NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 16.

Setelah jawaban tegas Rendra sore itu, bukannya mundur, niat Zahra malah makin kuat. Ia berpikir “Mungkin Mas Rendra belum mengenal Rana cukup dekat, makanya belum merasa cocok. Kalau aku lebih sering mempertemukan mereka, pasti lama-lama hatinya akan terbuka.” Semakin ia berusaha menyatukan keduanya, semakin ia merasa ada sesuatu yang ganjil di dalam dada rasa sesak, gelisah, dan rasa tidak tenang yang muncul setiap kali melihat Rendra dan Rana berdekatan atau tertawa bersama. Zahra tidak segera menyadari apa itu; ia baru merasa heran, namun benih-benih cinta yang diam-diam tumbuh kini mulai memunculkan rasa cemburu yang perlahan terasa nyata.

Keesokan harinya, Zahra datang lebih awal ke rumah Rendra. Ia sudah menyiapkan alasan baru ingin mengajak Rana berjalan-jalan ke kebun buah milik warga di pinggir bukit, tempat yang indah dan teduh.

“Mas Rendra, Buk Ibu bilang buah manggis dan rambutan di sana sudah mulai masak. Bagus kalau kita pergi sebentar udara segar, bisa sekalian mengajak Rana. Biar suasana tidak sepi,” ujar Zahra dengan nada ceria, meski ada sedikit getaran halus di suaranya.

Rendra menatapnya sekilas, matanya menangkap perubahan kecil pada wajah gadis itu, namun ia hanya mengangguk setuju. “Boleh saja. Lagian aku juga ingin melihat keadaan jalanan ke sana. Kita berangkat nanti pagi.”

Saat rencana itu disampaikan kepada Rana, gadis itu tersenyum penuh arti. Ia sudah mulai paham benar gejolak hati Zahra usaha menjodohkan yang makin gencar, namun sorot mata yang tak bisa menyembunyikan kegelisahan.

“Siap, aku ikut saja. Senang sekali bisa jalan-jalan bersama kalian,” jawab Rana santai.

Pagi itu langit cerah, udara sejuk menyapa. Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok, dikelilingi hamparan hijau pepohonan. Seperti biasa, Zahra sengaja membiarkan Rendra dan Rana berjalan di depan, sementara ia mengikuti agak di belakang, beralasan ingin menikmati pemandangan.

Namun setiap kali Rana tertawa renyah mendengar ucapan Rendra, atau Rendra menahan dahan pohon agar tidak menyenggol bahu Rana, hati Zahra terasa seperti dicubit. Napasnya jadi sedikit berat, pandangannya jadi kabur sejenak. Ia berusaha menepis perasaan itu dengan pikiran: “Apa ini? Aku sendiri yang menginginkan mereka dekat, kenapa malah merasa tidak senang melihatnya? Ini tidak wajar…” tapi semakin ia berusaha menepis, rasa itu justru makin kuat.

Di tengah perjalanan, mereka berhenti sejenak di bawah pohon besar yang rindang. Rendra membantu Rana duduk dan mengambilkan air minum dari botolnya sendiri. Tindakan perhatian yang sederhana itu membuat pipi Rana memerah senang, sementara Zahra yang melihatnya dari kejauhan tiba-tiba merasa ingin segera pergi dari situ.

Ia berpura-pura sibuk merapikan selendang di bahu, namun tangannya terasa sedikit kaku.

“Kau diam saja dari tadi, Zahra? Ayo sini duduk, jangan berdiri terus,” panggil Rendra, suaranya tenang namun penuh perhatian.

Zahra mendekat perlahan, berusaha tersenyum wajar. “Tidak apa-apa, aku hanya... sedikit lelah saja.”

Rana yang peka segera menyambung pembicaraan, sengaja menambah bahan bakar ke dalam hati Zahra tanpa terlihat berlebihan. “Mas Rendra sungguh baik sekali, ya. Tidak pernah lupa menjaga kenyamanan orang di sekitarnya. Siapa yang nanti jadi istrinya pasti sangat beruntung sekali.”

Zahra mendengar itu, dadanya terasa makin sesak. Lidahnya terasa berat, tapi ia tetap memaksakan diri ikut bicara sesuai rencananya. “Benar... memang begitu. Dan menurutku, Rana-lah yang paling pantas mendapat kebaikan itu.”

Rendra menoleh tajam ke arah Zahra, sorot matanya berubah sedikit kecewa, sedikit heran. “Kau terus saja mengulang hal yang sama, Zahra. Seolah-olah kau benar-benar ingin segera melepaskan aku ke orang lain.”

Kalimat itu membuat Zahra terdiam. Ia tidak berani menatap mata Rendra lebih lama, takut isi hatinya terbaca jelas. Sementara Rana hanya diam menyimak, tersenyum tipis sambil menggeleng pelan dalam hati “Ah, Zahra... kau sendiri yang membangun perangkap untuk hatimu sendiri.”

Siang harinya, saat mereka sedang memetik buah di kebun, terjadi kejadian yang membuat gejolak hati Zahra memuncak. Rana sedikit terpeleset di akar pohon yang menjulur, dan secepat kilat Rendra menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh tangan Rendra menopang pinggang dan lengan Rana dengan dekat dan erat. Meski hanya sebentar, bagi Zahra rasanya seperti waktu berhenti berputar.

Darahnya terasa panas naik ke wajah, telinganya berdenging pelan. Ia merasa ingin berteriak atau memalingkan wajah, tapi kakinya terpaku di tempat. Rasa cemburu yang selama ini disembunyikan yang ia sendiri belum sepenuhnya pahami tiba-tiba meledak hebat.

Saat Rana sudah tegak kembali dan berterima kasih dengan wajah cerah, Zahra tidak tahan lagi. Tanpa sadar suaranya terdengar agak tajam dan cepat.

“Sudah siang, sebaiknya kita segera pulang saja. Nanti jalanan licin kalau hujan turun,” ucapnya, lalu langsung berjalan lebih dulu tanpa menunggu jawaban.

Rendra dan Rana saling pandang. Rendra paham betul perubahan sikap Zahra ia tahu persis dari mana asalnya. Rana pun hanya mengangguk pelan, memberi isyarat agar Rendra segera menyusul.

“Lihatlah, Mas Rendra... gadis itu sendiri yang menjodohkan, tapi hatinya yang tidak mau mengikuti kemauan kepalanya,” bisik Rana pelan.

Rendra tersenyum getir, namun matanya berbinar lega. “Aku sudah lama menunggu saat di mana ia mulai sadar bahwa perasaannya berbeda.”

Di perjalanan pulang, suasana menjadi hening. Zahra berjalan paling depan, langkahnya cepat dan tegang. Rendra menyusul perlahan, sementara Rana sengaja berjalan agak jauh di belakang agar memberi kesempatan mereka berdua bicara.

Rendra akhirnya menyusul sejajar di samping Zahra. “Kau marah, Zahra?” tanyanya pelan namun tegas.

Zahra menunduk, berusaha menutupi gejolak hatinya. “Tidak... kenapa harus marah? Aku hanya khawatir saja cuaca.”

“Jangan menyembunyikan hal yang jelas terlihat, Zahra,” potong Rendra lembut namun sungguh. “Kau marah, kau gelisah, dan kau cemburu meski kau sendiri yang berusaha mendekatkan aku pada Rana. Coba jawab jujur pada dirimu sendiri apa sebenarnya yang kau rasakan?”

Pertanyaan itu menembus langsung ke inti hati Zahra. Ia terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Selama ini ia berpikir tindakannya murni kebaikan hati, tapi kenyataan pahit kini menghantamnya ia tidak rela. Ia tidak rela melihat Rendra begitu dekat dengan gadis lain. Ia baru sadar benih-benih cinta yang ia kira tidak ada, ternyata sudah tumbuh besar dan mengakar kuat tanpa ia sadari.

“Aku... aku tidak tahu,” jawabnya parau. “Aku memang berniat baik, tapi setiap kali melihat kalian berdua... rasanya ada sesuatu yang sakit di sini...” tangannya menunjuk dadanya sendiri. “Kenapa ya, Mas? Kenapa aku merasa seperti ini?”

Rendra berhenti berjalan, menatapnya lekat-lekat tatapan yang penuh kelembutan namun juga berat karena rahasia yang masih terikat posisi mereka.

“Karena hatimu mulai memilih, Zahra. Dan pilihan itu bukan sekadar persahabatan, bukan sekadar keinginan melihat orang lain bahagia. Tapi saat ini... kita masih terhalang oleh kenyataan bahwa kau adalah kekasih sahabatku Raka.”

Kalimat itu membuat Zahra tersentak sadar sepenuhnya. Ia teringat Raka, teringat janji dan hubungan mereka, namun di saat yang sama ia juga sadar bahwa hatinya sudah terlanjur condong jauh ke arah Rendra. Rasa bingung, bersalah, dan cinta yang terlarut bercampur menjadi satu kekacauan besar di dalam dada.

Di tengah suasana hati yang kacau itu, kabar datang: Raka akan pulang besok pagi. Berita itu membuat ketegangan makin terasa. Zahra sadar bahwa perubahan sikapnya, usaha penjodohan yang berubah jadi rasa cemburu, serta kedekatan rahasia yang tumbuh semua ini tak bisa lama-lama disembunyikan lagi. Jika Raka pulang dan melihat perubahan sikap mereka bertiga, pasti akan timbul kecurigaan dan kesalahpahaman besar.

Malam itu, Zahra duduk sendirian di teras, bingung dan gelisah. Rana mendekat, duduk di sebelahnya dengan lembut.

“Sudah sadar sekarang, kan?” tanya Rana pelan. “Kau sendiri yang menjodohkan, tapi kau yang paling menderita karena cemburu. Itu tandanya cinta, Zahra nyata dan kuat.”

“Tapi aku sudah bersama Rana... bagaimana caranya?” bisik Zahra dengan air mata mulai menetes. “Aku takut menyakiti semua orang.”

Rana mengusap bahu temannya. “Jalan memang sulit, tapi menekan perasaan yang sudah tumbuh juga tidak akan menyelesaikan masalah. Besok Raka pulang... dan saat itulah benang kusut ini akan mulai terbentang jelas di depan mata kita semua.”

Sementara itu, di sisi lain rumah, Rendra juga tidak bisa tidur tenang. Ia sadar bahwa besok adalah titik balik besar. Rasa yang tumbuh diam-diam, rahasia perjalanan kondangan, dan kini gejolak hati Zahra semuanya akan segera diuji saat Raka kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!