Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pelarian di Bawah Es
Gemuruh air laut yang membanjiri dok bawah tanah terdengar seperti raungan monster yang kelaparan. Gelombang air berwarna hitam pekat, membawa suhu beku Samudra Arktik, menghantam dinding gua berbatu dan memercikkan buih-buih es yang tajam.
"Tahan pegangan kalian!" teriak Xander mengalahkan suara bising air bah. Tangannya mencengkeram erat pinggang Alana saat jembatan besi yang mereka pijak mulai bergoyang liar.
Dua komando Pasukan Bayangan yang berada di barisan terdepan melompat ke atas lambung licin Leviathan. Dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh prajurit terlatih, salah satu dari mereka memutar roda engkol mekanik pada palka kapal selam. Karat tipis di engselnya rontok seketika.
Pshhh!
Segel kedap udara terbuka, memuntahkan kabut hidrolik ke udara.
"Masuk! Masuk sekarang!" komando prajurit itu, menahan pintu palka yang berat.
Prajurit lainnya dengan sigap menurunkan Dante yang setengah sadar ke dalam perut kapal. Alana menyusul, dibantu oleh dorongan tangan Xander dari belakang. Begitu ujung sepatu bot Alana menyentuh lantai logam kapal selam, sebuah gelombang besar kembali menghantam jembatan gantung di luar, mematahkan penyangganya hingga hancur berkeping-keping.
"Xander!" jerit Alana dari dalam palka.
Jembatan itu runtuh, tetapi Xander telah lebih dulu melentingkan tubuh besarnya melintasi celah udara. Ia mendarat dengan lututnya di atas lambung kapal selam tepat saat air bah mulai menelan geladak luar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, sang dewa perang meluncur masuk ke dalam palka dan menarik roda kemudi baja dari dalam, menguncinya rapat-rapat bersamaan dengan air es yang menerjang di atas kepala mereka.
Klang! Sshhhh!
Kabin kapal selam itu seketika hening, menyisakan suara deru napas mereka yang terengah-engah dan tetesan air dari mantel yang basah kuyup.
Tanpa membiarkan adrenalinnya turun, Xander langsung melangkah menuju ruang kendali utama di bagian depan lambung. Ruangan sempit itu dipenuhi oleh panel-panel layar sentuh modern yang masih gelap. Ia membuka sebuah kotak logam di bawah kemudi, menarik tuas merah, dan memindai telapak tangannya di atas layar biometrik.
“Otorisasi Leonidas diterima. Sistem utama Leviathan, diaktifkan.” Lampu LED kebiruan seketika menerangi seluruh ruangan. Layar sonar dan radar menyala secara serentak, disusul oleh dengungan mesin reaktor nuklir berskala mikro yang menjadi jantung dari kapal selam siluman tersebut.
"Tuan Besar, dok ini akan runtuh sepenuhnya dalam hitungan detik. Tekanan air di atas kita meningkat drastis!" lapor salah satu prajurit yang kini telah mengambil alih kursi kopilot.
Di layar sonar, terlihat bongkahan-bongkahan batu raksasa mulai berjatuhan dari langit-langit gua.
"Isi tangki pemberat. Penyelaman darurat, sudut empat puluh lima derajat. Kita keluar dari terowongan utama," perintah Xander absolut. Tangannya mencengkeram kemudi dengan tatapan membunuh.
Leviathan bergetar hebat saat tangki airnya terisi penuh. Kapal selam berwarna hitam pekat itu menukik tajam ke bawah air, menembus pusaran arus yang mengerikan. Di luar kaca tebal ruang kemudi, Alana bisa melihat bongkahan batu es raksasa berjatuhan dan menghantam dasar dok, nyaris meremukkan ekor kapal mereka.
Dengan manuver yang sangat presisi, Xander menavigasi kapal selam itu melewati lorong bawah laut yang sempit. Lampu sorot depan Leviathan membelah kegelapan pekat perairan Arktik. Sesaat kemudian, mereka melesat keluar dari tebing bawah laut. Di belakang mereka, pangkalan kapal selam Soviet itu hancur berantakan, terkubur selamanya di bawah reruntuhan es dan jutaan ton air laut.
Mereka telah lolos. Mereka kini berada di lautan lepas, melayang dalam keheningan mutlak dasar Laut Laptev.
Alana menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya, membiarkan tubuhnya merosot ke kursi navigator. Jantungnya masih berdegup kencang, namun rasa aman perlahan merayapi dadanya.
Di sudut ruangan, seorang prajurit sedang memberikan suntikan pereda nyeri dan membalut tulang rusuk Dante yang retak. Tangan kanan Xander itu bersandar dengan mata tertutup, napasnya kini jauh lebih teratur.
Xander melepaskan kemudi otomatis, lalu berjalan mendekati istrinya. Ia menunduk, menangkup wajah Alana yang pucat dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap lembut pipi wanita itu.
"Kau luar biasa hari ini, Nyonya Leonidas," bisik Xander, suaranya berat dan penuh dengan kebanggaan yang mendalam. "Kau menembak prajurit itu tanpa ragu."
Alana tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam mata obsidian suaminya. "Aku belajar dari yang terbaik."
Xander membalas senyuman itu dengan sebuah seringai tipis yang mematikan. Ia lalu berbalik menuju panel komunikasi.
"Volkov mengira dia telah menenggelamkan kita bersama masa lalu," ucap Xander, suaranya kini mengeras, memancarkan aura seorang raja mafia yang siap membalas dendam. "Aktifkan komunikasi kuantum. Hubungi Elena di Pulau Hantu. Perburuan ini baru saja berbalik arah."
(Bersambung...)