Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 29: CERITA LAMA DAN CERITA BARU
Jakarta, Maret. Hawa panas dan polusi langsung menyambut Muhammad Nero Vane Akbar begitu ia keluar dari Bandara Soekarno-Hatta.
Penampilan Nero benar-benar bersih. Wajahnya klimis tanpa brewok sedikit pun... mempertegas rahangnya yang tegas.
Namun sorot matanya yang dulu liar kini teduh dan tenang. Ia mengenakan kemeja linen warna earth tone yang rapi, celana kain, dan jam tangan simpel. Kesannya sangat clean, wibawa, tapi tetap punya aura "anak kota" yang berkelas.
Tiga tahun di Yaman meninggalkan bekas yang tak kasat mata. Sebuah bekas yang membuat Nero tersenyum tipis setiap kali angin Jakarta menyapa hidungnya dengan bau yang dulu ia cintai: polusi.
Lucu juga, pikirnya. Dulu aku benci polusi. Sekarang? Ini bau rumah.
.
.
.
Bisakah seseorang benar-benar berubah?
Nero menguji pertanyaan itu setiap kali ia bercermin. Dulu, cermin menampilkan pemuda dengan mata sayu penuh dendam, dan senyuman miring yang biasa ia gunakan sebagai tameng. Sekarang, cermin hanya mengembalikan wajah bersih, sorot mata jernih, dan garis bibir yang tidak lagi perlu berpura-pura.
"Mas Nero, bengkelnya di mana, ya?" sopir taksi online itu bertanya sambil melihat map di ponselnya.
"Jl. Brawijaya IX, No. 17. Depan rumah makan Padang, belok kiri, lurus sampai nemu gerbang hitam."
Sopir itu mengangguk, lalu melirik Nero lewat spion. "Wah, ngerti banget daerah sini. Dulu pernah tinggal sini, Mas?"
Nero tersenyum. "Dulu saya anak sini, Pak. Malah pernah jadi langganan tilang Polsek Kebayoran."
Sopirnya tertawa kecil, tidak tahu apakah itu lelucon atau fakta.
Itu fakta.
.
.
.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang hitam dengan stiker stensilan "BENGKEL CUSTOM 78 – NO RACING NO LIFE", Nero merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Bukan nostalgia yang manis. Lebih seperti bertemu mantan kekasih yang dulu ia cintai mati-matian, tapi sekarang ia sadar hubungan itu beracun.
Ia membayar taksi, melangkah keluar, dan membiarkan sepatu pantofelnya menyentuh aspal kasar halaman bengkel.
Suara gerinda berhenti tiba-tiba.
Seseorang menjatuhkan kunci inggris.
"Woy..."
Suara itu pelan. Hampir berbisik. Tapi di bengkel yang sedetik lalu hiruk-pikuk dengan suara mesin dan teriakan, bisik itu terdengar seperti ledakan.
"Itu... itu Nero?"
Cowok gondrong dengan tato penuh di tangan kanan. Robby, sahabat balap Nero paling ugal-ugalan, ia berdiri membatu di samping motor Kawasaki ZX-10R yang sedang dioprek. Mulutnya setengah terbuka. Matanya berkedip cepat seperti sedang memproses informasi yang tidak masuk akal.
Nero mengangkat tangan, melambai kecil. "Apa kabar, Bang?"
Robby tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dengan langkah ragu, seperti mendekati hantu. Begitu jarak mereka hanya satu meter, Robby mengulurkan tangan dan mencubit pipi Nero.
"Anjing, panas. Beneran orang," gumam Robby.
Nero tertawa. Suaranya berbeda. Dulu tawanya keras dan kadang sinis. Sekarang lebih dalam, lebih hangat, seperti bass cello yang dimainkan pelan. "Lo kira gue hantu, Bang?"
"Gila! Ro!" Robby melompat mundur, lalu spontan memeluk Nero. Dia memeluknya keras, seperti takut Nero akan lenyap jika ia melepaskan. "Ini beneran lo? Kok... kok lo jadi kelihatan 'bening' gini? Lo habis operasi plastik atau habis mandi air zam-zam tiga tahun non-stop?"
Sebelum Nero menjawab, gerbang belakang bengkel terbuka. Dua sosok keluar sambil mengelap tangan dengan kain lap bernoda oli.
"Ada apa ribut-ribut?" cowok pertama. Kevin, dengan postur kekar dan kemeja flanel lusuh, berhenti ketika matanya jatuh pada Nero.
Cowok kedua. Dika, yang lebih kurus, dengan rambut klimis dan gigi sedikit maju karena kebiasaan menggertakkan saat balapan. Ia langsung menjatuhkan minuman energi di tangannya.
"Anjir," Dika berkata dengan suara parau. "Nero? Beneran?"
"Beneran," jawab Nero.
Kevin dan Dika langsung menyerbu. Mereka memeluk Nero bergantian, menepuk-nepuk punggungnya dengan keras seperti sedang memastikan ia terbuat dari daging dan tulang.
"Lo kurusan, Ro," kata Kevin sambil menilai Nero dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Tapi muka lo bersih amat kayak bayi baru lahir. Lo pake skincare? Lo pake skincare kan, ngaku lo?"
"Lo kira gue balik jadi beauty vlogger, Vin?" Nero tertawa lagi. "Gue cuma berhenti begadang dan mulai makan sayur."
"Sayur?" Dika memasang wajah jijik. "Sayuran apa yang bikin mata lo jadi... jadi kayak gini?"
"Kayak gimana?"
"Kayak... tenang gitu. Kayak orang yang nggak punya musuh."
Kalimat Dika mengambang di udara. Semua orang di bengkel itu tahu. Dulu Nero punya banyak musuh. Musuh di jalanan. Musuh di dunia balap liar. Bahkan musuh di keluarganya sendiri.
Tapi Nero hanya mengangkat bahu. "Mungkin karena gue sekarang sadar, musuh terbesar gue dulu ya gue sendiri."
Robby, Kevin, dan Dika saling pandang. Mereka bertiga adalah teman-teman yang sama-sama hancurnya dengan Nero dulu. Mereka yang sama-sama begadang di pinggir jalan raya, sama-sama menghirup bensin dan asap knalpot, sama-sama berlari dari polisi, sama-sama menggadaikan masa depan demi adrenalin yang hanya bertahan tiga menit.
"Ro, serius," Robby akhirnya membuka suara sambil meraih bahu Nero. "Apa yang sebenernya terjadi sama lo di sana?"
Nero menatap sahabatnya. Ia melihat kekhawatiran di mata Robby. Bukan kekhawatiran karena takut kehilangan teman, tapi kekhawatiran karena takut kehilangan versi lama Nero yang mereka kenal.
"Mau denger cerita panjang?" tanya Nero.
"Kita punya banyak stok kopi," jawab Kevin.
"Dan rokok," tambah Dika.
Nero menggeleng pelan. "Gue udah berhenti rokok."
Kevin mengerjapkan mata. "Lo juga udah gila ternyata."
.
.
Mereka duduk di ruang tunggu bengkel yang sebenarnya hanya sekadar bangku panjang dari ban bekas dan meja dari drum oli. Dindingnya penuh stiker part motor, foto balapan, dan satu poster usang Rossi vs Marquez yang sudah mulai pudar.
Nero mengambil posisi duduk yang sama persis seperti dulu. Menyender ke dinding, satu kaki diangkat ke atas bangku. Tapi gesturnya berbeda. Dulu ia duduk seperti sedang bersiap lari. Sekarang ia duduk seperti orang yang sedang menikmati ketenangan.
"Ceritanya panjang," kata Nero memulai. "Tapi gue usahain pendek."
"Lo tau kan gue kenapa pergi tiga tahun lalu?"
Mereka bertiga mengangguk. Mereka tahu. Mereka yang mengantarkan Nero ke bandara jam tiga pagi, dengan mata sembab karena begadang semalaman, dan Nero saat itu masih bau alkohol.
"Gue pergi karena gue capek," Nero melanjutkan. "Capek jadi orang yang selalu marah. Capek jadi anak yang dibuang. Capek jadi mantan atlet balap yang gagal karena gue sendiri yang hancurin karier gue."
Kevin membuang muka. Dia tahu persis apa yang Nero maksud. Kecelakaan lima tahun lalu yang membuatnya masuk rumah sakit selama sebulan, saat itu ayah Nero tidak langsung menghukumnya, ia dibiarkan sembuh dan berusaha memperbaiki kesalahannya. Bukan karena orang lain. Karena Nero sendiri yang memaksakan diri balapan dalam kondisi mabuk. Sehingga kemudian, dia lagi-lagi kecelakaan, tapi cuma nabrak pembatas pager. Dan ayahnya langsung membuangnya ke pedesaan, tempat Oma Thalita tinggal...
"Gue juga pergi ke Yaman bukan buat cari uang," Nero melanjutkan. "Gue pergi karena ada seorang guru yang dulu pernah bilang ke gue: 'Nero, larinya kenceng, tapi matanya kosong. Isi dulu matamu, baru kau berlari lagi.'"
"Siapa gurunya?" tanya Dika.
"Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi. Orang tua yang rumahnya selalu terbuka buat siapa aja. Gue dateng ke sana cuma modal kenalan dari kenalan. Gue nggak tau bahasa Arab. Gue nggak paham agama. Gue cuma tau satu hal: gue butuh tempat buat berhenti."
"Berhenti dari apa?" Robby bertanya meskipun ia sudah menduga jawabannya.
"Berhenti dari jadi orang yang nggak tau kenapa dia hidup."
Hening.
Kata-kata itu berat. Terlalu berat untuk atmosfer bengkel yang biasanya hanya dipenuhi cacian dan tawa vulgar. Tapi tidak ada yang tertawa.
"Tiga tahun di sana, gue belajar banyak hal," Nero menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu selalu gemetar karena adrenalin dan kafein, sekarang diam dan stabil. "Gue belajar shalat. Beneran shalat, bukan cuma gerakan. Gue belajar sabar. Gue belajar bahwa Tuhan itu nggak perlu gue bela dengan amarah. Tuhan cuma perlu gue cintai dengan ketenangan."
"Terus lo jadi mualaf?" tanya Kevin tiba-tiba.
Semua orang menoleh ke Kevin dengan tatapan heran.
"Vin," Nero tersenyum. "Lo sendiri yang waktu SD ngajarin gue baca Al-Fatihah di kamar mandi karena lo lupa gue bukan Islam."
Kevin terkekeh. "Iya sih."
"Gue nggak ganti agama, Vin. Gue cuma balik ke fitrah gue. Gue yang dulu hilang, sekarang gue temuin lagi."
Robby mengusap wajahnya. Ada yang berbeda dari cowok gondrong bertato itu. Biasanya ia adalah orang paling keras, paling cepat emosi, paling sulit diajak serius. Tapi sekarang, Robby diam.
"Ro," Robby berkata dengan suara parau. "Lo tau kan, gue juga lahir Islam."
"Gue tau."
"Tapi gue nggak pernah... gue nggak pernah ngerasa apa-apa. Shalat rasanya kayak gitu-gitu aja. Puasa cuma jadi tradisi. Gue lebih ngerasa hidup pas gue pegang gas motor di jalan tol jam 2 pagi."
Nero tidak memotong. Ia membiarkan Robby bicara.
"Lo bilang lo nemuin ketenangan di sana. Tapi gue... gue nggak tau. Mungkin gue takut. Takut kalau gue coba deket sama Tuhan, ternyata Tuhan nggak mau terima orang kayak gue."
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam sumur.
Lalu Nero berdiri.
Dia berjalan ke arah Robby, lalu berlutut di depannya. Bukan untuk sujud, tapi untuk menyetarakan tinggi wajah mereka. Mata Nero menatap mata Robby.
"Bang," kata Nero pelan. "Lo tau nggak, di Yaman, gue ketemu sama seorang laki-laki umur 60 tahun yang baru belajar shalat tahun lalu? Sebelumnya dia preman pasar. Dia tusuk orang pakai pisau. Dia minum sampai pitam. Tapi suatu hari dia masuk masjid karena kehujanan."
Robby mengerjapkan mata. "Terus?"
"Terus dia nangis. Bukan karena taubat. Tapi karena dia ngerasa selama 60 tahun, dia kira Tuhan itu kayak satpam yang galak. Padahal, Tuhan cuma nunggu dia balik."
Kevin, yang dari tadi diam, tiba-tiba berbicara. "Ro... gue kan Islam ya. Tapi jujur, gue nggak tau cara sholat yang bener. Gue malu masuk masjid dengan baju penuh oli begini."
Nero bangkit dan menepuk bahu Kevin. "Vin, Tuhan itu nggak liat baju lo penuh oli atau merek mahal. Dia liat niat lo mau mandi atau nggak. Gue juga mantan bajingan, tapi pintu-Nya nggak pernah digembok buat kita."
.
.
Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika rombongan Nero akhirnya memutuskan pindah ke lokasi nongkrong favorit mereka, di sebuah jalan panjang di Jakarta Pusat yang setiap Sabtu malam berubah menjadi sirkuit liar.
Mereka berangkat dengan rombongan kecil: Robby dengan Harley yang dimodifikasi norak, Kevin dengan Yamaha R25 yang sudah dimakan usia, Dika dengan Suzuki Satria FU yang masih setia, dan Nero... yang memilih duduk di jok belakang motor Robby.