Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Tangga Langit
Matahari pagi baru saja mengintip di ufuk timur, menyinari embun yang masih menempel di gubuk reyot keluarga Xiao. Xiao Chen berdiri di ambang pintu, ransel kain kecil tersampir di bahunya.
"Ibu... dalam beberapa hari ke depan, aku akan pergi. Aku akan mendaftar menjadi murid Sekte Pedang Langit. Aku... aku memohon restumu."
Lin Ya, yang sedang duduk membelakangi pintu, tidak bergerak. Bahunya tampak kaku. Ia tidak memberikan jawaban, tidak pula menoleh.
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan itu sampai Xiao Chen akhirnya berbalik dan melangkah keluar untuk berlatih terakhir kalinya.
Begitu pintu tertutup, Lin Ya membuka matanya yang sembab. Ia tahu anaknya bukan lagi anak kecil yang bisa ia kurung dalam penderitaan desa ini. Ada api di mata Xiao Chen yang tidak bisa dipadamkan oleh siapa pun.
Hari keberangkatan tiba. Desa Bambu hiruk-pikuk. Kereta-kereta kuda mewah milik keluarga kaya berbaris di jalan utama.
Anak-anak sebaya Xiao Chen tampak gagah dengan pakaian sutra, membawa pedang-pedang bersarung permata, diiringi tangis haru dan sorak-sorai keluarga mereka.
Xiao Chen berdiri di depan rumahnya sendiri. Sepi. Tidak ada lambaian tangan, tidak ada pelukan.
"Mungkin Ibu masih tidur," bisiknya menghibur diri, meski hatinya terasa seperti diremas.
Ia mulai melangkah. Di tengah desa, kontras itu semakin menyakitkan. Ia berjalan dengan pakaian lusuh yang dipenuhi tambalan, sementara di sampingnya, seorang anak bangsawan lewat dengan kereta yang dikawal sepuluh prajurit. Dunia memang tidak pernah adil, dan Xiao Chen mempelajarinya sejak ia bisa merangkak.
Namun, saat ia mencapai gerbang desa, sebuah suara yang terengah-engah menghentikan langkahnya.
"Xiao! Tunggu!"
Xiao Chen menoleh. Ibunya, Lin Ya, berlari ke arahnya dengan napas tersengal. Wajahnya yang tanpa riasan tampak pucat, namun matanya memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia menyodorkan bungkusan kain lusuh ke dada Xiao Chen.
"Ambil ini. Ada beberapa koin perak... cukup untuk sebulan. Ada roti kering dan bekal," ucap Lin Ya cepat, suaranya gemetar karena menahan rasa bersalah yang menggunung.
Tangan Xiao Chen bergetar saat menerima bungkusan itu. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah. "T-terima kasih... Ibu."
Lin Ya memalingkan wajah, mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kalau kau berhasil keluar dari desa ini... jangan pernah kembali. Lupakan tempat busuk ini."
Xiao Chen tertegun. Ia melihat bahu ibunya sedikit bergetar. Ia tahu, itu bukan pengusiran, melainkan harapan terakhir seorang ibu agar anaknya tidak tertular kutukan kemiskinan desa ini.
"Tidak!" jawab Xiao Chen dengan tekad baja. "Aku akan kembali. Aku akan sukses agar Ibu bisa berhenti melakukan pekerjaan itu. Aku berjanji!"
Ia berbalik, mengusap wajahnya kasar, dan melangkah keluar gerbang tanpa menoleh lagi. Di kejauhan, ia mendengar teriakan kasar ayahnya, Xiao Feng, yang berdiri di depan tempat judi.
"Kalau kau gagal, jangan malu-malu untuk pulang dan mati di sini!" teriak ayahnya. Meski terdengar kejam, Xiao Chen bisa merasakan gema keputusasaan ayahnya yang teringat akan kegagalan masa mudanya sendiri.
Perjalanan mendaki gunung itu menyiksa paruh pertama harinya. Namun, saat ia mencapai lereng yang lebih tinggi, Xiao Chen berhenti. Ia menoleh ke kanan dan matanya membelalak.
Di bawah sana, sebuah kota besar membentang luas, jauh lebih megah dari desa mana pun yang pernah ia bayangkan.
Dan di langit biru, ia melihat sebuah titik hitam yang bergerak cepat, seorang pendekar yang terbang di atas sebilah pedang, membelah awan dengan anggun.
"Dunia ternyata... jauh lebih besar dari Desa Bambu," gumamnya penuh kekaguman.
Setengah hari kemudian, ia tiba di pelataran puncak. Ribuan peserta sudah berkumpul di sana. Xiao Chen merasa seperti butiran debu di tengah lautan manusia.
"Ck, lihat kain lap yang berjalan itu," ejek seorang anak bangsawan bersarung pedang emas saat melihat pakaian Xiao Chen. "Orang miskin sepertimu hanya akan mengotori tangga suci sekte."
Xiao Chen terdiam, namun seorang anak laki-laki gemuk di sampingnya tiba-tiba menyodorkan sebuah bakpao hangat. "Hei, Bung. Mau?"
Xiao Chen ragu. "Untukku?"
"Ambil saja. Anggap saja kita teman seperjuangan. Aku Bao Hu. Di desaku, mereka memanggilku 'Babi'."
Xiao Chen tersenyum kecil, merasa sedikit hangat di tengah kedinginan tatapan orang lain. "Aku Xiao Chen. Dan... kurasa itu julukan yang sedikit kasar bagi teman."
"Hahaha! Tidak apa-apa, yang penting aku bisa makan!" jawab Bao Hu riang.
Ketenangan itu hancur saat sebuah suara yang sangat dikenal Xiao Chen terdengar.
"Oh, lihat siapa yang datang? Si anak pelacur desa ternyata punya nyali juga."
Feng Lin berdiri di sana, dikelilingi pengawal pribadinya. Ia memamerkan lencana rekomendasi yang dibeli ayahnya dengan harga selangit. Orang-orang di sekitar mulai berbisik sinis, menatap Xiao Chen dengan jijik.
"Anak pelacur? Hina sekali."
"Bagaimana sampah seperti dia bisa sampai ke sini?"
Telinga Xiao Chen memanas. Amarah mulai membakar dadanya. Roh Pedang di dalam dirinya berbisik, memprovokasi agar ia mengeluarkan pedang hitamnya dan menebas lidah mereka semua. Namun, Xiao Chen teringat puisi penyair yang pernah lewat di desanya.
"Diam itu emas dalam amarah, menata hati yang sempat goyah..."
Xiao Chen menarik napas dalam. Ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mendongak dan menatap mata Feng Lin dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam, hingga Feng Lin yang secara teknis lebih kuat darinya terpaksa membuang muka karena merasa terancam secara naluriah.
Tiba-tiba, gemuruh hebat mengguncang puncak gunung. Kabut tebal yang menutupi puncak tiba-tiba terbelah, menyingkap pemandangan yang tak masuk akal.
Ribuan tangan batu raksasa mencuat dari tebing, menopang tangga-tangga marmer yang melayang di antara awan.
Air terjun mengalir terbalik menuju langit, dan ribuan pedang bercahaya melayang-layang seperti burung.
Seorang pria tua dengan jubah putih bersih muncul, berdiri tegak di atas sebilah pedang raksasa yang memancarkan aura luar biasa.
"Selamat datang, para pencari jalan," suara Tetua Sekte itu menggelegar, namun terasa menekan dada setiap orang di sana. "Ujian pertama dimulai sekarang. Daki Tangga Langit ini. Hanya mereka yang berhasil bertahan di atas anak tangga sampai matahari terbenam yang boleh lanjut ke tahap berikutnya."
BUM!
Tetua itu melepaskan tekanan spiritualnya (Intimidasi Qi). Seketika, udara terasa seberat timah.
Anak-anak yang tidak memiliki tekad kuat langsung jatuh pingsan dengan mulut berbusa. Peserta dari keluarga kaya mulai menggunakan jimat perlindungan untuk menahan beban tersebut.
Xiao Chen menggertakkan giginya hingga berdarah. Beban itu terasa seperti gunung yang diletakkan di atas bahunya.
Pedang hitam di dalam dirinya bergetar, seolah memberikan dorongan energi gelap untuk melawan tekanan suci tersebut.
"Satu langkah... hanya satu langkah lagi..."
Xiao Chen mengangkat kakinya yang gemetar, mendaratkannya di anak tangga pertama.
Inilah awal dari perjalanannya yang sesungguhnya.
Dunia mungkin tidak adil, tetapi di atas Tangga Langit ini, hanya tekad dan penderitaan yang akan menentukan siapa yang akan menjadi legenda.