NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Urusan internal OSIS nggak pake acara bikin orang nangis di belakang laboratorium, Nayaka. Mulai sekarang, jarak lo sama dia batasnya di gue." — Naren Aksara, Ketua ZENTRIX.

"Kalau dia datang ke sini... jangan pernah lihat muka dia. Biar dia tahu tempat ini bukan buat dia." — Fero Anggadyo, Ketua Black Venom.

Di SMA Garuda, Agnesa Valeria—siswi perfeksionis yang menjunjung aturan—selalu menganggap Naren Aksara sebagai pengganggu. Namun Naren tahu, di balik sikap dinginnya, Agnesa hanyalah gadis kesepian yang tertekan oleh tuntutan orang tuanya.

Saat Naren terus berusaha berada di sisi Agnesa, masalah justru bermunculan. Mahendra mulai menekan Agnesa demi kepentingan keluarganya, sementara Fero bersiap menghancurkan Naren lewat rahasia kelam yang tersembunyi di balik kamar 402 sebuah rumah sakit.

Siapa wanita yang terbaring di sana, dan mampukah Naren melindungi Agnesa sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam yang sakral

Suara dengung teratur dari mesin indikator jantung memecah keheningan kamar nomor 402 rumah sakit malam itu. 

Bip... bip... bip... 

Aroma tajam cairan antiseptik dan karbol pembersih lantai terasa menusuk, mengubur sisa-sisa udara luar Bandung yang berangsur mendingin di jam tujuh malam lewat tiga puluh menit. 

Di luar jendela besar, gerimis tipis mulai membasahi dedaunan pohon mahoni, menyisakan jejak-jejak air yang meluncur lambat di atas permukaan kaca. 

Srek... srek...

​Fero Anggadyo duduk di kursi besi lipat yang terletak tepat di samping ranjang pasien. 

Jaket hitam bertuliskan Black Venom di punggungnya tampak lecek, dengan noda tanah kering yang masih menempel di bagian siku kanan akibat sisa gesekan di jalanan tadi siang. 

Rambutnya yang sedikit panjang berantakan, mencuat ke segala arah karena ia terus-menerus meremasnya selama perjalanan menuju tempat ini.

​Di atas ranjang, seorang wanita terbaring diam. Selang oksigen melintang di bawah hidungnya, naik-turun bersama dengan helaan napasnya yang sangat tipis dan teratur. 

Matanya terpejam rapat. Kulit tangannya yang terpasang jarum infus tampak pucat, hampir senada dengan warna seprai putih rumah sakit yang membungkus tubuhnya.

Kamar perawatan itu minim pencahayaan. Lampu utama di tengah langit-langit sengaja dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur kecil di sudut dinding yang memancarkan pendar kuning temaram. 

Sebuah kantong infus yang menggantung di tiang besi bergoyang pelan setiap kali cairan di dalamnya menetes ke bawah. 

Tik... tik... 

Fero menatap lurus ke arah jemari tangan wanita itu yang tidak bergerak sedikit pun di atas kain seprai. Jarak di antara tubuh mereka sangat dekat, namun tidak ada sentuhan yang tercipta.

​"Gue tadi siang ketemu dia lagi," Fero membuka suara. Suaranya terdengar sangat parau, hampir seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan. 

"Di sekolahnya. Si anak emas SMA Garuda."

​Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang terus berbunyi konstan. 

Bip... bip... bip...

​Fero menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar melalui mulut. 

Huuuh. 

Ia menegakkan punggungnya yang pegal, membuat sendi-sendinya berbunyi pelan. 

Kret.

​"Dia masih sama kayak dulu. Dingin, nggak punya ekspresi, dan sok berkuasa di depan anak-anak buahnya," lanjut Fero, matanya kini beralih menatap wajah wanita yang terbaring kaku tersebut. 

"ZENTRIX masih pelihara seratus orang tolol yang siap mati buat dia. Dan dia masih bertingkah seolah-olah dunia ini cuma berputar di sekitar telapak tangannya."

Fero merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan sebuah korek gas plastik berwarna merah.

Ia tidak mengambil rokok.

Ia hanya menatap korek itu, menekan tombol pemantiknya setengah jalan hingga gasnya mendesis pelan tanpa mengeluarkan api. 

Fssss...

Ia melepaskannya, lalu menekannya kembali. 

Fssss...

Gerakan jarinya berulang-ulang, ritmis dan konstan, sementara matanya tetap terkunci pada wajah pucat di atas ranjang.

Noda hitam jelaga di ujung jempolnya bergeser tipis setiap kali roda pemantik itu berputar tanpa hambatan.

​"Lo tahu? Tadi hampir saja gue pecahin mukanya di kantin belakang," Fero berbicara lagi, nada suaranya naik satu oktav, sebelum akhirnya merendah kembali secara drastis. 

"Tapi tiba-tiba ada cewek. Ketua OSIS-nya. Datang bawa-bawa aturan sekolah, mau manggil polisi segala macam. Lucu banget. Naren berlindung di balik rok cewek buat menyelamatkan mukanya di depan anak-anak Black Venom."

​Fero berhenti sejenak. Ia meletakkan korek gas merah itu di atas meja nakas kecil di samping obat-obatan. 

Tuk.

Kenapa bubur rumah sakit baunya selalu sama ya? Hambar. Bau nasi yang terlalu banyak air. Waktu kecil gue pernah muntah gara-gara dipaksa makan bubur kayak gini sama Ibu. 

Kalau diingat-ingat, tukang bubur ayam di depan gang rumah sekarang harganya udah naik jadi sepuluh ribu per porsi. Padahal ayamnya cuma disit-suwir tipis kayak benang jahit. Apa-apaan. Besok-besok gue mending beli ketoprak aja kalau malam.

​"Gue nggak pernah lupa hari itu," kata Fero lagi, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, bergetar oleh sesuatu yang tertahan di dada. 

"Hari di mana Naren memilih buat pergi dan membiarkan semuanya hancur. Dia pikir dengan bikin geng baru, dengan mengumpulkan seratus orang di bawah kakinya, dia bisa menghapus apa yang udah terjadi? Nggak semudah itu, kan?"

Mesin indikator jantung mendadak berbunyi sedikit lebih cepat selama beberapa detik. 

Bip-bip-bip...

Fero tersentak. Tenggorokannya mendadak terasa kering dan kaku.

Ia menelan ludah dengan susah payah hingga jakunnya bergerak naik-turun dengan kentara.

Kedua telapak tangannya yang diletakkan di atas paha mulai mengeluarkan keringat dingin, membasahi kain celana jeansnya yang kasar.

Ia menahan tubuhnya agar tidak bangkit dari kursi, membiarkan dadanya bergemuruh sendiri mendengar perubahan ritme mesin tersebut sebelum akhirnya grafik di layar kembali mendatar dan stabil. 

Bip... bip... bip...

​Fero mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menarik rambutnya ke belakang dengan frustrasi. 

"Kenapa cuma lo yang harus bayar semuanya di sini? Sementara dia bisa jalan-jalan di koridor sekolah, dihormati orang, bahkan punya cewek yang siap belain dia di depan umum?"

​Ia tertawa. Tawa yang sangat pendek, sinis, dan hambar. 

Heh.

​"Gue bakal bikin dia merasakan hal yang sama. Satu per satu orang di sekitar dia bakal gue tarik sampai jatuh. Gue mau lihat, apa dia masih bisa pasang muka sombongnya itu kalau seragam rapinya udah penuh darah."

Fero mengulurkan tangan kanannya ke depan.

Jemari tangannya yang kasar dan penuh bekas luka goresan rantai motor bergerak mendekati punggung tangan wanita itu yang terbebas dari jarum infus.

Jaraknya tersisa dua sentimeter.

Ia bisa merasakan hawa hangat yang sangat tipis memancar dari kulit wanita itu.

Tiba-tiba, tangan Fero berhenti di udara.

Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat, lalu menarik kembali tangannya dengan hentakan cepat dan menyembunyikannya di dalam saku jaket hitamnya.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar yang semakin gelap dihantam gerimis.

​"Gue nggak akan kalah dari dia lagi," bisik Fero pada kaca jendela yang berembun. 

"Black Venom sekarang punya seratus dua puluh orang. Lebih banyak dari anak-anak ZENTRIX yang cuma bisa gaya-gayaan pake motor modifikasi. Gue punya pasukan yang siap meratakan tempat tongkrongan mereka kapan saja."

​Di luar, suara sirine ambulans terdengar meraung-raung dari kejauhan, membelah kesunyian malam jalanan Kota Bandung sebelum akhirnya meredup saat memasuki area parkir bawah tanah rumah sakit. 

Wuuuung... wuuuung...

​Fero melirik jam tangan digitalnya yang layarnya sudah sedikit retak di bagian sudut. Pukul delapan malam kurang sepuluh menit.

Helm si Abyan tadi sore warnanya norak banget. Merah cabe. Anak zaman sekarang selera warnanya makin aneh-aneh aja. Kayak warna angkot jurusan Cicaheum yang suka ngetem sembarangan di depan gerbang sekolah. Bikin macet jalanan aja tiap pagi. 

Besok gue harus ingetin anak-anak buat ganti oli motor si Rendy, suaranya udah kayak mesin parutan kelapa di pasar tradisional. Berisik banget.

​"Gue harus pergi sekarang," Fero berdiri dari kursi besinya. Kursi itu bergeser beberapa senti di atas lantai semen berlapis vinil, menimbulkan suara decitan yang tajam. 

Kriet.

​Ia membetulkan letak jaketnya, menarik bagian bawahnya agar menutup kaosnya yang sedikit mencuat keluar. Ia menatap wanita di atas ranjang itu untuk terakhir kalinya malam ini.

Fero berjalan mendekati pintu keluar kamar perawatan.

Langkah kakinya sengaja dibuat sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sepatu boot yang berisik.

Namun, saat tangannya sudah memegang gagang pintu besi, ia tidak langsung memutarnya.

Ia berdiri mematung di sana selama hampir satu menit, bahunya sedikit merosot ke bawah, sementara kepalanya tertunduk menatap lantai.

Ia tidak menoleh kembali ke arah ranjang, namun cengkeramannya pada gagang pintu membuat besi itu bergetar tipis akibat tekanan tangannya yang tidak stabil.

​"Nanti kalau dia datang ke sini... jangan pernah lihat muka dia," ucap Fero tanpa berbalik. 

Suaranya terdengar datar, namun ada getaran dingin yang tertinggal di udara kamar. 

"Biarkan dia tahu kalau tempat ini bukan tempat yang bisa dia datangi seenaknya setelah apa yang udah dia perbuat."

​Klak.

​Fero membuka pintu kamar perawatan sedikit, menyelinap keluar melalui celah sempit, lalu menutupnya kembali dengan sangat hati-hati hingga tidak menimbulkan suara benturan yang berarti. 

Klik.

​Koridor rumah sakit di lantai empat tampak sepi dan lengang. Hanya ada seorang perawat yang sedang mendorong troli obat di ujung lorong terjauh. 

Lampu-lampu neon putih di sepanjang langit-langit koridor memantulkan cahaya yang dingin di atas lantai marmer yang mengkilap, kontras sekali dengan kegelapan yang baru saja ditinggalkan Fero di dalam kamar 402.

​Fero berjalan menyusuri koridor dengan tangan yang tetap terbenam di dalam saku jaketnya. 

Setiap langkah kakinya meninggalkan gema pendek di dinding-dinding lorong yang sunyi. 

Tap... tap... tap...

Nanti malam anak-anak mau ngumpul di warung burjo depan markas. Gue musti beli rokok dua bungkus dulu di warung kelontong pojokan jalan raya. 

Semoga aja nggak hujan gede, malas banget kalau harus neduh di bawah jembatan layang sambil dengerin suara klakson mobil yang pada emosi gara-gara genangan air. Hidup di kota ini kalau musim hujan emang selalu bikin repot.

​Ia menekan tombol lift turun. Lampu indikator di atas pintu lift menyala merah, menampilkan angka empat yang perlahan bergerak turun menuju lantai dasar. 

Ting.

​Pintu lift terbuka dengan suara dengung mekanis yang halus. 

Ssshh... 

Fero melangkah masuk, membalikkan badannya menghadap ke pintu, dan menatap pantulan dirinya sendiri di dinding besi lift yang mengkilap bagai cermin.

​Wajahnya tampak kusam, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang memperlihatkan kurangnya waktu tidur selama beberapa hari terakhir. 

Seragam sekolahnya yang tertutup jaket hitam terlihat kusut di bagian kerah. Ia sama sekali tidak terlihat seperti ketua geng Black Venom yang ditakuti oleh ratusan murid di luar sana; malam ini, di bawah siraman lampu lift yang pucat, ia hanya terlihat seperti seorang remaja yang membawa beban masa lalu yang terlalu berat di pundaknya.

​Pintu lift menutup perlahan, memisahkan dirinya dari lantai empat, memisahkan dirinya dari keheningan kamar nomor 402, dan membawanya kembali menuju kegelapan jalanan Bandung yang sudah menantinya di bawah sana bersama dendam yang belum juga usai.

​Ssshh... klak. 

Lift bergerak turun, meninggalkan suara dengung sunyi yang bergema lambat di dalam lorong rumah sakit yang dingin.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Mau ke mana lo, Ren? Belum juga bel masuk,"

​"UKS. Mau tidur,"

​Naren Sengaja Berbohong Demi Agnesa? Intip Kelanjutan Aksi Nekat Sang Ketua Gang Menuju Ruang OSIS pada Bab 33: Interogasi Mangkok Bakso

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!