Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saqira Datang Ke Pondok **
Jam 3 sore. Matahari Ngawi nggak nyengat. Angin sepoi-sepoi dari arah sawah. Daun jati di halaman Pondok Al-Hidayah "sresek sresek". Suasananya tenang. Santri lagi ngaji Iqro di surau. Suaranya "a-ba-ta-sa" pelan-pelan. Kayak nggak ada masalah apa-apa.
Gerbang kayu kebuka "kriiit". Pelan.
Masuklah Saqira. Langkahnya nggak "tek tek" kayak dulu pake high heels. Kali ini sendal swallow. Jalan pelan. Napasnya diatur.
Penampilannya... beda. Nggak pake daster bunga-bunga. Nggak pake hoodie molor. Saqira pake kemeja pink lengan panjang, kancingnya sampe atas. Celana jeans biru tua, nggak ketat tapi nggak lebar. Rambut sebahu udah disisir rapi. Alis tipis masih ada. Lipstik pink tipis banget, cuma biar bibir nggak pucat. Nggak menor. Nggak dimenorin.
Di tangan Saqira... nggao bawa hand bag nya. Cuma bawa map plastik ijo. Isinya fotokopi ijazah SMA, surat kontrak Mc. slip gaji bulan ini. Bukti Saqira bisa kerja. Bukti Saqira bisa tanggung jawab.
Jantung Saqira "deg deg". Tapi dada anget. Angetnya janji. Janji ke Mpok Darsih: "Saqira dateng sebagai Saqira. Nggak jadi orang lain."
Di surau, Paman Syarif lagi ngajar ngaji. Sorban putih, baju koko, pake kacamata. Suaranya lantang: "Alif... ba... ta..."
Santri pada nengok ke gerbang. Bisik-bisik.
"Itu Mas Saqira... banci kontrakan..."
"Kok pake kemeja pink? Cantik..."
"Diam lu, dosa..."
Saqira berhenti 5 meter dari surau. Angkat tangan. Salam. Suaranya nggak keras. Nggak gemeter. "Assalamualaikum Pak Ustadz..."
Paman Syarif langsung diem. Kacamata dilepas. "Srek". Matanya melot. Kaget. Kaget beneran.
"Wa... waalaikumsalam..." Jawabnya gagap. "Lu... lu ngapain ke sini Saqira?!"
Saqira nunduk. 90 derajat. Sopan. "Saqira mau silaturahmi Pak Ustadz. Sekalian... mau ngobrol bentar. Empat mata. Kalo Pak Ustadz berkenan."
Santri pada diem. Udara jadi hening. Cuma ada suara burung "cu... cuit" di atas pohon.
Paman Syarif ngelirik santri. "Kalian ngaji dulu. Lanjut halaman 5. Pak Ustadz mau ngobrol sebentar."
Santri "iya Pak" kompak. Tapi matanya masih ngelirik ke Saqira.
Paman Syarif turun dari mimbar. Jalan ke teras. Duduk di kursi kayu. Nggak ngajak Saqira duduk. "Ngomong sini. Cepet. Pak Ustadz masih ngajar."
Saqira diem 3 detik. Terus duduk juga. Di kursi plastik. Jarak 2 meter. Jaga adab. Map plastik ditaruh di pangkuan. Tangan gemeter tapi ditahan.
"Pak Ustadz..." Saqira mulai. Suaranya pelan. Tapi jelas. "Saqira dateng bukan buat ribut. Saqira dateng buat nepatin janji. Janji 3 hari yang Paman kasih ke Saqira."
Paman Syarif nyengir. Sinis. "Janji? Janji jadi laki-laki seutuhnya? Lu liat diri lu Saqira. Kemeja pink. Alis masih tipis. Lipstik masih ada. Itu namanya berubah? Itu namanya Saqira versi KW. Kw-nya laki-laki."
Saqira diem. Nggak marah. Nggak ngebantah. Terus buka map plastik. "Ini Pak Ustadz... Surat kerja Saqira. Dari Pak Jono. Saqira kerja di konveksi. Gajinya 2 jt sebulan. Dipotong kontrak 500 ribu. 500 buat Kirana, masih sisa 1 jt . Cukup buat makan berdua."
Paman Syarif nggak liat. Mata ngeledek. " 2 juta? Bersni buat nikah? Lu mimpi Saqira. Laki-laki seutuhnya itu punya rumah, punya mobil, punya tabungan. Lu punya apa? Kemeja pink?"
Saqira tutup map pelan. "Saqira nggak punya rumah Pak. Nggak punya mobil. Nggak punya tabungan gede. Saqira cuma punya 2 tangan. 2 tangan yang bisa masak buat Kirana tiap pagi. 2 tangan yang bisa nyuci baju Kirana kalo dia sakit. 2 tangan yang bisa megang tangan Kirana kalo dia takut malem-malem."
Paman Syarif diem. 5 detik. Terus batuk. "Ehem... Itu namanya gombal Saqira. Gombal banci."
Saqira angkat kepala. Mata ke mata Paman Syarif. Nggak nunduk lagi. "Pak Ustadz... Saqira tau. Saqira waria. Badan Saqira laki-laki, hati Saqira lembut. Saqira suka dandan. Suka pake pink. Orang bilang itu salah. Orang bilang Saqira nggak normal."
Suara Saqira serak. Tapi nggak pecah. "Tapi Pak Ustadz... Saqira minta waktu. Minta waktu buat berubah. Bukan berubah jadi laki-laki lain. Bukan berubah jadi Ustadz Yusuf yang sorbannya gede. Tapi berubah jadi Saqira yang lebih baik. Saqira yang lebih tanggung jawab. Saqira yang lebih bisa jagain Kirana."
Paman Syarif motong. Kenceng. "Nggak bisa Saqira! Laki-laki seutuhnya itu nggak pake minta waktu! Langsung potong rambut cepak! Buang semua daster! Sholat di saf depan! Itu baru laki-laki! Lu? Lu minta waktu? Alasan!"
Saqira geleng pelan. "Pak Ustadz... kalo Saqira dipaksa potong rambut cepak hari ini... Saqira bisa. Gampang. Gunting 5 menit jadi. Tapi hati Saqira? Hati Saqira nggak bisa dipotong pake gunting Pak. Hati Saqira butuh waktu buat belajar. Belajar jadi laki-laki yang Paman mau. Laki-laki yang tanggung jawab. Bukan laki-laki yang pura-pura."
Paman Syarif diem. Keringat netes.
Saqira lanjut. Suaranya lebih lembut. "Pak Ustadz... Saqira berani janji di sini. Di depan Allah. Di depan santri. Saqira minta Kirana jadi istri Saqira. Bukan karena nafsu Pak. Bukan karena gila sesaat. Tapi karena Saqira siap jagain dia. Saqira tau dia suka mie rebus setengah mateng. Saqira tau dia takut gelap. Saqira tau dia nangis kalo kangen Bapak dan ibunya. Saqira... Saqira hafal dia Pak."
"Dan Saqira janji..." Saqira genggam map plastik. "Janji Saqira bakal bahagiakan dia. Dengan cara Saqira. Cara yang nggak maksa dia berubah. Cara yang nggak maksa Saqira jadi orang lain. Saqira masakin dia. Saqira temenin dia ngaji. Saqira diem aja kalo dia mau cerita. Itu bahagia versi Saqira Pak."
Paman Syarif berdiri. "Bruk". Kursinya bunyi. "Nggak! Nggak bisa Saqira! Kirana itu keponakan Pak Ustadz! Anak yatim! Pak Ustadz walinya! Pak Ustadz nggak akan kasih dia ke waria! Nggak akan!"
Saqira juga berdiri. Pelan. "Kenapa Pak? Karena Saqira waria? Karena Saqira pake kemeja pink? Padahal Ustadz Yusuf yang udah punya 3 istri, Paman mau nikahin Kirana ke dia. Itu lebih baik ya Pak?"
"DIEM LU!" Paman Syarif nunjuk. Tangannya gemeter. "Ustadz Yusuf itu alim! Hafal 30 juz! Sorban gede! Lu apa? Lu waria laknat!"
Saqira diem. Nggak bales nunjuk. Nggak teriak balik. Cuma bisik. "Saqira nggak alim Pak. Saqira nggak hafal 30 juz. Saqira cuma hafal satu ayat: 'Dan bergaullah dengan mereka secara patut'. Itu Pak. Itu yang Saqira pegang."
Paman Syarif mau jawab. Mau ngamuk lagi. Tapi dari dalem... suara sendal "slap slap" kenceng.
Bik Asih muncul. Daster batik, bibir item, kuku merah. Mukanya merah padam. Matanya nyala.
"SAQIRA!!! LU BERANI KE SINI LAGI?!" Teriaknya bikin santri pada kaget. Ngajinya berhenti.
Bik Asih langsung maju. Jarak 1 meter. Bau bedak + keringet + marah. "LU UDAH NGERUSAK RENCANA GUE! LU UDAH NGERUSAK NAMA BAIK KELUARGA! LU UDAH BIKIN KIRANA NGEYEL! SEKARANG LU DATENG MINTA NIKAH?! MUKA LU TEMBOK APA LU?!"
Saqira mundur selangkah. Tapi nggak lari. "Bibi... Saqira dateng baik-baik Bi..."
"BAIK-BAIK KEPALA LU!" Bik Asih ludah ke tanah depan kaki Saqira. "Plak". "LU TUH PENYAKIT! LU TUH LAKNAT! LAKI-LAKI KOK DANDAN! LU TUH YANG BIKIN KIRANA NGGAK MAU NIKAH SAMA USTADZ YUSUF! LU TUH YANG BIKIN GUE MALU KE TETANGGA!"
Saqira gigit bibir. Lipstiknya luntur dikit. "Bibi... Saqira nggak maksa Kirana apa-apa Bi. Saqira cuma... jagain dia Bi."
"DIEM LU!" Bik Asih mau nampar. Tangannya udah keangkat.
Paman Syarif nahan. "Mbak! Jangan! Di depan santri!"
Bik Asih nggak jadi nampar. Tapi mulutnya jalan terus. "GUE KASIH TAU LU SAQIRA! KIRANA NGGAK ADA DI SINI! UDAH GUE KIRIM KE RUMAH SAUDARA LU NGGAK AKAN KETEMU DIA! SAMPE MATI LU NGGAK AKAN KETEMU!"
Saqira diem. Mata nya kosong 2 detik. Terus netes air mata. Satu. Jatuh ke kemeja pinknya. "Bibi bohong Bi... Kirana nggak pergikan dia masih disini Bi... Kirana di..."
"DIEM!" Paman Syarif teriak. "Pak Ustadz bilang Kirana nggak ada di pondok! Titik! Lu pulang Saqira! Pulang! Dan jangan balik lagi!"
Saqira nunduk lagi. 90 derajat. Dalam banget. "Baik Pak Ustadz... Saqira pulang... Tapi Saqira nggak nyerah Pak... Saqira minta waktu... 1 bulan... 2 bulan... 3 bulan... Saqira bakal buktiin Pak... Buktiin Saqira bisa tanggung jawab... Tanpa dipaksa jadi orang lain..."
Saqira angkat kepala. Senyum. Senyumnya miring. Tapi tulus. "Pak Ustadz... Bibi... Saqira tau Paman + Bibi benci Saqira. Saqira tau Paman + Bibi malu sama Saqira. Tapi Saqira sayang Kirana. Sayang yang nggak pake syarat. Sayang yang nggak pake gembok. Sayang yang nggak pake maksa dia nikah sama orang yang dia nggak cinta."
Saqira jalan mundur 3 langkah. Tetep nunduk. "Assalamualaikum Pak Ustadz Bibi... Maaf kalo Saqira ngerepotin..."
Terus Saqira balik badan. Jalan pelan. Sendal swallow "slap slap". Keluar gerbang. Nggak ada yang nyetop. Nggak ada yang nolongin.
Bik Asih teriak dari belakang: "JANGAN BALIK LAGI LU YA! KIRANA UDAH JODOHNYA USTADZ YUSUF! LU CUMA BANCI! LU NGGAK PUNYA MASA DEPAN!"
Saqira nggak nengok. Cuma angkat tangan. Lambaian pelan. Kayak bilang "makasih udah dengerin".
Di surau, santri pada diem. Ada yang ngelus dada. Ada yang bisik: "Mas Saqira keren ya Pak... Nggak ngamuk..." "Iya... Padahal dibentak-bentak..."
Paman Syarif duduk lagi. Lututnya lemes. Bik Asih masih ngomel-ngomel. Tapi suaranya udah nggak sekenceng tadi.
Di gerbang luar, Saqira berhenti. Nengok ke arah surau. Dari jauh. Terus bisik ke diri sendiri. Pelan banget. Cuma angin yang denger.
"Kirana... Mas dateng... Mas nggak jadi orang lain... Mas tetep Mas... Mas pake kemeja pink... Mas pake alis tipis... Tapi janji Mas tetep sama... Mas tanggung jawab... Mas tunggu kamu... Sampai Paman izinin..."
Saqira usap kemeja pinknya yang kena air mata. Terus jalan lagi. "Slap slap". Meninggalin pondok. Meninggalin bentakan. Meninggalin kata "banci laknat".
Tapi ninggalin janji. Janji yang nggak pake gembok. Janji yang nggak pake maksa. Janji laki-laki seutuhnya versi Saqira.
Di langit, awan item tadi udah geser. Matahari mulai nongol. Nyorotin punggung Saqira yang jalan sendirian.
Tenang. Nggak ribut. Nggak ngamuk. Cuma... sedih yang ditahan. Sedih yang dijadiin tenaga.
Karena Saqira baru ngerti... laki-laki seutuhnya bukan yang suaranya paling kenceng. Tapi yang hatinya paling sabar.
...****************...