Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jarum bius dan mata elang
Malam di halaman belakang kediaman Jendral senyapnya beda. Bukan sepi yang damai. Sepi yang ngintip. Sepi yang bikin bulu kuduk Anna meremang sejak tadi.
Lampu teplok di sudut pondok menari pelan, melempar bayang-bayang goyang ke dinding papan. Aroma minyak tanah bercampur bau buku tua dan sisa minyak kayu putih yang tadi ia balurkan ke punggung Cikal.
Di kasur tipis beralaskan tikar pandan, Cikal sudah terlelap. Napasnya halus, teratur. Satu tangan mungilnya memeluk buku _Atlas Dunia_ yang sampulnya udah lecek. Satu lagi menggenggam ujung kain kebaya Anna, seperti jangkar.
Anna duduk bersandar di dinding, buku terbuka di pangkuan. Matanya membaca, tapi telinganya tidak. Sejak pulang dari klinik, firasatnya nggak enak. Seperti ada yang salah hitung di kepalanya. Seperti ada langkah yang bukan milik angin.
_Krek._
Pelan. Hampir tak terdengar. Tapi bagi telinga yang lima tahun dilatih waspada, itu setara gong.
Sumbernya dari luar. Arah tembok terbengkalai. Jalan rahasia.
Jantung Anna berhenti setengah detik, lalu berdetak dua kali lebih cepat. Tangannya bergerak tanpa mikir. Menutup buku, menyelipkan pembatas. Satu tangan lain menyusup ke bawah bantal. Jemari lentiknya menemukan benda dingin yang selalu ia siapkan: dompet kulit kecil berisi jarum-jarum perak. Ujungnya diolesi getah kecubung + akar putri malu yang ia racik sendiri. Satu tusukan, cukup bikin beruang pingsan 2 jam.
Cikal menggeliat. Anna cepat-cepat menaruh jari di bibir sendiri, meski anak itu masih merem. "Tidur, Sayang. Mimpi yang bagus," bisiknya. Suaranya tenang. Tangannya tidak.
Dengan gerakan sehalus kucing, Anna turun dari kasur. Kaki telanjangnya tidak menimbulkan suara di lantai kayu. Cadar hitam sudah ia lepas sejak tadi. Rambutnya ia ikat tinggi. Wajahnya polos, tapi matanya... mata hazel itu sekarang nyala. Bukan mata ibu. Mata predator yang sarangnya diintip.
Tirai lusuh di pintu jadi pemisah antara dia dan luar. Angin semi berembus, menyibak kain itu setipis kertas.
Dan di sanalah.
Celah setengah jengkal. Di baliknya, malam. Dan di dalam malam, sepasang mata.
Biru. Tajam. Sedalam laut, setua dendam.
Mata elang.
Dunia Anna berhenti berputar.
Di luar, Chandra juga kaku. Tangannya sudah mencengkeram gagang pintu rahasia dari tadi. Bagas ia suruh jaga jarak 20 langkah. Ia mau lihat sendiri siapa penghuni kuburan yang hidup lagi.
Ia dorong pintu itu cuma seujung kuku. Celah kecil. Cukup buat mengintip.
Dan semesta iseng. Angin berembus. Tirai tersibak.
Mata hazel.
Bening. Cerdas. Galak. Dengan bulu mata lentik yang ia kenal. Yang lima tahun lalu ia benci. Yang semalam bikin tidurnya tidak nyenyak.
Jantung Jendral Chandra, yang nggak goyah ditodong bedil, sekarang lompat.
Di dalam, Anna nggak buang waktu buat kaget. Instingnya teriak: _ancaman_. Pria. Tinggi. Di depan pintu. Tengah malam. Hanya ada dua kemungkinan: bunuh atau dilumpuhkan.
Jarum sudah di antara jari tengah dan telunjuknya. Kakinya menapak. Satu langkah, dua langkah. Cepat, tanpa suara. Tujuannya leher. Pembuluh besar. Sekali tusuk, beres.
Tangannya melesat. Ujung perak mengincar kulit di balik kerah kemeja putih.
Tapi lawannya bukan orang pasar.
Sebelum ujung jarum nyentuh kulit, pergelangan Anna ditangkap. Kencang. Telak. Dunia berputar. Teknik kuncian militer. Satu tepis, satu putar, satu banting.
"Kh—" Napas Anna patah.
Punggungnya duluan yang menghantam dada bidang. Keras, hangat, bau yang ia kenal: tembakau, peluh, wibawa. Pinggangnya langsung dilingkari lengan baja biar nggak kabur. Jarum di tangannya jatuh, mendarat di lantai dengan suara _ting_ yang kecil tapi memekakkan telinga.
Posisinya terkunci. Punggung ke dada. Tangan Chandra melingkar dari belakang, menahan dua lengannya. Wajah mereka cuma sejengkal. Tanpa cadar. Tanpa penghalang.
Mata hazel vs mata biru. Jaraknya setipis dosa.
Napas Chandra memburu di pelipis Anna. Napas Anna tersengal di rahang Chandra. Lima tahun. Dendam, benci, rindu yang nggak mau ngaku, semua numpuk di jarak sejengkal itu.
Anna meronta. "Lepas!" desisnya. Suaranya rendah, marah, tapi bergetar. Jengkel. Jengkel karena ketahuan. Jengkel karena dilumpuhkan semudah itu. Jengkel karena dada pria ini... sialan, masih terasa aman.
Chandra tidak lepas. Genggamannya malah mengeras sepersekian detik sebelum ia sadar dan melonggarkan. Otaknya perang.
_Wajah ini. Mata ini. Tapi..._
Anna yang ia nikahi lima tahun lalu itu jelek. Jerawatan. Kulit kusam. Punggung bungkuk. Suaranya kecil.
Wanita di pelukannya sekarang... kulitnya porselen. Hidung mancung. Bibir penuh. Leher jenjang. Cantiknya bukan main. Kalau bukan karena mata itu, dia akan kira ini siluman.
"Siapa kau?" Suara Chandra serak. Bukan bentak jendral. Lebih mirip orang bingung. "Bicara. Kau penghuni liar, atau..."
Pertanyaan itu nggak selesai. Karena dari arah kasur, ada suara kecil yang mengoyak tensi.
"Ibu!"
Cikal sudah bangun. Entah kapan. Bocah itu berdiri di atas kasur, buku _Atlas_ masih dipeluk. Jarinya lurus nunjuk ke Chandra. Matanya besar, nggak takut, malah curiga.
"Itu Paman yang ngintipin Cikal di Klinik rembulan malam!" suaranya nyaring, lantang, polos. "Paman yang disuruh Ibu dicungkil matanya kalau ketemu!"
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Otak Chandra nge-hang.
_Klinik Rembulan Malam. Wanita bercadar. Anak panggil Ibu. "Dicungkil matanya"._
Anak itu manggil wanita di pelukannya... Ibu.
Anak itu mirip dia. Dagu. Garis mata. Bahkan cara berdiri angkuhnya.
Empat tahun.
Lima tahun lalu malam pertama.
Kepingan yang ia tolak dari siang tadi sekarang nonjok mukanya sendiri.
Anna manfaatin bengongnya Chandra sedetik. Sikunya menghantam rusuk. Keras. Chandra mengaduh pelan, kuncian lepas. Anna melompat mundur, langsung narik Cikal ke belakang badannya. Posisi melindungi. Satu tangan dia kedepankan, ngalangin.
"Jangan dekati anakku," ucapnya. Dingin. Jelas. Nada Profesor abad 21 yang nggak bisa ditawar.
Chandra nggak maju. Tangannya malah naik, ngusap rusuk yang kena sikut tadi. Sakit. Tapi nggak separah sakit di kepalanya sekarang.
Matanya pindah dari Anna ke Cikal. Dari Cikal ke Anna. Bolak-balik.
"Anakmu?" suaranya hampir nggak kedengeran. "Umur... empat tahun?"
Anna nggak jawab. Dagunya terangkat. Tantang.
Cikal malah jawab. "Empat tahun dua bulan! Aku udah bisa baca sama bikin alat pemetik cabai!" Sombong.
Dua bulan. Empat tahun dua bulan. Hitungan Chandra sebagai jendral itu cepat. Malam pertama. Sembilan bulan. Lahir.
Keringat dingin turun di pelipisnya.
Wanita ditemukan terbakar. Wanita yang ia benci. Wanita yang ia pikir mati.
Hidup. Cantik. Punya anak. Anaknya.
Dan anak itu baru aja bilang dia "Paman yang ngintip".
Chandra mundur selangkah. Napasnya berat. Untuk pertama kali dalam hidup, Jendral Agung Chandra tidak tahu protokol apa yang harus dipake. Perang? Dia jagonya. Politik? Dia dalangnya. Tapi ini?
Istri yang ia bunuh, ternyata ia selingkuhi dengan sepuluh wanita. Punya anak yang panggil dia "Paman".
Di luar, semak bergoyang. Bukan angin. Bagas? Atau... Ratna?
Tapi Chandra nggak peduli. Matanya cuma ke Anna. Ke mata hazel yang dulu ia cekik. Sekarang mata itu natap dia kayak musuh negara.
"Anna?" Nama itu lolos dari bibirnya. Pelan. Nggak yakin. Kayak ngetes mantra.
Anna tidak jawab. Tapi matanya menjawab. Benci. Luka. Kaget. Dan di ujung paling dalam, ada sesuatu yang ia kubur lima tahun.
"Jangan sebut nama itu," akhirnya Anna bersuara. "Anna sudah mati. Dibakar di kamar pengantin. Kau lupa?"
Setiap kata itu belati. Nancep satu-satu di dada Chandra.
Cikal narik kebaya Anna. "Ibu, Paman itu kenapa? Kok mukanya kayak mau nangis? Jendral nggak boleh nangis, kata buku."
Chandra menutup mata. Sekali. Menarik napas. Pas dibuka lagi, topeng jendralnya sudah setengah balik. Tapi retak.
"Bagas!" teriaknya ke luar. Nggak peduli lagi nyamar.
Bagas nyelonong masuk, senjata siap. Lihat adegan di dalam, langsung beku. "J... Jendral?"
"Jaga luar. Jangan ada yang masuk. Termasuk Nyonya." Perintahnya mutlak.
"Siap!" Bagas mundur, nutup pintu. Posisinya jaga, tapi otaknya konslet. _Nyonya? Yang mana?_
Di dalam, tinggal mereka bertiga. Hening. Cuma ada suara napas Cikal yang polos, napas Anna yang nahan amarah, dan napas Chandra yang nahan gempa.
Lima tahun. Satu kebohongan. Satu nyawa baru.
Dan malam ini, semua penutupnya kebakar lagi.
Chandra melangkah maju selangkah. Anna narik Cikal lebih rapat.
"Jangan dekat-dekat," ulang Anna.
"Aku cuma mau..." Chandra berhenti. Mau apa? Minta maaf? Nanya? Nuntut? Dia nggak tau.
"Kau mau apa, Jendral?" Anna tersenyum. Sinis. "Mau bakar kami lagi? Kali ini beneran?"
Kata-kata itu bikin Chandra terdiam. Seperti ditampar pakai lencana sendiri.
Cikal mendongak. "Ibu dibakar Paman? Kenapa? Ibu kan baik."
Satu kalimat bocah. Menghancurkan satu jendral.
Malam makin larut. Di luar, Ratna selangkah lagi sampai ke semak. Di dalam, dua musuh bebuyutan saling tatap, dengan anak mereka di tengah-tengah.
Perang baru aja dimulai. Dan kali ini, Anna yang megang pelatuk.
---
*Gimana, onty? Deg-degan-nya dapet?*
Bab ini namanya *Bab 6: Jarum Bius, Mata Elang, dan "Paman"*
Kalau suka dan Cikal belum bikin kamu mewek, traktir author kopi ya ☕❤ Biar bab depan Chandra disuruh ganti popok sama Anna, di depan Ratna. Adil kan? 😏
lnjut thor