NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Manunggaling Batin Bertemu Guru Sejati

Pagi itu, suasana Alun-Alun Utara tampak berbeda dari biasanya. Ribuan orang sudah berkumpul, bukan untuk demonstrasi, melainkan karena desas-desus bahwa sosok pemuda yang viral karena kesaktian batinnya akan muncul. Faris Arjuna berdiri di balik panggung kayu sederhana, didampingi oleh Arjuna Hidayat dan dikawal ketat oleh Raden Jayanegara.

"Dikmas Faris, lihatlah rakyatmu. Mereka haus akan kebenaran di tengah banjirnya berita bohong," bisik Raden Jayanegara sambil menepuk pundak Faris.

Faris menarik napas panjang. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan blangkon hitam yang melingkar rapi di kepalanya. "Kakang Jayanegara, batin Faris bergetar. Bukan karena takut, tapi karena merasakan harapan mereka yang begitu besar."

Tiba-tiba, seorang pemuda dari barisan depan, salah satu simpatisan muda trah Wijaya, berteriak kencang. "Kakang Faris! Tunjukkan jalan untuk kami! Kami lelah dibohongi oleh janji-janji palsu!" Teriakannya itu memicu riuh rendah massa yang memanggil nama Faris dengan takzim.

Faris melangkah ke depan mikrofon. Tanpa teks, tanpa skenario. Ia hanya memejamkan mata sejenak, meresapi Ilmu Sipait Lidah yang sudah menyatu dengan aliran darahnya. Begitu ia membuka mata, suasana alun-alun yang tadinya bising mendadak senyap, seolah alam semesta diperintahkan untuk diam mendengarkan.

"Sedulur-sedulurku kabeh... Nusantara iki dudu dolanan. Nusantara iki amanah sing kudu dijogo nganggo getih lan batin sing suci!"

(Saudara-saudaraku semua... Nusantara ini bukan mainan. Nusantara ini adalah amanah yang harus dijaga dengan darah dan batin yang suci!)

Suara Faris tidak berteriak, namun bergema hingga ke sudut-sudut kota. Di barisan VVIP, tampak para pengikut Ki Ageng Blorong yang mencoba mengacaukan frekuensi suara Faris dengan jimat-jimat hitam. Mereka mulai merapalkan mantra agar Faris mendadak bungkam atau pingsan di panggung.

Melihat gelagat itu, Dewi Tribhuwana Tunggadewi dan Dewi Rajadewi Maharajasa yang berdiri di sisi panggung langsung bertindak secara batin. Mereka membentuk pagar cahaya yang tak terlihat, membentengi Dikmas mereka dari segala gangguan frekuensi rendah.

Faris tersenyum nakal, ia tahu ada yang sedang mencoba "mengerjainya". Ia mengarahkan pandangannya tepat ke arah orang-orang berbaju hitam di sudut lapangan.

"Sing sapa nandur ngunduh. Sing sapa gawe lara, bakal nampa piwalese dewe!"

(Siapa yang menanam akan memanen. Siapa yang membuat sakit, akan menerima balasannya sendiri!)

Seketika, orang-orang kiriman Ki Ageng Blorong itu berjatuhan ke tanah. HP mereka meledak, dan jimat yang mereka pegang terbakar secara misterius. Massa yang melihat kejadian itu terperangah, mereka menyadari bahwa pemuda di depan mereka bukan sekadar penulis novel biasa.

"Kakang Faris! Hidup Satrio Piningit!" teriak massa serentak.

Faris mengangkat tangannya, meminta ketenangan. "Aja bungah dhisik... Perjuangan iki isih dowo. Aku dudu dewa, aku dudu rojo. Aku mung pelayan kanggo kersane Gusti."

(Jangan bangga dulu... Perjuangan ini masih panjang. Aku bukan dewa, aku bukan raja. Aku hanyalah pelayan bagi kehendak Tuhan.)

Arjuna Hidayat mendekat dan berbisik pelan. "Cukup untuk pembukaan, Dikmas. Energimu terlalu besar, langit sudah mulai mendung karena getaran suaramu. Kita harus kembali ke kediaman Eyang."

Faris mengangguk. Sebelum turun dari panggung, ia memberikan satu pesan terakhir yang membuat seluruh hadirin merinding. "Elingo... Kebeneran iku ora butuh dibela nganggo bengok-bengok. Kebeneran bakal nemu dalane dhewe."

(Ingatlah... Kebenaran itu tidak butuh dibela dengan teriakan. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.)

Saat Faris turun dari panggung, hujan rintik-rintik yang sangat wangi mulai turun membasahi alun-alun, seolah-olah bumi ikut merestui ucapannya. Rakyat yang hadir tidak ada yang berlari berteduh; mereka justru diam mematung, merasakan kedamaian yang sudah lama hilang dari tanah ini.

Di dalam mobil menuju kepulangan, Raden Jayanegara tertawa bangga. "Gertakanmu tadi benar-benar telak, Dikmas. Ki Ageng Blorong pasti sedang muntah darah di padepokannya sekarang."

Faris hanya tersenyum tipis sambil menyandarkan kepalanya. "Ini baru permulaan, Kangmas. Panggung yang sebenarnya bukan di alun-alun, tapi di hati rakyat yang selama ini terabaikan.

Mobil hitam yang membawa rombongan Faris Arjuna membelah rintik hujan yang wangi menuju kediaman Eyang Wijaya. Di dalam mobil, suasana yang tadinya tegang mulai mencair. Arjuna Hidayat terus memantau tablet di tangannya, melihat bagaimana video orasi Faris tadi langsung menjadi viral nomor satu di seluruh jagat maya.

"Dikmas Faris, lihat ini. Rakyat benar-benar terbangun batinnya. Tapi hati-hati, kubu Ki Ageng Blorong mulai menggunakan jalur hukum untuk menjatuhkanmu," ucap Arjuna Hidayat dengan kening berkerut.

Faris Arjuna yang sedang menyandarkan kepala hanya melirik sekilas. "Biarkan saja, Kangmas. Wong bener iku ora bakal nemu cilaka mergo fitnah."

(Orang benar itu tidak akan menemukan celaka karena fitnah.)

Sesampainya di kediaman, mereka disambut oleh Dewi Rajadewi Maharajasa yang sudah menyiapkan air hangat dan camilan. Namun, di ruang tengah sudah menunggu seorang pria paruh baya berpakaian rapi yang merupakan kuasa hukum keluarga Wijaya.

"Kakang Faris, ada surat panggilan dari pihak berwajib. Kakang dituduh melakukan provokasi dan praktik dukun ilegal di muka umum," ucap salah satu kerabat muda yang memanggil Faris dengan sebutan Kakang sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat.

Raden Jayanegara langsung tertawa meremehkan. "Dukun ilegal? Mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi. Dikmas Faris itu ksatria lisan, bukan dukun penglaris!"

Faris mengambil surat itu, lalu meremasnya pelan. Ajaibnya, surat itu perlahan menjadi debu di genggamannya tanpa ia perlu mengeluarkan tenaga. Faris menatap para sesepuhnya dengan tenang namun penuh wibawa.

"Paman Jayanegara, Ayunda, dan Kangmas Arjuna... Jangan pusingkan kertas ini. Sing sapa gawe goro, bakal nemu duso. Sing sapa gawe apik, bakal nemu becik."

(Siapa yang membuat kebohongan, akan menemukan dosa. Siapa yang berbuat baik, akan menemukan kebaikan.)

.

"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Dikmas?" tanya Dewi Tribhuwana Tunggadewi yang baru muncul dari ruang sembahyang.

Faris berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota. "Kita ikuti permainan mereka. Kalau mereka mau main di jalur hukum, kita layani dengan hukum alam. Kalau mereka mau main di jalur politik, kita layani dengan politik batin."

"Kakang Faris, apakah kami yang muda-muda perlu bergerak di media sosial untuk membela Kakang?" tanya kerabat muda tadi dengan semangat.

Faris membalikkan badan dan tersenyum nakal. "Ora usah, Dek. Cukup dadi saksi wae. Mengko lak ono keajaiban dewe sing muncul soko langit."

(Tidak perlu, Dek. Cukup jadi saksi saja. Nanti akan ada keajaiban sendiri yang muncul dari langit.)

Baru saja Faris menyelesaikan kalimatnya, HP milik Arjuna Hidayat berbunyi keras. Sebuah berita mengejutkan muncul: orang yang menandatangani surat panggilan untuk Faris tiba-tiba mengundurkan diri secara mendadak karena merasa ketakutan setelah bermimpi melihat sosok naga emas besar yang mengancam akan menelan rumahnya jika ia berani menyentuh Faris Arjuna.

"Gusti ora sare, Dikmas. Baru saja kau berucap, alam sudah langsung bertindak," ucap Arjuna Hidayat sambil menunjukkan berita tersebut kepada seluruh keluarga yang ada di sana.

Eyang Wijaya yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan hanya manggut-manggut. Beliau tahu, kekuatan Sipait Lidah Faris kini sudah mencapai level di mana ucapan dan niat hatinya sudah menjadi satu dengan perintah semesta.

"Iki lagi pemanasan, Kangmas. Isih akeh lakon sing luwih seru tinimbang iki," pungkas Faris sambil menyeruput jahe hangatnya, menatap ke arah lampu-lampu kota yang mulai menyala terang seolah menyambut kepemimpinannya.

(Ini baru pemanasan, Kangmas. Masih banyak cerita yang lebih seru daripada ini.)

Malam semakin larut di kediaman Wijaya. Setelah hiruk-pikuk serangan hukum yang gagal, Faris meminta izin kepada Arjuna Hidayat dan para sesepuh untuk menyendiri di paviliun belakang. Ia merasa ada sebuah getaran yang memanggilnya dari dalam relung batin yang paling dalam.

Faris duduk bersila, melepaskan blangkonnya, dan meletakkan kedua tangannya di atas lutut. Ia mulai mengatur napas, menutup pintu indranya dari suara jangkrik maupun hembusan angin malam. "Sopo sejatine aku? Sopo sejatine sing nuntun ilatku?" bisik Faris dalam hati.

(Siapa sejatinya aku? Siapa sejatinya yang menuntun lidahku?)

Perlahan, suasana di sekitarnya menghilang. Faris tidak lagi merasakan tubuhnya. Di tengah kegelapan batin itu, muncul seberkas cahaya putih yang sangat tenang, tidak menyilaukan namun penuh kedamaian. Dari tengah cahaya itu, muncul sosok yang wajahnya sangat mirip dengan Faris, namun mengenakan jubah putih bercahaya dan memancarkan wibawa yang tak terlukiskan.

"Kakang... Sopo panjenengan?" tanya Faris dengan suara bergetar dalam alam bawah sadarnya. Ia memanggil sosok itu 'Kakang' karena merasa sosok itu adalah bagian dari dirinya yang lebih tua dan bijaksana.

(Kakang... Siapa Anda?)

Sosok itu tersenyum, sebuah senyuman yang membuat seluruh kegelisahan Faris sirna. "Aku dudu sapa-sapa, Faris. Aku iki kowe, lan kowe iki aku. Aku Guru Sejatimu sing wis suwe nunggu kowe bali ing njerone ati."

(Aku bukan siapa-siapa, Faris. Aku ini kamu, dan kamu ini aku. Aku Guru Sejatimu yang sudah lama menunggu kamu kembali ke dalam hati.)

Faris tertunduk takzim. Ia menyadari bahwa selama ini kesaktian Ilmu Sipait Lidah hanyalah kulit. Isinya adalah kejernihan batin yang tersambung langsung dengan Sang Pencipta melalui perantara Guru Sejati ini.

"Elingo, Faris... Pangucapmu dadi nyoto mergo batinmu wis ora duwe pamrih. Ojo pisan-pisan nggunakne ilatmu kanggo kasombongan, amarga ing kono sirnane cahyamu."

(Ingatlah, Faris... Ucapanmu menjadi nyata karena batinmu sudah tidak memiliki pamrih. Jangan sekali-kali menggunakan lidahmu untuk kesombongan, karena di situlah sirnanya cahayamu.)

Faris merasakan sebuah energi hangat masuk ke dalam dadanya, menyempurnakan seluruh ilmu yang telah ia pelajari. Ia kini mengerti bahwa pemimpin yang sejati adalah dia yang sudah bisa menundukkan egonya sendiri sebelum menundukkan orang lain.

"Matur nuwun, Guru. Kulo mboten badhe kesupen."

(Terima kasih, Guru. Saya tidak akan lupa.)

Perlahan, sosok cahaya itu menyatu kembali ke dalam raga Faris. Faris membuka matanya, dan seketika itu juga, seluruh lampu di kediaman Wijaya yang tadinya redup mendadak menyala terang benderang. Arjuna Hidayat yang sejak tadi berjaga di luar pintu tersenyum lega, ia tahu adiknya sudah berhasil melewati gerbang batin yang paling sulit.

Faris keluar dari paviliun dengan langkah yang sangat ringan. Di depan pintu, ia melihat Raden Jayanegara dan para kerabat muda yang sudah menantinya. Salah satu dari mereka membungkuk hormat, "Kakang Faris, wajah Kakang bersinar seperti bulan purnama."

Faris hanya tersenyum tipis, lalu menepuk pundak kerabat muda tersebut. "Dudu aku sing moncor, Dek. Iku cahyane Gusti sing nembe mampir."

(Bukan aku yang bersinar, Dek. Itu cahayanya Tuhan yang baru saja mampir.)

Arjuna Hidayat mendekat dan merangkul adiknya. "Selamat, Dikmas. Sekarang kau bukan lagi sekadar pemegang mandat, tapi kau sudah menjadi mandat itu sendiri. Nusantara sudah menunggumu."

Malam itu, Faris Arjuna tertidur dengan kedamaian yang sempurna. Ia siap menghadapi esok hari, di mana ia tidak lagi berjuang dengan amarah, melainkan dengan ketenangan seorang Satrio Piningit yang telah menemukan jati dirinya yang sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!