Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Matahari mulai tenggelam ketika mobil Harsa akhirnya memasuki halaman rumah. Hari itu terasa cukup melelahkan. Namun, anehnya untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Harsa merasa pikirannya sedikit lebih ringan.
Melodi yang sejak tadi tertidur di stroller akhirnya terbangun kecil saat mereka sampai di rumah.
Sementara Arsyi terlihat sibuk membawa beberapa kantong kecil belanjaan bayi.
“Aku bawa yang ini aja,” ujar Harsa sambil mengambil sebagian kantong dari tangan Arsyi.
Arsyi sedikit terkejut.
“Kak, nggak usah—”
“Berat.” Jawaban singkat itu membuat Arsyi diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil.
Dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis. Mereka baru saja masuk ke ruang tamu ketika ponsel Harsa berdering.
Nama Rina muncul di layar. Ekspresi Harsa langsung berubah datar.
Sementara Arsyi yang melihat sekilas nama itu segera memalingkan wajah dan pura-pura sibuk dengan Melodi.
Harsa menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Ada apa?”
Suara Rina terdengar buru-buru dari seberang sana.
[Pak Harsa, klien dari Mahesa Group marah besar. Mereka bilang revisi proposal belum selesai dan sekarang minta bertemu malam ini juga.]
Harsa mengernyit kecil.
“Bukannya itu bagian yang saya minta kamu urus dari kemarin?”
[Iya, Pak, tapi mereka tetap minta bertemu langsung sama Bapak.]
“Kenapa?”
[Karena mereka bilang...]
“Rina.” Suara Harsa memotong dingin, Rina langsung terdiam. Harsa melirik sekilas ke arah Arsyi yang sedang menggendong Melodi tidak jauh darinya. Lalu pria itu berjalan sedikit menjauh menuju dekat jendela ruang tamu.
“Apa semua masalah harus saya turun tangan sendiri?” Nada suaranya mulai tegas.
[Pak, saya sudah coba jelaskan tapi mereka tetap keras kepala.]
“Itu tugas kamu untuk menyelesaikannya.”
[Tapi kalau Bapak datang mungkin—]
“Tidak.” Jawaban Harsa langsung memotong tanpa ragu.
Rina membeku di seberang sana.
Harsa menutup mata sejenak sebelum kembali berkata,
“Saya sudah kasih tanggung jawab itu ke kamu. Jadi selesaikan.”
[Tapi Pak—]
“Kalau kamu nggak bisa mengurus masalah seperti ini…” Nada suaranya semakin dingin.
“Mungkin mengundurkan diri adalah cara yang paling tepat.” Kalimat itu terdengar tajam dan enar-benar menusuk harga diri Rina.
Di dalam apartemennya, Rina menggenggam ponsel kuat-kuat. Wajahnya memerah karena kesal. Lagi-lagi Harsa bicara seolah dirinya tidak berguna. Padahal selama ini ia selalu berusaha berada di pihak pria itu. Namun, sekarang semua berubah sejak Arsyi masuk lebih jauh ke kehidupan Harsa.
[Pak Harsa…] suara Rina terdengar lebih lirih. [Saya cuma ingin membantu.]
“Kalau ingin membantu, kerjakan tugas kamu dengan benar.” Jawaban Harsa tetap datar.
Tidak memberi ruang sedikit pun.
“Dan jangan hubungi saya malam ini kecuali benar-benar darurat.”
Setelah mengatakan itu Harsa langsung memutus sambungan telepon.
Suasana ruang tamu mendadak hening. Harsa menghembuskan napas panjang sambil meletakkan ponselnya di meja. Rahangnya terlihat sedikit mengeras.
Sementara Arsyi yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan,
“Ada masalah di kantor?”
Harsa menoleh.
Tatapannya perlahan melunak saat melihat Arsyi menggendong Melodi.
“Cuma pekerjaan biasa.”
“Serius?”
“Hm.”
Arsyi memperhatikan wajah pria itu beberapa detik.
“Kalau memang harus pergi lagi nggak apa-apa kok.”
Harsa justru menggeleng pelan.
“Aku udah bilang, itu tugas mereka.”
Jawaban itu membuat Arsyi sedikit terdiam.
Karena dulu Harsa pasti langsung pergi tanpa berpikir dua kali. Melodi tiba-tiba menguap kecil di pelukan Arsyi. Refleks wanita itu langsung tersenyum gemas.
Melihat itu tatapan Harsa tanpa sadar ikut melembut. Entah sejak kapan rumah ini mulai terasa lebih penting dibanding kantor yang dulu selalu menjadi tempat pelariannya.
Sementara di tempat lain Rina menatap layar ponselnya dengan wajah penuh kekesalan.
Malam itu, apartemen Rina masih terang meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Wanita itu berdiri di depan jendela besar apartemennya sambil menggenggam segelas wine di tangan.
Tatapannya kosong mengarah pada gemerlap lampu kota Jakarta. Namun pikirannya tidak tenang sama sekali. Bayangan siang tadi terus muncul di kepalanya.
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang utuh. Sesuatu yang sejak dulu tidak pernah berhasil ia dapatkan dari Harsa.
Rina mengembuskan napas kasar.
“Kenapa bisa sejauh itu…” gumamnya pelan.
Padahal awalnya ia yakin pernikahan Harsa dan Arsyi hanya formalitas. Hanya pernikahan karena wasiat. Namun yang ia lihat tadi di mall berbeda. Cara Harsa memperhatikan Arsyi. Cara pria itu tanpa sadar membantu stroller Melodi. Tatapan kecil yang mulai berubah. Dan itu membuat Rina merasa terancam. Ia berjalan menuju sofa lalu meletakkan gelasnya dengan sedikit keras.
Ponselnya kembali diambil. Tatapannya tertuju pada nama Harsa di layar.
Rahangnya mengeras.
“Kalau aku diam aja…” bisiknya pelan. “Lama-lama dia benar-benar jatuh hati sama Arsyi.”
Kalimat itu terasa pahit bahkan untuk dirinya sendiri. Sebesar apa pun masalah rumah tangga atau kehidupan pribadinya Harsa tidak pernah main-main dengan perusahaan.
Ia segera membuka daftar kontak lalu mencari satu nama.
“Pak Dimas.”
Manager dari salah satu perusahaan klien yang cukup dekat dengannya.
Tak lama sambungan tersambung.
[Halo, Bu Rina?]
“Maaf mengganggu malam-malam, Pak.”
[Tidak apa-apa. Ada apa?]
Rina tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Saya mau minta bantuan sedikit.”
Sekitar dua puluh menit kemudian, percakapan itu selesai. Dan senyum di wajah Rina perlahan muncul kembali.Ia meletakkan ponselnya sambil menatap layar televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton.
“Kalau soal pekerjaan…” gumamnya pelan.
“Aku yakin kamu tetap akan datang, Pak Harsa.”
Sementara itu di rumah Pratama, suasana jauh berbeda. Arsyi baru saja selesai menidurkan Melodi di kamar bayi.
Lampu kamar dibuat redup.
Suara musik lullaby kecil terdengar pelan memenuhi ruangan. Arsyi tersenyum kecil saat melihat Melodi akhirnya tertidur pulas setelah cukup rewel seharian.
Ia mengusap kepala bayi itu lembut.
“Bobo ya, Sayang…”
Setelah memastikan Melodi nyaman, Arsyi keluar pelan dari kamar.
Dan tepat di depan pintu ia melihat Harsa. Pria itu berdiri sambil bersandar di dinding lorong lantai atas.
Masih mengenakan kaos rumah sederhana.
“Kok di sini?” tanya Arsyi pelan.
Harsa mengangkat bahu kecil.
“Lihat Melodi tidur.”
Arsyi tersenyum tipis.
“Baru aja tidur ... hari ini rewel banget.”
“Habis imunisasi.”
Harsa mengangguk kecil. Lalu beberapa detik mereka hanya saling diam.
“Aku bikin teh,” ujar Arsyi pelan. “Kak Harsa mau?”
“Mau.”
“Teh biasa?”
“Hm.”
Arsyi mengangguk lalu berjalan turun lebih dulu.
Sementara Harsa memperhatikan punggung wanita itu beberapa saat. Tatapannya perlahan berubah lembut.
Malam semakin larut. Suasana rumah sudah jauh lebih tenang dibanding siang tadi.
Lampu kamar Melodi dibuat redup dengan cahaya kekuningan yang hangat. Tirai jendela tertutup rapat, sementara suara pendingin ruangan terdengar pelan memenuhi kamar.
Melodi tertidur pulas di tengah ranjang kecilnya.
Pipi bayi itu tampak sedikit merah setelah imunisasi tadi siang, namun napasnya sudah jauh lebih tenang sekarang. Dan di sampingnya Harsa duduk diam. Masih mengenakan kaos rumah hitam sederhana.
Pria itu terlihat begitu fokus memperhatikan bayi kecil di depannya. Tangannya perlahan menggenggam jemari mungil Melodi yang bahkan belum sepenuhnya bisa menggenggam balik jarinya. Namun anehnya Harsa tidak melepaskannya.
Sesuatu yang dulu hampir tidak pernah terlihat sejak Nadin pergi.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Arsyi masuk sambil membawa botol susu hangat di tangannya. Namun langkahnya langsung terhenti di dekat pintu. Matanya membulat kecil. Karena pemandangan di depannya terasa begitu hangat. Harsa bahkan tidak sadar dirinya sedang diperhatikan.
Pria itu masih menatap Melodi sambil sesekali mengusap kepala kecil bayi itu pelan. Seolah takut membangunkannya. Arsyi melihat sesuatu yang selama ini hilang dari diri Harsa. Senyum kecil perlahan muncul di wajah Arsyi.
Matanya bahkan mulai berkaca-kaca tanpa sadar. Ia melangkah pelan mendekat. Namun tetap hati-hati agar tidak mengganggu keduanya. Saat tiba di sisi ranjang, Arsyi menatap Melodi lalu menatap Harsa bergantian
Pria itu menoleh pelan.
“Kok diam aja?” tanyanya rendah.
Arsyi tersenyum kecil sambil mengangkat botol susu di tangannya.
“Bawa susu buat Melodi nanti kalau bangun.”
Harsa mengangguk kecil. Lalu kembali melihat Melodi.
“Akhirnya tidur lagi,” gumamnya.
“Capek nangis habis imunisasi.”
Harsa tersenyum tipis.
Dan senyum kecil itu membuat hati Arsyi semakin hangat.vPandangan Arsyi perlahan jatuh pada foto kecil Nadin yang masih berada di meja samping ranjang bayi.
Foto itu memang belum pernah dipindahkan Harsa. Dan Arsyi tidak pernah memintanya. Karena ia tahu wanita itu tetap bagian dari hidup mereka.
Arsyi menatap foto itu cukup lama. Lalu perlahan tersenyum kecil. Senyum yang terasa tulus.vDan lirih sekali, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri, ia berkata,
“Kak … lihat anak dan suamimu sekarang…”
Matanya mulai berkaca.
“Mereka sudah mulai bahagia.”
Harsa sedikit menoleh mendengar suara pelan itu. Namun tidak menyela. Arsyi masih menatap foto Nadin dengan tatapan lembut.
“Doakan selalu kebahagiaan mereka ya, Kak…”
Suaranya semakin lirih.
“Izinkan aku untuk terus merawat keduanya."
Tangannya perlahan mengusap kepala Melodi lembut.
“Aku janji … aku nggak akan melukai satu pun dari mereka.” Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Harsa menatap Arsyi diam-diam dan sadar satu hal, jika Arsyi tak pernah berusaha menggantikan Nadin. Tetapi, dia selalu berusaha menjadi dirinya sendiri.
lanjut thorrrr