NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32 Ego

Sukma meluruhkan tubuhnya perlahan. Memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya yang gemetar. Membiarkan air mata menetes membasahi jilbab yang membalut rambut panjangnya.

Di luar, Xavier masih berdiri mematung. Tubuhnya membeku, lidahnya kelu, dan ribuan kata maaf mengendap di tenggorokan.

"Kinan..." panggilnya akhirnya. Suaranya serak, berat, dan penuh beban.

"Maaf."

Hening.

Sunyi.

Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu lagi. "Kinan, beri gue kesempatan. Gue bakal lakuin apa pun yang lo mau buat nebus semua kesalahan."

Tak ada balasan.

Di balik pintu, Sukma menunduk--menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut.

Kedatangan Xavier bagai mimpi buruk yang ingin segera diempas. Sungguh, ia berharap lelaki bejat itu pergi. Menghilang dari hidupnya.

Namun, harapannya bertabrakan dengan gerakan halus di dalam rahimnya. Seolah janin yang masih berusia delapan minggu itu berbisik: "Aku butuh ayah."

Air mata Sukma kian deras. Isaknya tak lagi bisa diredam.

"Diam!" bentaknya, menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Mencoba mengusir bisikan yang semakin jelas terdengar.

"Pergi, Vier!" pintanya, seiring tubuhnya yang berguncang hebat.

Penolakan itu menghunjam jantung Xavier seperti ribuan anak panah. Menorehkan luka tak kasat mata. Menciptakan rasa perih yang menjalar ke relung jiwa.

Xavier hampir goyah, tubuhnya pun serasa ingin menyerah. Namun, Ryuga sigap merengkuh bahunya, menegakkan kembali tubuh kakak iparnya yang nyaris ambruk.

"Lo mesti kuat, Vier. Luluhin hati Sukma. Dapetin maafnya," bisik Ryuga bernada rendah, namun tegas.

Xavier mengangguk samar. Ia memaksa bibir keringnya berucap. "Kinan, maaf. Gue salah. Gue berdosa. Gue mohon... buka pintu. Beri gue kesempatan buat bersimpuh di kaki lo."

Semesta diam.

Angin enggan menjawab. Begitu juga sosok di balik pintu yang masih tenggelam dalam isaknya.

Waktu berlalu tanpa ampun. Semburat jingga di langit perlahan memudar, digantikan oleh kelabu senja yang pekat.

Langit Desa W mulai diselimuti gelap.

Xavier tidak bergeming. Ia tetap berdiri di sana, suaranya yang awalnya lantang mulai parau, lalu melemah menjadi desahan napas berat.

"Kinan... please..."

Suara itu kini hanya seperti bisikan bayu yang bertiup pelan.

Lemah.

Hampir tak terdengar, terkalahkan nyanyian binatang malam.

Di dalam rumah, Sukma menghela napas panjang. Meredam emosi yang menggerogoti jiwa.

Ia perlu ketenangan.

Ia perlu kembali kepada-Nya.

Perlahan, Sukma beranjak dari posisi duduk. Memaksa kakinya yang terasa lunglai melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Setiap tetes air yang mengalir dari keran bukan hanya membersihkan tubuhnya, tapi juga debu amarah, kebencian, kekecewaan, dan dendam yang menempel di hati, meski mungkin hanya sementara.

Tenang, itu yang ia rasa saat ini.

Gema azan Maghrib berkumandang dari pelantang suara masjid Al-Hidayah. Panggilan Ilahi itu menggema indah, menembus keheningan Desa W.

Sukma menutup mata sejenak, membiarkan gema itu meresap ke dalam jiwanya.

Ia mengambil mukena putih dari dalam lemari, lalu mengenakannya dan membentangkan sajadah di sudut kamar.

"Allahu Akbar." Takbiratul ihram terlafaz, sebagai pertanda dimulainya ibadah tiga rakaat.

Dalam setiap gerakan rukuk dan sujudnya, Sukma menyerahkan segala kegundahan hati kepada Sang Pencipta. Meletakkan semua beban dunia, melepas rindu pada Tuhannya.

Tepat saat ia menyelesaikan salam terakhir, terdengar deru mesin motor dari arah luar. Benaknya meyakini jika itu suara motor milik Zahra--mengantar Bi Jayanti pulang dari kediaman bapak kepala desa.

Bersamaan dengan itu, Xavier yang sedari tadi berusaha kuat, akhirnya menyerah. Tubuhnya limbung. Kakinya tak lagi mampu menopang beban rasa bersalah dan kelelahan yang mendera. Ia ambruk. Namun beruntung, Ryuga bergerak cepat menopangnya.

"Mas Xavier?!" teriak Bi Jayanti panik. Ia terkejut melihat pemandangan yang tersuguh di hadapannya sekaligus tak menyangka jika pemuda yang telah menodai sang nona bisa menginjakkan kaki di Desa W.

"Vier! Vier, bangun!" Ryuga mengguncang bahu Xavier, namun tak ada respons. Mata kakak iparnya itu terpejam rapat.

"Haidar! Nara! Cepat bantu!" seru Ryuga.

Keriuhan di depan pintu akhirnya menembus dinding rumah. Sukma mematung, jantungnya berdegup kencang saat mendengar nama Xavier disebut-sebut dengan nada panik.

Naluri kemanusiaannya berontak. Ia tidak bisa membiarkan seseorang--siapa pun itu--menderita di ambang pintunya.

Dengan langkah ragu namun pasti, Sukma berjalan menuju pintu depan.

Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kian menjadi.

Pintu terbuka lebar. Pemandangan di hadapannya membuat napasnya seketika tercekat.

Xavier terbaring tak sadarkan diri dalam dekapan Ryuga. Lelaki berparas rupawan itu, yang dulu selalu ia puja, kini terlihat begitu rapuh dan tak berdaya.

"Vier..." panggil Sukma, tersirat kekhawatiran dari nada suaranya yang terdengar bergetar.

"Bangun," pintanya lirih. Tangannya terulur ragu, hendak menyentuh bahu Xavier, namun terhenti di udara.

Xavier masih terpejam.

Ia bergeming.

Tak sedikit pun menunjukkan respon, sehingga membuat orang-orang di sekelilingnya dihinggapi rasa khawatir, terlebih Ryuga. Sebab ia memikul amanah yang diberikan oleh kedua mertuanya, papa dan mama Xavier.

"Sukma, gue izin bawa Xavier ke dalam," ujar Ryuga. Matanya menatap Sukma dengan tatapan penuh harap.

Sukma menelan ludah. Pandangannya tertuju pada wajah Xavier yang tampak pucat pasi.

Setelah berpikir dan menimbang sejenak, ia mengangguk pelan, mempersilakan Ryuga. Ego-nya runtuh seketika terkalahkan rasa iba.

Dengan bantuan Haidar, Ryuga mengangkat tubuh Xavier yang lemas. Mereka membawanya masuk dengan hati-hati, lalu merebahkannya di atas dipan kayu jati tua yang berada di ruang tamu.

"Mbak Sukma, Zahra panggilkan Oma Kirana ya. Beliau pasti bisa membantu menyadarkan Mas-nya dengan penanganan medis," ucap Zahra cepat, turut prihatin melihat kondisi Xavier.

Lagi, Sukma hanya mengangguk. Mengamini ucapan Zahra tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Kakinya terasa seperti tertanam di lantai, tak mampu bergerak menjauh maupun mendekat.

Selepas Zahra beranjak pergi dengan langkah tergesa, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu, hanya terdengar suara napas Xavier yang berat.

Sukma bergegas membuka kotak P3K yang tergantung di dinding dekat rak buku. Tangannya gemetar saat mengambil botol kecil berisi minyak kayu putih.

Ia berjalan mendekati dipan, lalu menyerahkan botol itu pada Ryuga yang sedang duduk di tepi dipan--memegang pergelangan tangan Xavier untuk mengecek denyut nadi.

"Coba beri ini. Gosok di dadanya, biar napasnya lega," instruksinya singkat.

Ryuga menerima botol itu, lalu segera mengoleskan minyak ke dada Xavier, mengusapnya dengan gerakan memutar.

Sukma mundur selangkah, menciptakan jarak aman antara dirinya dan lelaki yang pernah menjadi pusat dunianya--Xavier Narendra Aditama.

Sekelebat bayangan adegan di malam kelam itu kembali hadir, mengikiskan rasa iba dan menghadirkan kembali kebencian yang sempat menguap.

"Begitu dia sadar, tolong segera bawa dia pergi. Dan jangan pernah lagi menginjakkan kaki di desa ini."

Mati-matian Sukma menekan gejolak rasa yang memenuhi rongga dada. Rasa sakit, rasa rindu, kebencian, dan amarah bercampur aduk menjadi satu simpul yang menyesakkan.

Ryuga menghentikan usapan tangannya. Ia menatap Sukma lekat-lekat, lalu mengembuskan napas pelan.

"Gue nggak bisa janji," jawab Ryuga jujur, suaranya rendah namun tegas. "Karena Vier nggak akan berhenti sampai lo benar-benar maafin dia. Dan gue... nggak akan ninggalin dia sendirian dalam perjuangan ini."

Sukma terpaku. Kata-kata Ryuga seperti tamparan halus yang menyadarkannya bahwa kegigihan Xavier untuk mendapatkan maaf darinya tidak akan berhenti di detik ini. Justru, ini baru permulaan perjuangan bagi Sang Narendra.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Najwa Aini
sini..aku peluk..mbak Raina...
Najwa Aini
Dan putranya mengulang dosa yg sama. Tapi untungnya..sapir punya inisiatif utk bertanggung jawab lbh awal
Najwa Aini
Jangan sampai Sukma nanti seperti Larasati..
Najwa Aini
Sukma kekeuh ingin melupakan. ia juga bertahan agar tdak merasa iba, apalagi tersentuh dengn ketulusan sapir..

intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..

pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
Najwa Aini
Yahh..aku mikir gimana cara nyampein salamnya ya...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Ayuwidia: Sebelum ngomong, mampir dulu ke warung soto Pak Muh, Kak. Habis itu baru nyampein salamnya si comel
total 1 replies
Najwa Aini
Nahhh...👍👍👍...
Aku suka ini Sapirr
Nofi Kahza
Woah..teges banget Lo, Pir. tapi gpp. gue dukung. semakin cepat semakin bagus😌😌
Nofi Kahza
omelete plus mayones. Ya Ampun laper aku jadinua/Hunger//Hunger/
Ayuwidia: Gassss bikin 😀
total 1 replies
Nofi Kahza
ish! si Nofi, Lo usil banget jadi cewek. Anak siapa sih?🫣🫣
Ayuwidia: Anak mami 😆
total 1 replies
Queen tie
namanya jg novel,,, kalau direal kehdpnan, sdh pasti Suksma mau dinikahi, lagian jg semua dr awal kesalahan dr kakaknya berimbas keadik, kita ikuti terus pantenginnnnn, semangat2 buat vier sj dah,, si Nyai mah bnrnya nau, cuma trs inget diperkaos,, lagian si ustaz kyk nda ada wanita baik saliha lain🤭😄
Ayuwidia: Woah, makasih Kak 😄
total 1 replies
Nofi Kahza
jaga hati agar tak berpaling dari Sapir kan maksudnya??🤭🤭
Nofi Kahza
kayak nggak rela kalau Xavier harus pulang. kan jadi jauh dengan Sukma..🥹
Najwa Aini
loh..kok disuruh baca istighfar.
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
Nofi Kahza
ini mah paling kesukaan Kirana, atau kesukaan othornya juga🤣🤣
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Nofi Kahza
ciee.. cieee.... udah sayang sayang ajanih si Sapir🤭
Najwa Aini
Udah paten nih ya, Sukma dipanggil Nyai
Najwa Aini
Lumayan lah. dari pada gak sama sekali...🤣
Nofi Kahza
aku baru aja ke Gugel, tanya arti hamba yang papa. Baru tau aku🫣
Nofi Kahza
nah, bentar lagi habis ini jadi imam sholat Sukma ya, Pir...
sekarang kau dh nggk benci lho ma kamu🤭
Najwa Aini
Aku semangatin dari jauh ya Pirr...🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!