NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:328.4k
Nilai: 5
Nama Author: RR Maesa

Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.

Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.

Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.

Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).

Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?

*****

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH-29 Anak ayam

Agatha merenung di dalam kamarnya, dia masih bingung menghadapi kenyataan hidupnya, gagal menikah dengan Jonathan dan harus menikah dengan Vincent, pria yang tidak disukainya.

Sekarang calon suaminya itu sedang tidur di sofa ruang tamu. Apa yang harus dilakukannya? Sebenarnya malas bertemu pria playboy itu, tapi bagaimana cara mengusirnya? Semoga dia pulang besok. Maksud dirinya ke perkebunan kan ingin sendiri menenangkan hati kenapa malah diikuti si playboy itu?

***********

Keesokan harinya, terdengar suara induk ayam dan anak-anaknya di bawah jendela. Vincent menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal karena tidur di sofa tidak memberikan kebebasan tubuhnya bergerak. Kembali cicit cicit suara induk ayam dan anaknya semakin berisik.

Diapun bangun, membukakan matanya, dilihatnya dia menggunakan selimut tebal, diapun tersenyum, ternyata Agatha perhatian juga, membuatnya merasa senang.

Terdengar lagi cicit cicit ayam semakin dekat. Vincent melihat kearah jendela yang ada diatas tempatnya berbaring, ternyata tidak ada ayam disitu.

Diapun bangun dan mengengarkan suara cicit ayam itu semakin jelas, diapun membuka pintu rumah, ternyata benar ada induk ayam dan anak-anak ayamnya yang berbulu kuning begitu banyak di depan pintu.

“Hus hus,” usir Vincent, jangan sampai ayam itu masuk. Karena pintu terlanjur terbuka, anak-anak ayam itu malah masuk ke dalam rumah, Vincent mencoba mengeluarkan anak ayam itu dari dalam rumah.

“Hus hus,” usirnya.

Agatha sudah berdandan rapih saat keluar dari kamarnya, diapun menuju ruang tamu, dia ingin melihat apakah Vincent sudah bangun atau belum.

“Kau sudah bangun?” tanya Agatha menghampiri Vincent. Entah sedang apa pria itu menengok nengok ke pojok kursi dan lemari.

“Ada apa?” tanya Agatha sambil berjalan mendekati Vincent dan ikut melihat apa yang Vincent lihat dipojok kursi.

“Anak ayam!” jawab Vincent. Tiba-tiba Agatha berteriak.

“Mana anak ayamnya?” teriaknya. Tiba-tiba si anak ayam yang ada dipojokkan kursi melintas berlari-lari mencari induknya.

Tiba-tiba Agatha berteriak lagi, saat anak ayam itu melintas dikakinya, dengan spontan dia memeluk Vincent, menjerit histeris tidak jelas, sambil menyembunyikan wajahnya ke bahu Vincent

“Anak-anak ayam!” teriaknya sambil beridik.

“Iya itu anak ayam sedang mencari induknya,” jawab Vincent.

Ciak Ciak Ciak Ciak anak ayam yang dibawah lemaripun pada ribut mencari induknya berlari kesana kemari sambil berbunyi ciak ciak ciak ciak.

Agatha masih terus berteriak histeris sambil memeluk Vincent dengan kuat dan masih menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu.

Vincent terdiam sejenak, dia kaget Agatha tiba-tiba memeluknya seperti itu dan menjerit-jerit karena anak ayam.

“Aku takut anak ayam!” teriak Agatha. Barulah Vincent mengerti. Tangan Kirinya memeluk pinggangnya Agatha, tangan kanannya membuka pintu lebar-lebar.

“Ayam, ayam, ini anakmu,” kata Vincnet pada induk ayam yang diluar pintu.

“Bukan begitu mengusirnya!” teriak Agatha. Vincent berfikir lagi, bagaimana cara membuat anak ayam itu supaya keluar. Dia juga tidak pernah mengurusi ayam.

“Hus hus, itu ibumu, hus, keluar keluar,” kata Vincent pada anak ayam yang terus berbunyi ciak ciak ciak sambil berlarian kesana kemari dan tiba-tiba menginjak kakinya Agatha. Gadis itu berteriak lagi lebih keras.

“Menginjak kakiku!” teriaknya semakin mempererat pelukannya dan bergidik-gidik.

“Aku tidak menginjak kakimu,” ucap Vincent.

“Anak ayam menginjak kakiku!” teriak Agatha. Barulah Vincent mengerti, dia pun tersenyum.

“Induk ayamnya mau kemari,” ucapnya. Agatha masih menyembunyika wajahnya ke bahunya Vincent.

Saat Vincent akan membungkuk, lagi-lagi Agatha berteriak lagi.

“Kau mau apa?” tanya Agatha dengan panik.

“Mau menangkap anak ayam,” jawab Vincent.

“Jangan! Hiii,” teriak Agatha sambil bergidik.

Vincent sampai kebingung cara mengeluarkan anak ayamnya bagaimana, dipeluk erat seperti ini, bergerak saja tidak boleh.

“Ibu ayam, ibu ayam, kemari kemari, ini anakmu,” ucapnya pada induk ayam.

“Hus hus hus,” Vincent mengusir anak ayam dengan kibasan tangan kanannya, tangan kirinya masih memeluk punggungnya Agatha.

Induk ayam itu yang mendengar bunyi cit cit anak-anaknya dari dalam rumah, segera berlari menuju pintu, si anak-anak ayam yang melihat induk ayamnya mendekat, segera berlarian keluar bersama induknya.

“Hus hush us,” usir Vincent pada ayam-ayam itu, akhirnya induk ayam dan anak-anak ayamnya itu keluar dari teras lalu mengais ngais tanah di halaman. Kini ruanganpun menjadi sepi.

Vincent melirik gadis itu yang masih memeluknya. Hanya sebuah pelukan tidak sengaja itu membuat hatinya senang, meskipun bukan pelukan tanda cinta, itu cukup membuatnya bahagia. Tangan kanannya akan menyentuh rambutnya Agatha tapi tiba-tiba Agatha bicara.

“Anak ayamnya sudah pergi?” tanya Agatha, masih bersembunyi di bahunya Vincent.

“Sudah,” jawab Vincent, sebenarnya dia ingin bilang belum supaya Agatha terus memeluknya, tapi kan tidak mungkin karena suara anak-anak ayam itu sudah hilang.

Agatha perlahan mengangkat wajahnya, dia langsung menoleh ke bawah, melirik kiri kanan dan ke kakinya, ternyata sudah tidak ada anak ayam. Hatinyapun merasa lega. Dia menarik nafas panjang, kemudian menatap wajahnya Vincent, dia merenung sebentar, kenapa wajah pria itu begitu dekat dengannya? Vincentpun menatapnya tidak berkedip. Dipeluk seperti ini oleh gadis yang disukainya, membuatnya tegang dan gugup. Ditatapnya wajah cantik Agatha. Wajah paling cantik diantara wanita-wanita cantik, dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Agatha.

Sejenak mereka saling tatap, tiba-tiba Agatha tersadar setelah ingatannya kemabli kumpul, anak-anak ayam itu sudah pergi, ternyata dia sedang memaluk Vincent. Diapun terkejut dan melepas pelukannya langsung mundur menjauh dari Vincent, wajahnya langsung memerah.

“Maaf,” ucapnya, merasa malu dan bingung, kenapa dia harus memeluk pria itu, memimpikannya juga tidak.

“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Vincent, hatinya kecewa, pelukan itu berakhir.

“Aku takut anak ayam,” ucap Agatha.

“Ya tidak apa-apa,” ucap Vincent. Di dalam hatinya dia berfikir akan membuat kandang ayam di rumahnya sepertinya ide yang bagus, biar Agatha selalu dekat dengannya. Kalau Agatha sedang marah-marah, beri saja anak ayam, pasti akan langsung memeluknya. Diapun tersenyum membayangkannya.

Agatha merapihkan rambut dan bajunya yang agak berantakan.

“Kau sudah cantik mau kemana?” tanya Vincent, baru menyadari kalau Agatha sudah rapih pagi ini.

“Aku akan ke pabrik, menemui Uncle Ryan,” jawab Agatha.

“Aku ikut ya, tapi aku haurs mandi dulu,” ucap Vincent.

“Kau kan harus pulang, kau tidak bisa tinggal disini,” kata Agatha.

“Cantik, dengarkan aku,” ucap Vincent menatap Agatha.

“Aku tidak akan pulang ke London kalau tidak bersamamu, aku harus membawamu ke London, kita akan menikah,” kata Vincent.

“Kau pulang saja dulu, aku ke London kalau mendekati hari H,” jawab Agatha.

“Baik kalau begitu aku juga akan ke London mendekati hari H,” kata Vincent.

“Tidak bisa begitu!” sanggah Agatha.

“Kenapa tidak bisa?” tanya Vincent.

“Tidak bisa,”  Agatha menggeleng.

“Bisa.”

“Tidak.”

“Bisa!” kata Vincent bersikeras.

“Aku tidak mau ambil resiko kau tidak datang dihari pernikahan kita,” lanjutnya, membuat Agatha diam, Vincentpun diam.

“Bi! Bi!” teriak Vincent.

Bi Ijah segera menghampiri mereka ke ruang tamu.

“Di mana kamarnya? Aku mau mandi,” ucap Vincent pada BI Ijah.

“Disini Mr, mari,” jawab Bi IJah, Vincnet lansgung mengituti Bi Ijah menuju karma tamu yangs sudah disiapkan Bi Ijah.

Agatha duduk di sofa dengan kesal. Rasanya begitu sulit membayangkan menikah dengan Vincent, harus bersama-sama dengan pria tengil itu.

Tidak berapa lama Bi Ijah datang ke ruang tamu.

“Non, mau sarapan sekarang?” tanya Bi Ijah.

“Tidak Bi, aku mau langsung ke pabrik,”jawab Agatha

“Sayang, aku sudah siap, ayo kita berangkat,” terdengar suara Vincent masuk ke ruang tamu. Agatha dan Bi Ijah menoleh kearah suara.  Bi Ijah yang melihat Vincent datang langsung saja ribut.

“Non, calon suami non sangat tampan,” ucap Bi Ijah tidak henti-hentinya bicara begitu.

Agatha menatap Vincent, benar kata Bi Ijah, Vincent menggunakan kemeja kotak kotak dengan garis warna biru tua dan biru muda yang digulung sampai siku, dia terlihat lebih tampan, warna biru itu membuat wajahnya terlihat lebih cerah.

“Terimakasih Bibi, tapi aku heran kenapa calon istriku tidak memujiku?” ucap Vincent.

“Non memujinya dalam hati, Mr!” jawab Bi Ijah bisa saja, sambil tertawa dan meninggalkan ruangan itu.

“Apaan sih Bi!” umpat Agatha.

“Ayo sayang, kita berangkat,” ajak Vincent.

“Sudah aku bilang jangan memanggilku sayang,” keluh Agatha. Tapi Vincent tidak mendengarnya, dia malah mengulurkan tangannya pada Agatha.

“Apa itu?” tanya Agatha, melihat tangan Vincent.

“Ayo,” ajak Vincent.

Agatha tidak menjawab, dia mengabaikan tangannya Vincent, dan segera keluar. Vincent hanya menghela nafas panjang. Dia harus bersabar menghadapi sikap acuhnya Agatha.

Saat sampai dihalaman, Vincent mengulurkan tangannya lagi.

“Apa lagi?” tanya Agatha dengan kesal. Dia fikir Vincent ingin memegang tangannya lagi.

“Kunci mobil, aku yang nyetir,” jawab Vincent, menatap gadis itu.

Agatha memberikan kunci mobil itu. Kini Vincent yang mengendarai mobilnya. Merkapunmelaju menuju pabrik teh.

Sesampainya di pabrik teh, dihalaman mereka bertemu dengan Ryan, adiknya Elsa.

“Sayang, kapan kau tiba?” tanya Ryan saat melihat Agatha yang keluar dari mobil.

“Dua hari yang lalu. Aku minta maaf belum sempat menemuimu,” ucap Agatha.

“Ya tidak apa-apa. Ada apa kau kemari bukankah kau akan menikah di London?” tanya Ryan.

“Aku hanya ada keperluan sedikit,” jawab Agatha.

Ryan menoleh pada Vincent yang menghampiri mereka setelah mamarkir mobilnya.

“Kau pasti Jonathan kan? Benar kata Mommymu kalau calon-calon menantunya sangta tampan,” kata Ryan, tersenyum ramah pada Vincent dan merekapun bersalaman.

Agatha akan bicara tapi didahului oleh Vincent.

“Aku bukan Jonathan, aku Vincent, aku yang akan menikah dengan Agatha,” jawab Vincent membuat Agatha kaget, kenapa Vincent menjawab seketus itu. Vincent kesal karena dia dikira Jonathan.

Ryan tampak bingung.

“Iya Uncle, ini Vincent, calon suamiku sekarang,” jawab Agatha.

“Aku tahunya kau akan menikah dengan Jonathan,” kata Ryan.

“Tidak uncle, Jonathan yang akan menikah dengan Amanda,” ucap Agatha.

Ryan terkejut mendengarnya, dia menatap Agatha, dia melihat raut wajah sedih gadis itu. Diapun berfikir sepertinya telah terjadi sesuatu di London.

“Semoga pernikahan kalian lancar dan kalian bahagia selalu,” ucap Ryan, sambil meraih bahunya Agatha.

Vincent tampak memasang wajah kecewa, dia tidak mau disebut Jonathan, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, keluarga besarnya Agtaha pasti tahunya calon Agatha adalah Jonathan.

“Kau mau melihat-lihat pabrik? Ayo kebetulan uncle juga akan berkeliling,” kata Ryan. Agatha mengangguk dan tersenyum. Vincent tidak bicara apa-apa, dia cemberut saja, sambil mengikuti langkah pamannya Agatha.

Saat melihat-lihat pabrik, Agatha berbicara dengan pamannya banyak hal tentang teh.

“Kau kan belum bekerja sama sekali, jadi kau tidak tahu persis seperti apa prosesnya,” kata Ryan.

“Daddy meminta kami untuk mengurus perusahaannya di ibukota,”kata Agatha. Edward memang menginginkan putra putrinya mengurus perusahaannya daripada harus mengurus perkebunan milik keluarga Elsa.

“Ya uncle mengerti, Karena hanya Richard saja yang mengurusi perusahaan Daddymu. Carrie membantu suaminya dan Mac juga mengurus perusahaan ayahnya,” ucap Ryan.

Selama melihat lihat pabrik, banyak pekerja wanita yang jadi sibuk bergosip, meerka menebak nebak siapa pria tampan yang bersama bos mereka.

“Kau lihat, pria itu sangat tampan, siapa dia? Mungkin tim audit dari luar negeri.” Terdengar bisik-bisik seorang wanita, saat mereka menghentikan langkahnya ketika Ryan menunjukan barang barang yang akan di packing.

“Uh tampannya,” ucap yang lainnya. Tidak berhenti begitu saja masih banyak lagi obrolan yang lainnya dan mulai terdengar cekakak cekikik.

Vincent yang mendengar ribut-ribut para pekerja yang kabanyakan masih muda itu, melihat kearah mereka, membuat mereka terkejut. Vincent langsung saja tersenyum pada mereka, seperti yang biasa dia lakukan pada karyawan karyawannya.

“Selamat bekerja,” ucap Vincent.

Agatha melirik pada calon suaminya itu, kepalanya langsung pusing saja melihat Vincent ramah pada gadis gadis itu, tapi dia tidak bicara apa-apa, dia mendengarkan penjelasan dari pamannya.

Setelah cukup lama mendengarkan pembicaraan dari pamannya, Agatha menoleh ke sampingnya, ternyata Vincent tidak ada. Diapun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata pria itu sedang berbincang dengan gadis gadis yang tadi ribut berbisik-bisik itu membuat Agatha sebal saja.

Vincent sedang memegang teh yang sudah dikemas sambil bertanya –tanya, tentu saja gadis gadis itu dengan senang hati menjawab pertanyaannya, sambil dengan tebar teba pesona, Agatha semakin ilfeel saja melihatnya. Ryan menoleh juga kearah Vincent.

“Sayang, ayo kita lihat hasil kemasannnya seperti apa,” kata Ryan, mengajak Agatha menuju tempat Vincent berdiri. Agathapun mengikutinya.

Vincent menoleh pada paman Ryan lalu pada Agatha yang tampak tidak suka dengan sikapnya. Dia langsung meraih pinggangnya Agatha yang hampir saja berteriak karena kaget.

“Ini calon istriku, kami akan segera menikah, hanya tinggal menunggu hari saja,” ucap Vincent tiba-tiba, membuat gadis-gadis pekerja itu terkejut dan menghentikan bercandanya. Agatha lebih terkejut lagi, dia fikir Vincet benar-benar tebar pesona pada gadis gadis itu.

Gadis gadis pekerja itu tersenyum dan mengangguk pada Agatha, mereka merasa tidak enak sudah menggoda goda Vincent. Agatha hanya tersenyum saja pada mereka.

“Ayo kita lihat bagian yang lain,” ajak Ryan.

Agatha dan Vincent megikutinya. Kini Vincent berganti menggandeng tangannya.

“Seharusnya dari tadi seperti ini jadi tidak akan ada yang menggodaku,” bisiknya ke telinga Agatha, gadis itu segera menjauhkan kepalanya.

“Modus,” ucapnya sambil mencoba melepaskan tangannya tapi Vincent malah memegangnya lebih erat.

Ryan menoleh pada mereka karena mendengar ribut-ribut. Agathapun tersenyum pada pamannya, dan akhrinya membicarakan Vincent memegang tangannya sambil mengikuti langkah pamannya.

************

1
Pasikah CwElosbes
cerita yg bagus ga terllu berbelit Belit
Yasinta Nuriyati
1 vote & ☕
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
Yasinta Nuriyati
Kakak author sambil nunggu karya terbarunya..baca2 cerita yang ini sangat bagus juga.. Terima kasih Kakak author karyanya sangat menghibur 🤗😘
Intan Khairani AM
😍
Intan Khairani AM
😍😍😗😗
benar....lebih baik dicintai dari pada mencintai....kita sekalu merasa dijadikan ratu....karena dalam dunia nyata...aq sudah merradasakan sendiri....
ayudisa
bagusss🥰🥰🥰
AsriMaria
Alur ceritanya bagus, konflik dan penyelesaiannya bagus tidak terlalu panjang tapi mampu menggambar kan cerita dengan baikr dan happy ending. Tata bahasanya juga baik.
AsriMaria
astaga.....msh ada stok spti vincent gak thor...dilemparlah ksni 😂😂😂...ayo Agatha...km sdh liat ksesriusan vincent
AsriMaria
astaga.....msh ada stok spti vincent gak thor...dilemparlah ksni 😂😂😂...ayo Agatha...km sdh liat ksesriusan vincent
AsriMaria
senyum2 sndiri baca ceritamu thor...gokil...😂😂😂😂
Soraya
slmt y Vincent 👍
Soraya
keren 👍
Soraya
permisi numpang duduk dl ya bru singgah👍
Ratna Sari Dewi
🤣🤣🤣
Meimawati
Q puas baca karyamu thoor.,.
tatik mufidah
pdhl bagus loo ini novelnya, yg like kok cmn dikit ya, blm tau mampir sini kayak e
tatik mufidah
wuahaha, kerjakeras vincent
Patrish
lebih indah dicintai..
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤
Patrish
aduh Vincent.... 🙈🙈😩😩😩😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!