Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Melapor
Maya mendarat dengan susah payah di tanah halaman belakang. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, rasa nyeri di kepalanya langsung menyerang lebih kuat.
“Ugh...”
Tangannya refleks menekan pelipis yang terluka. Darah memang tidak lagi mengalir deras, tetapi benturan tadi jelas bukan benturan ringan.
Meski begitu, Maya tidak berhenti. Dia tahu satu hal. Kalau tetap berada di rumah itu, dia justru memberi kesempatan kepada Jamie dan keluarganya untuk mengendalikan situasi.
Malam masih gelap ketika Maya menyelinap keluar melalui pagar belakang. Beruntung, tidak ada satpam ataupun tetangga yang melihat keadaannya.
Langkahnya sedikit sempoyongan. Namun pikirannya justru terasa sangat jernih. Sepanjang perjalanan, kata-kata Maya asli terus terngiang di kepalanya.
“Hiduplah dengan bahagia.”
Kalimat yang sederhana. Tetapi terasa asing baginya..Dulu, saat masih menjadi Priska, hidupnya dipenuhi kekerasan dan pengkhianatan..Setelah berada di tubuh Maya, yang ditemuinya juga tidak jauh berbeda. Seakan dunia memang tidak pernah memberinya kesempatan untuk hidup tenang.
“Nyusahin aja,” gumam Maya. Meski begitu, sudut bibirnya terangkat tipis. Entah kenapa dia ingin mencoba. Setidaknya sekali.
Karena itu, langkahnya tidak menuju rumah Bobby. Tidak juga menuju tempat persembunyian. Melainkan menuju kantor polisi terdekat.
Sekitar empat puluh menit kemudian. Seorang polisi yang sedang berjaga malam terkejut ketika melihat seorang gadis masuk ke kantor dengan kondisi berantakan. Rambut acak-acakan. Wajah pucat, pelipis terluka dan pakaian yang dipenuhi debu.
“Nak, kamu baik-baik saja?”
Maya langsung duduk di kursi terdekat. “Enggak.”
Polisi itu langsung memanggil rekannya. Beberapa menit kemudian Maya sudah berada di ruang pemeriksaan kecil.
Seorang polisi wanita memberikan air minum.
“Tenang dulu. Ceritakan pelan-pelan.”
Maya memandang gelas di tangannya beberapa detik. Lalu berkata datar.
“Saya dikurung di gudang.”
Polisi itu langsung menegakkan badan. “Apa?”
“Saya juga didorong sampai kepala saya terbentur.”
Ruangan mendadak sunyi. Maya lalu mulai menceritakan semuanya. Tentang perlakuan Norma. Tentang Jamie. Tentang ancaman yang dia dengar melalui alat penyadap. Serta laporan sebelumnya tentang Jamie yang belum di proses. Mengingat kantor polisi yang didatanginya sekarang berbeda dari sebelumnya.
Semakin lama cerita berlangsung, ekspresi para polisi semakin serius. Karena ini bukan lagi sekadar pertengkaran keluarga. Ini sudah mengarah pada tindak pidana serius. Salah satu polisi bahkan langsung mencatat setiap detail yang diberikan Maya.
“Setelah Anda pingsan, mereka mengurung Anda di gudang?”
“Iya.”
“Dan tidak membawa Anda ke rumah sakit?”
“Iya.”
“Apakah ada saksi?”
“Mira.”
“Siapa Mira?”
“Pacar Jamie.”
Maya lalu menjelaskan siapa Mira dan apa yang terjadi sebelum dirinya didorong. Para polisi saling pandang. Situasinya semakin jelas.
“Baik,” kata salah satu polisi akhirnya.
“Kami akan menindaklanjuti laporan ini.”
Maya mengangguk. “Terima kasih.”
“Sekarang kami perlu membawa Anda ke rumah sakit dulu.”
“Boleh.”
Kali ini Maya tidak membantah. Karena kepalanya memang terasa semakin berat.
Sementara itu, keadaan di rumah, suasana sudah kembali tenang. Setelah berjam-jam diliputi kepanikan, akhirnya semua orang memilih beristirahat.
Norma tidak bisa tidur dengan nyenyak. Namun tubuhnya terlalu lelah. Ziva bahkan tertidur sambil menangis. Mira diberikan kamar tamu. Sedangkan Jamie mengunci diri di kamar. Meski begitu, tidak satu pun dari mereka benar-benar tenang. Mereka hanya berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja saat pagi tiba.
Sekitar pukul tiga dini hari, suara bel rumah berbunyi keras.
Ting tong.
Ting tong.
Ting tong.
Norma yang tertidur langsung terbangun. “Ada apa ini...?”
Bel kembali berbunyi. Kali ini lebih keras. Disusul ketukan yang membuat jantungnya langsung berdebar.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
“Buka pintunya!”
Suara tegas dari luar membuat Norma langsung pucat. Perasaan buruk menyerangnya seketika. Dia bergegas turun ke lantai bawah.
Jamie yang baru keluar kamar juga terlihat kebingungan.b“Ada apa?”
“Aku nggak tahu.”
Ketukan kembali terdengar.
“POLISI! BUKA PINTUNYA!”
Deg!
Dunia Jamie seperti berhenti berputar. Kenapa polisi datang? Bagaimana bisa?
Norma gemetar ketika membuka pintu. Begitu pintu terbuka, beberapa petugas langsung berdiri di sana. Wajah mereka serius. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
“Kami dari kepolisian.”
Norma merasa lututnya hampir lemas. “Ada apa, Pak?”
“Kami ingin berbicara dengan penghuni rumah ini terkait laporan tindak pidana.”
Jamie yang berdiri di belakang langsung membeku. “Kami juga memiliki informasi bahwa seorang remaja perempuan mengalami luka serius dan diduga tidak mendapatkan pertolongan medis yang semestinya.”
Wajah Jamie langsung kehilangan warna. Sementara itu Ziva yang baru turun tangga ikut membeku.
“Tidak...” bisik Jamie. “Ini tidak mungkin.”
Namun kenyataan tetap kenyataan. Salah satu polisi melangkah masuk.
“Jamie?”
Pria muda itu tidak menjawab.
“Jamie?”
“Aku...”
“Kami meminta Anda ikut bersama kami untuk dimintai keterangan.”
Norma langsung panik. “Tunggu dulu!”
“Kami juga perlu meminta keterangan Ibu dan anggota keluarga lainnya.”
“Ada kesalahpahaman!”
“Kami akan mendengarkannya di kantor.”
Jamie mundur selangkah. Pikirannya kacau. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. Bagaimana Maya bisa melapor? Bukankah dia sudah mati? Bukankah denyut nadinya hampir tidak terasa? Bukankah dia seharusnya masih berada di gudang?
“Tidak...” ujar Jamie.
Namun polisi sudah bergerak. Beberapa menit kemudian.
Mira yang sedang tidur di kamar tamu ikut dibangunkan. Gadis itu keluar dengan wajah bingung. Lalu membeku ketika melihat banyak polisi di ruang tamu.
“Ada apa?”
Salah satu polisi menatapnya.
“Kami ingin meminta keterangan Anda sebagai saksi.”
Mira langsung teringat Maya. Wajahnya seketika memucat. Dia akhirnya sadar.
Maya selamat dan Maya sudah melapor. Entah kenapa, justru rasa lega muncul di dalam dadanya. Karena sejak tadi malam dia terus dihantui rasa bersalah. Kini setidaknya gadis itu masih hidup.
Di sisi lain. Di Rumah sakit daerah. Maya sedang duduk di atas ranjang pemeriksaan.
Seorang dokter baru saja selesai membersihkan luka di kepalanya. “Beruntung benturannya tidak terlalu parah. Kalau terlambat ditangani bisa lebih berbahaya.”
Dokter itu pergi setelah memberikan beberapa instruksi.
...____...
*Guys, beberapa bab lagi novel ini tamat ya... kayaknya genre wanita kuat emang bukan keahlianku. Karena aku selalu kebingungan nentuin alur ceritanya. Makasih buat yang masih setia baca ceritanya sampai sini 😘