"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Tuan Faruq sakit
Bab 26— tuan Faruq sakit
Zayn membungkam mulut Varisha.
Varisha berusaha memberontak.
"Akan aku laporkan semuanya pada Ayah dan ibu." ancam Varisha.
Zayn mendengus, "bocah tengil ini sudah berani melawan rupanya."
"Apa loe gak peduli dengan ayah dan ibu?"
Perkataan Zayn membuat hati Varisha jadi bimbang.
'Itu hanya gertakan saja Varisha.' ucap Varisha dalam hati sembari menatap sepasang mata yang menatap dirinya remeh.
"Aku tak peduli." balas Varisha.
"Oh ya? Lakukan itu setelah loe tidur dengan gue." balas Zayn ingin kembali meraih bibirnya.
Varisha mencoba menahan dada Zayn dengan kedua tangannya.
"TIDAK AKAN!" teriak Varisha.
"Zayn Varisha!" suara panggilan seseorang yang cukup familiar sekali.
Suara nyonya lestari.
nyonya lestari yang melihat posisi Zayn yang berada diatas tubuh Varisha langsung tersipu malu dan canggung.
"Maaf ibu ganggu kalian. Tapi ini begitu mendesak sekali. Ayah pingsan." ujar nyonya lestari terburu-buru sekaligus malu melihat Zayn dan Varisha yang berada diatas ranjang.
"APA?!" kaget Varisha dan Zayn bersamaan.
•••
Suasana rumah sakit nampak begitu lenggang hari ini. Namun, di UGD para dokter dan perawat terlihat buru-buru. tuan faruq baru saja tiba di UGD dalam kondisi memprihatinkan, dengan selang infus serta alat bantu napas yang sudah tertancap di hidungnya.
Kini, mereka bertiga harus menunggu kabar dari Dokter.
Varisha yang sedang duduk nampak cemas sekali.
Hingga seorang Dokter pun menghampiri mereka.
"Tuan Faruq harus langsung segera di operasi. Kami harus segera memasang ring di jantungnya..."
Mereka bertiga mendengarkan penjelasan sang dokter dengan seksama.
"Lakukan yang terbaik, dok." kata Zayn.
"Kami akan berusaha." ujar sang dokter yang kemudian beranjak pamit masuk kembali.
"Aya~" lirih nyonya lestari sembari memeluk Varisha.
"Sabar ibu, ayah tidak akan kenapa-kenapa..." balas Varisha menenangkan mertuanya.
Ia sedikit melirik ke arah Zayn yang ternyata menatapnya tanpa bergeming. Buru-buru Varisha langsung menunduk.
•••
Beberapa jam kemudian
Operasi tuan faruq berjalan dengan lancar. Kini, beliau sudah dipindahkan ke ruangan kamar inap. Namun, ia masih belum sadar.
Varisha sudah tidur terlelap di sofa.
Sedangkan Zayn masih sibuk dengan ponselnya.
nyonya lestari melihat ada bekas merah di leher Varisha, saat jilbab wanita itu tersilap.
"Bermainlah yang lembut..." ujar nyonya lestari memeluk pundak Zayn pelan.
Zayn melirik ke arah sang ibu.
Ia nampak bingung dengan ucapan tersebut.
"Tuh!" tunjuk nyonya lestari melihat bekas merah yang terlihat jelas di area leher milik Varisha.
"Aku—"
"Ibu senang akhirnya kamu mau membuka hati untuk Varisha." nyonya lestari tersenyum dan matanya kini menatap Varisha.
"Dia adalah wanita yang baik, Zayn."
Zayn juga menatap Varisha yang tertidur dengan posisi terduduk di sofa. Terlihat sekali wajah kelelahan itu di sana.
"Kalian pulang saja, biar ibu yang akan menjaga ayah."
"Tapi—"
"Gendong saja dia, jangan dibangunkan. Pasti di kelelahan sekali. Sudah berapa sering kau melakukan hal itu padanya, hmm?" nyonya lestari mulai menggoda putranya.
Wajah Zayn spontan langsung bersemu merah.
"Aku akan membawanya pulang."
Zayn langsung berdiri dan mengendong tubuh Varisha cepat. Tak lupa ia juga merapikan jilbab sang istri.
‘Istri, ya?’ batin Zayn melirik sebentar ke wajah Varisha yang masih memejamkan mata.
•••
Beruntung suasana rumah sakit di tengah malam ini begitu sepi.
Varisha nampak menggeliat sedikit. Ia spontan langsung memeluk erat leher Zayn.
Ia masih tertidur.
Hembusan napas Varisha begitu terasa sekali di leher Zayn.
Deg!
Zayn langsung menurunkan tubuh Varisha dengan paksa.
Varisha langsung bangun kaget dan terduduk di lantai.
"Dimana ini?" bingung Varisha.
"Heh pincang! Cepat bangkit atau gue tinggal loe disini!" ketus Zayn sembari melempar tongkat di samping Varisha.
Varisha terkejut.
"Tunggu mas Zayn!" panggil Varisha langsung buru-buru bangkit.
•••
Hingga mereka pun tiba di area parkiran.
Varisha menatap jam yang sudah pukul 10 malam.
Zayn langsung masuk ke dalam mobil.
Namun ia heran melihat Varisha masih berdiri di luar.
"Loe mau masuk atau nggak?" bentak Zayn.
"Aku akan pulang dengan naik taksi saja." ujar Varisha.
Zayn tersenyum menyeringai.
"Baguslah, kalau itu kemauan loe. Gue juga tak sudi duduk dengan perempuan pincang kayak loe ini."
Zayn langsung meninggalkan Varisha begitu saja.
Varisha hanya bisa menatap getir mobil mewah berwarna hitam mengkilap tersebut.
•••
Di sepanjang lorong menuju kamar hotel, Varisha merasa kepalanya terasa pusing sekali.
Ia segera membuka pintu kamar hotel tersebut.
Dan ia begitu kaget mendapati sepasang manusia sedang bermesraan di atas ranjang.
Siapa lagi kalau bukan Zayn dan adinda.
Zayn yang sedang mencumbu adinda dengan begitu mesranya.
adinda yang melihat Varisha berdiri dengan wajah murka, semakin membalas kedekatan itu.
"Cepatlah, Zayn~" lirih adinda.
"KALIAN BERDUA BRENGSEK!" teriak Varisha.
Zayn sontak sadar.
Varisha langsung memukul punggung Zayn dengan membabi buta.
"Kamu pria brengsek, mas!! Setidaknya jangan lakukan di hadapanku!"
Zayn bangkit dan menatap Varisha.
"Dan kamu perempuan murahan! Kemarin loe bersama dengan pria lain, sekarang dengan Zayn!" teriak Varisha sembari menjambak rambut adinda.
"Jangan sentuh pacar gue, pincang!" Zayn menarik ujung jilbab Varisha.
"Aku sudah tak peduli lagi. Pokoknya aku akan mengurus surat cerai kita!"
Wajah adinda langsung tersenyum senang mendengar hal tersebut.
"adinda sayang, kamu pulanglah. Aku akan membuat perhitungan dulu dengan wanita menyebalkan ini." ujar Zayn lembut.
"Baik, sayang." Adinda langsung bangkit dengan melirik sinis pada Varisha.
Dada Varisha naik turun menahan kesal melihat kelakuakn mereka berdua. Mereka tidak melakukan hal lebih, tapi berciuman mesra di hadapannya?
Kini tinggallah hanya Zayn dan Varisha di dalam kamar tersebut.
Varisha berusaha menjauh.
Zayn menahan tubuh Varisha.
"Loe pikir gue akan ngelepasin gitu aja ha? Tidak akan pernah, Varisha."
"Ya, aku memang bekas orang lain. Kenapa kami tidak lepaskan aku saja!" kesal Varisha.
Namun, saat Zayn mendekat. Ia semakin panik dan takut.
'kamu mau apa, mas?' batin Varisha pedih.
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya