Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon dari asisten Kael
Malam harinya. Di rumah kayu itu suasana begitu menyesakkan, padahal belum lama mereka bahagia karena kemenangan Kai, akan tetapi semenjak kejadian sore tadi suasana mendadak menyesakkan.
Sementara di dalam kamar. Bocah itu sudah tertidur pulas sambil memegangi tropi kecil yang didapat sebagai simbol kemenangannya, nampaknya anak itu begitu bahagia. Berbeda dengan para ibu yang ada di ruang tamu mereka saling diam. Hingga akhirnya Rina memberanikan untuk membuka suara.
"Lena? Ternyata sponsor besar acara ini Ardion Group," ujar Rina yang jenang baru menyadari saat pria itu naik diatas panggung.
Alena hanya terdiam sambil memejamkan matanya, wanita itu tidak tahu harus berbuat apa saat sesuatu yang ia hindari justru datang tiba-tiba.
"Aku tidak mau pria itu menyentuh anakku Rin, aku gak mau," sahut Alena kekeh.
Senna yang baru mendengar cerita itu langsung angkat suara seolah tidak terima. "Gak akan ada seseorang yang bisa ngambil Kai dari kita sekaligus orang itu punya kuasa."
Rina menghela napas kecil, Kai tidak sekecil yang ada di pikiran Senna, dia adalah pria yang paling ditakuti. "Tidak semudah itu Senna."
"Apanya yang tidak mudah! Pokoknya aku tidak mau pria tadi mengusik ketenangan Kai dan Alena," ucap Senna dengan lantang.
Sementara Anne mulai menepuk lengan Senna agar wanita itu diam. "Sudah Bu Senna kita dengar dulu pendapat dari Alena dan Rina."
Rina terdiam beberapa saat. Tatapannya perlahan jatuh pada pintu kamar Kai yang tertutup rapat. Suasana rumah kayu itu terasa semakin sunyi. Hanya suara debur ombak malam yang terdengar samar dari kejauhan.
“Aku kenal pria itu…” ucap Rina akhirnya pelan.
Seketika Senna dan Anne langsung menoleh bersamaan. Alena sendiri perlahan mengangkat wajahnya.
Rina menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Dulu… waktu aku masih baru kerja di club malam, nama Kael Ardion itu sudah sering terdengar.”
“Dia bukan orang biasa.”
Nada suara Rina terdengar serius. Bahkan untuk pertama kalinya wanita itu terlihat benar-benar berhati-hati saat membicarakan seseorang.
“Banyak orang bilang… dia bisa menghancurkan hidup seseorang cuma dalam semalam.”
Deg.
Senna langsung mengernyit tidak suka. “Lebay.”
“Aku serius,” potong Rina cepat. “Orang-orang besar takut sama dia. Bahkan polisi sekalipun nggak sembarangan nyentuh urusan Ardion Group.”
Suasana kembali hening. Angin malam yang masuk dari sela jendela membuat lampu rumah sedikit bergoyang. Alena menunduk pelan. Jemarinya saling meremas kuat di atas pangkuan.
“Dulu…” suaranya mulai bergetar kecil. “Aku pikir delapan tahun cukup buat menghilang.”
“Tapi ternyata dia masih nyari aku…”
Kalimat itu sukses membuat dada ketiga sahabatnya terasa sesak. Karena selama ini mereka tahu Alena hidup setenang mungkin. Menjauh dari kota besar. Menyembunyikan Kai. Bahkan berusaha hidup sederhana agar tidak menarik perhatian siapa pun.
Namun sekarang… Pria itu datang sendiri ke kota kecil ini. Dan lebih mengerikannya lagi—Kael sudah melihat Kai secara langsung.
“Dia belum tahu Kai anaknya kan?” tanya Anne pelan.
Alena langsung menggeleng cepat. “Belum.”
“Tapi…” napasnya mulai tidak teratur. “Tatapan dia ke Kai tadi… aku takut.”
Rina perlahan menggigit bibirnya sendiri. Karena jujur saja… ia juga melihat bagaimana Kael memperhatikan Kai di arena festival tadi.
Bukan seperti orang asing. Tatapan itu terlalu dalam, penuh rasa penasaran. Dan itu berbahaya.
“Aku takut dia mulai curiga,” gumam Rina lirih.
“Curiga apa?” Senna langsung menyahut cepat. “Kai itu anak kita!”
“Senna…” Anne kembali menahan sahabatnya.
Namun Senna justru berdiri dengan emosi yang mulai naik.
“Aku nggak peduli dia siapa! Mafia kek, pengusaha kek, monster kek! Pokoknya Kai nggak boleh diambil!”
Suara wanita itu terdengar lantang sampai membuat suasana semakin emosional.
Sementara Alena hanya diam. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.bKarena jauh di dalam hatinya… ia tahu satu hal.
Jika Kael benar-benar mulai mencari kebenaran, maka pria itu tidak akan berhenti begitu saja.
Dan tepat di saat suasana rumah itu dipenuhi kecemasan—
Brzzzttt…
Ponsel Rina tiba-tiba bergetar di atas meja. Wanita itu langsung menoleh. Nomor tidak dikenal. Entah kenapa… dadanya mendadak terasa tidak enak.
“Siapa malam-malam begini?” gumam Senna.
Rina perlahan mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
Beberapa detik kemudian— Wajah Rina langsung berubah pucat.bTatapannya perlahan terangkat menatap Alena dengan napas tertahan.
“Maaf mengganggu malam-malam.”
Suara pria asing terdengar tenang dari seberang sana.
“Saya Edgar… asisten pribadi Tuan Kael Ardion.”
Deg.
Seketika suasana rumah kayu itu langsung berubah dingin, baru saja mereka membicarakan tentang mereka, tapi detik berikutnya telepon itu benar-benar nyata, apalagi dulu Rina perna menjadi saksi saat anak buah Kael datang mencari Alena ke kostnya.
Demi melindungi Alena ia berbohong jika wanita itu sudah pergi jauh, sam sekarang Kael malah melihat dirinya di festival itu bersama dengan Alena untuk menyemangati anaknya.
Bersambung....