NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:40.4k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alternatif

Mereka masih di teras rumah. Ara ikut tersenyum sama melihat Ziano yang tertawa sendiri. Tiba-tba HP nya bergetar, panggilan masuk dari kontak bernama Marcelino. Tolak. Ara lantas mengirim pesan, chat aja.

Tak lama balasan muncul dari sana, Ara langsung menyimpan HP nya ke dalam saku.

"A, aku keluar bentar yah." Ara menepuk Ziano yang masih sibuk tertawa sendiri.

Ziano menoleh, "kemana? bentar lagi isya."

"Ke depan doang, nanti minta anter A Yudi."

"Iya. Awas aja kalo lo kepikiran buat kabur gara-gara gue nggak nurutin permintaan lo."

"Nggak, A. Kan tadi kita udah janji mau sama-sama belajar. Aku cuma mau ketemu temen bentar."

Ziano mendekatkan kepalanya pada telinga Ara, "Marcel?" bisiknya.

Ara mengangguk, "nggak boleh yah?"

"Boleh, udah sana. Pulangnya beliin jajan yah."

Ara pergi ke tempat yang sudah ditentukan oleh Marcel bersama Yudi.

"Jangan lama yah, neng. Aa tunggu di warung kopi depan." Ucap Yudi, dia sama sekali tak menyapa Marcel dan langsung pergi begitu saja.

Ara merasa ada yang tak beres dengan karyawan rasa kakaknya itu, tak biasanya Yudi secuek itu, bahkan kali ini terlihat sedikit kesal pada Marcel.

"Udah aku pesenin kesukaan kamu, makan dulu." baru datang Marcel langsung menyodorkan makanan.

"Udah makan cilok tadi di rumah, Cel. Aku nggak bisa lama, mungkin kamu juga udah tau..." suara Ara makin lama makin lirih.

"Hm."

"Maaf yah kita nggak akan bisa kuliah bareng, Cel."

"Nggak apa-apa, Ra. Masih bisa kok, Ra." Untuk pertama kalinya Marcel mengambil kedua tangan Ara yang menggenggamnya dengan erat.

Ara sedikit kaget, tapi tak melepaskan tangannya. Ia hanya menatap Marcel dengan bingung.

"Ra, aku nggak mau kamu sedih. Kalo kamu butuh bantuan aku pasti bantuin. Dan soal permintaan orang desa itu-" Marcel menjeda ucapannya. Bahkan sekedar untuk berkata soal pernikahan rasanya sangat berat, terlebih semua gara-gara realita yang tak sesuai dengan rencana yang sudah ia buat.

"Aku tau pasti berat banget tiba-tiba diminta nikah padahal kalian nggak ngapa-ngapain. Terlebih harus nikah sama orang yang belum kita kenal."

Ara hanya diam mendengarnya. Ingin menangis lagi tapi matanya sudah sakit.

"Kita kabur aja yuk, Ra! aku siap jagain kamu, Ra! Nanti kita nikah terus kuliah bareng. Dari pada kamu nikah sama Ano. Kita nggak tau siapa dia, Ra."

Ara langsung menarik tangannya dari genggaman Marcel.

"Ra.." Marcel kembali berusaha menarik tangan Ara. Namun Ara menghempaskannya dengan pelan.

"Ra, dari pada sama Ano mending sama aku." ucapnya meyakinkan.

"Kita cukup kabur seminggu aja, Ra. Nikah terus pulang, mau nggak mau orang tua kita nggak bisa berbuat apa-apa. Aku lebih baik dari Ano, Ra." Marcel menatapnya penuh keyakinan.

"Kita udah kenal dari kecil, udah banyak hal yang kita lewatin bareng-bareng, mungkin dengan nikahnya kita nanti abah sama abi bisa baikan seperti dulu. Kita tetap bisa wujudin mimpi kita, Ra." digenggamnya lagi tangan Ara.

Ara menghela nafas panjang, kembali melepaskan tangan Marcel sambil tersenyum menatapnya sekilas kemudian membuang tatapan jauh ke depan.

"Aku udah pusing, Cel. Kamu jangan nambah-nambah pikiran deh."

"Aku nggak nambah pikiran, Ra. Aku ngasih kamu solusi. Kita bareng-bareng dari dulu emang kamu nggak ada perasaan apa-apa sama aku?" tanya Marcel.

"Pasti ada kan?" tebaknya kemudian.

Ara tidak langsung menjawab. Ia justru menunduk. Mengusap ujung jponinya pelan. Menarik napas panjang. Baru kemudian mengangguk kecil.

"Makanya kita nikah aja, Ra."

Ara tersenyum samar, "aku emang ada rasa sama kamu, Cel."

Satu detik, dua detik dan Marcel tersenyum mendengarnya.

"Tapi bukan rasa itu. Kamu udah aku anggap saudara, keluarga. Sama kayak aku nganggap A Yudi sebagai kakak." lanjut Ara.

"Ra..." panggil Marcel lirih.

"Aku nggak bisa,Cel. Aku nggak mau nyeret kamu ke masalah aku."

"Kamu nggak nyeret aku, Ra. Aku yang ngajuin diri buat nyelametin kamu." tegas Marcel.

"Sayangnya bukan kamu yang bisa nyelametin aku, Cel."

"Terus dia bisa?" Marcel meninggikan suaranya, "maaf..." ucapnya lirih.

"Aku cuma nggak mau kamu nikah sama orang nggak jelas kayak dia, Ra."

"Nggak jelas asal-usulnya, nggak jelas latar belakang keluarganya, pendidikannya, pokoknya nggak jelas semuanya."

Ara mengepalkan tangannya, entahlah, rasanya ia tak senang mendengar ucapan Marcel tentang Ziano. Ingin marah tapi yang diucapkan sahabatnya benar.

"Masih ada kesempatan, Ra. Asal lo bilang 'iya' gue bakal langsung bawa lo pergi dari sini." Marcel berusaha meyakinkannya lagi.

"Nggak, Cel. Makasih."

"Gue serius, Ra..."  Suaranya kali ini lebih melembut.

"Aku juga serius, Cel. Seperti yang kamu bilang barusan, aku emang nggak tau apa-apa soal A Ano, tapi dia tanggung jawab, Cel."

"Dia bisa kabur ninggalin aku, semua masalah beres buat dia karena bukan orang sini, tapi A Ano milih nikahin aku."

Ara menghembuskan nafas kasar, "bayangin kalo kamu jadi A Ano, Cel. Emangnya kamu mau nikahin gadis nggak jelas kayak aku?"

"Bagi A Ano juga sama kali, aku tuh nggak jelas asal usulnya. A Ano sebatas tau aku anak yang punya warung sama baru lulus SMK. Sebatas itu aja, bahkan sifat-sifat aku aja mungkin dia nggak tau. Terlebih orang tuanya, keluarganya, belum tentu mau nerima aku, tapi A Ano mau tanggungjawab gitu aja."

Marcel kehabisan kata-kata sementara Ara beranjak dari duduknya, "do'ain aja yang terbaik buat aku dan A Ano yah."

Marcel tak menjawab, ia hanya bisa memandangi Ara yang makin jauh dari dirinya, bahkan besok gadis yang ia suka sejak TK akan benar-benar jadi milik orang lain.

1
Shee_👚
pinter banget lempar batu sembunyi tangan a no🤭
Shee_👚
beda dong ra, soalnya ada yang kelojotan kebangun🤣
Shee_👚
ngakak nyalahin tangan🤣🤣🤣
kalau orangnya kagak🤭
Shee_👚
wah menang banyak dong aa ano🤣🤣
ara kala tau kamu dah di intip murka lah kau🤣
Shee_👚
lah kan yang merem mata ra, kuping mah tetep on🤣
Win_di
daann bersambung pemirsaaahh
akhirnya pembaca kecewa

🔥🔥🔥

Ziano yg sabar ya... sepertinya kamu mesti baik²in ka Net dehh


🤣🤣🤣
Rina Raisya
aieh Ano udah dewasa y
Rita
pov ziano awas nih othor pulang lewat mana gue blok bab next kudu gol😁😁😁😁😁🤣🤣🤣🤣
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣kasihannnnn maaf No ngakak
Tamara Maniz
wadidau nunggunya lama kenanya kena prank kak net ....
sabar ya razia ...kak net emang jahara ....🤭🤭🤣🤣😍😍😍
happy weekend kak net semoga up nya rajin ya di weekend aamiin
RiriChiew🌺
othor punya dendam apaan sih sama Ano kasian tau 😭 apaa jgn2 othor nya belum bisa merelakan Ano sama Ara yaa 🤣
Esther
kali ini beneran halangan ya Ra ?
kasihan Ano yang sudah bersemangat untuk unboxing, ternyata zonk😂😂
Rita
nah iya bener 😂😂😂😂😂nah loh kna omelan subuh eh ceramah subuh😂😂😂😂😂
Rita
ternyata eh ternyata kshn atuh itu Ara salting
Rita
😂😂😂😂kurang asem ternyata nyimak
Linda Ayu Tong-Tong
iiih kak net malah ngeprank😭...kasian aq sma razia🤣🤣
hiro_yoshi74
🤣🤣🤣🤣🤣 di prink kk net ini ma
MACA
yach...jnagankan ano...yg baca aja kecewa berat nih...kayak di PHP in...ibarat kata, nih mau makan enak, udah di depan mulut. eh...jatoh....yassalaam......😬😬😬😬
sikepang
ne yh anak yg baru lulus esema ngerjain aa yg sdh ehemehem mau anoini 🤣🤭😁
Febri Nayu
ngakak sih.. kekel sampek keselek 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!