NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Menggenggam tangan Sera, Arka menutup matanya.

Dia mencoba melakukan apa yang dia lakukan saat datang ke sini—bukan membiarkan emosi yang mengendalikan, bukan menunggu kesedihan yang cukup dalam untuk memicu sesuatu. Tapi dengan sadar, dengan tenang, memilih. Memilih arah. Memilih tujuan.

Rumah, pikirnya. Pohon mangga di halaman. Nadia. Kirana. Damar kecil.

Tapi kali ini—kali ini ada tangan lain yang menggenggamnya. Beban yang berbeda. Bukan hanya dirinya yang harus dibawa, tapi seseorang lain, seseorang yang sudah terlalu lama berada di antara, yang mungkin sudah kehilangan "jangkar" ke dunia mana pun.

Arka berkonsentrasi lebih keras—seperti mendayung melawan arus, seperti membawa sesuatu yang berat ke permukaan dari kedalaman yang sangat dalam.

Getaran itu datang—tapi berbeda dari biasanya. Lebih berat, lebih lambat, seperti mesin yang harus bekerja dua kali lebih keras. Cahaya putih mulai muncul di tepi penglihatannya, tapi tidak sepenuhnya—seperti lampu yang voltasenya tidak cukup, berkedip-kedip, tidak stabil.

"Arka," suara Sera, tegang. "Aku rasa ini tidak—"

"Jangan lepaskan tanganku," kata Arka, suaranya terpotong oleh usahanya sendiri. "Apapun yang terjadi, jangan lepaskan."

Genggaman Sera mengencang.

Cahaya berkedip lagi—lebih terang kali ini, lalu meredup, lalu terang lagi, seperti sinyal morse yang tidak beraturan.

Dan kemudian, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam semua perjalanan Arka sebelumnya—suara. Suara seperti kaca yang retak, seperti dua permukaan yang tidak seharusnya bersentuhan dipaksa untuk bertemu, seperti dunia yang mencoba menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan strukturnya.

Dua orang sekaligus. Sistem ini tidak dirancang untuk dua orang sekaligus.

Pemikiran itu muncul—bukan dari Arka, bukan dari Sera, tapi dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tidak punya wajah atau suara tapi terasa seperti bagian dari mekanisme yang mengatur semua perjalanan ini.

Arka mengerahkan semua yang dia punya—semua rasa cinta, semua kerinduan pada rumah, semua ingatan tentang Nadia dan Kirana dan pohon mangga dan surat ibunya dan foto Damar yang dibingkai di dinding ruang tamu—

Dan tiba-tiba, segalanya diam.

Bukan gelap. Bukan cahaya putih.

Hanya diam.

Arka membuka matanya.

Dia berada di halaman rumahnya—halaman yang sama, pohon mangga yang sama, udara pagi yang segar setelah semalam tanpa tidur. Cahaya matahari baru mulai muncul di ufuk timur, mewarnai langit dengan gradasi jingga yang lembut.

Dia menoleh ke sampingnya.

Sera ada di sana—berdiri di sampingnya, menatap sekeliling dengan ekspresi orang yang baru pertama kali melihat warna setelah sangat lama hanya melihat abu-abu. Matanya bergerak cepat—dari pohon mangga, ke pagar rumah, ke langit yang mulai berwarna, ke tangannya sendiri, ke tangan Arka yang masih menggenggamnya.

"Ini..." suaranya tercekat. "Ini nyata?"

"Nyata," kata Arka.

Sera melepaskan tangan Arka—perlahan, seperti tidak yakin apakah melepaskan genggaman itu akan membuat segalanya menghilang lagi. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan kasar kulit pohon mangga—jari-jarinya menelusuri tekstur kulitnya, merasakan kenyataannya.

Air matanya mengalir tanpa suara.

"Pohon ini—" katanya, suaranya bergetar, "—pohon ini nyata. Aku bisa merasakannya."

"Iya," kata Arka lembut.

"Udara ini—" Sera menarik napas dalam, perlahan, seperti orang yang baru belajar bernapas lagi. "Berbeda. Lebih... lebih nyata dari di sana."

"Karena di sini kamu benar-benar ada," kata Arka. "Bukan di antara. Di sini."

Suara pintu rumah terbuka. Nadia berjalan keluar—mengenakan baju tidurnya, rambut putihnya berantakan, wajahnya campuran antara lega dan khawatir dan marah, semua sekaligus.

"Arka—" dia berhenti saat melihat ada orang lain di samping Arka. Matanya beralih ke Sera—perempuan asing, tua, dengan jaket abu-abu yang usang, berdiri di halaman mereka sambil menangis dan menyentuh pohon mangga.

Nadia menatap Arka. Arka menatap Nadia.

"Ini Sera," kata Arka sederhana.

Nadia diam sejenak—diam yang panjang, di mana Arka bisa melihat pikirannya bekerja, menghubungkan nama itu dengan cerita yang pernah dia dengar bertahun-tahun lalu, di balkon rumah ini, di bawah hujan yang lembut.

Lalu Nadia berjalan ke arah Sera, berdiri di depannya, dan—tanpa berkata apa pun—memeluknya.

Sera membeku. Tubuhnya kaku, seperti tidak tahu bagaimana merespons sentuhan yang tulus dari seseorang yang tidak punya alasan untuk memeluknya.

Tapi kemudian, perlahan, bahunya melemas. Dan dia membalas pelukan itu—ragu-ragu di awal, lalu semakin erat, seperti orang yang baru menyadari betapa dia merindukan sentuhan manusia yang sederhana, yang tidak mengandung transaksi atau pertukaran atau harga yang harus dibayar.

"Aku dengar banyak tentang kamu," kata Nadia, suaranya hangat, di telinga Sera. "Makasih udah jaga suami aku, waktu dia masih muda dan masih banyak salahnya."

Sera tertawa—tawa yang basah, tapi tulus—dan melepaskan pelukan itu, mengusap matanya.

"Dia yang jaga dirinya sendiri," kata Sera. "Aku cuma... aku cuma bicara."

"Kadang bicara adalah hal yang paling penting yang bisa seseorang lakukan," kata Nadia, tersenyum.

Pagi itu, mereka duduk bertiga di meja dapur—Nadia membuat teh, Arka membuat nasi goreng (dengan telur ceplok yang pinggirnya sedikit gosong, persis seperti yang dulu selalu dibuat ibunya), dan Sera duduk di kursi yang biasanya menjadi kursi tamu, memandangi semuanya dengan ekspresi orang yang masih tidak sepenuhnya percaya bahwa ini nyata.

Kirana datang beberapa jam kemudian, membawa Damar kecil yang langsung berlari ke halaman untuk memanjat pohon mangga. Perkenalan dengan Sera berlangsung singkat dan sederhana—Kirana, yang sudah mendengar cerita tentang Sera dari Arka bertahun-tahun lalu, menyambutnya dengan senyum yang hangat dan tidak banyak tanya.

Damar kecil, ketika akhirnya diperkenalkan kepada Sera, menatapnya dengan serius selama beberapa detik, lalu berkata, "Kamu kelihatan kayak udah capek banget. Tapi sekarang kamu di sini, jadi nggak apa-apa."

Sera menatap anak itu—anak kecil dengan nama yang menyimpan begitu banyak sejarah yang tidak dia ketahui—dan untuk pertama kalinya sejak sangat lama, tersenyum dengan cara yang tidak menyimpan kesedihan di baliknya.

"Iya," katanya. "Sekarang nggak apa-apa."

Malamnya, setelah semua orang tidur, Arka dan Sera duduk berdua di teras—di kursi goyang dan kursi tamu yang dibawa keluar, di bawah langit yang penuh bintang.

"Arka," kata Sera, menatap bintang-bintang, "tadi, waktu kita di taman itu—aku dengar sesuatu. Saat kamu mencoba membawaku keluar. Suara seperti... seperti sesuatu yang retak."

"Aku juga dengar," kata Arka.

"Itu artinya—" Sera berhenti, memilih kata-katanya hati-hati, "—itu artinya ada harga, kan? Ada sesuatu yang berubah, karena kamu membawaku keluar. Ada sesuatu yang—"

"Mungkin," kata Arka tenang. "Tapi aku tidak merasakan ada yang hilang. Tidak seperti dulu—dulu, aku selalu bisa merasakan 'kehilangan' itu, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba kosong. Kali ini, tidak ada yang kosong."

"Tapi bagaimana kamu bisa yakin?"

Arka menatap langit, berpikir lama sebelum menjawab. "Aku tidak bisa sepenuhnya yakin. Tapi—" dia menatap Sera, "—aku percaya bahwa membawa seseorang pulang dari kesendirian yang tidak mereka pilih bukan jenis perubahan yang meminta pertukaran. Bukan karena aku naif. Tapi karena aku percaya ada perbedaan antara 'mengubah takdir seseorang' dan 'menyelamatkan seseorang yang sudah terjatuh dari takdirnya'."

Sera menatapnya lama. "Kamu berubah," katanya akhirnya. "Dari Arka yang aku kenal di kafe itu—kamu sangat berubah."

"Empat puluh tahun lebih," kata Arka, tersenyum. "Semoga berubah ke arah yang lebih baik."

"Jauh lebih baik," kata Sera pelan.

Mereka duduk dalam diam lagi—diam yang berbeda dari diam di taman abu-abu. Diam yang hidup, yang diwarnai oleh suara jangkrik, angin yang menggerakkan daun pohon mangga, dan dari dalam rumah, suara napas orang-orang yang tidur dengan tenang.

"Sera," kata Arka setelah lama, "kamu boleh di sini, selama yang kamu butuhkan. Tidak ada batas waktu. Tidak ada penjelasan yang harus kamu berikan ke siapa pun. Kamu cukup... ada."

Sera menutup matanya, menarik napas dalam—napas yang terasa seperti melepaskan sesuatu yang sudah dia tahan sangat sangat lama.

"Aku tidak tahu bagaimana caranya," bisiknya. "Hanya ada. Tanpa harus berjuang, tanpa harus membayar sesuatu."

"Aku tahu," kata Arka. "Aku juga pernah tidak tahu caranya. Tapi ternyata—ternyata tidak ada cara khusus. Kamu cukup duduk di sini, di bawah bintang-bintang ini, dan membiarkan dirimu merasakannya."

Sera membuka matanya, menatap bintang-bintang yang sama yang Arka tatap.

Dan untuk pertama kalinya sejak dua puluh tiga perjalanan dan waktu yang tidak bisa dihitung di taman abu-abu—Sera melakukan hal yang paling sederhana, yang paling sulit, yang paling lama tidak bisa dia lakukan:

Dia membiarkan dirinya beristirahat.

1
Anime aikō-kā
GARIS WAKTU YANG PATAH
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!