Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 [Sisa yang Tidak Mati]
Angin di atas bukit itu… tidak membawa kehidupan.
Hanya bau abu.
Dan sesuatu yang lebih dalam
Kesunyian yang tidak wajar.
Shiranui Akihara berdiri tanpa bergerak.
Tatapannya mengarah lurus ke depan.
Kerajaan Mushaf.
Atau…
Sisa dari sesuatu yang pernah hidup.
Di sampingnya, Liora Raizen menatap dengan mata sedikit bergetar.
“…ini…”
Tidak ada kata yang bisa menyelesaikan kalimat itu.
Akihara mulai berjalan.
Turun dari bukit.
Langkahnya tidak ragu.
Liora menyusul.
Saat mereka memasuki gerbang kerajaan
Tidak ada penjaga.
Tidak ada suara.
Tidak ada kehidupan.
Hanya
Pecahan batu.
Senjata yang patah.
Dan jejak perlawanan yang sia-sia.
Langkah mereka bergema pelan.
Setiap suara terasa… terlalu keras.
“…ini bukan perang.”
Liora berbisik.
“…ini pemusnahan.”
Akihara tidak menjawab.
Namun matanya…
Menangkap semuanya.
Detail.
Arah serangan.
Polanya.
Dan satu hal yang pasti
Musuhnya…
Tidak terburu-buru.
Mereka berjalan lebih dalam.
Dan akhirnya
Bangunan besar itu terlihat.
Markas Guild.
Atau…
Yang tersisa darinya.
Dindingnya hancur.
Atapnya runtuh.
Dan di depannya
Tubuh-tubuh petualang.
Diam.
Tidak semua mati.
Namun semua…
Tidak bisa berdiri.
Liora menahan napas.
“…mereka…”
Akihara melangkah lebih cepat.
Matanya bergerak cepat
Mencari.
Dan di antara semua itu
Satu sosok masih berdiri.
Goyah.
Namun berdiri.
Seorang perempuan.
Tubuhnya penuh luka.
Pakainya robek.
Namun matanya…
Masih hidup.
Zuwa.
Ia hampir jatuh.
Namun tetap bertahan.
“…jangan… mendekat…”
Suaranya serak.
Akihara berhenti beberapa langkah di depannya.
“…kau masih bisa berdiri.”
Zuwa menatapnya.
“…cukup… untuk bilang…”
Ia tersenyum pahit.
“…lari.”
Akihara tidak bergerak.
“…apa yang terjadi?”
Zuwa tertawa kecil.
“…kau datang terlambat.”
Ia terbatuk.
“…jangan pernah… berhadapan dengan itu…”
Akihara menatapnya dalam.
“…dia terlihat seperti apa.”
Zuwa terdiam sebentar.
Matanya mencoba mengingat.
“…malas…”
“…seperti tidak peduli…”
“…tapi…”
Tubuhnya sedikit gemetar.
“…terlalu kuat…”
Akihara sedikit menyipitkan mata.
“…apa kau pernah merasakan aura seperti itu sebelumnya?”
Zuwa membeku.
Matanya berubah.
“…pernah…”
Akihara diam.
“…di Guild…”
“…kami pernah melawan seseorang…”
“…di arena…”
Ia menelan ludah.
“…kami kalah.”
Akihara tidak memotong.
“…dia tidak serius…”
“…tapi kami tetap kalah…”
Liora yang baru datang dengan seorang tabib, berhenti mendengar itu.
“…siapa?”
tanya Akihara pelan.
Zuwa mengernyit.
“…aku tidak ingat jelas…”
“…tapi…”
Ia mencoba keras.
“…namanya…”
“…Reiji…”
Hening.
Akihara sedikit mengangkat alis.
Dalam.
“…dia punya adik perempuan…”
“…dan dia…”
Zuwa menatap kosong ke depan.
“…auranya…”
Ia menggigit bibirnya.
“…mirip…”
“…dengan yang menghancurkan tempat ini…”
Liora langsung menegang.
“…itu tidak mungkin…”
Akihara tetap tenang.
Namun pikirannya bergerak.
Seseorang…
Dengan aura mendekati itu…
Manusia?
Atau…
“Cukup bicara.”
Liora mendekat.
Tabib mulai menangani Zuwa.
Zuwa menatap Liora.
“…kau…”
“…Grandmaster…”
Liora mengangguk pelan.
“…diam dulu.”
Akihara mundur sedikit.
Saat itu
Suara berat terdengar dari dalam reruntuhan.
“Liora…?”
Seorang pria besar keluar.
Luka di seluruh tubuhnya.
Namun masih berdiri.
Galdros
Liora langsung menoleh.
“…Galdros!”
Ia menghampiri.
Galdros tersenyum lemah.
“…kau datang…”
Lalu
Matanya berpindah ke Akihara.
“…dan ini siapa?”
Akihara menarik sedikit penutup kepalanya.
“…Akira.”
Galdros mengernyit.
“…temanmu?”
Liora langsung:
“…bukan!”
Cepat.
Terlalu cepat.
Galdros tersenyum lemah.
“…jadi… pacar?”
“…BUKAN!!”
Liora langsung cemberut.
Wajahnya merah.
Akihara…
Tersenyum kecil.
“…iya.”
Hening.
Liora membeku.
“…APA?!”
Namun Akihara sudah berjalan menjauh sedikit.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Galdros tertawa pelan.
“…bagus juga…”
Liora menggertakkan gigi.
“…nanti aku urus kamu.”
Namun suasana itu…
Tidak lama.
Tiba-tiba
Udara berubah.
Dingin.
Berat.
Akihara langsung berhenti.
“…datang lagi.”
Liora menegang.
Galdros menggenggam tanah.
“…belum selesai…”
Zuwa, yang masih duduk
Mengangkat kepalanya.
“…itu…”
Dari arah kegelapan
Langkah berat terdengar.
Satu.
Dua.
Lalu
Empat sosok muncul.
Tinggi.
Tubuh membusuk.
Namun tetap berdiri.
Undead.
Dan tidak ada…
Mana.
Empat.
Akihara melangkah maju.
Api mulai muncul di tangannya.
Liora di sampingnya.
Petir mulai bergetar.
Galdros berdiri di belakang.
Tanah mulai retak di bawah kakinya.
Zuwa…
Mencoba bangkit.
“…aku… masih bisa…”
Akihara melirik sebentar.
“…jangan mati.”
Zuwa tersenyum tipis.
“…aku juga tidak mau Tuan Akira.”
Keempat undead itu berhenti.
Dan dalam satu detik
Mereka menghilang.
Dan muncul
Tepat di depan.
Pertarungan
Dimulai.