Pertemuan yang tak pernah mereka rencanakan, tapi justru takdir membawanya semakin dekat. Hingga mereka benar-benar yakin bahwa cinta itu hadir. Tapi ternyata tak cukup hanya Cinta, tapi juga ada perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????" bentuknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Penasaran yang tak sempat terucap
Setelah prosedur pemeriksaan selesai, Ryan juga sudah mengurus seluruh administrasi yang diperlukan. Sementara itu, Fiska mulai menunjukkan tanda-tanda bosan. Gadis kecil itu menarik-narik lengan ayahnya sambil merengek pelan.
"Papa..... Pulang....."
Ryan terkekeh, "iya, iya. Sebentar."
"Nggak mau Papa. Fiska nggak mau......" Protes Fiska sambil menggembungkan pipinya.
Meljhat tingkah putrinya, Ryan hanya bisa menggeleng pasrah. "Baiklah, Tuan Putri sudah memberi perintah."
"Sepertinya pasien saya sudah tak betah di sini," Asido yang berdiri di dekat mereka ikut tersenyum.
"Di sini tidak ada mainan," keluh Fiska polos.
"Asido, kau dengar itu?" Ryan langsung menyambar. "Klinik semewah ini ternyata kalah karna tidak punya mainan."
"Catatan penting untuk evaluasi," balas Asido santai mengikuti candaan itu.
Candaan itu terdengar sambil berjalan menuju pintu utama klinik. Beberapa pegawai yang berpapasan sempat menyapa Asido dengan hormat.
Ryan memperhatikan itu sekilas lalu bersiul pelan. "Hebat juga kau sekarang, ya....."
"Alah......." balas Asido.
"Pak Dokter, terimakasih ya...." Fiska yang tadi murung kembali ceria setelah keluar dari klinik itu.
"Sama-sama anak pintar......"
Saat itu, Ryan tiba tiba tertawa kecil.
"Papa kenapa?" tanya Fiska heran.
"Ehh, sayang...... Itu nama Pak Dokter sudah terpampang jelas. Tapi Papa nggak lihat."
"Kemarin juga kan kita bertemu di sini......" sahut Asido.
"Itu kan...... Lupa aku, Lae. Astaga....!" Ryan benar-benar tak sadar bahwa pertemuan mereka kemarin di tempat yang sama juga hari ini.
"Makanya jangan sibuk aja kau...... " sindir Asido.
Ryan terkekeh pelan.
"Tapi tenang saja, Lae. Aku sudah tau dan sudah ingat pasti bahwa klinik ini adalah klinikmu." balas Ryan.
"Papa, ayok......." Fiska menarik tangan ayahnya.
"Iya, Sayang..... Pamit dulu."
"Permisi ya, Pak dokter." Fiska mencium tangan Asido.
"Hati-hati ya......Byee, anak pintar......."
"Dadah, Pak Dokter......" Fiska melambaikan tangan kecilnya. Asido tersenyum membalas lambaian itu dengan ringan. Sementara Ryan harus mengikuti langkah putrinya yang sudah berjalan lebih dulu sambil menarik lengannya.
"Thanks, Bro!" teriak Ryan mengangkat tangannya sambil tersenyum lebar.
Asido mengangkat tangannya, "Yo...."
Asido masih berdiri disana, bahkan saat mereka sudah tak terlihat lagi.
"Ryan punya anak? Tapi Mamanya mana?" batin Asido. Sebenarnya ia ingin menanyakan hal itu dari tadi, hanya saja seperti ada sesuatu yang menahannya hingga tak jadi bertanya.
"Sudahlah..... Kenapa jadi kepo begini," gumam Asido pada dirinya sendiri.
Ia berbalik masuk ke dalam klinik, tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang yang berlari kecil dari dalam.
"Ah, maaf, Dok!" perempuan itu spontan mundur. Wajahnya tampak pucat dan panik.
Asido reflek menahan lengannya agar tidak jatuh, "Eh.....Hati-hati!"
Perempuan itu ternyata Kiki, manager keuangan klinik.
"Maaf, Dok. Saya buru-buru. Permisi, dok." Kiki langsung bergegas pergi.
Asido sebentar menoleh ke belakang. Dia heran, bingung kenapa Mita buru-buru begitu.
Tanpa ia sadari, dari sudut lorong dekat meja resepsionis, Yani memperhatikan kejadian itu. Matanya tertuju tajam pada tangan Asido yang menahan perempuan tadi. Wajahnya menegang.
"Kurang ajar!!" Yani tanpa sadar meremas dokumen di tangannya.
Yani melangkah dengan kesal, ia menghentakkan kakinya setiap kali melangkah. Dia putar balik, yang awalnya ingin ke ruang administrasi tapi karna sudah terlalu emosi, pekerjaan itu baginya sudah tak berarti lagi.
"Eh, lihat itu....." ucap seorang staf memberi isyarat saat melihat Yani.
"lagi nggak mood mungkin." sahutnya. Dua staf yang sedang berjalan pulang karna akan ada pergantian shift untuk malam.
"Heh.....!!!! Sudah bosan kerja??" bentak Yani keras saat memergoki staf itu sedang menggosip tentang dirinya.
"Ma...maaf, Bu....." jawab mereka gugup. Mereka mempercepat langkahnya sambil saling menggenggam.
"Gila!!!" geram Yani.
Dia kembali melangkah melewati orang-orang yang ada di lorong klinik itu dengan ekspresi yang tak disembunyikan, wajah marah.
"Kenapa lagi itu?" Feni yang sedang bersiap-siap pulang melihat hal itu. Rasa tak nyaman dalam hatinya muncul, karna pastinya dia akan kena juga imbasnya.
"Issss!!! Benar-benar bisa gila aku!!" Yani melemparkan dokumen yang sudah agak keriput itu ke atas mejanya.
"Dia pikir dia siapa?? Kurang ajar!!" Yani menghembuskan napas kasar. Dadanya naik turun cepat. Wajahnya memerah karna amarah yang sulit ia tahan.
Pikirannya dipenuhi beberapa bayangan yang tak ia suka hari ini. Mulai dari rapat tadi, penolakan yang ia terima langsung, dan kejadian barusan yang membangunkan amarahnya yang sempat teredam.
Tangan Asido yang jelas dilihatnya bersentuhan dengan tangan yang lain. Dia tau jelas bahwa tadi tak ada tanda yang berlebihan tapi dia tetap tak bisa tenang.
"Akh....!!!" kepalanya terasa penuh seperti ingin pecah. Ia mencengkram rambutnya sendiri.
Dadanya terasa sesak.
"Feni......" Ia meraih hpnya dengan tangan gemetar.
"Fen..... Tolong!!" ucapnya begitu panggilan tersambung.
Feni langsung bergerak karna ia sudah tau apa alasannya.
"Astaga......!" seru Feni begitu membuka pintu. Yani terduduk lemas di kursinya, tangannya masih mencengkram dadanya. Napasnya memburu, seolah sulit untuk bernapas.
"Yan.....!" Feni berlari menghampirinya. Yani terlihat pucat, sesaknya semakin menjadi.
"Hei..... Coba tarik napas pelan-pelan...." ucap Feni panik sambil berjongkok di depannya.
"To.... tolong ambilkan inhalerku....." pinta Yani di sela napasnya yang terengah-engah.
"Di-dimana?!" tanya Feni tetap panik.
"Laci," jawabnya pelan.
Feni segera mengambilnya dan membantu Yani menggunakannya.
Beberapa saat berlalu, napas Yani masih terdengar tidak teratur. Tapi, perlahan sudah mulai terdengar lebih teratur.
"Apa perlu panggil dokter? Karna...." tanya Feni cemas.
"Nggak usah," potong Yani cepat.
"Okey....." Feni tak memaksa sedikit pun. Dia sudah tau jelas bagaimana sifat temannya itu.
"Kamu tidak sibuk kan? Kita pulang sama."
"Hah?"
"kenapa? Tak bisa? Tak mau? " nada Yani langsung meninggi.
"Bukan. Bisa...." Feni membantu Yani berjalan. Tubuhnya masih benar-benar kurang berdaya.
"Kenapa, Bu?" tanya seorang karyawan saat melihat mereka keluar.
"Eh....Oh ini, Bu...."
"Tidak usah!!" ucap Yani pelan saat Feni ingin menjawab karyawan tadi.
"A... a....." Feni merasa tak enak pada karyawan itu, sementara Yani terlihat tidak peduli akan itu. Ia tetap berjalan melewatinya begitu saja.
"Is.. is...is......" karyawan tadi menggeleng geleng kecil.
"Tak perlu dijelaskan apapun itu...." ucap Yani yang berjalan menunduk hingga dia tak sadar di depannya ada Asido. Dokter yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
"Dokter?" ucap Feni saat melihatnya.
Yani langsung mengangkat wajahnya dan menatap Asido.
"Loh, kalian kenapa??" tanya Asido heran.
Feni tak menjawab, dia tetap diam. Mengingat perkataan Yani barusan, tak perlu menjelaskan apapun.
Yani menepis tangan Feni memberi isyarat kenapa dia hanya diam saja. Feni melihat lirikan itu, dan dia langsung mengerti.
"Ini, Dok...... Bu Yani sakit. Penyakit sesaknya kambuh tadi, untung saya cepat," Feni menjelaskannya dengan sangat cepat. Yani langsung memasang wajah kasihan. Padahal tadi wajahnya sangat datar. Jelas itu untuk menarik perhatian Asido.