NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kota Avalon

Terjebak Di Kota Avalon

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4.Ratu jalanan dunia sihir.

Luna berdiri tegak di depan Lira yang masih terduduk lemas di tanah. Tatapannya dingin, tajam, dan tanpa ampun. Aura yang dipancarkannya bukan lagi aura gadis lemah yang biasa diejek, melainkan aura seorang pemimpin yang terbiasa menaklukkan jalanan.

"K-kau... kau ini monster apa?!" bisik Lira terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit dan ketakutan. "Gadis tanpa sihir... tapi kenapa sekuat ini?!"

Luna tersenyum miring, senyum yang sangat menakutkan namun memikat.

"Monster? Tidak. Aku cuma manusia biasa yang belajar cara bertahan hidup saat tidak ada sihir yang bisa diandalkan," jawab Luna pelan. Ia berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lira.

"Dengar baik-baik, kalian bertiga. Di dunia tempatku berasal, kekuatan otot dan nyali jauh lebih berharga daripada cahaya-cahaya aneh yang kalian pamerkan itu. Kalian punya sihir, tapi otak kalian kosong. Kalian kuat, tapi hati kalian pengecut yang cuma berani menindas yang lebih lemah."

Luna meremas dagu Lira dengan tangan kecilnya namun kekuatannya luar biasa, memaksa gadis itu menatap matanya.

"Dan ingat ini. Jangan pernah mengukur kemampuan orang lain hanya dari apa yang bisa kalian lihat. Kalian lihat aku tidak punya sihir? Ya, benar. Tapi kalian lupa satu hal... tubuh ini mungkin lemah, tapi jangan pikir aku mudah kalian tindas."

Lira, Rian, dan Bimo menelan ludah secara bersamaan. Mereka benar-benar tak setuju. Gadis di depan mereka bukan lagi Luna ria yang mereka kenal. Ini adalah makhluk lain yang jauh lebih menakutkan.

"Sekarang..." Luna melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak kembali. "Kalian sudah membuat pelayanku terluka. Kalian sudah menghambat jalan kami. Dan kalian sudah berniat mencelakai kami. Apa yang harus kalian lakukan untuk menebus kesalahan?"

Mereka bertiga saling pandang, wajahnya pucat pasi.

"Ma-maafkan kami, Nona Luna ria... Ampuni kami..." Rian yang paling besar langsung berlutut, diikuti oleh yang lain. "Kami tidak akan mengganggu Nona lagi. Kami janji!"

"Janji doang tidak cukup," potong Luna dingin. Ia melirik ke arah Ivy yang masih memegang lengannya yang memar. "Lihat itu. Luka itu butuh obat, butuh perawatan. Kalian harus ganti rugi."

"Ganti rugi? Apa saja! Uang? Makanan? Sebutkan saja!" seru Bimo cepat.

Luna menggeleng. Matanya menatap tas pinggang dan kalung yang mereka pakai.

"Aku tidak butuh uang kertas. Di sini yang berharga itu batu kristal kan? Keluarkan semua kristal energi yang kalian punya. Semuanya. Untuk ganti rugi rasa sakit yang Ivy rasakan dan sebagai denda karena sudah bersikap kurang ajar."

Mereka bertiga terlihat terpaksa, tapi karena takut dipukul lagi, dengan tangan gemetar mereka mengeluarkan semua batu kristal berwarna-warni yang tersimpan di kantong dan tas mereka. Butiran-butiran kristal itu berkumpul menjadi tumpukan kecil yang berkilau indah di tanah.

"Ambil semua ini, Ivy. Lumayan buat beli peralatan baru atau untuk berobat dirimu," kata Luna santai sambil melipat tangan di dada.

Ivy yang melihat itu hanya melongo. Nona nya benar-benar hebat! Tidak hanya menang lawan, tapi bisa minta ganti rugi juga!

Ivy segera mendekat dan mengumpulkan kristal-kristal itu dengan kain.

"Dan satu lagi," tambah Luna sambil menatap tajam. "Kalau aku melihat kalian mengganggu orang lain lagi, atau bahkan berani menampakkan wajah jijik ini di depanku lagi... jangan salahkan aku kalau kali ini bukan cuma tangan yang keseleo atau pipi yang lebam. Mengerti?!"

"Mengerti!!! Mengerti!!!" jawab mereka serempak dengan suara keras, hampir berteriak.

"Bagus. Sekarang...pergilah dari hadapanku."

Tanpa perlu disuruh dua kali, ketiga remaja itu bangun dan lari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu, bahkan tidak berani menoleh ke belakang lagi.

Hening kembali menyelimuti jalan setapak itu.

Luna menghela napas panjang, lalu memutar bahunya untuk melenturkan otot. Ekspresi garang di wajahnya perlahan luntur, berganti menjadi wajah santai dan ceria seperti biasa.

Ia berbalik menatap Ivy yang masih berdiri terpaku memegang tumpukan kristal.

"Ya ampun, capek juga ya main kejar-kejaran," gumam Luna sambil tertawa kecil. "Ayo pulang, Ivy. Perutku sudah keroncongan nih."

Ivy masih belum bergerak. Matanya menatap Nona nya dengan kekaguman yang tak terhingga. Air mata bahagia justru mengalir di pipinya.

"Nona..." suara Ivy bergetar. "Tadi... tadi Nona sungguh luar biasa. Ivy... Ivy tidak tahu kalau Nona sekuat itu."

Ivy segera memeluk lengan Luna erat-erat.

"Dulu Ivy yang selalu harus lindungi Nona, tapi sekarang... sekarang Nona yang lindungi Ivy. Gerakan tadi apa itu, Nona? Cepet banget, keras banget. Mereka yang punya sihir kalah telak sama Nona!"

Luna tersenyum bangga, mengusap kepala Ivy pelan.

"Itu namanya bela diri, Ivy. Ilmu perang tanpa senjata. Seperti yang aku bilang tadi, di tempatku dulu, kalau nggak bisa ini, ya bisa mati. Kebetulan aku jagoannya," jawabnya santai.

“Nona bicaranya mulai aneh lagi. ”

Luna hanya tersenyum dan berjalan santai.

Lalu Ivy tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Tapi Nona... tadi pas bola api nyerang Nona, kok bisa hancur gitu aja pas Nona sentuh?" tanya Ivy penasaran. "Itu sihir pertahanan tingkat tinggi ya?"

Luna mengerutkan kening, lalu mengingat-ingat kejadian tadi. Benar juga... saat api itu menyentuh tanganku, rasanya tidak panas. Justru terasa seperti memecahkan gelembung sabun.

Aneh... batin Luna. Seharusnya kulitku gosong kalau kena api sihir sebesar itu.

Luna menatap telapak tangannya sendiri. Ada perasaan aneh yang mulai ia sadari.

Sepertinya... karena aku tidak memiliki inti sihir sama sekali di tubuh ini, maka serangan sihir mereka tidak berpengaruh banyak? Tubuhku seperti ruang hampa. Serangan mereka masuk tapi tidak ada yang bisa diserang, atau mungkin mereka memantul dan hancur karena tidak menemukan target energi?

Pikiran itu membuat jantung Luna berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena kegembiraan.

Jadi ini kelebihanku?! Kalau begitu, di dunia ini, aku adalah musuh alami bagi para penyihir! Mereka punya sihir, tapi tidak bisa menyerangku. Sedangkan aku punya fisik dan teknik yang bisa memukul mereka nyata!

"Wah... ini aset berharga," gumam Luna senang. "Jadi jangan heran ya, Ivy. Ternyata tubuh 'cacat' ini justru kebal terhadap serangan mereka. Hebat kan?"

"Hebat banget!" seru Ivy antusias. "Nona itu bukan sampah! Nona itu spesial! Sangat spesial!"

Mereka berdua pun tertawa bahagia sambil berjalan pulang membawa hasil jarahan kristal yang cukup banyak. Malam itu, suasana makan malam di Villa Starborn terasa jauh lebih hangat dan meriah dari biasanya.

BEBERAPA HARI KEMUDIAN

Hari-hari berikutnya berjalan sangat damai. Tidak ada lagi suara ejekan, tidak ada lagi batu yang dilempar, tidak ada gangguan sama sekali di sekitar villa.

Berita tentang kekalahan telak yang dialami oleh geng Lira menyebar cepat di kalangan remaja sekitar. Sosok "Luna ria si putri terbuang" yang dulu dianggap bahan ejekan, kini berubah menjadi sosok yang ditakuti dan dihormati. Tidak ada yang berani macam-macam lagi di wilayah villa itu.

Luna sendiri menikmati ketenangan ini. Ia menghabiskan waktu dengan berlatih mengendalikan tubuh barunya, mempelajari lebih banyak tentang tanaman sihir, dan sesekali mengajari Ivy cara memukul yang benar agar lebih kuat.

Namun, ketenangan itu terganggu pada suatu pagi yang ceria...

TOK... TOK... TOK...

Suara ketukan pintu terdengar pelan namun ragu-ragu.

Ivy yang sedang menyapu halaman segera membuka gerbang pagar.

"Eh?! Kalian?!" mata Ivy membelalak.

Di depan gerbang berdiri tiga orang yang sangat dikenalnya. Lira, Rian, dan Bimo. Mereka berdiri tegak, tangan disilang di depan, wajahnya terlihat sangat gugup namun berusaha terlihat sopan. Pakaian mereka juga terlihat lebih rapi dari biasanya.

"Ada apa kalian ke sini lagi? Mau cari masalah?" tanya Ivy waspada, siap siaga kalau-kalau mereka berniat jahat.

"Bukan, Kak Ivy! Kami nggak berniat jahat!" seru Rian cepat sambil mengangkat kedua tangannya. "Kami... kami mau menemui Nona Luna ria."

"Mau apa lagi?"

"Tolong izinkan kami masuk. Kami ada hal penting mau bilang sama Nona," pinta Lira dengan wajah memohon. Kali ini tidak ada nada sombong sama sekali.

Ivy bingung, tapi akhirnya mengizinkan mereka masuk dengan syarat tidak boleh bertingkah aneh.

Mereka bertiga masuk dengan langkah pelan, mata mereka jelalatan melihat ke sekeliling villa yang megah namun sepi itu. Akhirnya, mereka melihat sosok Luna ria yang sedang duduk santai di kursi goyang di teras, memejamkan mata menikmati sinar matahari pagi.

Melihat kedatangan mereka, Luna tidak terkejut. Ia hanya membuka sebelah matanya, menatap mereka dengan tatapan datar.

"Oh? Sampah-sampah itu balik lagi? Kalian kurang puas dihajar kemarin?" suara Luna terdengar santai tapi menusuk.

Mendengar itu, ketiganya langsung berlutut dengan rapi di halaman rumput depan teras. Gerakannya kompak dan serentak.

"Bukan begitu,Master!!" seru mereka serempak dengan suara lantang.

Luna terkejut setengah mati. Ia langsung duduk tegak.

"Master? Apaan tuh? Jangan panggil aneh-aneh!"

"Lupakan panggil Nona atau apa," kata Lira berani tapi sopan. "Kami sudah berpikir matang selama beberapa hari ini. Kekuatan yang master miliki itu... itu luar biasa! Itu ilmu yang langka! Di Avalon semua orang cuma tahu sihir, tapi master punya teknik bela diri yang bisa mengalahkan sihir!"

"Benar!" sambung Bimo. "Kami malu sekali pada diri sendiri. Punya kekuatan sihir tapi kalah sama orang yang tidak punya sihir sama sekali. Itu artinya kami lemah! Kami bodoh!"

"Jadi..." Rian melangkah maju sedikit, wajahnya penuh semangat. "Kami mau minta tolong! Kami mau belajar sama master! Ajarkan kami ilmu itu! Ajarkan cara bertarung tanpa sihir! Kami mau jadi kuat seperti master!"

"Dan kami berjanji!" tambah Lira tegas. "Kami akan berubah! Kami tidak akan nakal lagi! Kami tidak akan mengganggu orang lain! Kami mau jadi pengikut master yang setia! Mulai hari ini, perintah master adalah hukum bagi kami!"

Luna menatap mereka satu per satu. Mulutnya tersenyum lebar, senyum penuh arti.

Wah... ini menarik. pikirnya. Dulu di dunia lamanya, dia adalah pemimpin geng yang punya banyak anak buah. Sekarang di dunia sihir ini, ternyata bakat memimpinnya muncul lagi.

Memiliki pengikut berarti memiliki kekuatan. Memiliki kekuatan berarti tidak akan sembarangan orang berani mengganggunya lagi. Dan yang paling penting... dia tidak akan kesepian lagi di villa besar ini.

"Jadi kalian mau jadi anak buahku?" tanya Luna memastikan, nadanya mulai berubah menjadi otoritatif layaknya seorang bos.

"Iya! Kami siap mati untuk master!" jawab mereka kompak.

"Kalian sadar nggak kalau latihan sama aku itu keras? Nggak ada sihir-sihiran. Mendingin, lari keliling hutan, pukul-pukulan, sampai otot pegal semua. Bisa?"

"Bisa!!"

"Dan kalau aku suruh bawa air, suruh bersihkan halaman, atau suruh beli makanan, kalian mau?"

"Mauuu!!"

Luna tertawa lepas. Suara tawanya menggema di seluruh halaman villa.

"Hahaha! Bagus! Aku suka semangat kalian! Baiklah, sejak hari ini, kalian resmi jadi murid dan pengikutku Luna ria! Tapi ingat, aturanku cuma satu: Jangan jadi penindas, jadilah pelindung. Dan jangan pernah mengkhianatiku. Karena akibatnya... kalian tahu sendiri kan?"

"Tahu!!" wajah mereka pucat mengingat tamparan keras itu, tapi mata mereka berbinar-binar bahagia.

"Bangun! Tidak perlu berlutut terus!"

Mereka bangun dengan wajah berseri-seri. Sejak hari itu, suasana Villa Star born berubah total.

Villa yang dulu sunyi dan menyeramkan kini menjadi ramai. Lira, Rian, dan Bimo datang setiap pagi sebelum matahari terbit. Mereka membantu membersihkan halaman, memotong rumput, mengambil air, bahkan memasak.

Luna pun mulai memberikan latihan dasar.

"Nah, begitu! Pukulnya jangan cuma tenaga, tapi pakai berat badan! Coba lagi!" teriak Luna sambil membetulkan posisi kaki Bimo.

"Wah, keren master! Gerakan itu bisa menghindari serangan angin ya?" tanya Lira takjub sambil mencatat hal-hal aneh yang diajarkan gurunya.

Mereka tidak hanya belajar bela diri, tapi juga belajar disiplin, rasa hormat, dan cara berpikir logis. Kemampuan sihir mereka justru meningkat pesat karena tubuh mereka jadi lebih bugar dan fokus berkat latihan fisik dari Luna.

Kabar tentang perubahan sikap mereka dan sosok misterius yang mengajar di Villa Star born mulai terdengar hingga ke telinga orang-orang desa sekitar. Sekarang, daerah sekitar villa menjadi tempat yang paling aman. Siapa pun yang berniat jahat pasti akan berurusan dengan murid-murid setia Luna ria.

Di tengah keramaian itu, Luna ria duduk santai di balkon kamarnya, memandangi murid-muridnya yang sedang berlatih dengan semangat di bawah sana.

Ivy datang membawakan teh hangat.

"Nona benar-benar hebat," bisik Ivy hormat. "Sekarang Nona sudah punya pasukan sendiri. Tidak ada yang berani macam-macam lagi."

Luna menerima cangkir teh itu, menyesapnya pelan. Tatapannya menjauh, menatap arah kota utama Avalon yang tampak samar di kejauhan.

"Pasukan... ya," gumam Luna pelan. Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Mereka pikir aku ini aib. Mereka pikir aku ini sampah yang dibuang. Tapi lihat sekarang... sebelum mereka datang menjemput atau mengirim perintah, aku sudah lebih dulu membangun kerajaanku sendiri di sini."

Luna menatap cermin di kamarnya, menatap pantulan wajah cantik itu yang kini memancarkan aura Ratu yang sesungguhnya.

"Tunggu saja, Keluarga Star born. Tunggu saja, Lae ria. Permainan ini baru saja dimulai. Dan kali ini, bidak yang kalian buang... justru akan menjadi pemenangnya."

Angin pagi berhembus kencang, seolah menyambut kebangkitan sang Bintang Gelap yang sebenarnya.

1
Frida
seru, ada romantisnya juga..buat deg2 an yg baca dan senyum2 sendiri.... kelanjutannya segera up banyak2 dong author please....😍👍
Kusii Yaati
mau seburuk apa riasan mu luna itu tak akan mempan buat pangeran KA El karena dia sudah pernah lihat wajahmu... tapi tidak apa" yang penting sakit hatimu sudah kau balas dengan mempermalukan wajah ayahmu yg kejam itu.semangat Thor nanti up lagi ya Thor 😁💪😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😁😁😁
Kusii Yaati
wah Luna ria hebat, walau tidak punya sihir tapi tubuhnya kebal akan serangan sihir 😱
Kusii Yaati
up lagi Thor yg banyak... penasaran gimana reaksi keluarga Luna ria melihat putri yang di buang menjadi Badas dan kuat 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor seru nih ceritanya 💪💪💪😘😘😘
Rubiyata Gimba
sepertinya ceritanya bagus thor abdit cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!