NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Merah dan Tatapan Giovanni yang Bergetar

Jarum jam berlapis emas putih di dinding marmer Paviliun Timur berdentang halus sebanyak tujuh kali, menandakan tibanya waktu yang ditentukan oleh manajemen Il Miliardario. Setelah prosesi relokasi domisili yang masif dan belanja pakaian yang menguras air mata bahagia jiwa miskinnya tadi siang, Alessa kini tidak mengenakan setelan blazer kasmir vanila seperti yang diinstruksikan Dion. Sebuah intervensi fungsional menit-menit terakhir dari Signora Beatrice—yang melihat kilatan liar di balik manik mata cokelat Alessa—telah mengubah seluruh rencana kasta visual malam ini.

​Alih-alih warna vanila yang aman dan menenangkan, Alessa kini duduk di atas kursi roda kulit Italianya dengan dibalut sebuah gaun malam kustom berwarna merah marun pekat (crimson red) berbahan sutra sutra beludru kasmir. Potongan gaun itu adalah mahakarya gotik modern yang dirancang dengan presisi arsitektural sangat tinggi; kerah tingginya melingkar anggun, menyembunyikan lebam di sekitar tulang selangka seutuhnya, sementara struktur kainnya jatuh melambai dengan kelembutan kasta tertinggi, melindungi rajutan jahitan mikro di punggungnya tanpa memberikan tekanan saraf sedikit pun. Rambut hitam Alessa disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai kaku yang membingkai wajahnya yang dipulas riasan tipis—cukup untuk menyamarkan bengkak pasca-trauma tanpa menghilangkan karakter aslinya.

​Titi mendorong kursi roda Alessa membelah koridor utama Paviliun Timur yang sunyi menuju ruang makan privat. Jantung Alessa berdegup dengan frekuensi kosmik yang tidak beraturan. Ini bukan lagi sekadar sarapan canggung, melainkan sebuah perjamuan malam resmi berskala domestik.

​Begitu pintu ganda ruang makan bergeser terbuka secara otomatis dengan desis hidrolik yang senyap, pandangan Alessa langsung terkunci pada ujung meja makan marmer hitam Nero Marquina sepanjang sepuluh meter. Di sana, di bawah pendaran lampu kristal berbentuk sulur es yang memantulkan cahaya keemasan, Giovanni Alberto sudah menunggu dengan postur tubuh yang tegak laksana kaisar tertinggi aliansi Italia.

​Malam ini, Giovanni mengenakan setelan tuksedo hitam kustom dengan kemeja sutra hitam pekat di bagian dalam tanpa dasi—sebuah kombinasi monokromatik yang memancarkan wewenang mutlak, bahaya yang dingin, dan kemewahan yang tidak mengenal batas kompromi. Aroma parfum mahal oud dan kehangatan ambergris milik pria itu seketika menguasai indra penciuman Alessa, menciptakan dinding sensorik yang mengintimidasi udara sekitar.

​Namun, ketika kursi roda Alessa berhenti tepat di ujung seberang meja, sesuatu yang bener-bener di luar silsilah kalkulasi logika aliansi Alberto terjadi.

​Giovanni, yang biasanya tidak pernah mengalihkan pandangannya dari grafik saham atau dokumen berlapis emas dengan ekspresi lempeng laksana kanebo kering, mendadak menghentikan gerakannya. Sepasang manik mata hitam kelamnya yang sedingin es kutub menatap lurus ke arah Alessa. Tatapan pria paling berpengaruh di ibu kota itu terkunci pada balutan gaun merah marun yang membungkus tubuh Alessa.

​Untuk satu detik linear yang sangat langka, Alessa bisa melihat dengan jelas bagaimana manik mata hitam itu bergetar sangat tipis—sebuah riak anomali psikologis yang pekat, sebuah guncangan sensorik dari seorang monster berjas mahal yang sistem operasinya baru saja mendeteksi adanya keindahan radikal yang menembus batas pertahanan bunkernya. Postur tubuhnya yang kaku laksana patung marmer kuno mendadak menegang, seolah-olah gaun merah Alessa adalah sebuah peluru kendali visual yang berhasil menembus lapisan pelindung antipelurunya.

​Kesedihan yang teramat mendalam yang biasa bersemayam di sudut hati Alessa sebagai anak yatim piatu yang terbuang seketika meleleh, digantikan oleh rasa takjub yang kaku dan kebingungan massal stadium akhir. Dia bisa merasakan kehangatan buatan dari tatapan Giovanni yang tidak lagi hampa, melainkan sarat akan intensitas kepemilikan yang absolut dan mematikan.

​“Ibu... Ayah... Alessa bener-bener mau pingsan,” ratap batin Alessa, rasa sesak yang masif membuat dadanya kembali terasa menarik jahitan di punggungnya. “Monster kaku ini natap Alessa kayak mau nelan gue bulat-bulat ke dalam sistem finansialnya. Kenapa mata hitamnya bisa bergetar begitu? Apa dia menyesal sudah membelikan gaun merah seharga satu unit ruko di Surabaya ini karena warnanya terlalu merusak estetika kaku dunianya?”

​Amarah yang pekat terhadap takdir yang selalu melemparnya ke situasi ekstrem kini bergeser menjadi sebuah keberanian liar untuk menantang keheningan canggung jilid dua ini. Alessa membersihkan tenggorokannya yang parau, menegakkan punggungnya di atas kursi roda, lalu mengaktifkan tameng sarkasme radikalnya di garda terdepan.

​"Mas Bos Giovanni..." celetuk Alessa, nadanya datar penuh ironi yang menyengat, memecah kesunyian masif ruang makan marmer tersebut. "Lu kalau natap gue gak kedip begitu sambil matanya bergetar kayak mesin jahit lawas toko Ko Alung, gue bisa-bisa beralih fungsi jadi mumi mesir yang mati ketakutan karena intimidasi fasyun kasta tertinggi lu, Mas. Kenapa? Apa ada yang salah sama pilihan warna Signora Beatrice? Apa kain merah ini terlalu menor sampai-sampai merusak kapasitas penglihatan robot finansial mahal lu itu?"

​Suara Alessa yang sarat akan komedi gelap itu seketika memutus getaran anomali pada manik mata Giovanni. Pria itu mengerjapkan matanya sekali, memulihkan seluruh silsilah ekspresi hampa dan dinginnya dengan kecepatan kosmik yang presisi sempurna tanpa toleransi kesalahan. Dia memperbaiki posisi duduknya, merosokkan tangan kanannya ke atas meja marmer hitam, lalu menatap Alessa kembali dengan wewenang mutlak yang tak terbantahkan.

​"Warna merah itu... tidak salah, Gadis Sarkas," desis Giovanni dingin, suaranya yang berat, rendah, dan sedingin es kutub menggema pelan menembus pilar-pilar ruangan. "Hanya saja, kapasitas visualku baru saja mendeteksi sebuah distorsi fungsional. Kemarin siang, kamu hanyalah seorang buronan tanpa alas kaki dengan gaun biru robek yang aromanya menyerupai obat bius rumah sakit. Malam ini, beludru kasmir merah itu membuat silsilah kemiskinan domestikmu lenyap seutuhnya seolah-olah kamu dilahirkan untuk berdiri di bawah lampu kristal aliansi Alberto."

​"Waduh, Mas Bos..." Alessa mendengus parau, seulas senyuman kaku terukir di sudut bibirnya yang pecah. "Pujian lu bener-bener terdengar kayak pembacaan nota audit keuangan tahunan ya, kaku dan sarat akan kalkulasi nilai aset. Tapi makasih buat gaun kriminil ini, Mas Bos Kanebo Kering. Kainnya empuk banget, sampai-sampai sisa-sisa memori sabetan ikat pinggang Kak Rian di punggung gue mendadak minder dan memilih untuk melakukan regenerasi sel kulit secara sepihak karena malu sama kualitas kasmir Milan."

​Giovanni tidak merespons ironi Alessa dengan kemarahan. Sudut bibirnya justru kembali berkedut sangat tipis—sebuah tanda kepuasan yang pekat karena mendapati lidah sarkas Alessa tetap tajam di bawah intimidasi tatapan bergetarnya tadi. Dia memberi isyarat tangan yang taktis kepada dua pelayan di sudut ruangan.

​Seketika itu juga, prosesi penyajian menu makan malam dimulai dengan efisiensi waktu sembilan puluh delapan persen. Piring-piring porselen tipis bersulur emas murni menyajikan hidangan yang bener-bener asing bagi garis keturunan kelas pekerja Alessa: Wagyu A5 Tartare dengan busa truffle putih, diikuti oleh sup konsome jamur murni yang aromanya fasyun tinggi.

​"Makanlah, Alessa," kata Giovanni datar, matanya mengunci pandangan gadis bergaun merah itu kembali. "Malam ini, setelah makan malam selesai, Dion akan menyerahkan dokumen paspor internasional kustom barumu. Mulai besok, silsilah hidupmu bukan lagi sebagai pelarian dari Surabaya, melainkan sebagai asisten pribadi fungsional dalam struktur bisnis malamku yang tidak mengenal kata toleransi."

​Kebingungan psikologis yang luar biasa masif kembali menyerang Alessa saat dia mulai menyuap hidangan mewah itu menggunakan sendok peraknya. Rasa makanan yang terlalu sempurna itu berpadu dengan atmosfer dingin dari keberadaan Giovanni, menciptakan sebuah dimensi domestik baru yang bener-bener tidak konvensional.

​"Asisten pribadi?" Alessa menaikkan satu alisnya, menatap lurus ke arah mata hitam Giovanni. "Tugas gue apa, Mas Bos? Apakah mengkritik kegagalan lu dalam mencoba melucu seperti kasus ayam menyeberang jalan tadi sore itu termasuk ke dalam deskripsi pekerjaan resmi gue di dalam kontrak berlapis emas kita?"

​Giovanni menghentikan gerakan pisau makannya, menatap Alessa dengan postur tubuh yang tegak laksana pahatan marmer kuno. "Tugasmu adalah mempertahankan eksistensi liarmu di sampingku, Alessa. Di duniaku yang sarat akan pengkhianatan dan hukum talio, semua orang bergerak menggunakan topeng kepatuhan yang palsu. Lidah sarkasmu dan gaun merahmu malam ini adalah satu-satunya anomali fungsional yang jujur yang aku miliki untuk memastikan bahwa aku tidak sedang memimpin sebuah distrik yang berisi robot finansial tanpa jiwa."

​Pria itu mengangkat gelas kristal berisi minuman anggur merah premiumnya, mengarahkannya tipis ke arah Alessa dengan keanggunan kaku yang absolut. "Untuk kehidupan barumu di bawah namaku, Gadis Sarkas."

​Alessa tertegun sejenak, memandangi pantulan cahaya keemasan lampu kristal di atas permukaan gaun merahnya yang berkilau laksana darah kehidupan baru. Sebuah tawa pendek yang sangat kering akhirnya lolos dari celah bibirnya. Permainan takdir barunya telah resmi mengunci silsilah hidupnya ke dalam sangkar emas milik Il Miliardario. Dia memang terjebak di tengah pusaran kekuasaan yang dingin dan mematikan, namun malam ini, lewat tatapan Giovanni yang sempat bergetar dan balutan kain beludru kasmir merah kasta tertinggi ini, Alessa tahu bahwa dia bukan lagi korban yang lemah... dia adalah anomali paling berharga yang siap mengacak-acak pusat rasionalitas sang miliarder Italia.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!