Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 Harga Diri Hancur Total
“Eh Kak Anjani…” Suara lembut Cintya menghentikannya.
Anjani berhenti sebentar tanpa menoleh.
Cintya buru-buru mendekat dengan wajah paling manis sedunia. “Tolong jangan salah paham ya…,” ucapnya halus penuh kepedulian palsu. “Di sini tetap rumah Kak Anjani kapan pun Kakak mau pulang.”
Wajah Cintya terlihat tulus. Kalimatnya juga terdengar baik. Sangat baik bahkan. Namun justru karena itulah racunnya terasa semakin jelas.
Rumah Kak Anjani kapan pun mau pulang. Seolah, rumah itu bukan milik Anjani lagi, dan izin untuk kembali sekarang bergantung pada kemurahan hati Cintya.
Cintya melanjutkan lirih. “Aku cuma nggak mau hubungan Kakak sama Mas Satriya makin buruk…”
Anjani perlahan menoleh, memberi tatapannya tenang. Terlalu tenang malah, sampai membuat senyum Cintya sedikit menegang.
Beberapa detik Anjani hanya memandang perempuan di depannya.
Cantik, rapi, bersinar. Persis seperti perempuan yang selama ini selalu menang di mata semua orang.
Lalu bibir Anjani tersenyum tipis.
Miris. “Tenang aja,” ucapnya lembut sekali. “Aku nggak punya kebiasaan rebutan tempat dengan tamu.”
Deg.
Wajah Cintya langsung berubah tipis.
Anjani melanjutkan pelan. “Apalagi menjadi tamu yang terlalu betah sampai lupa cara pulang.”
Sunyi membungkam telak, halus, elegan, dan menusuk tepat di harga diri.
Bella tidak paham, namun Satriya paham. Begitu juga Cintya. Perempuan itu langsung memasang wajah terluka. Matanya mulai berkaca-kaca pelan sebelum menoleh ke Satriya.
“Mas…” Suaranya sendu. “Aku nggak pernah ada niat begitu…”
Ah. Hebat sekali. Cepat sekali berubah jadi korban.
Dan sayangnya, Satriya masih tetap berada di pihak yang sama seperti biasa. Lelaki itu langsung berjalan mendekat dengan wajah keras.
“Jaga omongan kamu.”
Anjani tertawa kecil. “Kenapa?” Tatapannya lurus. “Takut kenyataannya kedengaran kasar?”
“Cukup!” Bentak Satriya hingga menggema keras.
Sesal kecil yang tadi sempat muncul dalam diri Satriya langsung kalah lagi oleh ego dan harga diri yang terbakar. Anjani sekarang tidak lagi diam. Dan lelaki egois paling benci perempuan yang mulai berani bicara.
“Kamu masih aja nyalahin orang lain!” Satriya menunjuk kasar. “Padahal yang bikin semua rusak itu kamu! Cintya itu sahabatku. Aku bahkan lebih dulu kenal dia dari pada kamu yang orang baru!”
Anjani diam miris. Orang baru katanya. Orang baru yang menemaninya dari nol. Orang baru yang dulu diajak hidup susah. Dan sekarang? Ketika sukses justru wanita lain yang dipandang seolah lebih berjasa.
Sementara Satriya makin emosi melihat ketenangan Anjani. “Kamu pikir setelah cerai kamu bisa hidup enak?” tawanya sinis. “Dengan apa? Modal nangis? Modal tampang melas?”
Bella langsung diam ketakutan, namun Satriya sudah terlalu terbakar untuk berhenti. “Kamu tuh dari dulu hidup pakai uang aku!” Tatapannya turun penuh penghinaan. “Rumah, baju, makan, semua dari aku.”
Anjani mengepalkan jemarinya pelan. Menahan sakit yang teramat kejam. Padahal lelaki ini tahu persis, Anjani mengorbankan hidupnya sendiri demi membangun semua itu bersama.
“Tahu diri sedikit.” Satriya mendekat tajam. “Kalau mau pergi, pergi aja.”
Lalu bibirnya menyungging senyum dingin paling kejam pagi itu. “Tapi tinggalin semua yang dibeli pakai uang aku.”
Bella langsung membelalak. Cintya bahkan sedikit terdiam. Tapi Satriya lanjut tanpa belas kasih. “Koper, perhiasan, ponsel, sampai baju yang kamu pakai itu juga.”
Deg.
Anjani seketika membeku. Kali ini napasnya benar-benar terasa sesak. Ketenangan yang dimiliki hampir retak.
“Kamu nggak punya hak bawa apa pun dari rumah ini karena tanpa aku, kamu memang nggak punya apa-apa.” Satriya kian tak menggunakan hati.
Kalimatnya menghantam lebih keras daripada tamparan semalam. Yang lebih memilukan, dulu Anjani pernah percaya lelaki ini adalah rumah paling aman untuk hidupnya.
Anjani masih berdiri diam di depan meja marmer. Tatapannya turun pada pakaian sederhana yang membungkus tubuhnya. Cardigan sederhana warna putih, rok panjang polos, sandal rumah. Sesederhana itu. Dan ternyata bahkan itu pun masih dianggap terlalu mahal untuk dibawa pergi.
Sunyi menyelimuti ruang tamu seperti kabut dingin yang menyesakkan. Semua bergeming beberapa detik. Bahkan Bella yang biasanya cerewet kini hanya memeluk bonekanya sambil menatap ayahnya dengan bingung.
Wajah Anjani pucat. Matanya merah. Namun tubuhnya tetap tegak. Sementara Satriya berdiri beberapa langkah di depannya dengan dada naik turun karena emosi yang belum benar-benar reda.
Perlahan Anjani membuka koper hitamnya. Tangannya bergerak tenang. Ia mengeluarkan dompet kecil lusuh lebih dulu, lalu ponsel, powerbank murah, dan beberapa skincare sederhana.
Semua ditaruh rapi di atas meja.
Bella kian terlihat bingung. “Mama ngapain…”
Namun Anjani tidak menjawab. Tangannya perlahan naik ke leher. Dan di situlah ia menyentuh sebuah kalung perak tipis yang warnanya bahkan sudah sedikit pudar dimakan waktu. Kalung pertama dari Satriya.
Dulu lelaki itu memberikannya saat mereka masih hidup susah. Mereka bahkan belum punya motor saat itu. Satriya menabung berbulan-bulan hanya untuk membeli kalung kecil tersebut.
Dan Anjani dulu menangis bahagia menerimanya. Karena waktu itu cintanya terasa lebih mahal dari apa pun.
Perlahan Anjani melepas kalung itu. Tatapannya kosong menatap benda kecil di tangannya, kemudian ia meletakkannya pelan di meja.
Ting.
Suara kecil terdengar, menghantam aneh di dada Satriya.
“Aku simpan baik-baik bertahun-tahun. Takut rusak,” ucap Anjani lirih.
Deg.
Rahang Satriya langsung mengeras. Dan perempuan itu lanjut membuka cincin di jari manisnya. Cincin nikah mereka. Perak juga. Kecil, sederhana, bahkan tidak terlihat seperti cincin pasangan mapan.
Anjani sempat tersenyum miris sambil memutar cincin itu perlahan di jemarinya. “Dulu kita beli ini sambil nawar lama banget…” Suaranya nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. “Sampai abang tokonya kesel.”
Bella memandangi ibunya. Sementara Cintya diam dengan wajah prihatinnya. Prihatin palsu.
Dan Satriya…dadanya mulai terasa semakin sesak karena benda-benda itu mengingatkannya pada masa ketika mereka saling mencintai tanpa malu.
Anjani meletakkan cincin tersebut tepat di samping kalung. “Tenang aja.”
Tatapannya perlahan naik ke Satriya. “Nggak laku dijual juga kok," ucap Anjani halus.
Ucapan halus yang terasa seperti tamparan balik. Karena kini Satriya cukup sukses. Mobil mewah, rumah besar, pengusaha, tapi cincin pernikahan istrinya bahkan cuma perak murah.
Sunyi langsung terasa berat. Anjani kembali membuka jam tangan di pergelangan tangannya. Jam sederhana yang talinya mulai mengelupas sedikit.
“Aku beli sendiri di pasar diskon.” Ia meletakkannya di meja. “Tapi daripada nanti kamu pikir itu juga dari uangmu.”
Satriya mulai menatap perempuan itu dengan emosi yang bercampur sesuatu lain. Tidak nyaman, sangat tidak nyaman.
Anjani belum selesai. Perempuan itu perlahan melepas cardigan putih yang tadi membungkus tubuhnya, lalu rok panjangnya.
Bella langsung membelalak. “Mama…”
Kini tubuh Anjani hanya tertutup tanktop tipis polos dan legging hitam panjang sebatas lutut. Rumah besar itu mendadak terasa dingin sekali.
Namun yang paling dingin justru tatapan Satriya sekarang. Baru kali ini ia sadar, betapa kurusnya tubuh istrinya. Betapa lelahnya perempuan itu. Dan betapa selama ini ia tidak benar-benar memperhatikan.
Anjani menunduk melepas sandalnya perlahan. Sandal rumahan murah yang bahkan solnya mulai tipis. Ia meletakkannya di dekat kaki Satriya.
“Ini juga.”
Bella mulai benar-benar panik sekarang. “Mama jangan…”
Cintya langsung terlihat tidak nyaman, meski kemenangan masih terbesit di benaknya. “Kak Anjani udah…”
Namun Anjani mengabaikannya.
Tatapannya kembali pada Satriya. “Lagi?” Suaranya kecil.
Satriya membeku. Lelaki itu terlihat goyah karena baru sekarang ia sadar, Anjani benar-benar sedang meninggalkan hidupnya. Bukan sekadar rumah, tapi seluruh rasa cintanya.
Tatapan Satriya lalu berhenti pada anting kecil di telinga Anjani. “Sekalian itu.” Nada suaranya masih keras, meski kini lebih terdengar seperti orang yang memaksa dirinya tetap marah.
Anjani perlahan menyentuh anting mungil tersebut, lalu menggeleng pelan.
“Kalau ini nggak.”
Satriya mengernyit.
“Ini pemberian orang tuaku. Bukan dari kamu.” Suara Anjani lembut tapi tegas.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Satriya tidak sanggup membalas. Setiap benda yang dikembalikan Anjani terasa seperti sedang memperlihatkan satu kenyataan menyakitkan, bahwa selama bertahun-tahun perempuan itu hidup sederhana sekali di tengah semua kemewahan yang ia banggakan.
Dan yang lebih menghancurkan, Anjani bahkan tidak tampak menyesal meninggalkan semuanya.
Bersambung~~