Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Legenda Pegunungan Maros
Hujan reda. Udara dingin kian menyapa meski senja belum benar-benar mendarat. Matahari masih berada di tempatnya, hendak tenggelam, tapi semburat warna jingganya terbenam karena awan hitam yang menggantung.
Pos Pegunungan Maros berada di tengah-tengah hutan. Baskara dan Tim Alpha melewati pintu penjagaan bagian selatan. Ada empat pos penjagaan mengitari Pos Pegunungan Maros yang penjagaannya 24 jam bergiliran dengan sistim shift dan intelejen yang bertugas di luar garis pos. Bukan sekedar mengikuti kelayakan dan prosedur, melainkan sebuah kebutuhan terlebih di wilayah rawan konflik.
Seorang prajurit senior, berpangkat Kopral Kepala maju. Rambutnya sudah gondrong dengan kumis dan jambang memenuhi wajah. Seragam lorengnya pun berbeda dengan seragam yang dikenakan Baskara dan rekan-rekan lainnya. Sudah lusuh, warna pun mulai sedikit pudar. Sekali melihat, Baskara sudah dapat segera menebak, orang yang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan.
"Selamat sore menjelang petang, izin perkenalan. Saya Kopral Kepala Jagra Prasetya. Anak-anak yang bertugas di sini sering menyebut saya sebagai Legenda Pegunungan Maros, bukan karena saya hebat, hanya saya prajurit yang belum juga mendapat giliran pulang. Selamat datang di Pos Pegunungan Maros," ucapnya tegas tanpa senyum. Sorot matanya tajam.
Kapten Aga mengangguk tegas.
Kopral Jagra pun mengantarkan Kapten Aga menuju kamar komandan, sementara yang lain diantar oleh anak buah lainnya menuju barak prajurit.
Baskara menempati kamar khusus, berada dekat kamar komandan. Ada dua tempat tidur di sana dan Baskara mengajak Horas untuk tidur satu kamar dengannya.
Ransel diletakkan. Baskara sedikit meregangkan tubuhnya. Ia melepas seragam lorengnya dan menyisakan kaos dalaman berwarna hijau lumut. Baskara menjemur pakaiannya di belakang baraknya. Pemandangan pegunungan dengan hutan dan kabut membentang di sana. Ada kawat berduri dan jalan setapak yang mengitari pos.
Baskara mengambil pakaian ganti dan menggantinya dengan seragam kering. Baskara duduk di tepian ranjang. Ia mengeluarkan kotak berisi peralatan mandi dan obat-obatan. Baru saja ia melihat kaki Horas tampak memerah dan ada kulitnya yang terkelupas saat ia melepas kaos kakinya. Baskara memberikan pouch obat-obatan itu pada Horas.
"Obati dulu kakimu."
Horas yang sedang meringis perih itupun mendongak.
"Aman, Bang. Cuma luka kecil."
Baskara menatap luka di kaki Horas. Memang kecil, tapi jika dibiarkan bisa jadi berubah jadi luka yang lebih serius.
"Obati dulu. Besok kita masih jalan lagi, jangan sampai luka kecilmu mengganggu pergerakanmu, Horas."
"Siap, laksanakan!"
Horas mengobati sendiri kakinya. Sementara itu, Baskara termangu saat ia tanpa sadar menemukan foto dirinya bersama Aira saat liburan di Paradise Island kemarin. Senyumnya mengembang, sangat tipis, tapi rupanya perunahan raut wajah Baskara itu dapat ditangkap jelas oleh Horas.
"Sudah memberi kabar kakak ipar, Bang?"
Baskara menoleh, lalu menggeleng tipis.
"Tidak ada sinyal. Tunggu besok saja jika sudah mendapat giliran untuk berkomunikasi dengan keluarga."
"Kabarnya ada satu titik di sini yang bisa dilalui sinyal kuat. Satu titik saja, Bang. Geser sedikit hilang."
Baskara mengerutkan dahi. "Tahu darimana?"
"Berbincang dengan kawan yang tugas disini bulan lalu."
Baskara mendongak, manakala salah seorang prajurit mengetuk pintu kamarnya.
"Izin, Danton. Brifing akan dilaksanakan lima menit lagi. Danton diharapkan segera hadir di ruang komando."
Baskara mengangguk paham. Ia menyimpan kembali foto kenangannya di dalam tas dan mengambil pakaian lorengnya sebelum menuju ruang komando untuk brifing.
Dalam ruangan itu hanya ada Kapten Aga dan Kopral Jagra. Baskara sedikit heran, tapi ia segera masuk. Siap menerima arahan.
"Bas, Kopral Jagra adalah prajurit senior di sini. Pengalamannya sudah dua puluh tahun. Dia yang akan menuntun kita. Dia juga akan mendampingimu saat berpatroli. Kopral Jagra hapal setiap jengkal lokasi wilayah ini," ucap Kapten Aga tegas.
Baskara mengangguk paham.
Peta Kabupaten Wamera dibentangkan. Nama Pegungan Maros terletak paling atas. Kopral Jagra memberi tanda.
"Izin persempit lokasi. Pos kita ada di titik ini. Pos dibagi menjadi empat zona. Zona 1 adalah zona steril hingga radius satu kilometer. Hanya ada hutan, pos penjagaan luar, dan kawat berduri.
"Zona 2 adalah zona vegetasi dan jalan yang dapat dilalui mobil patroli. Ada beberapa perkebunan warga di zona ini. Mereka akan mengambil hasil kebun dan kembali ke rumah. Memungkinkan kontak dengan kelompok Key.
"Zona 3 adalah pemukiman penduduk. Letaknya kurang lebih delapan kilometer dari pos. Kampung Yakome dan Akei adalah kampung terdekat. Kampung Lore terletak sepuluh kilometer dari pos, aksesnya terputus karena harus melewati sungai dan jembatan yang sering rusak. Terakhir, Kampung Nabore ...."
Kopral Jagra berhenti bicara sejenak. Ia menatap Kapten Aga dan Baskara bergantian dengan sorot sangat serius.
"Kampung ini berada di lereng gunung. Disinilah kelompok separatis bersenjata pimpinan Key berada berbaur dengan warga sekitar."
Baskara dan Kapten Aga saling menatap. Mereka tahu letak bahayanya.
"Patroli kita akan menjangkau seluruh kampung. Tidak terkecuali Kampung Nabore. Hanya saja, Anda dan rekan-rekan harus memiliki kewaspadaan ekstra. Kontak bisa terjadi kapan saja di sini," ucap Kopral Jagra tegas.
Kapten Aga mengangguk paham. Tugas tim Alpha berada di Pos Pegunungan Maros adalah untuk memukul mundur kelompok Key yang mulai nyata mengganggu stabilitas pertahanan negara. Namun, ia tidak boleh gegabah. Kelompok Key menguasai topografi sekitar. Perang gerilya dan berbaur dengan masyarakat menjadi tameng mereka.
"Kita tidak boleh gegabah," ucap Kapten Aga memecah kesunyian. Matanya menyorot tajam menatap Kopral Jagra dan Baskara.
"Kamu siapkan anak buah. Buat jadwal jaga dan patroli berkala. Sampaikan segala kemungkinan yang akan terjadi di lapangan. Dan ingat, kita tidak boleh menembak lebih dahulu," ucap Kapten Aga tegas.
Baskara menegakkan posisi tubuhnya dan berujar siap. Brifing singkat pun usai. Baskara keluar ruang komando dan menatap sekitar pos. Udara kian terasa dingin. Angin bertiup bersamaan dengan uap air. Matahari sudah benar-benar terbenam dan kini hanya ada lampu redup di seputar pos.
Baskara berjalan menuju dapur. Udara dingin membuatnya ingin menikmati segelas kopi panas. Saat Baskara hendak mengambil gelas untuk membuat kopi, Kopral Jagra mendahului.
"Belum ada minuman selamat datang, Letnan. Biar saya buatkan," ucap Kopral Jagra.
Baskara mengangguk. Ia memperhatikan Kopral Jagra dengan saksama. Kopral Jagra membalas tatapan itu seraya memberikan segelas kopi panas pada Baskara.
"Anda benar-benar sudah berada di tempat ini selama itu, Kopral?" tanya Baskara seraya menerima segelas kopi dari Kopral Jagra.
Ia mengangguk seraya menyecap kopi pahitnya.
"Julukan itu ...."
Kopral Jagra menoleh menatap Baskara, lalu tertawa pelan.
"Sudah saya katakan jangan percaya."
"Tapi dengan lama waktu tugas Anda ...."
Lampu tiba-tiba mati.
Suasana mendadak gelap gulita. Hanya ada sorot lampu redup dari atas menara penjagaan. Kopral Jagra mendengus.
"Jangan terkejut, Letnan. Pos ini hanya digerakkan dengan generator, terkadang mati sejenak tanpa diduga."
Tak menunggu waktu lama, lampu kembali menyala. Tidak terang, hanya redup dan hanya mampu digunakan untuk penerangan ala kadarnya.
Baskara melihat sorot mata penuh makna dari lawan bicaranya.
"Saya sama seperti Anda, berada di sini karena surat tugas. Hanya belum ada surat tugas yang menarik saya kembali pulang ketempat asal saya."
"Anda sudah menikah, Kopral?"
Kopral Jagra tersenyum. Ia menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Sudah. Istri saya tinggalkan bertugas saat dia sedang hamil anak pertama kali. Umur kehamilannya sembilan bulan waktu itu. Umur anak kami sudah dua puluh tahun sekarang, tapi sedetik saja saya belum pernah bertemu dengannya." Kopral Jagra tersenyum miris.
Dada Baskara berdesir. Sorot matanya berubah dan hal itu justru membuat Kopral Jagra tertawa.
"Tatapanmu seperti sedang mengasiani saya, Letnan."
Baskara berdehem. Ia menyecap kopi yang kini sudah berubah menjadi hangat.
"Saya hanya berempati."
Kopral Jagra tertawa pelan.
"Anda sudah menikah, Letnan?"
Baskara mengangguk. "Baru empat bulan."
Kopral Jagra tersenyum. "Pengantin baru rupanya. Orang-orang seperti kita ini tidak peduli pengantin baru, pasangan sedang hamil tua, atau orang tua meninggal dunia, jika ibu pertiwi memanggil, pantang untuk tidak berkata siap."
Baskara mengangguk.
"Anda ditunjuk Kapten Aga untuk menjadi komandan operasi, artinya Anda akan berhadapan langsung dengan bahaya nyata di Pegunungan Maros. Jika Anda patroli, saya akan ikut."
Baskara diam sejenak. Ia menatap Kopral Jagra dengan sorot tajam dan serius.
"Tempat ini terkesan tenang, tapi tidak ada hal yang benar-benar tenang di wilayah konflik. Kita harus selalu waspada dalam segala situasi, termasuk seperti saat ini karena musuh bisa mengintai kapan pun. Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Jangan remehkan jika tiba-tiba Anda mendengar suara gonggongan atau lolongan anjing, karena hal itu bisa berarti bahaya sedang mendekat."
Kreeeek ... kreeek ... kreeek.
Bunyi suara radio berderik. Kopral Jagra mendengarkan panggilan radio itu yang masuk ke saluran radionya.
"Pak Jagra, segera ke pos sisi utara. Ada sesuatu."
Suaranya sedikit terputus-putus, tapi Kopral Jagra dapat menyimpulkan ada hal yang didapatkan oleh para penjaga pos terluar.
Kopral Jagra berlari cepat menuju pos penjagaan sisi utara. Baskara pun mengekori langkah kaki Jagra. Derap kakinya terlihat ringan, nyaris tidak bersuara meskipun Kopral Jagra sedang mengenakan sepatu PDL sama seperti Baskara.
Napas Kopral Jagra memburu. Ia mengambil teropong termal milik juniornya dan mulai memindai lokasi.
Baskara menatap lurus. Matanya memicing memindai hamparan sekitar yang gelap total. Baskara terkesiap saat ia melihat satu kilatan cahaya di pegunungan seberang.
"Apa itu?" tanya Baskara.
Kopral Jagra menoleh cepat. Ia menatap Baskara dengan saksama.
"Siaga! Minta tim Bravo menyisir lokasi!" ucap Kopral Jagra.
"Tunggu. Lokasinya terlalu jauh. Itu diluar jangkauan tim Bravo, bukan?" gumam Baskara yang masih dapat didengar oleh Kopral Jagra.
Kopral Jagra mengerutkan dahi. Ia memperhatikan Baskara yang terus memandangi satu titik tempat cahaya itu masih sesekali berkedip.
"Berikan perintah Anda, Letnan. Kami siap melaksanakan," ucap Kopral Jagra tegas.
Baskara diam.
Matanya menerawang jauh. Ia harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kesuksesan operasi baginya bukan sekedar misi yang tuntas dilaksanakan, tapi misi baru benar-benar selesai saat ia berhasil membawa pulang seluruh anggota kembali ke keluarga masing-masing.
Kira-kira apa itu? Akankah itu ... musuh? Batin Baskara.
_____________________