura tenang yang ia pakai sejak pagi..

Ia mengambil pensil gradasi dan spidol hitam dari kotak pensilnya. Tanpa ragu, jemarinya mulai menari di atas kertas putih yang masih polos..

Diantha memutuskan untuk menggambar sebuah ilustrasi surealis yang sarat akan metafora mendalam. Di bagian tengah kertas, ia menggambar sosok seorang gadis mungil yang sedang duduk meringkuk melilitkan kedua lengannya di lutut. Namun yang membuatnya tampak begitu tragis, tubuh gadis itu terbuat dari porselen tipis yang dipenuhi garis-garis retakan membiru. Dari balik retakan dada gadis porselen itu, bukannya darah, melainkan tumbuh tangkai-tangkai bunga mawar yang merambat keluar, membelit lehernya sendiri. Bunga-bunga mawar itu mekar anggun namun berduri tajam, melambangkan rasa cinta dan harapan yang seharusnya indah, tetapi justru tumbuh menjadi duri yang mencekik dan menghancurkan dirinya dari dalam..

Setiap goresan arsiran pensil yang Diantha tekan di atas kertas seolah mewakili tiap kata-kata Althaf yang memintanya memberi kesempatan pada Reyhan. Rasa kecewa, duka yang terbungkam, dan luka berdarah yang tak kasatmata meluap sempurna menjadi visual yang luar biasa indah namun mengiris hati.

Sangat bertolak belakang dengan Diantha, Althaf justru merasa semakin tercekik di kursinya.

Melihat kertas putih A4 yang terhampar kaku di atas mejanya, kepala Althaf terasa mau pecah. Ia sama sekali tidak pandai menggambar. Baginya, menyampaikan perasaan lewat garis dan warna adalah hal yang mustahil—terlebih lagi saat kepalanya sedang dipenuhi kekacauan tak berujung.

Althaf melirik ke arah Diantha yang tampak begitu khusyuk memoles arsirannya. Garis rahang Diantha yang tegas namun lembut tampak begitu serius. Dilihat dari mana pun, gadis itu seolah sedang berbisik pada kertasnya.

Althaf menghembuskan napas berat, mengetuk-ngetukkan ujung pensilnya ke meja. Apa yang lagi gue rasain sekarang? batinnya miris. Hancur. Gelap. Gak beraturan.

Karena tidak tahu harus melukis bentuk apa, Althaf akhirnya memutuskan untuk membuat gambar abstrak. Ia menggambar dengan emosi yang tertahan. Pensilnya bergerak kasar, membuat tumpukan garis-garis silang yang saling bertabrakan tak beraturan di tengah kertas, menciptakan guratan hitam pekat yang tebal dan pekat. Di sekeliling lingkaran garis heboh dan berantakan itu, ia menambahkan goresan-goresan melengkung tajam yang mencakar ke luar, seolah mencoba melarikan diri namun tetap terikat pada pusat kerumitan yang gelap itu.

Itu adalah manifestasi dari otaknya sendiri: benang kusut yang tak punya ujung, perasaan cemburu dan bersalah yang tumpah ruah tanpa bentuk.

Waktu terus bergulir. Diantha menjadi siswa pertama yang meletakkan pensilnya. Gambarannya sudah selesai—sempurna, tajam, dan sarat emosi. Dengan langkah pelan, ia berdiri dari bangkunya untuk mengumpulkan kertas tugas itu ke meja Bu Ratih di depan kelas.

Ibu Ratih yang sedang memeriksa beberapa lembar modul mendongak, sedikit terkejut melihat Diantha sudah maju lebih cepat dibanding teman-temannya yang lain.

"Sudah selesai, Diantha?" tanya Pak Bambang ramah.

"Sudah, Bu," jawab Diantha pelan, menyodorkan lembar kertas A4-nya..

Bu Ratih menerima kertas tersebut. Namun, saat mata sang guru seni itu mendarat di atas permukaan gambar Diantha, jemarinya mendadak berhenti bergerak. Bu Ratih terpana seketika.

Suasana di meja guru hening sejenak. Bu Ratih membetulkan letak kacamata minusnya, menatap lukisan Diantha dengan raut wajah penuh kekaguman sekaligus rasa iba yang mendalam. Sebagai seorang pendidik seni yang sudah berpengalaman belasan tahun, beliau bisa membaca jiwa di balik setiap goresan pensil.

Gambar gadis porselen beretakan dengan mawar berduri yang mencekik itu diarsir dengan sangat halus, menunjukkan keahlian teknik tingkat tinggi. Namun, aura yang dipancarkannya begitu pekat akan rasa sakit hati dan kekecewaan yang mendalam. Itu bukan sekadar gambar imajinasi biasa; itu adalah teriakan sunyi dari hati seseorang yang sedang hancur lebur.

"Indah sekali, Diantha..." gumam Bu Ratih pelan, menatap karya itu tanpa mengalihkan pandangannya. Namun, nada suaranya berubah menyiratkan simpati. "Teknik arsirannya sangat matang. Tapi... gambar ini terasa begitu menyedihkan dan penuh luka. Apakah ini benar-benar yang sedang kamu rasakan saat ini?"

Pertanyaan tulus dari Bu Ratih itu menghantam dada Diantha. Suasana di sekitar meja depan mendadak mengencang.

Diantha terdiam beberapa detik, menahan napasnya agar tidak bergetar. Dari sudut matanya, ia bisa merasakan bahwa Althaf yang duduk tak jauh dari meja guru sempat menghentikan gerakan tangannya saat mendengar pertanyaan Bu Ratih..

Diantha menarik napas dalam-dalam, mengumbar senyum paling tenang yang ia punya—meski senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.

"Hanya ekspresi artifisial saja kok, Bu ," sahut Diantha dengan suara halus yang mematikan rasa. "Kadang... hal yang paling indah memang tercipta dari rasa sakit yang paling dalam."

Bu Ratih mengangguk-angguk lambat, menatap Diantha penuh arti sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis. "Seni yang jujur selalu berhasil menyentuh perasaan orang yang melihatnya. Terima kasih kreasinya, Diantha. Nilaimu sempurna untuk tugas ini."

"Terima kasih, Bu" ucap Diantha singkat.

Tanpa menoleh lagi ke arah Althaf yang masih membeku menahan napas di tempat duduknya, Diantha berbalik dan kembali ke bangkunya dengan langkah anggun namun dingin, meninggalkan karya menyedihkan itu tergeletak paling atas di meja Bu Ratih..

Tak berselang lama setelah Diantha kembali ke bangkunya, Althaf menyusul berdiri. Dengan langkah gontai dan kepala menunduk, ia membawa lembar kertas A4 miliknya yang didominasi corak hitam pekat ke depan kelas.

Bu Ratih menerima kertas itu, lalu mengernyitkan dahi. Beliau membolak-balikkan kertas A4 milik Althaf dengan raut wajah yang seketika berubah bingung. Di atas kertas itu, tak ada bentuk manusia, bunga, ataupun objek yang jelas—hanya tumpukan garis silang-menyilang yang sangat tebal, kasar, dan kacau, seolah-olah sang pembuat sedang meluapkan amarah yang terendam.

"Ini gambar apa, Althaf? Kok kacau banget?" tanya Bu Ratih heran, menatap Althaf di balik kacamatanya.

"Saya nggak tahu gambar, Bu.. Makanya coret-coretan doang," jawab Althaf singkat dengan nada datar tanpa beban.

Beberapa siswa di barisan depan sempat menyunggingkan senyum dan hampir meledakkan tawa mendengar jawaban polos tapi jujur dari Althaf. Namun, tawakan itu seketika tertahan di tenggorokan ketika Bu Ratih mengangkat satu tangannya, menyapu pandangan ke sekeliling kelas dengan tatapan tegas yang mengisyaratkan mereka untuk tidak menertawakan temannya..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!