NovelToon NovelToon
Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Ellin Puspita

Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandaran yang Selalu Ada

......................

Dokter meminta penjelasan kenapa Laura bisa kesakitan diperutnya lalu Arka menjelaskan bahwa Laura terjatuh.

Dokter menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Arka.

"Saya mengerti."

Arka terlihat semakin tegang.

"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?"

Dokter tidak langsung menjawab.

Ia kembali melihat hasil pemeriksaan di tangannya.

Beberapa detik kemudian ia meletakkan berkas tersebut di atas meja.

"Syukurlah, untuk saat ini janin masih baik-baik saja."

Arka dan Laura langsung mengembuskan napas lega, Mereka saling menatap muka.

Namun dokter kembali melanjutkan.

"Tapi saya menemukan kontraksi ringan pada rahim akibat benturan dan tekanan emosional yang cukup besar."

Wajah Laura langsung berubah.

"Maksud dokter?"

"Kehamilan ibu masih sangat muda, baru sekitar empat minggu. Pada usia kandungan seperti ini, kondisi janin masih rentan."

Jantung Arka kembali berdebar.

"Apakah bayi kami dalam bahaya?"

"Untuk saat ini tidak."

Jawaban dokter membuat mereka sedikit tenang.

"Tetapi ibu harus benar-benar beristirahat. Hindari stres, pertengkaran, dan aktivitas berat."

Laura menundukkan kepalanya.

Sementara Arka mengepalkan tangannya.

Pikirannya langsung kembali pada kejadian di rumah.

"Jika kondisi seperti tadi terulang lagi, risikonya bisa lebih besar."

Ruangan itu mendadak hening.

Laura tanpa sadar mengusap perutnya.

Meskipun belum terlihat perubahan apa pun, di sana ada kehidupan kecil yang sedang bertumbuh.

Dan ia tidak ingin kehilangan bayi itu.

Dokter kemudian memberikan resep vitamin serta beberapa anjuran yang harus dipatuhi.

"Kalau muncul pendarahan, nyeri yang semakin hebat, atau keluhan lain, segera kembali ke rumah sakit."

"Baik, Dok."

Arka menjawab dengan serius.

Setelah konsultasi selesai, mereka keluar dari ruang dokter.

Di luar, Rohaya dan Arman langsung berdiri.

"Bagaimana?" tanya Rohaya cemas.

Laura tersenyum kecil.

"Bayi kami baik-baik saja."

Mata Rohaya langsung berkaca-kaca.

"Alhamdulillah."

Namun senyum itu tidak bertahan lama saat Arka melanjutkan.

"Tapi dokter bilang kondisi Laura harus dijaga. Dia nggak boleh stres."

Arka menatap ayah dan ibunya.

Tatapannya menunjukkan bahwa ia masih memikirkan kejadian tadi.

Rohaya langsung mengerti maksudnya.

---

Sementara di rumah, tanpa diketahui siapa pun, Bela sedang merencanakan sesuatu bersama Cia dan juga Sinta

Bela menatap kedua wanita itu dengan penuh rasa penasaran.

"Apa maksud Tante tadi?" tanyanya.

Sinta melirik Cia sebelum kembali menatap Bela.

"Kamu bilang ingin ibumu kembali memihakmu, kan?"

Bela mengangguk.

lalu Sinta membuat rencana.

"Rohaya mungkin sudah memaafkan Laura sekarang. Tapi trauma seseorang tidak hilang begitu saja."

"Kita hanya perlu mengingatkannya."

"Begitu dia melihat Laura dekat dengan pria lain, dia akan mulai berpikir lagi."

"Dan saat keraguan itu muncul, hubungan mereka akan retak dengan sendirinya."

Sinta tersenyum tipis.

Bela mengernyit.

"Maksud Tante?"

Kali ini Cia yang menjawab.

"Kami akan membuat Rohaya melihat sesuatu yang membuatnya kembali curiga pada Laura."

Bela mulai memperhatikan dengan serius.

"Bagaimana caranya?"

Cia kemudian menjelaskan rencananya.

Mereka akan mencari kesempatan saat Laura berada di luar rumah.

Lalu seorang pria akan berpura-pura mendekati Laura dan mengajaknya berbicara.

Tidak lebih dari itu.

Cukup terlihat akrab dari sudut tertentu.

Sementara itu, Cia akan mengambil beberapa foto dari kejauhan.

Foto-foto yang jika dilihat sekilas bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Mata Bela perlahan membesar.

"Kalian mau menjebak Laura?"

"Menjebak terlalu kasar," jawab Sinta santai.

"Kami hanya membantu Rohaya melihat sesuatu."

"Dan kalau ibu percaya?" tanya Bela

"Tergantung bagaimana Laura menjelaskan dirinya."

Ruangan itu hening.

Bela menundukkan kepala.

Ada bagian dalam dirinya yang tahu bahwa rencana itu salah.

Namun saat mengingat bagaimana Rohaya memeluk Laura beberapa hari lalu, semua keraguannya perlahan menghilang.

"Aku setuju."

Senyum Cia langsung mengembang.

Sinta lalu berdiri dari kursinya.

"Kalau begitu sekarang kita hanya perlu menunggu kesempatan."

Bela menatap ke luar jendela.

Di wajahnya perlahan muncul senyum tipis.

Ia membayangkan Rohaya kembali marah pada Laura.

Ia membayangkan Laura kehilangan kepercayaan keluarga itu.

Namun tanpa disadari Bela, rencana yang terlihat sederhana itu justru akan membawa masalah yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Setelah mereka merencanakan sesuatu, suara mobil arka terdengar dari depan rumah. Dan mobil itu memasuki gerbang rumahnya

Sinta, Cia dan Bela menoleh kearah luar lalu berjalan keluar untuk melihat kearah mobil itu

Arka, Laura serta Arman dan Rohaya pun turun dari mobil. Mereka melihat kearah Cia dan Sinta yang masih berada dirumahnya

Lalu mereka pun berjalan mendekati Sinta dan Cia

"kenapa kalian masih ada disini? Sudah tau pemilik rumah sedang pergi bukannya pulang malah tetap disini!" ucap Arman dengan ketus

"jangan sok ketus gitu Arman, dulu bagaimana saat kamu meninggalkan istri kamu demi aku itu" Sinta tertawa kecil sambil melipatkan tangannya

"cukup ya jangan bahas masalalu!" bentak Arman

Arka dan Laura terlihat tidak nyaman dengan kejadian itu.

"Tante, maaf tapi ini bukan waktu yang tepat. istri saya baru pulang dari rumah sakit tolong jangan cari keributan" pinta Arka dengan pelan takut kata-katanya menyakiti orang lain

"saya tidak akan kesini kalau ayah kamu menepati janjinya untuk segera mengakui dan menafkahi kami!" bentak Sinta didepan Arka

Rohaya yang sudah hilang kesabarannya, melihat anaknya dibentak itu ia langsung mendorong Sinta.

"anak saya bilang baik-baik ya kenapa kamu terus ngotot? Dengar ya Arman akan segera menepati janjinya tapi ini bukan waktu yang tepat!"

Arka pun memegang pundak Laura dan mengajak nya untuk pergi ke kamar meninggalkan pertengkaran itu.

Setelah mereka menaiki tangga dan memasuki kamar, Arka meminta agar Laura tidak memikirkan hal apapun untuk sekarang ini.

Laura terdiam diatas kasur dengan memegang boneka kesukaannya sambil menatap kearah jendela.

Ia berharap semua masalah dirumah ini akan segera selesai.

Tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan dibawah, Laura melihat Sinta dan Cia sudah keluar dari rumah itu.

Ia menghela napas sambil memejamkan matanya dengan pelan lalu ia pun memilih untuk tidur

Sementara Arka sedang mengambil minum didapur untuk Laura dan saat ia kembali menuju kamarnya melihat Laura sudah tertidur nyenyak diatas kasur.

Kehangatan itu seketika berubah jadi remang malam yang membawa dingin. Siang berganti menjadi kegelapan yang sunyi.

Saat itu, Laura sedang tertidur karena kelelahan hebat akibat awal kehamilannya. Di usia kandungan yang baru menginjak empat minggu, tubuhnya sering kali terasa sangat ringkih, membuatnya terkapar lelap bahkan sebelum malam benar-benar datang.

Namun tidur lelap itu harus terputus. Laura mendadak terjaga saat lambungnya mendadak bergejolak hebat. Sambil menahan rasa mual yang mendesak di hulu hati, ia buru-buru menyibak selimut dan bergegas ke kamar mandi.

Arka yang sejak tadi duduk berjaga di sisi ranjang melihat hal itu, lalu langsung menyusul Laura yang berjalan limbung menuju kamar mandi. Ia dengan cekatan memijat tengkuk istrinya, mencoba meredakan rasa tidak nyaman yang menyiksa itu.

Bersambung....

ada apa kira-kira dengan Laura?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!