Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Penghakiman di Arena Agung
Debu sisa pendaratan Wang Tian masih melayang di udara saat ia berdiri tegak di pusat Arena Agung. Seisi stadion yang mampu menampung seratus ribu jiwa itu mendadak sunyi senyap. Tak ada teriakan, tak ada sorak-sorai—hanya ada napas yang tertahan. Sosok pemuda berjubah hitam yang baru saja melompat dari lantai sembilan menara itu tampak seperti dewa kematian yang turun ke bumi.
Di balkon kehormatan, para pemimpin 12 Klan Kuno mencengkeram lengan kursi giok mereka hingga retak. Mereka melihat proyeksi naga abu-abu yang tadi membubung tinggi, dan mereka tahu: ini bukan sekadar kultivator liar berbakat. Ini adalah anomali yang bisa meruntuhkan tatanan dunia yang telah mereka bangun selama ribuan tahun.
"Lancang sekali!" suara menggelegar memecah keheningan. Penatua Yan, pemimpin Klan Yan, berdiri dengan jenggot merah yang bergetar karena amarah. "Seorang pengembara tanpa nama berani menantang 12 Klan Kuno di panggung suci ini? Pengawal! Seret dia ke penjara bawah tanah untuk diinterogasi!"
"Tunggu," sebuah suara tenang namun berwibawa menghentikan para pengawal. Kaisar Kota Giok mengangkat tangannya. Matanya yang tajam menatap Wang Tian dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Turnamen Sembilan Langit adalah tempat di mana kekuatan berbicara, bukan silsilah. Jika dia berhasil mencapai lantai sembilan tercepat, dia berhak berdiri di sana. Namun..."
Kaisar menatap Wang Tian. "Wang Tian, kau menantang kami. Untuk membuktikan kau bukan sekadar bualan, kau harus menghadapi salah satu dari Sembilan Jenius Langit sekarang juga. Jika kau kalah, nyawamu adalah taruhannya."
"Pilih lawanmu," lanjut Kaisar.
Wang Tian menyapu pandangannya ke arah barisan kursi peserta elit. Di sana duduk sembilan pemuda dan pemudi dengan aura yang luar biasa—mereka yang telah mencapai Ranah Pemurnian Qi Tingkat 10 (Sempurna) atau bahkan setengah langkah menuju Ranah Fondasi.
Mata Wang Tian berhenti pada seorang pemuda dengan zirah emas yang sangat megah, duduk dengan kaki menyilang penuh keangkuhan. Dia adalah Jin Shan, kakak tertua dari Jin Da yang tadi dipermalukan Wang Tian di menara.
"Jin Shan dari Klan Jin," ucap Wang Tian datar. "Turunlah. Aku ingin melihat apakah emas klanmu sekeras mulut adikmu."
Gelombang tawa mengejek terdengar dari kursi Klan Jin, namun Jin Shan berdiri dengan perlahan. Wajahnya tampan namun dingin, dan setiap gerakannya memancarkan tekanan logam yang sangat berat.
"Kau mencari maut, rakyat jelata," ucap Jin Shan sambil melompat turun ke arena. Saat kakinya menyentuh lantai, tanah di sekitarnya mendadak berubah menjadi emas murni. "Adikku mungkin lemah, tapi aku adalah Tangan Dewa Logam. Dalam tiga jurus, aku akan mengubah seluruh darahmu menjadi cairan emas."
Pertempuran: Logam Melawan Primordial
Jin Shan tidak menunggu aba-aba. Ia langsung mengaktifkan teknik andalannya, "Seribu Pedang Emas Penembus Langit". Udara di sekitar mereka bergetar, dan ribuan bilah pedang emas tercipta dari partikel logam di atmosfer, semuanya mengarah ke titik jantung Wang Tian.
"Mati!" teriak Jin Shan.
Ribuan pedang itu melesat dengan kecepatan suara. Penonton menahan napas; serangan seluas itu mustahil untuk dihindari.
Wang Tian tetap diam. Ia tidak mencabut senjata apa pun. Saat pedang-pedang itu hanya berjarak beberapa meter, ia menghembuskan napas pelan. Pusaran Primordial di Dantiannya berputar, memanggil elemen Magnetisme Primordial—cabang tingkat tinggi dari elemen Logam.
ZINGGGG!
Tiba-tiba, ribuan pedang emas itu berhenti di udara, seolah-olah menabrak dinding yang tak terlihat. Mereka bergetar hebat, mencoba maju namun tertahan oleh tarikan gravitasi yang aneh.
"Apa?! Kau menghentikan Seribu Pedangku?" Jin Shan terbelalak.
"Pedangmu... terlalu ringan," ucap Wang Tian. Ia mengepalkan tangannya. "Kembali!"
Seketika, kendali Jin Shan atas elemen logamnya putus total. Ribuan pedang emas itu berbalik arah dan melesat kembali ke arah tuannya dengan kecepatan dua kali lipat.
Jin Shan panik. Ia segera memanggil "Perisai Absolut Raja Jin", sebuah kubah emas raksasa yang melindunginya.
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan beruntun mengguncang arena saat pedang-pedang itu menghantam perisai penciptanya sendiri. Perisai emas yang konon tak tertembus itu mulai retak.
Wang Tian tidak memberi napas. Ia menggunakan Langkah Bayangan Kematian, muncul tepat di atas kubah perisai Jin Shan. Tangannya dilapisi oleh aura abu-abu yang pekat—Tinju Penghancur Materi.
"Pecah," bisik Wang Tian.
Pukulan itu mendarat. Bukan hanya perisainya yang hancur, tetapi seluruh energi logam di dalam tubuh Jin Shan seolah-olah dipaksa keluar. Jin Shan terlempar menghantam dinding arena hingga menciptakan kawah besar. Zirah emasnya yang berharga hancur berkeping-keping menjadi debu.
Jin Shan terkapar, memuntahkan darah yang bercampur dengan energi logam yang kacau. Ia tidak bisa lagi merasakan Dantiannya.
"Satu jurus," ucap Wang Tian sambil berdiri dengan tenang di tengah debu yang mulai mengendap. "Masih ada dua jurus lagi, Jin Shan. Apakah kau sanggup?"
Seluruh Arena Agung kini benar-benar membisu. Mengalahkan peringkat pertama dari Sembilan Jenius Langit hanya dengan satu serangan balik? Ini bukan lagi sekadar bakat; ini adalah dominasi mutlak.
Reaksi Para Istri Masa Depan
Di tribun peserta, Sui Ren (Sekte Angin Barat) berdiri dengan tangan gemetar di gagang pedangnya. "Dia... dia jauh lebih kuat dari saat di hutan. Apakah dia menyembunyikan kekuatannya bahkan di depanku?" Ada rasa kagum yang mulai tumbuh di hati gadis yang biasanya sedingin es itu.
Sementara itu, Lin Xuelan (Sekte Angin Timur) menatap Wang Tian dengan mata yang berbinar-binar. Ia tahu bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani menyebut Wang Tian sebagai sampah. Namun, ia juga merasa cemas; ia melihat para tetua klan mulai berkomunikasi lewat transmisi suara rahasia. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk.
Tiba-tiba, dari arah gerbang arena yang lain, muncul sosok wanita yang membuat aura di tempat itu berubah drastis. Wanita itu mengenakan pakaian perang berwarna hitam dengan aksen ungu, memegang sabit raksasa yang memancarkan aura kematian.
Itu bukan Lin Xia, melainkan Mora, sang Putri Perang dari Klan Bayangan (calon istri ke-3 Wang Tian). Ia adalah peserta misterius yang selama ini disembunyikan oleh klan-klan pinggiran.
Mora menatap Wang Tian dengan senyum haus darah. "Lupakan sampah emas itu, Wang Tian. Akulah yang akan menjadi lawan sejatimu. Energi primordialmu... aku ingin merasakannya di dalam sabitku!"
Wang Tian menoleh, menatap Mora. Ia merasakan resonansi yang aneh di dalam jiwanya saat melihat gadis itu—seolah-olah takdir mereka memang sudah dijahit menjadi satu.
"Turnamen ini baru saja menjadi menarik," batin Wang Tian.
Namun, sebelum Mora bisa melompat ke arena, Kaisar Kota Giok berdiri. "Cukup! Babak penyisihan berakhir hari ini. Wang Tian, kau secara resmi diakui sebagai peserta peringkat pertama. Besok, di babak final, kau akan menghadapi seluruh Sembilan Jenius Langit sekaligus dalam pertarungan bertahan hidup!"
Penonton bersorak liar. Ini adalah pertama kalinya dalam seribu tahun ada satu orang yang menantang seluruh jenius klan kuno sendirian.
Wang Tian menatap ke arah balkon Kaisar, lalu ke arah Lin Xia yang berada di kejauhan. Ia tahu bahwa besok bukan hanya tentang turnamen, tetapi tentang memulai perang melawan sistem yang telah membuangnya.
"Sembilan lawan satu?" Wang Tian tersenyum dingin. "Bagi mereka, itu mungkin tidak akan cukup."
Statistik Bab 12:
Karakter: Wang Tian, Jin Shan (Dikalahkan), Sui Ren (Kagum), Lin Xuelan (Cemas), Mora (Perkenalan Istri ke-3).
Lokasi: Arena Agung Kota Giok.
Pencapaian: Mengalahkan Jenius Peringkat 1 Klan Jin dalam satu jurus.
Status Kultivasi: Ranah Pemurnian Qi Tingkat 9 (Kekuatan tempur setara Ranah Nascent Soul awal).
Elemen: Magnetisme Primordial dan Penghancur Materi.
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah