NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Ujian Kecil yang Menjadi Pembeda

Dua minggu setelah kerja sama dengan Pak Dedi dimulai, semuanya berjalan teratur dan tenang tanpa ada hal yang mencurigakan. Setiap kiriman datang tepat waktu, jumlah dan mutunya sesuai yang tertulis di surat jalan, berkasnya rapi dan mudah dicocokkan. Tapi Faris Arjuna tahu, kepercayaan itu tidak bisa dibangun hanya dalam hitungan hari saja — butuh waktu dan sedikit ujian kecil untuk memastikan semuanya benar-benar kokoh.

Pagi itu, saat berkas laporan mingguan diletakkan di meja, Faris Arjuna sengaja tidak segera memeriksanya. Dia justru menyusun rencana kecil yang sederhana, tanpa memberitahu siapa pun lebih dulu, bahkan Viona pun baru dia sampaikan saat semuanya sudah siap.

Bu Viona, hari ini kita coba uji sedikit saja cara kerjanya, bukan untuk mencari kesalahan, tapi supaya kita makin yakin,” kata Faris Arjuna sambil memutar batang rokoknya di jari. “Nanti saya minta bagian gudang menulis laporan penerimaan barang sedikit berbeda dari kenyataannya — tidak banyak, cuma selisih lima kotak saja, cukup kecil supaya kalau dia ceroboh bisa terlewat, tapi cukup jelas kalau dia teliti dan jujur.”

Viona mengernyitkan dahi sebentar, lalu mengangguk mengerti. “Boleh saja, selama tidak menyulitkan dan tidak melanggar aturan. Kita butuh kepastian juga kan?”

Siang harinya, kiriman dari Pak Dedi tiba seperti biasa. Sopir dan petugasnya membongkar muatan satu per satu, mencatat jumlahnya, lalu menandatangani lembar terima yang sudah diubah sedikit itu. Sepuluh menit setelah truk pergi, belum ada kabar apa pun. Faris Arjuna duduk santai sambil menunggu, seolah tidak ada yang terjadi.

Belum sampai satu jam kemudian, telepon di meja berdering. Suara Pak Dedi terdengar jelas di seberang sana, nada bicaranya tenang tapi tegas:

Selamat siang Nona Viona, Mas Faris Arjuna. Saya baru saja dapat laporan dari sopir yang tadi antar barang. Dia bilang jumlah yang dicatat di lembar terima tertulis seratus sembilan puluh lima kotak, padahal yang dibongkar dan dihitung bersama di gudang ada dua ratus kotak pas. Mungkin salah tulis atau salah hitung ya? Saya pastikan lagi dari catatan di sini memang dua ratus, jadi saya minta maaf kalau ada yang kurang jelas, dan saya akan kirim petugas lagi sebentar untuk memeriksa ulang supaya tidak ada selisih sedikit pun.”

Faris Arjuna tersenyum lebar mendengar itu, gaya sengkleknya muncul kembali. Dia menjawab dengan nada santai: “Tidak apa-apa Pak Dedi, terima kasih sudah cepat memberitahu. Kami juga baru mau memeriksa ulang, ternyata memang ada kekeliruan kecil di sisi kami. Sudah cukup, tidak perlu datang lagi, catatannya saja diperbaiki bersama besok pagi.”

Setelah telepon ditutup, Faris Arjuna menoleh ke Viona dengan pandangan yang makin yakin. Lihat kan Bu Viona? Inilah bedanya orang yang niatnya baik dengan yang lain. Kalau ini Rusdi atau orang yang punya niat serakah, begitu melihat selisih yang menguntungkan dia, dia pasti diam saja, malah menganggap itu rezeki tambahan. Bahkan mungkin dia akan menutup-nutupi supaya tidak ketahuan. Tapi Pak Dedi justru segera melapor, takut ada yang salah hitung meski selisihnya sangat kecil.”

Dia menyalakan rokoknya dengan bunyi cesss pelan, lalu melanjutkan penjelasannya sambil berjalan mendekati jendela:

Orang yang jujur itu tidak melihat selisih sedikit sebagai keuntungan, tapi sebagai kekacauan yang harus diperbaiki. Dia tahu bahwa kepercayaan yang dibangun butuh waktu lama, tapi bisa hancur hanya karena satu kesalahan kecil yang dibiarkan saja. Itu sebabnya dia tidak mau membiarkan hal sekecil apa pun berjalan tidak sesuai kenyataan.”

Sore harinya, saat Pak Dedi datang sendiri membawa berkas yang sudah diperbaiki, dia langsung menyerahkannya dengan senyum tulus. Ini catatan yang sudah disesuaikan, saya tulis ulang semuanya supaya jelas di kedua sisi. Saya selalu berpegang pada satu hal saja: apa yang tertulis di kertas harus sama persis dengan yang ada di tangan, tidak boleh ada yang ditambah atau dikurangi sedikit pun. Kalau tidak begini, lama-lama kita sendiri akan bingung dengan catatan yang kita buat sendiri.”

Faris Arjuna menerima berkas itu, membukanya sebentar, lalu mengangguk puas. “Bagus sekali prinsipnya Pak Dedi. Saya sudah lihat sendiri cara kerja Anda, dan ujian kecil tadi cukup membuktikan semuanya. Ke depannya kita bisa bekerja sama dengan tenang, tanpa harus curiga atau mengawasi terlalu ketat.”

Setelah Pak Dedi pergi, Viona menatap Faris Arjuna dengan rasa kagum yang makin bertambah. “Kamu memang punya cara sendiri untuk melihat siapa yang bisa dipercaya, bukan hanya dari kata-kata manisnya saja.”

Memang begitu Bu Viona,” jawab Faris Arjuna sambil kembali duduk santai di kursinya. Kata-kata itu mudah dibuat, janji indah mudah diucapkan. Tapi kebiasaan dan sikap saat menghadapi hal kecil itulah yang tidak bisa dipalsukan. Orang yang jujur akan tetap jujur meski tidak ada orang yang melihat, meski kesalahannya tidak akan merugikan siapa pun secara nyata. Sebaliknya, orang yang licik akan tetap mencari celah, meski keuntungannya hanya sedikit.”

Dia melanjutkan dengan nada yang lebih tenang, seolah mengingatkan pada pelajaran yang baru saja didapat:

Kepercayaan itu seperti bangunan yang dibangun batu demi batu. Setiap hal kecil yang benar, setiap ucapan yang sesuai perbuatan, itu adalah batu yang membuatnya makin kokoh. Kalau ada satu batu yang dipasang miring atau dicuri, lama-lama bangunannya akan goyah. Hari ini kita sudah dapat bukti nyata bahwa tidak semua orang itu sama, dan tidak semua jalan yang lurus itu terasa berat untuk dijalani.”

Matahari mulai condong ke barat, cahayanya masuk ke ruangan dengan kehangatan yang menenangkan. Tidak ada lagi ketegangan seperti beberapa minggu sebelumnya, tidak ada lagi rasa curiga yang membebani pikiran. Faris Arjuna tahu, perjalanan ini masih panjang, tapi setidaknya sekarang mereka sudah belajar cara melihat dengan mata yang lebih jernih, membedakan mana yang asli dan mana yang hanya tampilan semata.

Sudah saatnya kita melangkah maju dengan tenang Bu Viona,” ujarnya pelan sambil menghembuskan asap rokoknya yang perlahan menghilang di udara. “Karena kita sudah paham: yang baik akan terlihat dengan sendirinya, dan yang salah akan selalu meninggalkan tanda, seberapa pun rapi dia berusaha menyembunyikannya.”

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!