NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Flesdik:

Malam itu Arka masih lembur di kantor. Sementara itu, Liana memutuskan pergi sendiri ke minimarket dekat apartemen buat beli kebutuhan perempuan.

Jam sudah menunjukkan setengah 7 malam. Jalanan mulai sepi.

Liana berjalan cepat. Di ujung jalan menuju minimarket ada pohon besar yang rimbun, bikin suasana jadi gelap meski lampu jalan menyala.

Langkahnya terhenti sedetik.

Ada yang ngawasin gue.

Perasaan itu datang tiba-tiba. Rasanya ada sepasang mata di belakang punggungnya.

Ia nggak berani menoleh.

Liana terus jalan, pura-pura tenang, padahal jantungnya berdebar kencang.

Sampai di depan minimarket, ia langsung masuk.

Nafasnya baru agak lega setelah pintu kaca tertutup di belakangnya.

Ia buru-buru ambil semua yang perlu, bayar, lalu keluar.

Di perjalanan pulang, perasaan diawasi itu datang lagi.

Lebih kuat.

Liana mempercepat langkah. Begitu sampai di lobi apartemen, ia langsung masuk lift tanpa menoleh.

Begitu pintu unit terbuka, ia mengunci pintu cepat-cepat dan menyandarkan punggungnya ke sana.

Tangannya masih gemetar.

Ia duduk di sofa ruang tamu, berusaha menenangkan diri.

Tapi belum 5 menit duduk, tiba-tiba...

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu.

Liana berdiri, jantungnya nyaris copot. Ia membuka pintu perlahan.

Kosong.

Nggak ada siapa-siapa di luar.

Yang ada hanya sepucuk surat putih yang tergeletak di lantai, tanpa nama pengirim.

Dengan tangan gemetar, Liana memungutnya.

Ia membawa surat itu masuk, menutup pintu rapat-rapat, lalu duduk di lantai ruang tamu.

Jari-jarinya ragu membuka lipatan kertas itu.

Cahaya pagi masuk lewat celah gorden tipis.

Liana duduk di tepi sofa, kedua tangan masih memegang surat putih itu seperti takut jatuh lagi. Matanya sembab, jelas belum tidur nyenyak.

Arka baru keluar dari kamar. Begitu lihat wajah Liana, ia langsung dan duduk di depannya.

Arka:

“Kamu nggak tidur semalaman?”

Suara Arka pelan, tapi ada cemasnya.

Liana:

“Nggak bisa merem, Ka. Tadi malam ada yang ngikutin aku dari minimarket. Pas sampai di depan pintu, ada ketukan… terus ada surat ini.”

Ia mengulurkan surat itu, tangannya masih gemetar.

Arka menerima suratnya hati-hati, seolah takut isinya bisa meledak. Ia buka pelan.

Di dalam cuma satu lembar kertas, tulisannya diketik semua pakai huruf kapital, nggak ada tanda tangan.

Isi Surat:

KALAU MAU BUKTI TENTANG AYAH MU LIANA,

CARI FLASHDISK DI RUANG KERJA WIJAYA GROUP.

YANG PALING BANYAK BUKTI ADA DI KELUARGA WIJAYA.

JANGAN PERCAYA SEMUA ORANG DI SEKITAR KAMU.

MEREKA LEBIH PINTAR BERSANDIWARA DARI YANG KAMU KIRA.

Arka terdiam beberapa detik setelah baca. Rahangnya mengeras.

Arka:

“Ini… ancaman? Atau bantuan?”

Liana:

“Aku nggak tahu, Ka. Tapi kok rasanya kayak orang itu tahu semua yang kita lakuin? Dia tahu aku lagi cari bukti buat Ayah.”

Arka:

“Yang bikin aku nggak tenang itu kalimat terakhir. ‘Jangan percaya semua orang di sekitar kamu.’”

Ia menatap Liana dalam-dalam. “Kamu curiga sama siapa?”

Liana:

Aku nggak tahu, pikiranku jadi samburawut .”

Arka:

“Justru karena terlalu baik, makanya kita harus hati-hati. Orang yang mau nyakitin kita biasanya nggak datang bawa pisau. Mereka datang bawa senyum.”

Liana menghela napas panjang, lalu menunduk.

Liana:

“Jadi maksud surat ini, bukti tentang Ayah ada di kantor Wijaya Group? Di ruang kerja Hendra?”

Arka:

“Iya. Dan kalau bener, itu bahaya banget. Masuk ke sana sekarang sama aja bunuh diri. Keamanan mereka ketat, apalagi setelah live kemarin.”

Liana:

“Tapi kalau kita nggak ambil, kita nggak punya bukti tambahan. Yang kita punya sekarang cuma rekaman Ayah dan data yang Maya pegang. Kalau Hendra nyewa pengacara jago, dia bisa bilang itu rekayasa.”

Arka berdiri, jalan mondar-mandir di ruang tamu.

Arka:

“Aku ngerti kamu mau cepet nyelesaiin ini buat Ayah. Tapi Liana, kita nggak bisa gegabah. Kalau kita ketahuan, kita nggak cuma kehilangan bukti. Kita kehilangan nyawa.”

Liana:

“Lalu kita harus nunggu sampai kapan, Ka? Nunggu Hendra kabur lagi? Nunggu dia Suap hakim lagi?”

Suara Liana mulai meninggi, bukan marah ke Arka, tapi ke situasi.

Arka berhenti, lalu jongkok di depan Liana biar sejajar matanya.

Arka:

“Aku nggak minta kamu nunggu. Aku minta kita main lebih pinter. Surat ini datangnya aneh, waktunya pas banget setelah live. Bisa jadi ini jebakan biar kita masuk ke sarangnya.”

Liana:

“Atau bisa jadi ini orang dalam yang mau nolong kita tapi takut ketahuan.”

Arka terdiam. Kata-kata Liana masuk akal.

Arka:

“Kalau memang orang dalam, kenapa nggak ketemu langsung? Kenapa harus ninggalin surat tengah malam kayak gini?”

Liana:

“Mungkin dia takut. Mungkin dia nggak punya pilihan lain.”

Hening beberapa detik. Cuma suara kipas angin yang berputar pelan.

Arka:

“Oke. Gini. Kita nggak akan langsung nyelonong ke Wijaya Group. Aku bakal minta Reza cek dulu, siapa yang punya akses ke ruang kerja Hendra. Kalau ada celah, kita masuk. Kalau nggak ada, kita cari cara lain.”

Liana:

“Dan kalau surat ini beneran jebakan?”

Arka:

“Berarti kita udah siap. Kita nggak sendirian, Lia. Kali ini kita main aman.”

Liana mengangguk pelan. Ia tarik napas dalam-dalam, lalu menyerahkan surat itu ke Arka lagi.

Liana:

“Simpan aja, Ka. Biar nggak hilang. Aku takut kalau aku pegang terus, aku jadi kepikiran buat ke sana malam ini juga.”

Arka tersenyum kecil, lalu melipat surat itu dan memasukkannya ke dompet.

Arka:

“Tenang. Kita selesaikan ini bareng-bareng. Kayak janji aku dulu.”

Liana mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca lagi.

Liana:

“Makasih ya, Ka. Kalau nggak ada kamu, aku udah nyerah dari minggu lalu.”

Arka:

“Nggak ada kata nyerah buat kita. Apalagi buat Ayah kamu.”

Arka berdiri dan mengusap kepala Liana pelan, seperti ngusap adik kecil.

Arka:

“Sekarang kamu mandi, sarapan. Aku telpon Reza. Hari ini kita rapat darurat.”

Liana mengangguk pelan, tapi sebelum masuk kamar, ia berhenti dan berbisik:

Liana:

“Ka… kalau ternyata yang ngirim surat ini orang dari keluarga Wijaya sendiri, gimana?”

Arka menatapnya serius.

Arka:

“Berarti kita udah punya sekutu di dalam sarang. Dan itu lebih berbahaya… sekaligus lebih berharga.”

Bersambung....

🙏🙏🤗

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!