Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Terkurung di Ruang Privat
BAB 32: Terkurung di Ruang Privat
Pintu lift privat berbahan baja antikarat itu terbuka dengan dentingan halus, menyuguhkan pemandangan yang seketika membuat Luna Maharani menahan napasnya. Di hadapannya, terbentang sebuah penthouse dua lantai yang teramat luas dan mewah, didominasi oleh dinding kaca raksasa yang memperlihatkan lanskap gedung-gedung pencakar langit ibu kota yang mulai menyalakan lampu-lampu malam. Desain interiornya sangat maskulin—perpaduan antara marmer hitam Italia, kayu jati gelap, dan furnitur kulit berkualitas tinggi yang memancarkan aroma kemewahan yang sunyi.
Tempat ini terasa begitu terisolasi dari dunia luar. Tidak ada suara bising jalanan, tidak ada riuh rendah pegawai kantor, dan yang paling membuat dada Luna berdesir adalah fakta bahwa tidak ada jejak kehadiran wanita lain di sini. Tempat ini adalah wilayah privat milik Devano yang paling suci.
Devano melangkah masuk terlebih dahulu, meletakkan kunci mobilnya di atas meja konsol marmer, lalu berbalik menatap Luna yang masih berdiri mematung di ambang pintu lift dengan jemari tangan yang saling bertautan cemas.
"Sampai kapan kamu akan berdiri di sana, Asisten Luna?" tegur Devano, suara baritonnya bergaung rendah di dalam ruangan yang sepi itu. "Masuk."
Luna melangkah pelan, merasakan permukaan karpet bulu yang tebal dan lembut di bawah pijakan kakinya. Dia memeluk tas kecilnya dengan erat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketangguhan mentalnya yang sempat terkikis oleh pesona intimidasi pria di hadapannya.
"Tuan Devano," panggil Luna, suaranya terdengar agak serak namun tetap tertata rapi. "Jika Anda berniat menahan saya di sini sebagai jaminan utang, saya mengerti. Tetapi, saya mohon izinkan saya untuk menempati kamar pelayan atau kamar tamu terkecil di sudut ruangan ini. Saya tidak ingin kelancangan saya mengusik kenyamanan Anda."
Devano menghentikan gerakannya yang hendak membuka kancing teratas kemeja hitamnya. Mata elangnya menyipit tajam, menatap Luna dengan pandangan mengunci yang membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa lebih pekat. Pria itu berjalan mendekati Luna, menundukkan tubuh tegapnya hingga jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa jengkal.
"Di tempat ini, Luna Maharani, aturanmu tidak berlaku," desis Devano dengan nada suara yang dingin, namun ada kilat kepemilikan yang amat pekat di dasar matanya. "Aku tidak memindahkanmu dari rumah sakit mewah hanya untuk membiarkanmu pingsan lagi di kamar sempit yang tidak terurus. Kamu akan menempati kamar utama bersamaku, agar aku bisa memastikan dengan mataku sendiri bahwa kamu tidak sedang bermain drama sakit lagi."
Luna tersentak, sepasang mata bulatnya melebar menatap Devano. "Tuan, tapi itu tidak pantas—"
"Masuk ke kamar dan bersihkan dirimu. Makan malam akan tiba dalam tiga puluh menit," potong Devano tanpa menerima bantahan, lalu berbalik meninggalkan Luna yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan gejolak rasa takut sekaligus debaran aneh yang kian kencang di dalam dadanya.
Kamar utama penthouse itu berukuran hampir seluas rumah kontrakan lama Luna. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang king size dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap yang tampak sangat empuk dan menggoda tubuh lemas Luna untuk segera merebahkan diri. Namun, Luna menepis rasa lelahnya. Dia melangkah ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan air hangat yang disediakan, mencoba membasuh sisa aroma karbol rumah sakit yang masih menempel di kulitnya.
Ketika Luna keluar dari kamar mandi, dia mendapati sebuah gaun tidur sutra berwarna putih tulang telah diletakkan dengan rapi di atas ujung ranjang. Tidak ada pakaian lain. Dengan ragu dan jantung yang berdegup tidak karuan, Luna mengenakan pakaian tersebut. Gaun tidur itu berbahan sangat lembut, jatuh dengan pas di tubuh rampingnya yang tirus, mengekspos tulang selangka dan leher jenjangnya yang putih bersih.
Saat Luna melangkah keluar menuju ruang makan, aroma masakan mewah khas restoran bintang lima langsung menyambut indra penciumannya. Di sana, di balik meja makan marmer hitam yang panjang, Devano sedang berdiri. Pria itu telah menanggalkan jas dan jam tangan mewahnya, menyisakan kemeja hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka bebas, menampilkan siluet dada bidangnya yang kokoh di bawah pendar lampu gantung yang temaram.
Alih-alih menyuruh pelayan privat, Devano sendiri yang menata piring-piring berisi sup asparagus hangat dan potongan daging steak premium di atas meja. Gerakannya tampak sangat kaku—jelas sekali bahwa seorang CEO terhormat seperti dirinya tidak terbiasa melakukan hal-hal domestik seperti ini—namun hal itu justru memberikan kesan intim yang teramat dalam di mata Luna.
"Duduk," perintah Devano pendek begitu menyadari kehadiran Luna.
Luna menarik kursi kulit di hadapan Devano dengan canggung. Keheningan malam itu terasa begitu pekat, hanya diiringi oleh dentingan halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Di bawah temaram lampu, Devano diam-diam tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari sosok Luna. Kulit gadis itu yang putih bersih tampak begitu kontras dengan gaun tidur sutra yang dipakainya, memberikan kesan rapuh namun di saat yang sama memancarkan daya tarik magnetis yang luar biasa kuat bagi insting seorang pria dewasa.
Saat Luna sedang menyendok supnya dengan perlahan karena tangannya yang masih agak bergetar, sebutir noda saus merah tidak sengaja menempel di sudut bibir bawahnya yang tipis.
Devano menghentikan gerakannya. Tanpa peringatan, pria itu bangkit berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja makan yang panjang, dan berhenti tepat di samping kursi Luna. Sebelum Luna sempat mendongak untuk bertanya, jari telunjuk dan ibu jari tangan kekar Devano yang hangat sudah terulur, menyentuh dagu Luna dengan lembut dan mendongakkannya sedikit ke atas.
Napas Luna seketika tercekat di tenggorokan.
Jempol tangan Devano yang sedikit kasar bergerak perlahan, menyeka noda saus di sudut bibir Luna dengan gerakan yang teramat lembut—sebuah sentuhan yang sangat bertolak belakang dengan kata-kata kejam yang biasa keluar dari mulutnya. Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar. Keduanya membeku di dalam kecanggangan yang teramat intim. Devano menatap lekat-lekat bibir tipis Luna yang sedikit terbuka, sementara Luna bisa merasakan degup jantungnya sendiri berpacu begitu liar hingga dadanya terasa sesak.
Devano berdehem pelan, memutuskan kontak mata yang teramat intens itu terlebih dahulu, lalu menarik kembali tangannya dan melangkah mundur ke kursinya dengan raut wajah yang kembali dibuat sedingin es, seolah-olah momen intim barusan tidak pernah terjadi.
Setelah makan malam selesai, ketangguhan seorang Luna Maharani kembali terusik. Dia tidak sudi diperlakukan seperti seorang wanita simpanan yang hanya bisa menumpang gratis dan menerima fasilitas mewah tanpa melakukan apa pun. Luna berdiri, mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja, dan berniat membawanya ke arah wastafel dapur.
Melihat hal itu, Devano langsung mengernyitkan dahinya yang tebal. "Apa yang sedang kamu lakukan, Luna? Kembali ke kamarmu dan istirahat."
Luna menghentikan langkahnya, menaruh kembali piring-piring itu di atas meja dengan ketukan yang tegas. Dia membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata elang Devano dengan pandangan mata bulatnya yang sarat akan harga diri yang tinggi sebagai seorang wanita tegar.
"Tuan Devano, Anda mungkin bisa mengurung fisik saya di dalam penthouse mewah ini sebagai jaminan atas seluruh utang keluarga saya," ujar Luna, suaranya bergetar halus namun terdengar sangat kokoh dan berwibawa. "Tetapi, saya mohon dengan sangat, jangan renggut harga diri saya untuk tetap merasa berguna. Saya bukan wanita manja yang akan duduk diam menerima semua kemewahan ini secara cuma-cuma. Jika saya tidak diizinkan ke kantor, maka izinkan saya melakukan pekerjaan rumah tangga ini sebagai bentuk tanggung jawab saya."
Devano tertegun di tempatnya berdiri. Jawaban tegar yang keluar dari belahan bibir Luna benar-benar menghantam sudut hatinya yang paling dalam. Alih-alih merasa kesal karena perintahnya dibantah, Devano justru merasakan sebuah letupan obsesi dan rasa kagum yang teramat besar kembali merayap di dalam dadanya. Luna begitu berbeda; di saat wanita lain seperti Siska akan dengan senang hati memanfaatkan kekayaannya untuk bermalas-malasan, Luna justru berdiri tegak mempertahankan harga diri dan prinsip hidupnya di tengah keterpurukan.
Devano melangkah maju, mencengkeram lembut pergelangan tangan Luna yang sedang memegang tepi piring, memaksa gadis itu untuk melepaskannya.
"Piring-piring ini akan dibersihkan oleh petugas kebersihan besok pagi," ujar Devano, suara baritonnya kini tidak lagi terdengar sedingin tadi, melainkan sedikit melembut dengan penekanan yang dalam. "Tugasmu malam ini hanyalah satu, Luna. Turuti perintahku untuk kembali ke kamar dan pulihkan kondisimu. Aku tidak suka melihat jaminanku berada dalam kondisi yang cacat atau lemah."
Luna menatap pergelangan tangannya yang hangat di bawah cengkeraman tangan besi Devano, lalu mengembuskan napas pasrah. Dia tahu, mendebat pria keras kepala seperti Devano di saat tubuhnya sendiri belum sepenuhnya pulih adalah tindakan yang sia-sia. Dengan langkah gulai, Luna akhirnya berbalik dan berjalan kembali menuju kamar tidur utama.
Malam semakin larut memeluk kota. Di luar dinding kaca penthouse, langit malam yang pekat tiba-tiba saja menumpahkan badai hujan yang teramat deras. Suara gemuruh petir sesekali menggelegar, beradu dengan suara hantaman butiran air hujan yang menerpa permukaan kaca tebal, menciptakan atmosfer yang teramat dingin dan mencekam di dalam ruangan.
Luna berbaring di sisi kanan ranjang king size yang luas. Dia sengaja meringkuk di tepi ranjang, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada dengan sprei sutra abu-abu, mencoba mencari kehangatan di tengah hawa dingin yang menusuk tulang. Matanya terpejam rapat, namun pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Setiap kali kilatan petir menerangi kamar yang remang-remang itu, bayangan kedekatan fisiknya dengan Devano di meja makan tadi kembali berputar di benaknya, membuat debaran benci tapi rindu itu kian menyiksa batinnya.
Cklek...
Suara pintu kamar yang terbuka pelan seketika membuat Luna membuka matanya kembali dengan cepat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat menangkap siluet tubuh tegap Devano yang melangkah masuk ke dalam kamar.
Pria itu telah menanggalkan kemeja hitamnya. Kini, Devano hanya mengenakan celana kain hitam panjang tanpa atasan, mengekspos dengan jelas dada bidangnya yang kokoh, perutnya yang berotot tegas, serta beberapa guratan urat yang menonjol di sepanjang lengan kekarnya. Rambut hitamnya tampak sedikit basah setelah membasuh wajah di luar, memberikan kesan yang teramat seksi dan maskulin di bawah temaramnya lampu tidur.
Langkah kaki tegap Devano bergerak mendekati sisi ranjang tempat Luna berbaring. Setiap langkahnya terasa begitu mengintimidasi, mengikis sisa-sisa pertahanan mental yang dimiliki oleh Luna. Pria itu tidak menuju ke arah sofa, melainkan langsung merangkak naik ke atas ranjang besar tersebut.
Luna seketika panik. Dia mencoba menggeser tubuhnya mundur hingga punggungnya membentur sandaran ranjang yang keras. Jemari tangannya mencengkeram ujung selimut sutra dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"T-Tuan Devano... apa yang Anda lakukan?" tanya Luna dengan suara yang bergetar hebat karena ketakutan sekaligus gairah yang mendadak meletup di dalam dadanya. "Anda bilang... Anda hanya ingin mengawasi saya..."
Devano tidak menjawab dengan kata-kata. Dia terus merangkak maju hingga posisi tubuhnya kini berada tepat di atas tubuh Luna, mengurung wanita tangguh itu di bawah kungkungan tubuh kokohnya yang besar. Kedua tangan kekar Devano bertumpu di sisi kanan dan kiri kepala Luna, mengunci ruang gerak gadis itu sepenuhnya.
Mata elang Devano yang biasanya berkilat dingin, kini telah sepenuhnya menggelap oleh kabut gairah dan obsesi yang selama ini dia kurung rapat-rapat di balik topeng dendamnya selama dua tahun ini. Tatapannya jatuh tepat pada manik mata bulat Luna yang dipenuhi ketakutan murni, lalu turun menatap bibir tipis Luna yang bergetar halus, sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada tulang selangka Luna yang terekspos di balik gaun tidur putihnya.
Devano menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke samping telinga Luna hingga embusan napasnya yang panas dan memburu menerpa permukaan kulit leher Luna yang sensitif, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat.
"Hujan di luar sangat dingin, Luna..." bisik Devano dengan suara bariton yang teramat parau, dalam, dan sarat akan hasrat pria dewasa yang tak lagi bisa dibendung. "Dan aku... aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak menyentuhmu kembali."
Luna bisa merasakan detak jantung Devano yang berdegup kencang beradu dengan detak jantungnya sendiri yang menggila. Jarak di antara tubuh mereka begitu tipis hingga Luna bisa merasakan kehangatan yang menguar dari kulit dada bidang Devano yang menempel pada tubuhnya.
Malam panas yang penuh dengan penyerahan diri, pertarungan antara ego, benci, rindu, dan gairah yang membara kini telah benar-benar tiba di dalam kamar terisolasi itu, siap untuk meruntuhkan seluruh dinding pembatas di antara sang CEO dan asisten pribadinya yang tangguh tersebut.